<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>code4769&#039;s site &#187; adab</title>
	<atom:link href="http://www.inilahjalanku.com/tag/adab/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inilahjalanku.com</link>
	<description>Portal IT &#38; Islamic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 02:54:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sedikit Tentang Hukum Menyemir Rambut</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 19:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban. Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan <a href='http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban.</p>
<p>Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin. Untuk itulah maka dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka.&#8221; (Riwayat Bukhari)<br />
Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.</p>
<p>Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu? Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam? Namun yang jelas, bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya.<br />
<span id="more-548"></span><br />
Untuk itu, maka bersabdalah Nabi:</p>
<p>&#8220;Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.&#8221; (Riwayat Muslim)<br />
Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam. Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: &#8220;Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.&#8221;22</p>
<p>Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.</p>
<p>Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.23</p>
<p>Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.&#8221; (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)<br />
Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan.</p>
<p>Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.</p>
<p>sumber : http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/20210.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Integrasi Islam dan budaya lokal : Yasinan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 18:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[ada aja]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[uummmmm, sedikit share lagi. ini tugas kuliah saya pada matakuliah islam dan budaya lokal beberapa tahun yang lalu.. nemu di arsip, iseng-iseng saya share disini. ok, semoga manfaat&#8230; ======================================================== Yasinan merupakan salah satu contoh hasil dari pencampuran antara budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat jawa percaya bahwa dengan di adakannya ritual yasinan, para keluarga bisa <a href='http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>uummmmm, sedikit share lagi. ini tugas kuliah saya pada matakuliah islam dan budaya lokal beberapa tahun yang lalu.. <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  nemu di arsip, iseng-iseng saya share disini. ok, semoga manfaat&#8230;</p>
<p>========================================================</p>
<p>Yasinan merupakan salah satu contoh hasil dari pencampuran antara budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat jawa percaya bahwa dengan di adakannya ritual yasinan, para keluarga bisa mengirimkan pahala kepada kerabat yang sudah meninggal, sehingga memudahkan sang kerabat untuk masuk surga.</p>
<p>Penyelenggaraan yasinan di tentukan berdasarkan hitungan hari setelah meninggalnya seseorang, yaitu: tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, pendak 1, pendak 2, sampai seribu hari setelah seseorang meninggal.</p>
<p>Dalam yasinan biasanya dibacakan surat yasiin, An Naas, Al Falaq, Al Ikhlash, al baqarah 1-5, Ayat Kursy, serta tiga ayat terakhir dalam surat al baqarah. Kemudian di bacakan juga tahlil, istighfar, dan ditutup doa.</p>
<p>Yasinan biasa di adakan setelah waktu sholat isya’, yang dihadiri oleh para tetangga almarhum. Dalam acara ini para tetangga duduk berkeliling sambil membaca doa-doa islami yang telah disebutkan di atas. Pembacaan doa ini biasanya memakan waktu sekitar 30 menit.<br />
<span id="more-513"></span><br />
Menurut sejarah, lahirnya tradisi Yaasin dan Tahlil berangkat dari akulturasi budaya Islam dengan Jawa yang bernuansa Hindu-Budha. Islam ketika masuk ke tanah Jawa, pada masa awal penyebarannya dilakukan melalui dakwah kultural. Hal ini dimotori oleh Sunan Kalijaga yang juga seorang budayawan.</p>
<p>Pada saat itu, kebiasaan lek-lekan (kumpul malam hari) sepeninggalnya seseorang dulunya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang kurang Islami, antara lain: main kartu, minum-minuman, pemberian sesajen, dan sebagainya. Kemudian sedikit demi sedikit tradisi lek-lekan itu dikawinkan dengan nilai-nilai Islam melalui ritual Yaasin dan Tahlil. Akhirnya, mitong dino, matang puluh dino, mendhak sepisan dan seterusnya sampai saat ini dapat kita saksikan dalam ritual Yaasin dan Tahlil. Dan dakwah semacam itu cukup efektif yang menjadikan Islam berkembang pesat di tanah jawa secara kwantitatif.</p>
<p>Jadi pada kasus ini, pencampuran yang terjadi adalah pemakaian doa-doa yang islami untuk mengisi suatu acara tradisi yang sudah dikenal oleh rakyat jawa semenjak islam belum datang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JUJUR MEMBAWA SELAMAT</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 13:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di <a href='http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah dan Rasul-Nya memuji orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan Muslim, teks hadis mengikuti versi Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Definisi Jujur</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.<span id="more-431"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS al-Maidah:119)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. az-Zumar:33)</p>
<p style="text-align: justify;">Keutamaan Jujur</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan dasar akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat jujur merupakan tanda sempurnanya keislaman, timbangan keimanan, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Karena itu, orang yang jujur akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya –dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruh), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. at-Taubah:119)</p>
<p style="text-align: justify;">“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.’” (Q.S. al-Maidah:119)</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)</p>
<p style="text-align: justify;">“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Q.S. Muhammad:21)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Macam-Macam Kejujuran</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (Q.S. at-Taubah:75-76)</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur’”.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Hujurat:15)</p>
<p style="text-align: justify;">Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;">dikutip: abah zachy site</p>
<p style="text-align: justify;"><em>sumber : http://arrahmah.com/read/2007/09/17/1003-jujur-membawa-selamat.html</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Manusia Mulia</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/menjadi-manusia-mulia/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/menjadi-manusia-mulia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 08:26:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=422</guid>
		<description><![CDATA[Allah menciptakan manusia dan memuliakannya atas makhluk ciptaan-Nya yang lain. Manusia diciptakan dari unsur bumi berupa tanah sebagai lambang materi, dengan ditiupkan unsur langit berupa ruh sebagai lambang immateri. Manusia dibekali akal, pendengeran, penglihatan dan hati. Pemuliaan manusia itu ditegaskan Allah swt. dalam berfirman-Nya: وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ <a href='http://www.inilahjalanku.com/menjadi-manusia-mulia/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah menciptakan manusia dan memuliakannya atas makhluk ciptaan-Nya yang lain. Manusia diciptakan dari unsur bumi berupa tanah sebagai lambang materi,  dengan ditiupkan unsur langit berupa ruh sebagai lambang immateri. Manusia dibekali akal, pendengeran, penglihatan dan hati. Pemuliaan manusia itu ditegaskan Allah swt. dalam berfirman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;">وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan sungguh Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra:70<br />
