<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>code4769&#039;s site &#187; akhirat</title>
	<atom:link href="http://www.inilahjalanku.com/tag/akhirat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inilahjalanku.com</link>
	<description>Portal IT &#38; Islamic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 02:54:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Integrasi Islam dan budaya lokal : Yasinan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 18:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[ada aja]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[uummmmm, sedikit share lagi. ini tugas kuliah saya pada matakuliah islam dan budaya lokal beberapa tahun yang lalu.. nemu di arsip, iseng-iseng saya share disini. ok, semoga manfaat&#8230; ======================================================== Yasinan merupakan salah satu contoh hasil dari pencampuran antara budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat jawa percaya bahwa dengan di adakannya ritual yasinan, para keluarga bisa <a href='http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>uummmmm, sedikit share lagi. ini tugas kuliah saya pada matakuliah islam dan budaya lokal beberapa tahun yang lalu.. <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  nemu di arsip, iseng-iseng saya share disini. ok, semoga manfaat&#8230;</p>
<p>========================================================</p>
<p>Yasinan merupakan salah satu contoh hasil dari pencampuran antara budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat jawa percaya bahwa dengan di adakannya ritual yasinan, para keluarga bisa mengirimkan pahala kepada kerabat yang sudah meninggal, sehingga memudahkan sang kerabat untuk masuk surga.</p>
<p>Penyelenggaraan yasinan di tentukan berdasarkan hitungan hari setelah meninggalnya seseorang, yaitu: tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, pendak 1, pendak 2, sampai seribu hari setelah seseorang meninggal.</p>
<p>Dalam yasinan biasanya dibacakan surat yasiin, An Naas, Al Falaq, Al Ikhlash, al baqarah 1-5, Ayat Kursy, serta tiga ayat terakhir dalam surat al baqarah. Kemudian di bacakan juga tahlil, istighfar, dan ditutup doa.</p>
<p>Yasinan biasa di adakan setelah waktu sholat isya’, yang dihadiri oleh para tetangga almarhum. Dalam acara ini para tetangga duduk berkeliling sambil membaca doa-doa islami yang telah disebutkan di atas. Pembacaan doa ini biasanya memakan waktu sekitar 30 menit.<br />
<span id="more-513"></span><br />
Menurut sejarah, lahirnya tradisi Yaasin dan Tahlil berangkat dari akulturasi budaya Islam dengan Jawa yang bernuansa Hindu-Budha. Islam ketika masuk ke tanah Jawa, pada masa awal penyebarannya dilakukan melalui dakwah kultural. Hal ini dimotori oleh Sunan Kalijaga yang juga seorang budayawan.</p>
<p>Pada saat itu, kebiasaan lek-lekan (kumpul malam hari) sepeninggalnya seseorang dulunya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang kurang Islami, antara lain: main kartu, minum-minuman, pemberian sesajen, dan sebagainya. Kemudian sedikit demi sedikit tradisi lek-lekan itu dikawinkan dengan nilai-nilai Islam melalui ritual Yaasin dan Tahlil. Akhirnya, mitong dino, matang puluh dino, mendhak sepisan dan seterusnya sampai saat ini dapat kita saksikan dalam ritual Yaasin dan Tahlil. Dan dakwah semacam itu cukup efektif yang menjadikan Islam berkembang pesat di tanah jawa secara kwantitatif.</p>
<p>Jadi pada kasus ini, pencampuran yang terjadi adalah pemakaian doa-doa yang islami untuk mengisi suatu acara tradisi yang sudah dikenal oleh rakyat jawa semenjak islam belum datang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syahadat rukun islam pertama, syariat islam penting yang terlupakan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 12:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Saya rasa topik tentang syahadat penting untuk kembali diangkat. Mengingat ada beberapa hal dari syariat ini yang terlupakan (berdasar pemahaman saya). Maka kali ini saya menyuguhkan sebuah artikel singkat yang membahas sekilas tentang hal ini. Semoga bermanfaat. ========================================================== Syahadah yg diucapkan dalam sholat itu merupakan rukun sholat…bukan pelaksanaan dari rukun pertama syahadatain itu sendiri. dan <a href='http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya rasa topik tentang syahadat penting untuk kembali diangkat. Mengingat ada beberapa hal dari syariat ini yang terlupakan (berdasar pemahaman saya). Maka kali ini saya menyuguhkan sebuah artikel singkat yang membahas sekilas tentang hal ini. Semoga bermanfaat. </p>
<p>==========================================================</p>
<p>Syahadah yg diucapkan dalam sholat itu merupakan rukun sholat…bukan pelaksanaan dari rukun pertama syahadatain itu sendiri. dan syahadataain itu mempunyai dasar sendiri, kaidah sendiri, sayarat dan rukun sendiri. karena kurang faham tentang hal inilah mungkin yang menjadikan sebuah perjuangan dakwah itu tak jelas.</p>
<p>DALIL-DALIL SYAHADATAIN</p>
<p>I. Al-qur’an</p>
<p>Dalil-dalil umum tentang syahadat laa ilaha illallah</p>
<p>Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( Qs: Ali-Imran ayat 18 )</p>
<p>Penjelasan ayat :<br />
{ شهد ا لله انه لااله الا الله} الآية فَإِنَّهُ يُجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى : عَبْدِي عَهْدٌ اِلَيَ عَهْدًا وَاَنَا أَحَقَّ مَنْ وَفَّى ، أَدْخَلُوْا عَبْدِي اَلْجَنَةَ ،</p>
<p>Muhammad Ali ash-Shabuni menjelaskan dalam kitab Sofwah at-Tafasir bahwa ” Syahidallahu annahu laa ilaha illa ana. Bahwa ayat ini menjelaskan,sesungguhnya orang yang menyatakan ( syahadat tauhid ) maka didatangkan pada hari kiamat.lalu Allah Azza wa jalla berfirman: “ Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku ,dan Aku adalah yang paling berhak menepati janji,masukanlah hamba-Ku ke syurga,”</p>
<p>*  Syahadat yang dimaksud dalam ayat diatas menurut ulama tafsir ialah sebuah perjanjian yang sifatnya mengikat antara Allah dan hamba-Nya *</p>
