May 112011
 

Seorang anak berlaku kasar kepada ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada Allah ta’ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan bantuannya. Betapa sering air matanya mengalir di kedua pipinya, berdoa kepada Allah ta’ala agar memperbaiki belahan hatinya dan memberikan hidayah kepada hatinya.

Pada suatu hari dia menemui ibunya dengan raut wajah kejahatan yang terlihat dari kedua matanya. Dia berteriak-teriak di wajah ibunya, “Apakah ibu belum menyiapkan makanan juga?” Dengan segera ibunya mempersiapkan dan menghidangkan makanan untuknya. Akan tetapi tatkala dia melihat makanan yang tidak dia suka, maka dia melemparnya ke tanah.

Dia marah dan berucap, “Sungguh, aku kena musibah dengan wanita yang sudah tua renta, aku tidak tahu, kapan aku bisa berlepas diri darinya.” Ibunya menangis seraya berkata, “Wahai anakku, takutlah kamu kepada Allah terhadapku. Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidakkah kamu takut akan murka dan kemarahanNya?” Karena mendengar kata-kata ibunya, maka kemarahannya pun memuncak, dia memegang baju ibunya dan mengangkatnya. Dia mengguncang-guncang ibunya dengan kuat seraya menghardik, “Dengar, aku tidak mau dinasihati. Bukan aku yang mesti dibilang harus bertakwa kepada Allah.”

Lalu dia melempar ibunya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangisnya bercampur dengan tawa anaknya yang penuh dengan kepongahan seraya mengatakan, “Ibu pasti akan mendoakan kecelakaan bagiku. Ibu mengira Allah akan mengabulkannya.” Kemudian dia keluar rumah sambil mengolok-olok ibunya. Sementara sang ibu, dia berlinangan air mata kesedihan, menangis siang dan malam tiada henti.
Continue reading »

Jan 032011
 

Sebelum menginjak pada siapa seorang muslim dan apa itu kebahagiaan, maka berpikir tentang pemikiran adalah jalan awalnya. Apa itu pemikiran dan bagaimana macamnya hal itu disebut. Malik bin Nabi, seorang Aljazair dalam tulisannya, musykilat al-Afkar fi al-`Alam al-Islami memberikan definisi yang bagus tentang apa itu pemikiran dan bagaimana macamnya. Dia membagi pemikiran dengan tiga tahap perkembangan. Tahap pertama; tahap benda-benda/ tahap materialism, tahap kedua; tahap dunia pribadi/ tahap eksistensialism, tahap ketiga; tahap pemikiran menyeluruh/ tahap yang bersifat ilahiyun.

Anda bertanya kenapa kita harus berpikir dulu, dan saya menjawab bahwa berpikir itu sangat diperlukan untuk proses menemukan. Ketika Anda masih tetap mendesak saya, maka saya akan menjawabnya dari sebuah ayat al-Qur`an –semoga hal ini menenangkan Anda-, Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi?” (QS. Yunus: 101). Hal ini penting bagi Anda, karena memperhatikan; hingga akhirnya, menghayati, mendalami, sampai juga memikirkan, adalah perintah Tuhan Anda kepada Anda. Saya tak perlu jauh-jauh sebenarnya, ketika Anda membaca tulisan ini, yaitu sebuah usaha sederhana dari berpikir, maka hal itu sudah disebutkan dalam al-Qur`an untuk Anda kerjakan, Bacalah! (QS. Al-`Alaq: 1).

Saya mohon, biarlah saya kembali mengulas apa itu tahap-tahap pemikiran, dan kenapa hal itu dibutuhkan di sini. Kebahagiaan adalah simbiosa –bagi saya- antara dua hal, psike-jiwa dan ratio-akal manusia, yang ditopang atas materi-jasad mereka. Bila Anda masih belum merasa lega, maka ada baiknya Anda perhatikan bagaimana setidaknya disebut lima kali posisi akal dalam al-Qur`an, dan juga beberapa kali penyebutan untuk menunjuknya sebagai proses berpikir. Al-Qur`an mendedikasikan dirinya untuk akal dengan adanya pelarangan minum khamr; segala hal yang memabukkan, karena dalam khamr tersebut posisi akal dipertaruhkan: seseorang tak mampu lagi membedakan mana baik mana buruk darinya.
Continue reading »

Aug 082010
 

Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menangis …
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk tersenyum.

Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu mengeluh …
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk bersyukur.

Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menyerah …
Tunjukkanlah 1001 janji Allah bahwa Kamu akan Berjaya, sebab
Continue reading »

Aug 032010
 

Suatu hari, seorang ahli ‘Managemen Waktu’ berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para mahasiswanya. Ketika dia berdiri dihadapan mahasiswanya dia berkata, “Baiklah, sekarang waktunya kuis.”Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.

Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, “Apakah toples ini sudah penuh?” Semua siswanya serentak menjawab,”Sudah!” Kemudian dia berkata, “Benarkah?” Dialalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, “Apakah toples ini sudah penuh?”Kali ini para siswanya hanya tertegun. “Mungkin belum!”, salah satu dari siswanya menjawab. “Bagus!” jawabnya.
Continue reading »

Jun 202010
 

Sebuah tulisan yang saya ambil dari catatan seorang teman. Menarik saya pikir. Selamat membaca…
————————————————————————————————
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu saja,” jawab si Profesor Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.


Continue reading »