<span id="more-422"></span><br />
Bahkan pemuliaan itu dikuatkan dengan dua kata penguat “Huruf Lam dan Kata Qad”, yang berarti menunjukkan makna yang sangat kuat. Secara fisik, manusia diciptakan sebaik-baik bentuk. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” At-Tin:4.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia berdiri tegak, manusia berjalan dengan kedua kaki, tidak merangkak seperti binatang melata. Manusia makan dengan tangan, bukan menjilat dengan lidah atau dengan mulutnya langsung (Tafsir Ibnu Katsir). Dan manusia dibekali akal fikiran, untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang halal dan yang haram.</p>
<p style="text-align: justify;">أَفَمَنْ يَمْشِي مُكِبًّا عَلَى وَجْهِهِ أَهْدَى أَمْ مَنْ يَمْشِي سَوِيًّا عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (22) قُلْ هُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (23)</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka Apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?. Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) Amat sedikit kamu bersyukur.” Al-Mulk:22-23</p>
<p style="text-align: justify;">Kelemahan Manusia</p>
<p style="text-align: justify;">Di samping penegasan kemuliaan manusia, Allah juga menjelaskan bahwa manusia mempunyai sifat dasar kelemahan. Penjelasan ini agar manusia menyadarinya dan berusaha untuk bisa mengendalikannya. Di antara kelemahan dasar manusia itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat lupa, manusia dikatakan insan karena memiliki sifat dasar pelupa, dalam bahasa Arab disebutkan:</p>
<p style="text-align: justify;">سمي الإنسان إنسانا لنسيته</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia memiliki sifat tergesa-gesa, Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” Al-Isra’:11</p>
<p style="text-align: justify;">وَكَانَ الإنْسَانُ قَتُورًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan adalah manusia itu sangat kikir.” Al-Isra’:100</p>
<p style="text-align: justify;">إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” Al-Ma’arij:19-21</p>
<p style="text-align: justify;">إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36)</p>
<p style="text-align: justify;">”Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” An-Nisa’:36</p>
<p style="text-align: justify;">إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ (9)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah Dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” QS. Hud:9</p>
<p style="text-align: justify;">إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولا</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan amat bodoh.” Al-Ahzab: 70</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” Al-‘Aadiyat:6-8</p>
<p style="text-align: justify;">Di atas adalah sebagian kelemahan manusia yang Allah informasikan dalam Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;">Bekalan Manusia</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat dasar kelemahan manusia; lupa, tergesa-gesa, kikir, keluh kesah, putus asa,  kufur, zalim, ingkar dan bodoh itu ada dalam setiap diri manusia, karena manusia memiliki nafsu syahwat dan selagi setan terus menggoda manusia setiap saat.</p>
<p style="text-align: justify;">قال أبو هريرة: يا رسول الله، إذا رأيناك رقَّت قلوبُنا، وكنا من أهل الآخرة، وإذا فارقناك أعجبتنا الدنيا وشَمِمْنا النساء والأولاد، فقال لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ عَلَى كُلِّ حَالٍ ، عَلَى الْحَالِ الَّتِي أَنْتُمْ عَلَيْهَا عِنْدِي، لَصَافَحَتْكُمْ الْمَلائِكَةُ بِأَكُفِّهِمْ ، وَلَزَارَتْكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ، وَلَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَجَاءَ اللَّهُ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ كَيْ يُغْفَرَ لَهُمْ”</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah berkata, “Ya Rasulallah, jika kami melihat Engkau, hati kami luluh, kami menjadi –seakan- penduduk akhirat, tapi jika kami berpisah dari Engkau, dunia menakjubkan kami dan kami disibukkan dengan istri-istri  dan anak-anak (kami). Maka Rasulullah saw. menjawab: “Jika kalian ada dalam satu kondisi saja, yaitu kondisi di mana kalian bersama saya, maka Malaikat pasti akan menjabat tangan kalian, dan pasti mereka akan singgah di rumah-rumah kalian. Jika kalian tidak melakukan dosa, pasti Allah mendatangkan suatu kaum, mereka melakukan dosa, agar Allah mengampuni mereka.” HR. Imam Ahmad</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, Allah swt.telah  menyiapkan terminal ruhani, stasiun penghapusan dosa, dan upaya terus menerus agar manusia mampu mengendalikan sifat dasar kelemahan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (10)</p>
<p style="text-align: justify;">“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” Asy-Syam:8-10</p>
<p style="text-align: justify;">Terminal ruhani dan stasiun penghapusan dosa itu ada yang sifatnya harian, pekanan, bulanan dan tahunan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk yang tahunan di antaranya adalah Ramadhan. Ramadhan adalah akademi dan universitas yang mampu melahirkan manusia yang bisa mengendalikan kelemahan dasar dirinya, sekaligus sebagai terminal ruhani dan stasiun penghapusan dosa.</p>
<p style="text-align: justify;">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه</p>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa berpuasa karena iman dan berhadap ganjaran dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun alaih)</p>
<p style="text-align: justify;">وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan puasa adalah benteng.” (HR. Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi yang diberi keluasan rizki, terminal ruhani tahunan itupun datang dua bulan setelah bulan Ramadhan, yaitu bulan Dzul Hijjah, pelaksanaan ibadah haji. Ibadah haji adalah puncak ibadah dalam kehidupan manusia, karena ia adalah rukun Islam yang kelima.</p>
<p style="text-align: justify;">الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ وَالْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ يُكَفَّرُ مَا بَيْنَهُمَا</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Haji yang mabrur tiada lain pahalanya kecuali surga. Dan umrah satu ke umrah yang lain menghapus dosa antara waktu keduanya.” HR. Imam Ahmad</p>
<p style="text-align: justify;">Terminal ruhani yang sifatnya bulanan di antaranya; shaum sunnah Ayyamul Baidh –shaum putih atau shaum purnama 13,14,15 bulan Qamariyah-. Shaum pada bulan-bulan tertentu, seperti shaum Arafah, shaum muharram, dll.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang sifatnya Pekanan berupa shalat Jum’at. Hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyam –penghulu hari-hari-. Pelaksanaan Jum’atan sungguh sangat istimewa dan sakral. Pada hari ini disunnahkan melakukan thaharah –bersuci-;  potong kuku, potong kumis, potong bulu-bulu halus.</p>
<p style="text-align: justify;">« مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا ، وَأَنْصَتَ ، وَاسْتَمَعَ غُفِرَ لَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ إِلَى الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabd; “Barangsiapa berwudhu dengan membaguskan wudhunya, kemudian berangkat shalat, kemudian ia mendekat, dan menyimak, dan mendengarkan khutbah, ia akan diampuni dosanya dari Jum’at ini ke shalat Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari.” Imam Muslim</p>
<p style="text-align: justify;">Terminal ruhani yang bersifat Harian yaitu berupa shalat lima waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">« أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ ». قَالُوا لاَ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ. قَالَ « فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا ». رواه مسلم</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda: “Apa pendapat kalian, jika ada sungai di depan pintu rumah kalian, kalian mandi di sana setiap hari lima kali, apakah masih tersisa kotoran? Sahabat menjawab: “Tidak tersisa sedikit pun kotoran sama sekali”. Rasul bersabda:” Itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus kesalahan-kesalahan dengan shalat lima waktu.” HR. Imam Muslim</p>
<p style="text-align: justify;">اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)</p>