<p>Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.( Qs: Al-anbiyaa’ ayat 25 )</p>
<p>Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,( Qs : Ash-shaffat ayat 35)</p>
<p>II. Hadits</p>
<p>Dalil-dalil umum tentang syahadat</p>
<p>1) Hadits tentang rukun islam<br />
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَابِ رضي الله عنهما قال: سَمِعْتُ رسولَ ا لله صلى الله عليه وسلم: بُنِيَ ا ْلإِ سْلاَ مُ عَلَى خَمْسٍ شَهَا دَ ةِ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَّ ا لله وَ اَ نَ مُحَمَّدً ا ا لرَّ سُو لُ ا للهِ وَ اِ قَا مِ ا لصَّلاَ ةِ وَ اِ يْتَاءِ ا لزَّ كَا ةِ وَ حِجِِّ ا لْبَيْتِ وَ صَوْ مِ رَ مَضَا نَ ( رواه البخارى و مسلم)</p>
<p>Dari Abi Abdi ar-Rahman bin Ibnu Umar Ibni Khattab Ra. Berkata : “ Aku telah mendengar bahwa Rasulullah Saw pernah berkata “ (( Islam dibanun di atas lima perkara yaitu mengucapkan syahadat tidak ilah selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah serta mendirikan shalat menunaikan zakat shaum di bulan ramadhan dan menuaniakan haji ke Baitullah.)) “</p>
<p>2) Hadits tentang akhir hayat Abu Thalib Paman Nabi Muhammad Saw<br />
عَنْ إِبْن المسيب عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبِ الْوَفَاةُ, جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص.م, وَعِنْدَهُ عَبْدُالله بنُ أُُمَيَّةَ وَأَبُوْ جَهْلٍ, فَقَالَ لَهُ: يَا عَمِّ ! قُلْ لاَ إله إلاّ الله،كلمة أشهد لك به عند الله )). فَقاَلَ أبو جهل عَبْدُ الله بنُ أُُمَيَّةَ :يَا أَبَا طَالِبٍ؟! أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَلِب؟!فَلَمْ يَزَلْ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيْدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ،حَتىَّ قَالَ اَبُوْ طَالِِبٍ آَخَرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلِّةِ عَبْدِ الْمُطَالِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُوْلَ: لاإله إلاّ الله. فَقَالَ النَّبِى ص.م: “لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أَنْهَ عَنْكَ” فَأَنْزَلَ الله عَزَ وَجَل{, مَاكَانَ لِلنَّبِى وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِين} وَأَنْزَلَ الله فِى اَبِى طَالِب {إنَّكَ لاَ تَهْدِى مَن أحببت وَلَكِن الله يَهْدِى مَن ْيَشَا}</p>
<p>“ Dari Sa’id bin al-Musayyab Ra., dari Ayahnya Ra.,ia berkata tatkala Abu Thalib menjelang ajal: Rasulullah Saw mendatangi Abu Thalib lalu beliau dapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Ummayah bin al-Mughirah di sisi Abu Thalib,kemudian Rasulullah Saw.mengatakan,” Wahai Paman! Ucapkanlah Laa Ilaha Illallah,sebuah kalimat yang akan kupersaksikan untukmu di sisi Allah.” Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Ummayah mengatakan,” Hai Abu Thalib! Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” kemudian Rasul Saw menyodorkan kembali kalimat syahadat Laa Ilaha Illallah kepada Abu Thalib dengan mengulang-ulangnya sehingga Abu Thalib tetap berpaling dari kalimat tersebut, dan dia ( Muhammad ) kembali kepada Abu Thalib dengan perkataan tadi.sampai Abu Thalib mengatakan sesuatu di akhir kepada mereka” Dia ( Muhammad ) adalah menganut agama Abdul Muthalib ,Lalu Abu Thalib enggan mengucapakan laa ilaha illallah,lalu Rasul Saw mengatakan “ Demi Allah,aku akan memintakan ampun untukmu selama tidak dilarang,maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat di dalam surat At-taubah ayat 113 dan surat Al-qoshosh ayat 56 )</p>
<p>3) Hadist tentang di utusnya Duta dakwah Muadz bin Jabal ke Yaman</p>
<p>وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رضي الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث معاذا إلى اليمن قال ” إِنَّكَ تَأتِي قَوْمًا مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ،” وَفِى رِوَايَةٍ إِلَى أَنْ يُوَحَّدُوااللهً – فًإٍنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتِ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ،فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةٍ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَا عِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَاعِهِمْ …</p>
<p>( H.r Bukhari &#038; Muslim dalam kitab terjemah Fathul Majid Bab: Dakwah kepada Syahadat Laa Ilaha Illallah ) hal.155</p>
<p>Pendapat Imam An-nawawi</p>
<p>: ” فًإٍنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتِ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ<br />
قَالَ اَ لنَّوَوِي مَامَعْنَاهُ : أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى اَنَّ الْمُطَا لَبَةَ بِالْفَرَائِضِ فِى الدُّنْيَا لاَ تَكُونُ إِلاَّ بَعْدَ ا ْلإِسْلاَمِ</p>
<p>Imam An-Nawawi Rh. Dalam mengomentari hadits muadz bin Jabal di atas mengatakan : ” Hadits ini menunjukkan bahwa menjalankan kewajiban di dunia tidak akan berlaku kecuali setelah Islam”</p>
<p>4) Hadits tentang memerangi manusia untuk mengucapkan kalimat syahadat</p>
<p>اُمِرْتُ أَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا : لاَ اِلَهَ اِلاَّ ا للهُ فَإِذَا قَالُوْا هَا عَصَمُوْا دِمَاعَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ اِلاَّ بِحَقِّهَا…</p>
<p>“ Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan kalimat Laa ilaha illallah,maka jika mereka telah mengucapkannya terlindungilah darah mereka dan harta mereka kecuali dengan haknya…”</p>
<p>III. Aqwal ‘ulama ( Perkataan ulama Tauhid ) Tentang syahadat</p>
<p>1) At-Tajus As-Subki dalam kitab Irsyadul Ibadnya mengatakan dalam bab Iman : “ Bahwa tidak dipandang syah amalan anggota tubuh ( berupa shalat, haji, zakat dll ) jika tidak disertai iman dalam hati, dan tidak dipandang sah iman dalam hati jika tidak disertai “ucapan dengan lisan “ dua kalimah syahadat secara nyata . “</p>
<p>2) Dalam Kitab Al-Hushunul Hamidiyah mengatakan : “ Bahwa mengucapkan/ mengikrarkan dua kalimat syahadat”dengan lisan” adalah syarat bagi seseorang untuk diberlakukan hukum – hukum Islam atasnya. “ ( Di Kutip dalam buku Al-Islam Jilid I,Karya Tgk Hasbi Ash-shiddiqy )</p>
<p>3) Imam Muhammad Bin Abdul Wahab Rh; “ Kalimat Laa ilaaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkan, jika tidak memahami makna kandungan, tuntunannya, dan syarat syahnya. ( Dalam Kitab Fathul Majid )</p>
<p>4) Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rh. Mengatakan dalam Kitab “ Ad-Durar “</p>
<p>وَ مُجَرَ دُ بِلَفْظِ ا لشَهَا دَ ةِ مِنْ غَيْرِ عِلْمٍ بِمَعْنَا هَا وَ لاَ عَمَلَ بِمَقْتَضَا هَا لاَ يَكُو نُ ا لْمُكَلَفُ مُسْلِمًا.وَ مَنْ شَهِدَ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَ ا للهُ وَ عَبَدَ غَيْرَ هُ مَعَهُ فَلاَ شَهَا دَ ةَ لَهُ وَ إِ نْ صَلَى وَ زَ كَى وَ صَا مَ وَ آ تىِ بِشَيْئٍ مِنَ اَ عْمَا لِ اْ لاِ سْلاَ مِ</p>
<p>“ Sekedar mengucapkan lafazh syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntunannya, maka itu tidak membuat seseorang menjadi muslim, maka siapa yang bersaksi, mengucapkan dua kalimat syahadat Tidak ada Ilah selain Allah yang berhaq disembah, sedang dia masih beribadah kepada selain Allah (melakukakan kesyirikan) maka syahadatnya tidak dianggap meskipun dia shalat, zakat, shaum dan melaksanakan sebagian ajaran Islam.</p>
<p>إِ نَ ا لنَطَقَ بِهَا مِنْ غَيْرِ مَعْرِ فَةِ مَعْنَا هَا وَ لاَ عَمَلَ بِمْقَتَضَا هَا مِنَ َاْ لتَِزَ ا مِ ا لتَوْ حِيْدِ وَ تَرَ كَ ا لشِرْ كِ وَ اْ لكُفْرَ بِا لطَا غُو تِ فَإِ نَ ذَ لِكَ غَيْرُ نَا فِعٍ باِ ْلاِ جْمَاعِ</p>
<p>Sesungguhnya mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan ( ilmu ) akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntunannya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta mengkufuri thagut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat berdasar ijma para Ulama’ “</p>
<p>Dari perkataan ulama dapat diambilhukum bahwa “ Syahadat “ adalah syarat sah diterimnya amal, dan sebagai syarat sah keislaman secara syar’i</p>
<p>Kewajiban Menegakkan Syahadat dengan mengikrarkan secara zhahir</p>
<p>Perkataan Syaikh Muhammad al-Sanusi,tentang wajibnya ikrar syahadat bagi Muslim Kauni atau Muslim Keturunan</p>
<p>فاَعْلَمْ اَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَرْبِيْنَ مُؤْمِنُ وَكاَفِرٌ أَمَّا الْمُؤْمِنُ بِاْلأَصَالَةِ فَيَجِيْبُ عَلَيْهِ اَنْ يُذْكَرَهَا فِى الْعُمُرِ مَرَّةً وَاحِدَةً يُنْوِى فِى تِلْكَ الْمَرَةِ بُذْكَرَهَا الْوُجُبُ وَ إِنْ تَرَكَ ذَلِكَ فَهُوَ عَاصٍ.</p>
<p>“ Ketahuilah,bahwa manusia terbagi menjadi 2 golongan mu’min dan Kafir,adapun mu’min ( yang berstatus keturunan ), maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat sekali seumur hidupnya yang diniatkan untuk menjalankan kewajiban syariat lainnya,dan jika ia menolak ( enggan bersyahadat ), maka dia telah bermaksiat. [Dikutip dalam buku menegakkan syariat syahadat,penulis oleh Umar Zia ul Haq,dalam kata pengantar]</p>
<p>*  Menurut Syaikh Muhammad Abdul Wahab Rh.bahwa keislaman terbagi menjadi dua yaitu : islam kauni dan islam syar’I, adapun islam kauni islam yang berdiri atas dasar pijakan lingkungan dan keadaan dari orang tua,sebagaimana islamnya alam dan makhluk hidup yang lainnya secara fitrah penciptaan,sedangkan islam syar’I ialah keislaman yang berpijak atas dasar tuntunan syariat yang berdasar petunjuk ajaran Al-qur’an *<br />
<span id="more-469"></span><br />
Ø Pendapat Ibnu Taimiyah Rh.</p>
<p>قال شيخ الإسلام إبن تيمية : وَقَدْ عُلِمَ بِاْلاِضْطِرَارِ مِنْ دِيْنِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَاِتَِّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأُمّةُ أَنَّ أَصْلَ اْلإِسْلاَمِ وَأَوَّلَ مَا يُؤْمَرُ بِهِ الْخَلْقَ : شَهَادَةُ أَنَ لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فَبِذَلِكَ يَصِيْرُ الْكَافِرُ مُسْلِمًا وَالْعَدُوُّ وَلِيًا وَالْمُبَاحُ دَمَهُ وَمَالَهُ : مَعْصُومُ الدَّمَ وَالْمَالَ ثُمَّ إِنْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ فَقَدْ دَخَلَ فِى اْلإِيْمَانِ وَإِنْ قَالَهُ بِلِّسَانِهِ دُوْنَ قَلْبِهِ فَهُوَ فِى ظَاهِرٍ اْلإِسْلاَمِ دُوْن بَاطِنٍ اْلإِيْمَانِ قَالَ : وَأَمَّا إِذَا لَمْ يَتَكلّمُ بِهَا مَعَ الْقُدْرَةِ فَهُوَ كَافِرٌُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ بَاطِنًا وَظَاهِرًا عِنْدَ سَلَفِ اْلأُمَّةِ وَأَئَمِّتِهَا وَجَمَاهِيْرِ الْعُلَمَاءِ</p>
<p>Telah diketahui dengan pasti dari dinurrosul dan sepakat seluruh ummat (shahabat ) bahwa dasar islam dan yang pperintah pertama kepada manusia adalah syahadat شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله karenanya dengan syahadat yang kafir jadi muslim, musuh jadi pelindung, orang yang halal darah dan hartanya menjadi terlindungi darah dan hartanya. Kemudian jika hal itu keluar dari hatinya, maka ia sungguuh telah beriman.jika mengucapkannya dengan lisan tanpa hati,maka ia menampakan keislaman tanpa ada iman dalam hati ( ia Munafiq), Dia berkata ( Ibnu Taimiyah ),” dan jika tidak mengucapkannya padahal ia mampu, maka ia adalah kafir lahir bathin menurut kesepakatn kaum muslimin, pendahulu umat, imam mereka dan meyorita ( Lihat Fathul majid hal 78 )</p>
<p>IV. Istinbath Hukum</p>
<p>Pengambilan Hukum Tentang syariat syahadat</p>
<p>Dalam Qaidah Ushul Fiqih ada ketetapan hukum terhadap dalil naqli ( nash al-qur’an dan hadits ) dikatakan oleh ulama ushuliyin : “ Bahwa wajib mengamalkan nash ayat Qur’an dan hadits Nabi berdasarkan keumuman &#038; kemuthlaqannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan dan mengikatnya,wajib mengamalkan nash ayat dan hadits sesuai dengan yang ditunjukkannya selama tidak ada dalil yang menyelisihinya.,jika terdapat dalil umum yang muncul karena sebab khusus,maka yang disepakati ulama ushul ialah wajib mendahulukan keumumannya.sebagaimana Qaidah ushul yang berbunyi :</p>
<p>اَلْعِبْرَةُ بِعُمُومِ الَّفْظِ لاَ بِخُصُوصِ السَّبَابِ</p>
<p>“ Hukum yang diambil dalam Qur’an adalah berdasarkan keumuman lafazh bukan kekhususan sebab.</p>
<p>Sedangkan dalam istilah ushul penyebutan tentang lafazh umum disebut ‘Am.adapun maknanya menurut ushul fiqih ialah<br />
الَلفْظُ اَلْمُسْتَغْرِقُ لِجَمِيْعِ أَفِرَادِهِ بِلاَ حَصْرٍ</p>
<p>“Lafal yang mencakup semua jenis ( seluruh makhluk ) tanpa ada batasan yang mengikat”</p>
<p>V. Hakikat Syahadat Secara Syar’i</p>
<p>A. Pengertian Syahadat</p>