<p style="text-align: justify;">“Bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Al-Kitab, dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mampu mencegah –pelakunya- dari berbuat keji dan munkar, dan dzikir kepada Allah itu perintah yang besar. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan ada terminal ruhani yang sifatnya setiap waktu dan setiap tempat seperti dengan selalu beristighfar minta pengampunan Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh rangkaian ibadah dalam Islam adalah dalam rangka mengendalikan kekurangan diri, menghapus segala dosa dan kesalahan, memenuhi kepuasan spiritual dan keimanan dan meningkatkan derajat manusia. Meningkatkan derajat itu bahkan bisa melebihi kemuliaan Malaikat sekali pun, sebagaimana Ath-Thabari menafsirkan surat Al-Isra ayat 70 di atas;</p>
<p style="text-align: justify;">وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” QS. Al-Isra:70</p>
<p style="text-align: justify;">قالت الملائكة: يا ربنا إنك أعطيت بني آدم الدنيا يأكلون منها، ويتنعَّمون، ولم تعطنا ذلك، فأعطناه في الآخرة، فقال: وعزّتي لا أجعل ذرّية من خلقت بيدي، كمن قلت له كن فكان</p>
<p style="text-align: justify;">“Malaikat mengadu, Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengkaruniai anak keturunan Adam dunia, mereka memakan di dalamnya, mereka bersenang-senang di dalamnya, sedangkan kami tidak Engkau beri itu semua, maka karuniakan kami itu di akhirat. Maka Allah swt. berfirman: “Demi kemuliann-Ku, saya tidak akan menjadikan keturunan orang yang Aku ciptakan ia dengan kedua Tanganku sendiri, sebagaimana seperti orang yang Aku berkata kepadanya “Ada, maka ia ada” –itu seperti kalian wahai Malaikat-” (Tafsir At-Thabari, hal 501, juz 30 bab 70)</p>
<p style="text-align: justify;">Akan tetapi sebaliknya, jika manusia terkalahkan dengan sifat dasar kelemahan yang ada pada dirinya, ia akan lebih hina dibanding binatang ternak tak berakal sekalipun. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” Al-A’raf:179</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mampu mengendalikan kelemahan dan terus berupaya menjadi manusia yang mulia, maka manusia mampu memainkan peran yang mulia di mata Allah swt., peran sebagai Khalifatullah Fil Ard. Allah swt. berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً</p>
<p style="text-align: justify;">“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Al-Baqarah:30</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi manusia mulia adalah dengan menyeimbangkan unsur materi dan unsur ruhani yang ada pada diri kita, serta dengan usaha mujahadah dalam setiap waktu, momentum dan tempat untuk mampu mengendalikan dan mengalahkan kelemahan diri. Allahu a’lam</p>
<p style="text-align: justify;"><em>sumber : http://www.dakwatuna.com/2010/11/9855/menjadi-manusia-mulia/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/menjadi-manusia-mulia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Umar bin Abdul Azis Mendidik Putranya</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/cara-umar-bin-abdul-azis-mendidik-putranya/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/cara-umar-bin-abdul-azis-mendidik-putranya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 20:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=418</guid>
		<description><![CDATA[Dalam keletihan perjalanan dan kehabisan bekal makanan, Nabi Musa as bersama Khidhir singgah di sebuah perkampungan. Tapi tidak ada seorang pun di kampung itu yang berkenan menerimanya sebagai tamu yang berhak dijamu dan dihormati. Penduduk kampung pelit dan tidak mau memberi. Oleh: Muhith Muhammad Ishaq Dalam perjalanan, keduanya mendapati sebuah tembok miring yang hampir roboh. <a href='http://www.inilahjalanku.com/cara-umar-bin-abdul-azis-mendidik-putranya/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam keletihan perjalanan dan kehabisan bekal makanan, Nabi Musa as  bersama Khidhir singgah di sebuah perkampungan. Tapi tidak ada seorang  pun di kampung itu yang berkenan menerimanya sebagai tamu yang berhak  dijamu dan dihormati. Penduduk kampung pelit dan tidak mau memberi.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh: Muhith Muhammad Ishaq</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam perjalanan, keduanya mendapati sebuah tembok miring yang hampir  roboh. Nabi Musa dan Khidir merenovasi tembok miring itu hingga kembali  berdiri kokoh. Nabi Musa sempat mengusulkan, “Jika kamu mau, niscaya  kamu bisa mengambil upah untuk itu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernyataan Nabi Musa menjadi batas perjanjian dan perpisahan  keduanya. Namun sebelum keduanya berpisah, Khidhir menjelaskan  pengalaman perjalanannya kepada Nabi Musa, hingga pada kisah tembok yang  di kampung pelit itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di  kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua.  Sedang ayahnya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar  mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu,  sebagai rahmat dari Tuhanmu. Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut  kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang  kamu tidak dapat sabar terhadapnya,&#8221;</em> (QS 18:82)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu episode kisah Nabi Musa bersama orang shalih yang  sering disebut Khidhir dalam surah al-Kahfi (QS.18) di atas, terdapat  fragmen kisah yang menginspirasi para orangtua dalam menjaga masa depan  anak-anaknya.</p>
<p><span id="more-418"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kesibukan di setiap awal tahun ajaran baru di negeri ini selalu  ditandai dengan kesibukan para orangtua untuk pendidikan yang  berkualitas demi masa depan anak-anak.<br />
Kesalihan orangtua menjadi  faktor utama yang menjamin dan melindungi masa depan anak-anak itu dari  bahaya yang mengancam masa depannya. Apalagi jika keshalihan orangtua  didukung oleh kesalihan anak-anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari terakhir Umar bin Abdul Azis menjadi khalifah Bani Umayyah, ia  didatangi oleh Maslamah bin Abdul Malik. Ia adalah salah seorang  keluarga Abdul Malik bin Marwan/keluarga Bani Umayyah yang mengingatkan  Umar bin Abdul Aziz dengan mengatakan, “Wahai Amirul mukminin,  sesungguhnya engkau telah membuat anak-anakmu ini miskin. Padahal harta  negara berlimpah. Mengapa engkau tidak berwasiat tentang anak-anakmu ini  kepada kami agar hidup layak sebagaimana keluarga Bani Umayyah yang  lain?</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Abdul Aziz berkata, “Bangunkan dan sandarkan aku.&#8221; Lalu ia  berujar tentang pernyataan Maslamah yang menganggapnya telah membuat  miskin anak-anaknya itu. &#8220;Demi Allah saya tidak menghalangi dari hak  mereka, tetapi saya tidak memberikan yang bukan haknya. Tentang wasiat  yang engkau sampaikan:  Sesungguhnya pelindungku ialah yang telah  menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang  shalih,&#8221; kata Umar seraya mengutip QS.7: 196.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Umar bin Abdul Aziz menegaskan: Anakku kemungkinannya  adalah satu dari dua pilihan. Kemungkinan pertama, ia menjadi  orang-orang shalih yang bertaqwa kepada Allah, maka pastilah Allah yang  akan memberikan jalan keluar dari semua masalah yang akan mereka hadapi.  Atau kemungkinan kedua, mereka menjadi ahli maksiat, maka saya tidak  akan pernah menjadi fasilitator bagi perbuatan maksiatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Umar bin Abdul Aziz memanggil anak-anaknya (semua laki-laki  berjumlah tiga belas), setelah mereka berkumpul di hapadannya ia  pandangi satu persatu putranya itu. Kemudian ia berkata di hadapan  Maslamah bin Abdul Malik, “Anak-anak muda yang hendak aku tinggalkan  dalam keadaan miskin tidak memiliki kekayaan sedikitpun, sesungguhnya  saya bersyukur kepada Allah, meninggalkan anak-anak muda ini dalam  keadaan baik.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Umar melanjukan, &#8220;Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu berada dalam  dua pilihan. <em>Pertama,</em> meninggalkan kalian dalam keadaan kaya,  tetapi ayahmu akan masuk neraka karena memberikan fasilitas yang bukan  hak kalian. <em>Kedua,</em> meninggalkan kalian dalam keadaan miskin,  tapi ayahmu berpeluang masuk surga karena ayah hanya meninggalkan yang  memang menjadi hak kalian.” lalu Umar bin Abdul Aziz lebih senang  meningalkan mereka dalam keadaan miskin tetapi shalih dan bertaqwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Riwayat berikutnya menyebutkan bahwa setahun setelah wafat ayahnya  itu, anak-anak Umar bin Abdul Aziz telah tercatat sebagai para muzakki  (pembayar zakat) yang menandakan bahwa mereka berkemampuan dan berdaya  secara financial.