<p>شهد- يشهد – شها د ة – مشا هد ة ج شهود<br />
Makna Syahadat yang dimaklumi oleh ulama Tauhid ialah bermakna : Persumpahan atau Persaksian ( Bersumpah atau bersaksi )</p>
<p>الشهادة : الإقرار و البيان<br />
Pengakuan &#038; Penjelasan<br />
( Muhammad Ali as-Shabuni,Shofwatu at-Tafasir.Hal.173,)</p>
<p>Makna Syahadat secara syar’i</p>
<p>· Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan makna Syahadat<br />
لا اله ا لاا لله</p>
<p>SYAHADAT ialah : Pengakuan, Pembenaran,dan keyakinan bahwa Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Swt tiada sekutu bagi-Nya. Jadi makna secara menyeluruh ialah “ Keyakinan dan Pengakuan bahwa tidak ada yang berhak diabdi kecuali Allah lalu berkomitmen dengannya dan mengamalkan tuntunannya dan tidak mempersekutukan-Nya.i nilah Hakikat Laa ilaha Illallah.</p>
<p>شَهَا دَ ةُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَّ ا للهُ اَ عْتَقِدُ اَ نَّ ا للهَ وَا حِدٌ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ فِى عِبَا دَ تِهِ وَ لاَ فىِ مُلْكِهِ</p>
<p>“Syahadat Dengan mengucapkan Laa ilaha Illallah ialah mengakui bahwa Alloh adalah esa &#038; tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah &#038; pemerintahan-NYA “</p>
<p>Kandungan makna syahadat menurut penjelasan di atas.b ahwa nilai dasar SYAHADAT yang syar’i ialah yang menuntut pembersihan aqidah dari syirik Uluhiyah dan syirik Mulkiyah. jika tidak terpenuhi dua aspek ini atau salah satunya saja, maka dianggap masih berstatus MUSYRIK, Sebaliknya seorang dikatakan MUWAHID jika mentauhidkan Allah pada aspek Uluhiyah dan aspek Mulkiyah</p>
<p>VI. Rumusan syahadat menurut para ‘Ulama Tauhid</p>
<p>Sesungguhnya mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan ( ilmu ) akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntunannya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta mengkufuri thagut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat berdasar ijma para Ulama’ “</p>
<p>Syahadat yang dituntut menurut syar’I ialah syahadat tidak sekedar syahadat untuk ritual ibadah yang dilakukan umumnya kaum awwam .seperti : ritual sholat, ritual kendurian, ritual nikah, dll. Ritual amalan syahadat tersebut tidak membawa manfaat terhadap amal dan keislaman, sungguhpun dengan lafazh yang sama dan untuk perkara yang baik, namun para memberikan penegasan tentang nilai syahadat yang syar’I wajib dilandasi pemahaman yang benar serta tuntunan yang benar.</p>
<p>Berikut tuntunan syahadat secara syar’i</p>
<p>شُرُوطُ قَبُولِ الشَّهَادَتيَْنِ<br />
Syarat diterimanya syahadat</p>
<p>1. Bil ilmi ( dengan Pengetahuan ) Qs :47/19<br />
2. Bil Ikhlas ( dengan ketauhidan yang hanif ) Qs : 22/31<br />
3. Bil Yakin ( dengan Keyakinan hati ) Qs : 15/99<br />
4. Bil Sidqi ( dengan kebenaran ucapan &#038; amal ) Qs :61/7<br />
5. Bil Qabul ( dengan penerimaan hukum-2nya ) Qs:33/36<br />
6. Bil Mahabbah ( dengan penuh kecintaan ) Qs : 3/31<br />
7. Bil Inqiyadi ( dengan kethataan ) Qs : 4/60<br />
( Kitab Fathul Majid )</p>
<p>Syarat sah sempurnanya syahadat Laa ilaha illallah</p>
<p>1. Bil lisan ( dizahirkan dengan ucapan lisan ) : إقرار بالسان ( Lihat penjelasan &#038; komentar para Ulama tentang kewajiban melafazhkan syahadat dengan ikrar lisan )</p>
<p>2. Bil Jamaah ( bergabung dengan Jamatul Muslimin sebagai Daulah penegak perjuangan syahadat ),sebagaimana dalil hadits Rasul</p>
<p>لاَ يَحِـلُّ دَ مٌ إِ مْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاََّ ا للهِ وَ اَ نِِّـيْ رَ سُو لُ ا للهِ اِ لاَ بِإِ حْدَ ئِ ثَلاَ ثٍ….ا لتَّا رْ كُ لِلدِِّ يْنِهِ وَ ا لْمُفَا رِ قُ لِلْجَمَا عَةِ…</p>
<p>“ Tidak halal ( haram ) bagi seseorang muslim darah &#038; hartanya yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali dengan 3 perkara….. diantaranya ( salah satunya ) yaitu meninggalkan dinnya (keyakinan ) &#038; keluar dari jamaah.” ( H.R Muslim )</p>
<p>Hadits Rasul tersebut mengandung nilai hukum, bahwa seorang Muslim akan sempurna nilai kemuslimannya manakala berkomitmen bergabung dengan jamaah. Rusaknya nilai syahadat seorang muslim , jika keluar dari keyakinan yang dianutnya dan keluar dari jamaah yang diperjuangkannya.</p>
<p>3. Bil Syuhada ( Menghadirkan seorang saksi ), yang dimaksud saksi disini dalam konteks bersyahadat ialah sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir Al-Qurthubi Asy-syahid الشاهدialah yang mengetahui sesuatu dan menjelaskannya dalam hal ini tentang keesaan Allah. Adapun yang dimaksud syahid disini ialah Ulul ilmi ( orang yang mengetahui akan kebenaran syahadat laa ilaha illallah yakni , para nabi dan Orang-orang beriman yang bertauhid ) dengan kata lain: tidak mungkin dituntunt hadirnya seorang saksi dalam syahadat kalau bukan orang yang memang memahami dan juga mengamalkan tuntunannya. http://iqraku.blogspot.com</p>
<p>4. Bil Amali bimaqtadoha ( Mengamalkan tuntunannya ) yaitu berupa komitmen dengan Tauhid dan meninggalkan kesyrikan serta mengkufuri Thagut. sebagaimana penjelasan dalam Al-qur’an Surat Al-baqarah ayat 256:</p>
<p>…Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p>Rukun-Rukun Syahadat</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mengatakan bahwa ulama sepakat menentukan bahwa rukun Laa ilaha Illallah , ada dua:</p>
<p>1. Menafikan ( meniadakan ) : Laa ilaaha ( Tidak ada ilah – yang berhak disembah )maksudnya membatalkan atau menggugurkan segala kesyirikan dalam semua bentuknya dan mewajibkan untuk mengingkari semua yang disembah selain Allah yang dinamakan THAGUT ( Lihat makna Thagut dan jenis-jenisnya dalam kitab Majmu Atut-Tauhid tentang risalah makna Thagut )</p>
<p>2. Menetapkan , Illallah ( Kecuali Hanya Allah saja ) maksudnya hanya Allah saja satu-satunya Abdian Al-ma’bud yang berhak penuh untuk diibadahi dan dithaati<br />
Pengertian rukun ini tertuang dalam Al-qur’an</p>
<p>“ Maka Barangsiapa yang Ingkar atau Kafir pada Thagut – bermakna rukun pertama ( menafikan ) “ Dan hanya beriman kepada Allah saja – bermakna rukun kedua ( menetapkan )</p>