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesalihan dan ketaqwaan semua pihak, anak didik, orangtua, guru,  lingkungan masyarakat, sangat berharga bagi masa depan anak-anak ini  melebihi faktor lainnya. Maka membiasakan mereka untuk bermoral  terhormat, jauh dari kehinaan, mendisiplinkan diri untuk taat kepada  Allah SWT, menghiasi diri dengan akhlak dan sikap-sikap mulia akan  membantu anak-anak meraih masa depan gemilang bagi kejayaan umat, bangsa  dan negara.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di  antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.  Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,”</em> (QS 58:11).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>(Majalah SABILI No 01 TH XVIII)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/cara-umar-bin-abdul-azis-mendidik-putranya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malu, Akar Semua Kebaikan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/malu-akar-semua-kebaikan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/malu-akar-semua-kebaikan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 20:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=413</guid>
		<description><![CDATA[Maraknya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dan segala macam pelanggaran hukum—baik hukum Tuhan maupun manusia—di negeri ini, tak lepas dari hilangnya budaya malu. Manusia tak segan lagi melakukan penyelewengan dan melanggar larangan Allah. Mereka tenggelam dalam kubangan maksiat karena rasa malu dalam jiwanya telah tercerabut. Benarlah perkataan para nabi terdahulu, “Jika kamu tidak memiliki rasa malu, <a href='http://www.inilahjalanku.com/malu-akar-semua-kebaikan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Maraknya KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) dan segala macam  pelanggaran hukum—baik hukum Tuhan maupun manusia—di negeri ini, tak  lepas dari hilangnya budaya malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia tak segan lagi melakukan penyelewengan dan melanggar larangan  Allah. Mereka tenggelam dalam kubangan maksiat karena rasa malu dalam  jiwanya telah tercerabut.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarlah perkataan para nabi terdahulu, “Jika kamu tidak memiliki  rasa malu, maka berbuatlah semaumu!”</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya penguasa berbuat semaunya dalam mengangkangi rakyatnya, pun  rakyat berbuat semaunya dalam menjerumuskan sesamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qayyim al-Jauziyah, dalam <em>al-Jawab al-Kafi Liman Sa’ala  an-Dawa’ as-Syafi</em> mengatakan, rasa malu adalah akar dari segala  kebaikan. Jika hilang, maka hilanglah segala kebaikan.</p>
<p><span id="more-413"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Alangkah mengenaskan nasib bangsa yang kerap disebut sebagai negara  Muslim terbesar di dunia ini. Kebaikan yang dilimpahkan Allah  seolah-olah lenyap tanpa bekas sehingga memunculkan penguasa-penguasa  zalim yang sibuk memperkosa hukum dan menyalahgunakan kekuasaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang bermaksiat kepada Allah akan dicabut wibawa dan harga  dirinya dari hati orang lain. Manusia akan menganggapnya hina dan remeh.  Demikian pula dengan penguasa dan pemerintahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejauhmana ia mencintai Allah, sejauh itu pula ia akan dicintai  rakyatnya. Sejauhmana ia takut kepada Allah, sejauh itu pula rakyat akan  segan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana mungkin seorang hamba yang menginjak-injak kehormatan  Allah, berharap wibawa dan kehormatannya terjaga di mata orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana mungkin seorang hamba yang mengabaikan hak-hak Allah  berharap hak-haknya tidak diabaikan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Hilangnya rasa malu mengakibatkan seseorang mudah berbuat maksiat.  Kemaksiatan mengakibatkan seseorang keluar dari lingkaran ihsan; sikap  terbaik dalam beribadah seakan-akan ia melihat Allah. Jika sikap ihsan  melekat di hati, maka ia akan mencegah seseorang melakukan maksiat.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang hamba yang beribadah kepada Allah karena kecintaan dan  pengharapan yang terdapat dalam hatinya, maka seolah-olah ia menyaksikan  Rabb-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi inilah yang menghalanginya dari kehendak berbuat maksiat,  apalagi melakukannya.<em> (Chairul Akhmad)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Majalah SABILI No 12 TH XVIII</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/malu-akar-semua-kebaikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tawadhu</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/tawadhu/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/tawadhu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 20:09:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=410</guid>
		<description><![CDATA[Allah Maha Mulia dan menghendaki agar hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang mulia, bahwa luasnya kemuliaan mereka tidak merasa lebih tinggi di atas saudara-saudara mereka. Maka saat itu ia merasa bangga terhadap diri sendiri, merasa di atas yang lain, dan merendahkan kedudukan mereka. Dan Allah memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan memberi petunjuk untuk beriman. Maka jika mereka <a href='http://www.inilahjalanku.com/tawadhu/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah  Maha Mulia dan menghendaki agar hamba-hamba-Nya menjadi orang-orang yang mulia, bahwa luasnya kemuliaan mereka tidak merasa lebih tinggi di atas saudara-saudara mereka. Maka saat itu ia merasa bangga terhadap diri sendiri, merasa di atas yang lain, dan merendahkan kedudukan mereka. Dan Allah memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya dengan memberi petunjuk untuk beriman. Maka jika mereka enggan dan memilih kesesatan, maka Dia  Maha Kuasa mengganti mereka dengan satu kaum yang mulia dengan iman mereka dan merendahkan diri terhadap saudara-saudara mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu&#8217;min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela….” (QS. al-Ma`idah:54)</p>
<p style="text-align: justify;">Maka inilah sifat lemah-lembut terhadap orang-orang beriman yang merupakan sifat orang-orang terpilih untuk membawa agama ini, saat murtadnya orang-orang yang murtad darinya. Ayat di atas maksudnya santun kepada orang-orang beriman, kasih sayang dan lemah lembut terhadap mereka dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan memusuhi mereka. Ibnu Abbas  berkata: &#8216;Sikap mereka terhadap orang-orang beriman seperti seorang ayah terhadap anak dan majikan terhadap budak, dan sikap mereka terhadap orang-orang kafir seperti binatang buas terhadap mangsanya. Firman Allah, “(Mereka)  keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka&#8230; (QS. al-Fath:29)”. Mulia adalah sifat yang terpuji, sedangkan sombong terhadap orang lain dan membanggakan diri (&#8216;ujub) adalah sifat tercela. Allah berfirman, “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya…. (QS. Fathir:10)”. Dan sesungguhnya Allah memuliakan wali-wali-Nya dengannya, sekalipun mereka berada di puncak cobaan (musibah,bala). “Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu&#8217;min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. (QS. al-Munafiqun:8)”<br />
<span id="more-410"></span><br />