<p>B. Kandungan Syahadat ( Madlulul Syahadah ):</p>
<p>a. Iqrar = Ikrar yang berisi pernyataan atau proklamasi berupa pembebasan diri dari ikatan jahili kepada ikatan islami. Qs:3/18,81</p>
<p>b. Al-Qasam = Ikrar yang mengandung sumpah,dengan mengakui kebenaran tauhid dan menjalankan tuntunannya,Qs:63: 1-2</p>
<p>c. Al-Mitsaq = Ikrar yang mengandung perjanjian,yaitu mengikhlaskan beribadah kepada Allah dengan tidak mensekutukan-Nya.Qs:5:7</p>
<p>C. Keutamaan Syahadat ( Fadhoilusy-Syahadah )</p>
<p>a. Madkhalu ila islam اَلْمَدْخَلُ إِلَى إِلإْسَلاَمِ<br />
Pintu Masuk Islam</p>
<p>Syaikh Muhammad Abdul Wahab Rh Mengatakan :<br />
فأول أركان إ لإسلام : شهادة ان لا اله الا الله وبها يدخل العبد فى إلإسلام<br />
“ Maka rukun Islam yang pertama yaitu syahadat Laa ilaha Illallah dimana dengan syahadat seorang hamba masuk ke dalam islam “</p>
<p>b. Khalashatu Ta’alimil Islam خَلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ<br />
Intisari (Ajaran Pokok ) Islam</p>
<p>Sebagaimana Hadits Muadz bin Jabal yang mengajarkan syahadat terlebih dahulu kepada setiap obyak dakwah ( Lihat dalil di atas )</p>
<p>c. Asasul Inqilab أَسَاسُ اْلإِنْقِلاَبِ<br />
Nilai dasar Perubahan/Reformasi Qs: 6 : 122<br />
Nilai dasar perubahan seseorang dikatakan sebagai hamba Allah,orang merdeka,dan sebagai warga Allah,manakala ia mengakui dan mengikrarkan dua kalimat syahadat dan menjalankan tuntunan kalimat tersebut ( Sayyid Quthb, Petunjuk Jalan,Bab : Aqidah &#038; kewarganegaraan )</p>
<p>d. Haqiqatu Da’wah ar-Rusul حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ الرُّسُلِ<br />
Hakikat Dakwah Para Rasul, Qs : 21: 25</p>
<p>e. Fadhailu ‘Adzimah فَضَائِلُ عَظِيْمَةُ<br />
Keutamaan yang Agung</p>
<p>Diantara keutamaan agung Syahadat ialah :</p>
<p>· Memasukan hamba ke dalam syurga,sebagaimana hadits Rasul</p>
<p>مَنْ قَالَ لاَ اِلَهَ اِلاَ ا للهُ وَهُوَ يَعْلَمُ دَخَلَ الْجَنَةَ</p>
<p>“ Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah sedangkan ia mengetahui ( ilmu &#038; Tuntunannya ) niscaya masuk syurga “ (H.r Muslim )</p>
<p>· Menghapus dosa-dosa besar ( Lihat dalam terjamah kitab Fathul Majid Bab : keutamaan kalimat tauhid dan bagi siapa yang mengamalkannya )<br />
· Memberikan syafaat ( Qs : 43 : 86 )<br />
· Sebagai nilai dasar hidayah seorang ( Qs : 6:82)</p>
<p>Realisasi Syahadat ( Tahqiqu Syahadatain )<br />
Aplikasi amalan Syahadatain dalam konteks Kekinian</p>
<p>Perwujudan Amaliyah syahadat Laa iIaaha Illallah</p>
<p>1. I’tisham bil Jamaah ( Bergabung dan komitmen dengan Jamaah ) Qs : Ali –imran ayat 103</p>
<p>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.</p>
<p>لاَ يَحِـلُّ دَ مٌ إِ مْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاََّ ا للهِ وَ اَ نِِّـيْ رَ سُو لُ ا للهِ اِ لاَ بِإِ حْدَ ئِ ثَلاَ ثٍ….ا لتَّا رْ كُ لِلدِِّ يْنِهِ وَ ا لْمُفَا رِ قُ لِلْجَمَا عَةِ…</p>
<p>“ Tidak halal ( haram ) bagi seseorang muslim darah &#038; hartanya yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali dengan 3 perkara….. diantaranya ( salah satunya ) yaitu meninggalkan dinnya (keyakinan ) &#038; keluar dari jamaah.” ( H.R Muslim )</p>
<p>Keharaman darah seorang muslim bukan hanya pengakuan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, akan tetapi juga diiringi dengan berpegang teguh dengan Al-jamaah.jika seorang muslim melepaskan tali ikatan jamaahnya ,maka berarti sama dengan melepaskan tali ikatan islam dalam dirinya,jika islam tidak ada dalam dirinya,maka yang Nampak adalah kekufuran</p>
<p>َعلَيْكُمْ بِا لْجَمَا عَةِ وَ اِ بَّا كُمْ وَ ا لْفُرْ قَةَ</p>
<p>“ Wajib atas kalian berjamaah dan jauhilah berpecah belah” . ( H.R Ahmad , dalam kitab musnad Ahmad , Shohih Turmidzi )</p>
<p>وَ اَ نَا اَ مَرَ كُمْ بِخَمْسٍ كَمَا اَمَرَ نِيَ ا للهُ بِهِنَّ : اَ لْجَمَا عَةُ وَ ا لسَّمْعِ وَ الطَّا عَةُ وَ ا لْهِجْرَ ةُ وَ ا لْجِهَا دُ فِى سَبِيْلِ ا للهِ فَمَنْ فَا رَ قَ ا لْجَمَا عَةَ قَيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِ بْقَةَ ا ْلاِ سْلاَ مِ مِنْ عُنُقِهِ إِ لاَّ اَن يُرَ ا جِعَ …<br />
“ Dan aku perintahkan kepada kalian terhadap lima perkara sebagaimana aku diperintahkan Allah dengannya yaitu : Berjamaah, Mendengar , thaat, dan berjihad dijalan Allah.maka barangsiapa keluar dari jamaah ( keluar kethaatan ) walau hanya sejengkal,maka telah lepas ikatan islam dari lehernya ( murtad ), kecuali ia taubat ( kembali bejamaah )… “ ( H.R Ahmad dalam kitab Jamius Shogir )</p>
<p>2. Al-Harakah wal Jihad, Adanya komitmen Perjuangan dan jihad dalam rangka membela ketauhidan Qs : 9 :19-20,Qs 4:94</p>
<p>3. Imarah wa ad-Daulah , Memiliki kepemimpinan dan Negara yang merupakan washilah dan wadah dalam pengabdiannya kepada Allah berupa Ulil Amri(pemimpin )dan Negara Islam,Qs : 4:59</p>
<p>4. Al-wala wal Bara, Memiliki prinsip Loyalitas ( kesetian,dukungan penuh) kepada Waliyullah dan Bara ( melepaskan, Menghilangkan ) ikatan-ikatan kepada Waliyu Thagut Qs : 4/76</p>
<p>5. Iqamah ad-Din, Menegakkan &#038; memperjuangkan Din sebagai sebagai misi perjuangan suci,Qs 8:39</p>
<p>Kesimpulan hukum yang diambil :</p>
<p>· Syariat syahadat secara nash hukumnya wajib ditegakan berdasarkan keumuman nash yang ditunjuk ( baik Nash Al-qur’an ,Hadits maupun Aqwal Ulama )</p>
<p>· Syariat syahadat berlaku umum bagi setiap manusia untuk ducapkan lebih utama bagi muslim kauni atau keturunan,karena tidak ada dalil khusus yang muthlaq mengatakan bahwa syahadat hanya berlaku buat orang kafir ( nashrani ,yahudi,budha,hindu ), maka selama tidak ada dalil yang mengkhususkan maka wajib mengamalkan keumumamnya.</p>
<p>· Syariat syahadat yang dimaksud untuk ditegakkan bagi setiap muslim ialah adalah syahadat syar’i yang dilandasi pengetahuan, berupa syarat , rukun serta tuntunannya berdasarkan aqwal ulama</p>
<p>· Mengikrarkan syahadat tauhid ( pengakuan tentang keesaan Allah ) adalah awal menjalankan kewajiban fardhu dari fardhu-fardhu yang lain bagi seorang muslim</p>