Bersama semua kemuliaan ini, yang dituntut dari seorang mukmin adalah sikap keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang bersama orang-orang beriman. Ibnu Quddamah rahimahullah mengatakan dalam pembahasannya tentang tawadhu&#8217;: &#8216;Ketahuilah, sesungguhnya makhluk ini sama seperti makhluk lainnya, mempunyai dua sisi dan  pertengahan: maka sisinya yang cenderung berlebihan dinamakan sombong, dan sisi lainnya yang cenderung kepada kekurangan dan kerendahan disebut kehinaan, dan pertengahan dinamakan tawadhu&#8217; –dan itulah yang terpuji- yaitu merendahkan diri tanpa menghinakan diri…&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya di antara pendidikan adab yang diajarkan Rasulullah  kepada orang-orang beriman terhadap makhluk, sesungguhnya Rasulullah berdo&#8217;a: &#8220;Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan giringlah aku (di hari kiamat) dalam golongan orang-orang miskin.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu al-Atsir rahimahullah berkata: maksud beliau adalah tawadhu&#8217; dan merendahkan diri, dan agar beliau tidak termasuk orang-orang sombong yang congkak. Khalifah Umar  mendidik para penjabatnya agar bersifat rendah hati terhadap rakyat dan melarang mereka menghinakan manusia, sebagaimana dia  mengajarkan kepada manusia tentang hak mereka agar mereka hidup secara mulia. Dan di antara khotbahnya: &#8216;Ketahuilah, sesungguhnya aku, demi Allah, tidak mengutus para penjabatku untuk memukul kulitmu dan tidak pula untuk mengambil hartamu, akan tetapi aku mengutus mereka kepadamu untuk mengajarkan kepadamu agama dan sunnahmu. Maka barangsiapa yang diperlakukan selain yang demikian itu, maka hendaklah ia melaporkannya kepadaku. Maka demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, tentu aku akan mengqishashnya darinya…ketahuilah, janganlah kamu memukul kaum muslimin, maka kamu merendahkan mereka…&#8217; Dan Umar  berpesan kepada para penjabatnya terhadap daerah terlarang dengan ucapannya: &#8216;Rendahkanlah dirimu terhadap kaum muslimin, hati-hatilah terhadap doa kaum muslimin, maka sesungguhnya doa orang-orang yang dianiaya dikabulkan.&#8217;</p>
<p style="text-align: justify;">Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian tinggi dan jiwa besar serta sifat tawadhu&#8217; yang mantap. Sekalipun nafsu membisiki bahwa pengakuan engkau bisa menjatuhkan martabat engkau. Maka bersungguh-sungguhlah untuk berada di atas kebenaran, sebagaimana menerima permohonan maaf juga merupakan sifat tawadhu&#8217; dan kemuliaan yang tinggi. Maka jiwa yang kotor mengharapkan kesalahan orang lain, agar merasa puas dengan memberi kritik, intropeksi dan ketenaran. Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengungkapkan hal ini dengan katanya: &#8216;Barangsiapa yang berbuat jahat kepadamu, kemudian ia datang meminta maaf terhadap kesalahannya. Maka sesungguhnya sifat rendah diri mengharuskan engkau menerima permohonan maafnya –apakah permohonan maafnya itu benar atau hanya berpura-pura- dan menyerahkan kebenarannya kepada Allah . Dan tanda pemurah dan tawadhu adalah sesungguhnya apabila engkau melihat kekurangan dalam permintaan maafnya, janganlah engkau menghentikannya dan memperdebatkannya&#8230;Maka menjauhlah dari perasaan berat, baliklah lembaran hidup, dan mulailah dari yang baru, temanmu akan merasa segan terhadapmu karena engkau menerima permohonan maafnya dan tidak terlalu mempersoalkan permohonan maafnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan apabila engkau bersikeras meletakkan temanmu pada posisi merendahkannya dan menghitungnya dalam perhitungan ragu-ragu, berarti engkau telah berani memerangi Allah , dan engkau tidak pernah mampu melakukannya, seperti disebutkan dalam hadits qudsi, “Barangsiapa yang memerangi waliku, berarti ia menyatakan perang terhadapku.” Allah  adalah wali setiap orang yang beriman.<br />
Sesunguhnya orang yang maju ke depan untuk memimpin manusia, mengarahkan mereka, menarik hati mereka maka ia harus memiliki rasa rendah diri yang tinggi. Karena itulah Allah  menyuruh Nabi-Nya dengan firman-Nya, “dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. asy-Syu&#8217;ara :215)”</p>
<p style="text-align: justify;">Maka bagaimana keadaan umat sesudah beliau–sedang mereka lebih rendah kedudukan dan akhlak- tidak merendahkan diri mereka? Dan disebutkan dalam hikmah: Barangsiapa yang selalu rendah diri niscaya banyak temannya. Maka bila engkau ingin mencari para pendukung terhadap dakwahmu, engkau harus rendah diri. Jauhilah sikap ujub dan sombong, dan yang paling berbahaya adalah perasaan ujub dalam ibadah yang membuat engkau menganggap remeh orang lain karena ibadahmu. Karena itulah diriwayatkan  dari al-Mutharrif rahimahullah, ia berkata: &#8216;Sungguh aku tidur di malam hari dan menyesal di pagi hari, lebih kusukai dari pada shalat di malam hari dan di pagi hari merasa bangga (ujub).</p>
<p style="text-align: justify;">Fudhail bin &#8216;Iyadh rahimahullah mendefinisikan tawadhu&#8217; dengan katanya: yaitu merendahkan diri terhadap kebenaran, tunduk kepadanya, dan menerimanya dari orang yang mengatakannya.&#8217; Tunduk terhadap kebenaran adalah kemuliaan yang sebenarnya, karena ia adalah taat kepada Allah kembali kepada kebenaran, dan membiasakan diri agar tidak terus-menerus di atas kebatilan. Karena itulah Nabi  bersabda, “Tidak ada seseorang yang merendahkan diri karena Allah  kecuali Allah  meninggikan derajatnya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Barangsiapa yang tujuannya adalah mencari ridha Allah tunduk terhadap kebenaran terasa mudah baginya, seperti yang diriwayatkan dari Ubaidullah bin al-Hasan al-Anbari rahimahullah, sesungguhnya ia ditanya tentang meminta, lalu ia keliru padanya. Maka tatkala ia diingatkan terhadap kekeliruannya, ia menundukkan kepalanya sesaat lalu berkata: &#8216;Kalau begitu saya kembali, dan saya seorang yang hina. Sungguh aku berdosa dalam kebenaran lebih kusukai dari pada aku menjadi pimpinan dalam kebatilan.&#8217; Seperti inilah orang yang berilmu, ia rendah diri karena Allah  dan tunduk terhadap kebenaran, karena itulah tujuannya, sekalipun di antara dia dan orang yang kebenaran ada pada lisannya itu ada permusuhan dan perselisihan.<br />
Tidak tunduk terhadap kebenaran adalah kesombongan yang sebenarnya dan kezaliman, karena itulah Rasulullah  mendefinikan takabur dengan sabdanya, “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ini kita melihat bahwa tawadhu, di samping sebagai akhlak yang terpuji, ia merupakan penjaga agar tidak terjerumus dalam perbuatan zalim, dan memelihara dari sifat sombong dan berbangga diri terhadap saudara-saudara seagama. Disebutkan dalam hadits, “Sesungguhnya Allah  mewahyukan kepadaku: bersifat tawadhu&#8217;lah, sehingga seseorang tidak merasa bangga terhadap orang lain dan seseorang tidak berbuat aniaya terhadap orang lain.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kendati kedudukan Rasulullah sangat tinggi, sesungguhnya ketika beliau melihat seseorang gemetar karena takut terhadap beliau, karena ia mengira beliau sama seperti raja-raja di muka bumi, beliau bersabda kepadanya, “Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah seorang anak dari seorang perempuan suku Quraisy yang memakan daging dendeng&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara kesempurnaan tawadhu&#8217;nya Rasulullah bahwa beliau membantu keluarganya –sedangkan beliau mampu meminta bantuan pembantu- dan memberi salam kepada anak-anak yang beliau temui di tengah jalan –sedangkan beliau adalah yang ditakuti para raja. Sehingga saat beliau berada di puncak kekuatan dan kemenangannya, beliau tidak bersikap keras di muka bumi. Maka tatkala di hari memerangi Bani Quraizhah, beliau berada di atas keledai yang dikekang dengan tali dari sabut. Dan saat beliau memasuki kota Makkah sebagai pemenang, beliau menundukkan kepalanya karena tawadhu&#8217; kepada Allah  karena khawatir terhadap penyusupan rasa takabur ke dalam jiwa pemenang, yang dibisikan oleh hawa nafsunya bahwa dialah yang membuat kemenangan dan melupakan karunia dan taufik Allah. Syaikhul Islam rahimahullah menggambarkan keadaan Rasulullah dengan perkataannya: &#8216;Sesungguhnya beliau memilih sifat hamba –penghambaan- sekalipun beliau dan para pengikutnya adalah yang tertinggi, dan beliau tidak menghendaki yang tertinggi, sekalipun  telah memperolehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan cukuplah bagi orang-orang yang sombong agar kembali ke jalan yang lurus bahwa mereka menyadari bahwa Allah tidak menyukai mereka, memalingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, mengunci hati mereka, dan mengancam akan memusnahkan mereka, dan barangsiapa yang di hatinya mengandung sifat sombong, walaupun hanya seberat biji sawi, niscaya Allah akan menjerumuskannya ke dalam neraka. Hukuman balasan seperti ini karena ada kandungan sifat sombong seberat biji sawi. Maka seseorang sangat membutuhkan pelatihan untuk menjaga hatinya dari perasaan sombong, &#8216;ujub, dan terperdaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tidaklah mendorong seseorang bersikap sombong kecuali perasaan ingin berbeda dengan lain, atau keinginan tidak tunduk terhadap seseorang, atau berusaha menutupi kekurangan pribadinya, dan semua itu membinasakan seseorang:<br />