<p>· Syahadat tidak akan sempurna jika tidak diiringi dengan komitmen meninggalkan dan mengkufuri thagut serta bergabung &#038; menegakkan al-Jamaah, ( jamatul Muslimin berbentuk Daulah Islamiyah ) QS: 8:72</p>
<p>· Meninggalkan Al-jamaah, atau berpisah dari sebuah Jamaah Ad-Daulah,dapat menggugurkan atau merusak nilai syahadat,sekaligus menghilangkan penjagaan harta &#038; darah</p>
<p>· Hubungan jamaah dan syahadat dalam satu variable Islam sebagai wujud tuntunan syahadat dengan memurnikan Allah dalam ibadah dan Pemerintahan-Nya.</p>
<p>· Kehadiran Al-jamaah adalah sebagai Syuhada ‘ala an-Nas ( sebagai saksi seluruh manusia ) dalam rangka menegakkan yakfur bit thagut wa yu’mim billah.</p>
<p>Wallahu ‘Alam Bish-Showwab►►</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>§ Syaikh Muhammad Abdul Wahab,Terjemah Kitab Fathul Majid<br />
§ Syaikh Shalih Utsaimin, Terjemah Ushul Fiqih<br />
§ DR.Musthafa Dieb al-Bugha Muhyidin Mitsu,Al-Wafi’- Syarah Kitab Arbain an-Nawawi<br />
§ Muhammad Abdul Wahab,Syarah Kitab Salasah Usul<br />
§ Sayyid Quthb, Petunjuk Jalan<br />
§ Tajus Subki, Irsyadul ‘Ibad<br />
§ Tgk Muhammad Hasbi as-shiddiqy, Al-Islam Jilid 1<br />
§ Muhammad Ali ash-Shabuni, Shofwah at-Tafasir,Darul Fikr: Beirut,Juz 1<br />
§ Al-Qurthubi, Tafsir Al-qurthubi<br />
§ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Durusul Muhimmah Li Ammatil Ummah<br />
§ Syaikh Umar Abdul Jabbar Mabadhiu al-Fiqhiyyah ‘Ala Madzhab as-Syafi’I ,Juz 1,Tth,Surabaya-Indonesia<br />
§ Materi Tarbiyah</p>
<p>sumber : http://imatuzzahra.wordpress.com/2011/04/15/dalil-dalil-syahadatain/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah tulisan tentang Tauhid</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 06:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah sebuah tulisan dari seorang kawan, Muhammad Aziz Nurhidayat, terkait sebuah komen : http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/comment-page-1/#comment-791 semoga bisa menjadi sebuah jawaban yang cukup memberikan penjelasan. ================================================== Bismihi Ta`ala. Imam Ali Zainal Abidin pernah menyebutkan, &#8220;satu alasan lain kenapa al-Ikhlash di turunkan adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di masa depan tentang Tuhan, dari sebagian kamu yang meraguinya.&#8221; al-Ikhlash <a href='http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah sebuah tulisan dari seorang kawan, Muhammad Aziz Nurhidayat, terkait sebuah komen : http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/comment-page-1/#comment-791</p>
<p>semoga bisa menjadi sebuah jawaban yang cukup memberikan penjelasan. <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>==================================================<br />
Bismihi Ta`ala. Imam Ali Zainal Abidin pernah menyebutkan, &#8220;satu alasan lain kenapa al-Ikhlash di turunkan adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di masa depan tentang Tuhan, dari sebagian kamu yang meraguinya.&#8221; al-Ikhlash ini pula yang menjadikan rekam jejak bagi seorang Rendra, salah seorang penyair kita, almarhum yang bergelar si burung merak itu, tersedu, ia menggugu dengan sebutnya, &#8220;aku tahu, aku tahu Nun,&#8221; katanya pada Cak Nun, salah seorang budayawan kita, &#8220;pengeran iku nyawiji.&#8221; Rendra dengan apik memaknai kata ahad, dalam Qul huwallahu ahad dengan sebutan nyawiji.</p>
<p>             Nyawiji adalah sebutan yang sangat matang, konon Rendra terlahir dari seorang kristiani, dan dia tergugah dengan sebutan, bahwa Tuhan itu nyawiji. Ahad. Esa. bukan satu dalam nomor dan urutan, namun satu dalam diri-Nya sendiri, dan hanya diri-Nya. Nyawiji. satu-satu-Nya yang satu. alangkah indahnya tentu pertemuan antara Rendra dan CN itu, apalagi kita pun tahu bahwa Rendra mengakhiri karir hidupnya sebagai seorang muslim, meski pada awalnya ia bukan.</p>
<p>            dalam nyawiji-nya inilah Dia disebut tak terbatas, tak mengalami batasan apapun, Dia menjadi Wujud yang tak memiliki lawan dan kawan, karena keduanya adalah bentuk batasan untuk-Nya. lam yalid wa lam yulad wa lam yakun lahu kufwan ahad. satu pun tak ada yang membersamai-Nya, karena bagaimana mungkin akan memgadakan kebersamaan dengan-Nya dalam Maqamah Tuhan, bahwa Tuhan adalah satu hal yang menjadi sumber segalanya.</p>
<p>            adanya referensi yang kaya dalam Islam tentang Tuhan bukan menjadi arti bahwa Tuhan adalah hasil daya cipta pikir dari seorang muslim, namun karena seorang muslim sadar benar betapa keberadaan Tuhan dengan diri-Nya sendiri itu memberikan arti yang mendalam terhadap kehidupan pribadi seorang muslim. dimanapun ia, seorang muslim, maka ia mesti terus menjadikan dirinya hamba bagi Tuhan, dan satu-satunya jalan untuk itu adalah diawali dengan ingatannya pada-Nya, dan tak mungkin kita mampu mengingat-Nya tanpa kita tahu dan mengerti siapa Dia. hal ini juga selaras dan setimbang seperti halnya yang pernah ditandaskan dari Sayyid Imam Ali Khemene`i (semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan panji Revolusi Islam Iran), seorang pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran saat ini, &#8220;sedetik saja kita melepaskan diri dari mengingat Tuhan, maka lantak tak tertolong lagi panji Revolusi Islam ini.&#8221;<br />
<span id="more-467"></span><br />
            tentu Tuhan mempunyai kebebasan mutlak, seperti halnya diri-Nya yang mutlak (usaha jawab point kedua), dan akan tetapi kebebasan Tuhan ini juga penuh berada pada kebebasan Tuhan untuk adil, maka keadilan Tuhan menjadi mutlak juga bagi Tuhan. hal ini seperti menyebut, bahwa kebebasan mutlak tanpa rasa adil adalah sebuah hinaan, dan pastilah Tuhan terbebas dari hinaan terhadap diri-Nya, seperti juga dengan kebebasan mutlak bagi manusia tanpa batas adalah sebuah kutukan, maka karena itu manusia yang sadar akan hal ini akan menjadikan hidupnya bersandar -pada kebebasannya- untuk memilih jalan Tuhan, jalan yang membebaskan. dalam referensi Islam yang kaya tidak pernah sekalipun saya mendapatkan tentang Tuhan yang dibatasi oleh pemikiran manusia tentang-Nya, dan bila hal ini ditemukan maka dasar ini pasti menyalahi semangat dan hukum-hukum Islam yang bersandar pada ansh al-Qur`an dan Hadist, seperti sebut Qur`an; Innallah `ala kully syaiin qadir. bahwa sesungguhnya Tuhan atas segala sesuatu Dia Maha Kuasa. sebuah alasan dan hujjah yang sudah sangat jelas.</p>