“Maka yang membinasakan, yaitu sifat pelit yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan perasaan ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (Shahih al-Jami&#8217;)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana orang yang tawadhu&#8217; cukup dengan menyadari bahwa Allah meninggikan derajatnya dan sesungguhnya hamba-hamba Allah  menyukainya, sesungguhnya Rasulullah  adalah suri tauladannya, dan sesungguhnya ia lebih mengetahui kebesaran Rabb-Nya dan kekurangan dirinya. Maka berhati-hatilah dari terperosok bersama waswas syetan dan hawa nafsu, semoga kita termasuk orang-orang yang dicintai Allah  dan mereka mencintai-Nya, seperti yang telah diungkapkan Allah dalam firmannya, “yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mu&#8217;min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, . (QS. al-Ma`idah:54).” Wallahualam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : http://js.ugm.ac.id/kajian/buletin-annaba/102-tawadhu.html</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/tawadhu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akibat Memperlakukan Seorang Ibu Sebagai Pembantu Bagi Dirinya</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/akibat-memperlakukan-seorang-ibu-sebagai-pembantu-bagi-dirinya/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/akibat-memperlakukan-seorang-ibu-sebagai-pembantu-bagi-dirinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:21:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=381</guid>
		<description><![CDATA[Seorang anak berlaku kasar kepada ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada Allah ta&#8217;ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan bantuannya. Betapa <a href='http://www.inilahjalanku.com/akibat-memperlakukan-seorang-ibu-sebagai-pembantu-bagi-dirinya/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Seorang anak berlaku kasar kepada  ibunya. Dia tidak hanya suka teriak-teriak di wajahnya, akan tetapi suka  mencaci dan memakinya. Ibunya yang telah tua, seringkali berdoa kepada  Allah ta&#8217;ala agar Allah meringankan kekerasan dan kekejaman anaknya. Dia  menjadikan ibunya sebagai pembantu yang membantu dan mengurusi segala  kebutuhannya, sedangkan ibunya sendiri tidak membutuhkan pengurusan dan  bantuannya. Betapa sering air matanya mengalir di kedua pipinya, berdoa  kepada Allah ta&#8217;ala agar memperbaiki belahan hatinya dan memberikan  hidayah kepada hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari dia menemui ibunya dengan raut wajah kejahatan yang  terlihat dari kedua matanya. Dia berteriak-teriak di wajah ibunya,  &#8220;Apakah ibu belum menyiapkan makanan juga?&#8221; Dengan segera ibunya  mempersiapkan dan menghidangkan makanan untuknya. Akan tetapi tatkala  dia melihat makanan yang tidak dia suka, maka dia melemparnya ke tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia marah dan berucap, &#8220;Sungguh, aku kena musibah dengan wanita yang  sudah tua renta, aku tidak tahu, kapan aku bisa berlepas diri darinya.&#8221;  Ibunya menangis seraya berkata, &#8220;Wahai anakku, takutlah kamu kepada  Allah terhadapku. Tidakkah kamu takut kepada Allah? Tidakkah kamu takut  akan murka dan kemarahanNya?&#8221; Karena mendengar kata-kata ibunya, maka  kemarahannya pun memuncak, dia memegang baju ibunya dan mengangkatnya.  Dia mengguncang-guncang ibunya dengan kuat seraya menghardik, &#8220;Dengar,  aku tidak mau dinasihati. Bukan aku yang mesti dibilang harus bertakwa  kepada Allah.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu dia melempar ibunya. Ibunya jatuh tersungkur. Tangisnya  bercampur dengan tawa anaknya yang penuh dengan kepongahan seraya  mengatakan, &#8220;Ibu pasti akan mendoakan kecelakaan bagiku. Ibu mengira  Allah akan mengabulkannya.&#8221; Kemudian dia keluar rumah sambil  mengolok-olok ibunya. Sementara sang ibu, dia berlinangan air mata  kesedihan, menangis siang dan malam tiada henti.<br />
<span id="more-381"></span><br />
Adapun anaknya, dia lalu menaiki mobilnya. Bergembira dan bersuka  cita sambil mendengarkan musik. Dia kencangkan volume tapenya. Dia lupa  akan apa yang telah dia perbuat terhadap ibunya yang malang. Dia  meninggalkan ibunya dalam keadaan bersedih hati sendirian, hatinya  menelan rasa sakit, mengalami kesedihan yang sangat mendalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia punya acara ke luar kota. Tatkala mobilnya melaju di jalan raya  dengan kecepatan membabi buta, tiba-tiba ada seekor unta berada di  tengah jalan. Dia terguncang dan kehilangan keseimbangan. Dia mencoba  untuk menguasai keadaan, akan tetapi tidak ada jalan keluar dari takdir.  Dalam kecelakaan itu, ada potongan besi mobil yang masuk ke dalam  perutnya, akan tetapi dia tidak langsung tewas. Allah ta&#8217;ala  menangguhkan kematiannya. Dia berpindah dari operasi satu ke operasi  yang lain, hingga akhirnya terbaring di tempat tidur, tidak bisa  bergerak sama sekali. (Aqibah Uquq al-Walidain, hal. 69-71.)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkisah&amp;id=253</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diposting oleh </strong>: Abu Thalhah Andri  Abdul Halim, dinukil dari : <em>“Sungguh Merugi Siapa yang Mendapati  Orang Tuanya Masih Hidup Tapi Tidak Meraih Surga”</em>, karya : Ghalib  bin Sulaiman bin Su&#8217;ud al-Harbi. Edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq  Jakarta.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/akibat-memperlakukan-seorang-ibu-sebagai-pembantu-bagi-dirinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manisnya Iman</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/manisnya-iman/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/manisnya-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 04:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ?anhu, dia berkata, &#8221; Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam bersabda, artinya, &#8220;Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada <a href='http://www.inilahjalanku.com/manisnya-iman/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ?anhu, dia berkata, &#8221; Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam bersabda, artinya,</p>
<p>&#8220;Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman. (Yaitu); Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; Benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan darinya, sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam api.&#8221; (Muttafaq ?alaih)</p>
<p>Rawi Hadits</p>
<p>Dia seorang sahabat Nabi yang mulia, Abu Hamzah Anas bin Malik bin an-Nadlar an-Najjari al-Khazraji radhiyallahu ?anhu. Seorang imam, ahli baca al-Qur&#8217;an, mufti, muhaddits, riwayatul Islam dan sekaligus pelayan Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam. Al-Imam adz-Dzahabi mengatakan, &#8220;Dia mendampingi Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam dengan begitu sempurna, dan senantiasa menyertai Rasul semenjak beliau hijrah ke Madinah. Berkali-kali dia mengikuti perang beserta Nabi shallallahu ?alaihi wasallam dan merupakan salah seorang yang ikut berbai&#8217;at di bawah pohon (bai?atul ?aqabah).&#8221;</p>
<p>Anas radhiyallahu ?anhu berkata, &#8220;Aku melayani Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam selama sepuluh tahun, beliau tidak pernah memukulku, tidak pernah mencelaku dan tidak pernah bermuka masam di hadapanku.&#8221; Rasulullah mendoakan Anas agar dikaruniai harta dan anak yang banyak dan doa beliau dikabulkan Allah. Disebutkan bahwa putra-putri Anas pada masa menjelang wafat mencapai lebih dari seratus orang. Beliau meninggal pada tahun 91 atau 92 hijriyah. Beliau adalah sahabat Nabi shallallahu ?alaihi wasallam yang paling akhir meninggal dunia, dan ketika beliau wafat, maka bersedihlah semua orang sehingga dikatakan, &#8220;Separuh ilmu telah pergi&#8221;.<span id="more-364"></span></p>
<p>Makna Hadits</p>
<p>-Tiga hal, maksudnya adalah tiga ciri atau sifat.</p>
<p>-Jika tiga hal itu ada pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya iman. Maksud ada pada dirinya yaitu secara utuh keseluruhannya. Maka artinya adalah ada tiga sifat yang jika tiga sifat itu ada pada seseorang maka orang tersebut akan merasakan manisnya iman. Dan yang dimaksud dengan manisnya iman adalah rasa nikmat ketika melakukan ketaatan kepada Allah, ketenangan hati dan lapangnya dada.</p>
<p>Al-Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, &#8220;Syaikh Abu Muhammad bin Abu Hamzah berkata, &#8220;Pengungkapan dengan lafal &#8220;manis&#8221; karena Allah subhanahu wata?ala mengumpamakan iman sebagaimana pohon, seperti di dalam firman-Nya, surat Ibrahim 24, &#8220;Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik.&#8221;</p>
<p>Kalimat thayyibah (baik) adalah kalimatul ikhlash, kalimat tauhid, sedangkan pohon merupakan pokok dari keimanan, cabang-cabangnya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan, daun-daunnya adalah segala amal kebaikan yang harus diperhatikan seorang mukmin, dan buahnya adalah segala macam bentuk ketaatan. Manisnya buah akan didapat ketika buah sudah matang, dan puncak dari rasa manis itu adalah bila buah telah masak total, maka ketika itulah akan terasa manisnya buah tersebut.</p>
<p>-Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, artinya mencintai Allah subhanahu wata?ala dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada orang lain seperti orang tua, anak, diri sendiri dan semua orang.</p>
<p>-Mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Maksudnya adalah hendaknya hubungan antara seorang muslim dengan saudaranya -muslim yang lain- dilandasi dengan iman kepada Allah subhanahu wata?ala dan amal shalih. Bertambahnya kecintaan bukan karena mendapatkan keuntungan materi dan berkurangnya cinta bukan karena tiadanya manfaat dunia yang diperoleh, namun ukurannya adalah iman dan amal shalih.</p>
<p>-Benci jika kembali kepada kekufuran, sebagaimana bencinya jika dilemparkan ke dalam api. Di dalam riwayat lain disebutkan, &#8220;Bahkan dilemparkan ke dalam api lebih dia sukai daripada kembali kepada kekufuran, setelah Allah menyelamatkan dia dari kekufuran itu.&#8221; Ini maknanya lebih mendalam daripada riwayat di atas, karena riwayat di atas menunjukkan kesamaan tingkat di dalam membenci kekufuran dan membenci jika dibakar di dalam api.</p>
<p>Beberapa Faidah dan Hukum</p>
<p>    * Iman kepada Allah subhanahu wata?ala memiliki rasa manis yang tidak mungkin dinikmati, kecuali oleh orang-orang yang beriman dengan sebenarnya, yang disifati dengan ciri-ciri yang mengindikasikan sebagai ahlinya. Oleh karena itu, tidak semua orang yang menyatakan dirinya mukmin otomatis dapat merasakan manisnya iman itu.</p>
<p>    * Cinta Allah, kemudian disusul cinta Rasul-Nya shallallahu ?alaihi wasallam merupakan ciri terpenting yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin merasakan lezatnya iman. Cinta Allah dan cinta rasul-Nya tidak boleh diungguli oleh cinta kepada siapa pun selain keduanya. Bahkan cinta Allah dan Rasul-Nya merupakan parameter dan tolok ukur bagi kecintaan terhadap diri sendiri, orang tua, anak, dan seluruh manusia.</p>
<p>      Suatu ketika Umarradhiyallahu ?anhuberkata kepada Nabi shallallahu ?alaihi wasallam, &#8220;Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pada segala sesuatu apa pun, kecuali diriku.&#8221; Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, &#8220;Tidak demikian, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari pada dirimu sendiri.&#8221; Maka Umar menjawab, &#8220;Demi Allah, sesungguhnya engkau sekarang lebih aku cintai dari pada diriku sendiri.&#8221; Maka Nabi mejawab, &#8220;Sekarang hai Umar,&#8221; (telah sempurna imanmu). Anas radhiyallahu ?anhu juga meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam, beliau bersabda, artinya,<br />
      &#8220;Tidak beriman salah seorang di antara kalian, sehingga aku lebih dia cintai dari pada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.&#8221; Dan konsekuensi dari cinta ini adalah memenuhi apa yang diperintahkan Allah dan Rasul serta menjauhi apa yang dilarang Allah dan Rasul dengan penuh rasa rela dan ketundukan yang utuh, sebagaimana firman Allah subhanahu wata?ala, artinya,<br />
      Katakanlah, &#8220;Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu&#8221;. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.? (QS. 3:31)</p>
<p>    * Di antara sebab-sebab yang dapat mengantarkan seseorang memperoleh kecintaan Allah -setelah melakukan kewajiban- adalah sebagaimana yang disampaikan al-Imam Ibnul Qayyim, yaitu:<br />
          o Membaca al-Qur&#8217;an dengan merenungkan dan memahami maknanya.</p>
<p>          o Mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata?ala dengan melakukan amalan sunnah.</p>
<p>          o Terus menerus berdzikir kepada Allah dalam segala kondisi, baik dengan hati, lisan atau perbuatan.</p>
<p>          o Mendahulukan apa yang dicintai Allah dibanding yang dicintai diri sendiri.</p>
<p>          o Berteman dengan orang-orang yang jujur mencintai Allah dan sesama muslim.</p>
<p>          o Menjauhi segala perkara yang dapat menghalangi antara hati dengan Allah.</p>
<p>    * Mencintai Nabi shallallahu ?alaihi wasallam adalah merupakan tuntutan dari kecintaan terhadap Allah subhanahu wata?ala. Ia berada di atas kecintaan terhadap seluruh manusia. Di antara ciri-cirinya adalah:</p>
<p>          o Beriman bahwa beliau shallallahu ?alaihi wasallam adalah utusan Allah, yang diutus kepada seluruh umat manusia, sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira, sebagai penyeru ke jalan Allah dengan membawa cahaya yang terang benderang.</p>
<p>          o Bercita-cita untuk bertemu dengan beliau dan khawatir jika tidak dapat bertemu beliau.</p>
<p>          o Menjalankan perintah-perintah beliau dan menjauhi larangan beliau, karena orang yang mencintai seseorang, maka akan menaatinya. Jangan sampai tertipu dengan klaim dusta mencintai Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallamnamun tidak menjalankan perintahnya, bahkan menerjang larangannya.</p>
<p>          o Menolong sunnahnya, mengamalkan, menyebarkan, membela dan memperjuangkannya.</p>
<p>          o Banyak bershalawat dan bersalam kepada Rasulullah shallallahu ?alaihi wasallam.</p>
<p>          o Berakhlaq dengan akhlaq beliau dan beradab dengan adab-adab beliau.</p>
<p>          o Mencintai sahabat-sahabat beliau dan membela mereka.</p>
<p>          o Mengkaji perjalanan hidup dan sirah beliau serta mengetahui keadaan dan berita-berita yang menyangkut beliau.</p>
<p>    * Selayaknya jalinan seorang muslim dengan muslim yang lain dibangun di atas landasan cinta kepada Allah subhanahu wata?ala. Karena jenis cinta seperti ini memiliki keutamaan yang amat besar, dan mendatangkan pahala yang banyak. Imam al-Bukhari dan imam Muslim meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ?alaihi wasallam tentang tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Salah satu di antaranya adalah, &#8220;Dua orang yang saling menyintai karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.&#8221;</p>
<p>    * Saling mencintai karena Allah mempunyai hak-hak yang harus ditunaikan, di antaranya:</p>
<p>          o Membantu memenuhi kebutuhan saudaranya dan mau melakukan itu, sebagaimana di dalam hadits, &#8220;Sebaik-baik orang adalah yang paling memberi manfaat kepada orang lain.&#8221;</p>
<p>          o Tidak membicarakan aib, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, sebagaimana diri kita juga senang jika aib kita tidak dibicarakan, maka mereka pun demikian.</p>
<p>          o Tidak membenci, tidak iri dan dengki terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada saudara kita.</p>
<p>          o Mendoakan saudara kita -tanpa sepengetahuannya- baik ketika dia masih hidup atau setelah meninggal dunia. Karena doa yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakan adalah mustajab, begitu pula bagi yang berdoa.</p>
<p>          o Bersegera mengucapkan salam jika bertemu, bertanya tentang kabar dan keadaanya, tidak bersikap sombong dan merasa tinggi.</p>
<p>    * Kekufuran adalah hal yang dibenci Allah. Maka seorang mukmin wajib membencinya sebagaimana benci jika dilemparkan ke dalam api, bahkan lebih benci lagi. Orang kafir juga dibenci oleh Allah, maka orang mukmin juga harus membencinya disebabkan oleh kekufurannya yang akan menggiring masuk neraka. Atas dasar ini maka bersikap loyal (berwala&#8217;) kepada orang kafir adalah merupakan sebab dari kemurkaan Allah subhanahu wata?ala dan kemarahan-Nya. Di antara bentuk-bentuk sikap loyal kepada orang kafir adalah mencintai mereka, menolong mereka dalam rangka memerangi orang mukmin, bermudahanah (berbasa-basi, tidak mengingkari kesesatan dan kekeliruan mereka sehingga terkesan membenarkan-red), bersahabat atau mengambil mereka sebagai teman akrab dan mengangkat mereka menjadi orang kepercayaan serta orang dekat (bithanah). Padahal Allah subhanahu wata?ala telah berfirman, artinya,<br />