<p>            dengan itulah, memang bahwa daya kemampuan-Nya sangat tak terbatas, namun kalau alasan ini menjadi pembenaran untuk menyebutkan Tuhan berkawan dan berlawan, maka hal ini akan menjadi rancu dalam pemikiran kita. (usaha jawab point ketiga) suatu yang tak terbatas, kenapa pula musti membatasi diri dengan keberadaan yang lain? hal ini menjadi tidak boleh terjadi, laysa kamistlihi syay-un menjadi jawaban lain dari al-Qur`an. &#8220;Dia tidak seperti apapun.&#8221; Imam Ja`far as-Shodiq menambahkan, &#8220;hatta dengan bayangan atau persepsi kita tentang-Nya, maka itu bukan Dia.&#8221; kenapa, karena bayangan dan persepsi itu menjadi batas kita pada-Nya, padaha Tuhan, dengan diri-Nya sendiri tak terbatas. InsyaAllah inilah usaha jawab ini, dengan penekanan bahwa filsafat ketuhanan Islam yang berangkat dari Nash dan pemahaman yang benar tak pernah sekalipun membawa kerancuan dan kebimbangan. tentang Tuhan seperti sinar metari yang terang benderang, hatta awan pun tak akan mampu menghalangi jejak terangnya, entah dengan mata yang sakit karena melihat sinar yang terang. karena memang begitu, mata yang terlampau sering berada dalam kegelapan akan merasakan rasa sakit terhadap sinar terang kebenaran yang menyinari setiap jalan hidup dan cinta dalam agama ini, dari Allah, disampaikan oleh para Nabi, dan dijaga oleh para Imam suci. Allahu a`lam bissshowab, semoga bisa menjawab, bila banyak kekurangan, itu hanya karena kapasitas diriku yang hina dan terbatas ini, mohon maafnya atas hal itu.</p>
<p>Oleh : Muhammad Aziz Nurhidayat<br />
=======================================================</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah renuangan untuk kita kawan, renungan tentang kematian</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 17:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[sebelumya, maaf jika tulisan saya kali ini lebih terkesan seperti curhat sampah nan busuk. jika anda tidak berkenan membacanya, silakan langsung menuju lyric Last Breath serta link download lagunya. maaf&#8230; ========================================================================= hah&#8230;. lama jari ini tidak menari diatas keyboard untuk menulis sebuah &#8220;kebaikan&#8221; untuk menulis tentang &#8220;kebenaran&#8221;. telah lama jari ini menulis puluhan ribu baris <a href='http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebelumya, maaf jika tulisan saya kali ini lebih terkesan seperti curhat sampah nan busuk. jika anda tidak berkenan membacanya, silakan langsung menuju lyric Last Breath serta link download lagunya. maaf&#8230;</p>
<p>=========================================================================</p>
<p>hah&#8230;. lama jari ini tidak menari diatas keyboard untuk menulis sebuah &#8220;kebaikan&#8221; untuk menulis tentang &#8220;kebenaran&#8221;. telah lama jari ini menulis puluhan ribu baris code program, tapi sudah lama jari ini tidak menulis 1 atau 2 paragraf nasehat kebaikan. sungguh merugi diri ini. kawan, q harap engkau tidak seperti diri q yang lalai ini. q harap engkau adalah makhluk yang dimuliakan oleh Rabb seluruh alam.</p>
<p>kawan pada kesempatan ini, izinkan makhluk yang hina ini untuk menyuguhkan sebuah renungan&#8230; sebuah renungan tentang kematian&#8230;</p>
<p>saudaraku&#8230; sungguh, diri ini masih sangat takut akan kematian&#8230; diri ini merasa belum siap untuk menghadap Allah. terlalu banyak catatan hitam dalam diri ini yang belum diperbaiki. bahkan q sudah lupa. ada di bagian mana saja catatan hitam itu tersimpan. saudaraku, q harap, engkau adalah makhluk yang miskin dosa. q harap catatan kehidupanmu dipenuhi dengan catatan kebaikan.</p>
<p>saudaraku.. q benar-benar merasa takut&#8230; bagaimana bila esok hari adalah waktu q?? q belum siap bila harus bertemu dengan para makhluk taat yang akan melakukan interogasi kepadaku&#8230; q takut akan hukuman yang pasti q terima atas segala kesalahan q di dunia ini&#8230; q takut dengan ancaman hukuman siksa pedih.. q takut terhadap para penyiksa yang tak memiliki belas kasih&#8230; q takut dengan api yang siap melahap diri ini&#8230;.<br />
kawan&#8230; q sungguh takut&#8230;<br />
<span id="more-443"></span><br />
namun, q juga sadar. hanya merasa takut bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. yang perlu dilakukan adalah persiapan untuk sebuah hal pasti tersebut. kawan, semoga diri ini dan dirimu tergolong manusia yang beruntung. semoga Allah melimpahkan kasih dan sayang Nya kepada kita.</p>
<p>kawan, q ingin berbagi sebuah syair yang membuatku tersadar dan benar-benar berfikir tentang kematian. ini sebuah syair lama yang jarang ku putar. namun, tadi ketika ku sedang sibuk membuat program, ku putar beberapa list lagu. dan ini adalah salah satunya&#8230; semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p>Last breath</p>
<p>Lyric Last breath</p>
<p>From those around I hear a Cry,<br />
A muffled sob, a Hopeless sigh,<br />
I hear their footsteps leaving slow,<br />
And then I know my soul must Fly!<br />
A chilly wind begins to blow,<br />
Within my soul, from Head to Toe,<br />
And then, Last Breath escapes my lips,<br />
It&#8217;s Time to leave. And I must Go!<br />
So, it is True (But it&#8217;s too Late)<br />
They said: Each soul has its Given Date,<br />
When it must leave its body&#8217;s core,<br />
And meet with its Eternal Fate.<br />
Oh mark the words that I do say,</p>
<p>Who knows? Tomorrow could be your Day,<br />
At last, it comes to Heaven or Hell<br />