      Janganlah orang-orang mu&#8217;min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu&#8217;min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).? (QS. 3:28)</p>
<p>      Diambil dan diterjemahkan oleh Abu Ahmad Taqiyuddin dari makalah Syaikh Nashir al-Syimali, dengan judul halawatul iman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/manisnya-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Rasul</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/cinta-rasul/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/cinta-rasul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 04:52:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasalam bersabda: &#8220;Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.&#8221; (Muttafaq Alaih) Saat ini, di tengah-tengah masyarakat sedang marak berbagai aktivitas yang mengatasnamakan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam .Kecintaan <a href='http://www.inilahjalanku.com/cinta-rasul/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , bahwasanya beliau shallallahu alaihi wasalam bersabda: &#8220;Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.&#8221; (Muttafaq Alaih)</p>
<p>Saat ini, di tengah-tengah masyarakat sedang marak berbagai aktivitas yang mengatasnamakan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam .Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam adalah perintah agama. Tetapi untuk mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak boleh kita lakukan menurut selera dan hawa nafsu kita sendiri. Sebab jika cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu kita ekspresikan secara serampangan tanpa mengindahkan syari&#8217;at agama maka bukannya pahala yang kita terima, tetapi malahan menuai dosa.<span id="more-362"></span></p>
<p>Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, mari kita membahas poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam , kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?, apa tanda-tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?, bagaimana agar mencintai Rasul shallallahu alaihi wasalam ?</p>
<p>1. Kewajiban Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam</p>
<p>Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam dengan kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.</p>
<p>Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu anhu berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam : &#8220;Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.&#8221; Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, &#8216;Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri&#8217;. Maka Umar berkata kepada beliau, &#8216;Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.&#8217; Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, &#8216;Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar.&#8221;</p>
<p>Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam belum sampai pada tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , beliau bersabda:</p>
<p>&#8220;Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, &#8216;Yaitu, kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>2. Kenapa Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam ?</p>
<p>Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam secara sempurna kecuali orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta&#8217;ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan perhiasannya.</p>
<p>Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam kita akan mendapatkan keselamatan dan kemenangan di akhirat.</p>
<p>Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wasalam .</p>
<p>3. Tanda-tanda Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam</p>
<p>Cinta Nabi shallallahu alaihi wasalam tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.</p>
<p>Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam adalah:</p>
<p>a. Mentaati beliau shallallahu alaihi wasalam dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Pecinta sejati Rasul shallallahu alaihi wasalam manakala mendengar Nabi shallallahu alaihi wasalam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada yang dicintainya.</p>
<p>Adapun orang yang dengan mudah-nya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi shallallahu alaihi wasalam serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu, padahal Nabi shallallahu alaihi wasalam sangat meng-agungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan berbagai larangan agama lainnya. Na&#8217;udzubillah min dzalik.</p>
<p>b. Menolong dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wasalam . Dan ini telah dilakukan oleh para sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan mensosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang dihadapinya.</p>
<p>c. Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau shallallahu alaihi wasalam , rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun dari sunnah-nya . Adapun selain beliau, hingga para ulama dan shalihin maka mereka adalah pengikut Nabi shallallahu alaihi wasalam .Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasalam .</p>
<p>d. Mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam dalam segala halnya. Dalam hal shalat, wudhu, makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau shallallahu alaihi wasalam dalam kasih sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.</p>
<p>e. Memperbanyak mengingat dan shalawat atas beliau shallallahu alaihi wasalam . Mengharapkan bisa mimpi melihat beliau, betapapun harga yang harus dibayar. Dalam hal shalawat Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda:<br />
&#8220;Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Adapun bentuk shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasalam adalah sebagaimana yang beliau ajarkan. Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab: &#8220;Ucapkanlah:<br />
( Ya Allah, bershalawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad).&#8221; (HR. Al-Bukhari No. 6118, Muslim No. 858).</p>
<p>f. Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi shallallahu alaihi wasalam . Seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, Ali radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau shallallahu alaihi wasalam mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan membenci orang yang dibenci beliau shallallahu alaihi wasalam . Lebih dari itu, hendaknya kita mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.</p>
<p>4. Bagaimana Agar Mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam ?</p>
<p>a. Hendaknya kita ingat bahwa Nabi shallallahu alaihi wasalam adalah orang yang paling baik dan paling berjasa kepada kita, bahkan hingga dari orang tua kita sendiri. Beliau lah yang mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya, yang menyampaikan agama dan kebaikan kepada kita, yang memperingatkan kita dari kemungkaran. Dan kalau bukan karena rahmat Allah yang mengutus beliau shallallahu alaihi wasalam , tentu kita telah tenggelam dalam kesesatan.</p>
<p>b. Renungkanlah perjalanan hidup Nabi shallallahu alaihi wasalam , jihad dan kesabarannya serta apa yang beliau korbankan demi tegaknya agama ini, dalam menyebarkan tauhid serta memadamkan syirik, sungguh suatu upaya yang tidak bisa dijangkau oleh siapapun.</p>
<p>c. Renungkanlah keagungan akhlak Nabi shallallahu alaihi wasalam , sifat dan sikapnya yang sempurna, rendah hati kepada kaum mukminin dan keras terhadap orang-orang munafik dan musyrikin, pemberani, dermawan dan penyayang. Cukuplah sanjungan Allah atas beliau shallallahu alaihi wasalam :<br />
&#8220;Dan sungguh engkau memiliki akhlak yang agung&#8221;.</p>
<p>d. Mengetahui kedudukan beliau shallallahu alaihi wasalam di sisi Allah Ta&#8217;ala. Beliau shallallahu alaihi wasalam adalah orang yang paling mulia di antara segenap umat manusia, penutup para Nabi, yang diistimewakan pada hari Kiamat atas segenap Nabi untuk memberikan syafa&#8217;at uzhma (agung), yang memiliki maqam mahmud (kedudukan terpuji), orang yang pertama kali membuka pintu Surga serta berbagai keutamaan beliau lainnya. .</p>
<p>(Disadur dari Abu Okasha) <em><br />
sumber:http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&#038;id=68</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/cinta-rasul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