Decide which now, Do NOT delay!<br />
Come on my brothers let us pray<br />
Decide which now, Do NOT delay!<br />
Oh God! Oh God! I cannot see!<br />
My eyes are Blind! Am I still Me<br />
Or has my soul been led astray,<br />
And forced to pay a Priceless Fee<br />
Alas to Dust we all return,<br />
Some shall rejoice, while others burn,<br />
If only I knew that before<br />
The line grew short, and came my Turn!<br />
And now, as beneath the sod<br />
They lay me (with my record flawed),<br />
They cry, not knowing I cry worse,<br />
For, they go home, I face my God!<br />
Oh mark the words that I do say,<br />
Who knows, Tomorrow could be your Day,<br />
At last, it comes to Heaven or Hell<br />
Decide which now, Do NOT delay !<br />
Come on my brothers let&#8217;s pray<br />
Decide which now, do not delay &#8230;.</p>
<p>Courtesy of Bukhatir.org</p>
<p>dan untuk mp3 lagunya, silakan di download : <a href="http://www.4shared.com/audio/IPq7Bk2D/15_Last_Breath.html" target="_blank">Last Breath</a></p>
<p>sekali lagi, maaf jika tulisan saya kali ini lebih terkesan seperti curhat sampah nan busuk. maaf..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Pilihan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 03:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Segala yang ada di dunia ini adalah fana dan tiada yang kekal, tapi bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tapi menuju ke alam berikutnya yaitu hari akhir, suatu kehidupan yang kekal tiada berakhir. Semua jiwa pasti akan kembali kepada pemilik dan penciptanya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Setelah ditiup sangkakala yang kedua seluruh manusia dibangkitkan <a href='http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Segala yang ada di dunia ini adalah fana dan tiada yang kekal, tapi bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tapi menuju ke alam berikutnya yaitu hari akhir, suatu kehidupan yang kekal tiada berakhir. Semua jiwa pasti akan kembali kepada pemilik dan penciptanya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Setelah ditiup sangkakala yang kedua seluruh manusia dibangkitkan dari kuburan-kuburan mereka dalam keadaan tidak membawa apa pun, tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan juga tidak berkhitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah, bahwa baginda Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan tidak berkhitan.” Kemudian Aisyah berkata: “Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam! Apakah seluruh para wanita dan laki-laki seperti itu, sehingga saling melihat diantara mereka? Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, yang artinya: “Wahai Aisyah! Kondisi waktu itu amat ngeri dari pada sekedar melihat antara satu dengan lainnya.” (HR: Al Bukhari no 6527 dan Muslim no. 2859)<br />
Setelah itu manusia dikumpulkan di padang mahsyar menanti penghisaban (perhitungan) semua amal perbuatannya selama hidup di dunia. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya kepada Kami-lah mereka akan kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS: Al Ghasyiyah: 25-26)</p>
<p style="text-align: justify;">Tahap penghisaban amal perbuatan manusia dipadang mahsyar merupakan bagian adzab dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap siapa yang dihisap pada hari itu. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam besabda, yang artinya: “Barangsiapa yang dihisab pada hari kiamat bararti dia telah merasakan adzab.” Aisyah berkata: “Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bukankah Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya): “(Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanan) maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.”(QS: Al Insyiqaq: <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Sesungguhnya itu adalah sekedar memperlihatkan amalannya, tetapi barangsiapa yang diperiksa penghisabannya pada hari kiamat berarti dia telah merasakan adzab.” (HR: Muslim no. 2876)<span id="more-439"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari penghisaban saja sangat mengerikan dan tersiksa. Bagaimana lagi dengan bentuk adzab dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala di neraka jahannam nanti. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah menggambarkan tingkatan neraka yang paling ringan, sebagaimana dalam hadits yang shahih, yang artinya: “Sesungguhnya adzab yang paling ringan bagi penghuni neraka adalah seseorang yang bersandalkan dengan api neraka, maka mendidihlah otaknya disebabkan dari panas kedua sandalnya.” (HR: Muslim no. 211)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Alloh Subhanahu wa Ta’ala Al Ghaffur (Yang Maha Pengampun) dan Ar Rahim (Yang Maha Pengasih) telah membentangkan rahmat-Nya yang amat luas. Diantara rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan petunjuk kepada manusia tentang jalan yang dapat mengantarkan ke dalam al janah tanpa hisab dan adzab. Jalan tersebut telah dijelaskan oleh Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam haditsnya, yang artinya: “Akan masuk al jannah dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab dan adzab (dalam riwayat lain; wajah-wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya rembulan di bulan purnama).” Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menduga-duga siapakah golongan mereka itu. Diantara para shahabat ada yang menduga; “Semoga mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabatnya”. Yang lainnya mengira; “Semoga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan perkiraan-perkiraan yang lainnya. Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya dan mengkhabarkan sifat golongan yang bakal menjadi penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta kay (praktek pengobatan dengan menempelkan besi panas atau semisalnya pada bagian tubuh yang sakit), tidak meminta ruqyah, dan tidak pula berfirasat sial (dengan sebab melihat sesuatu yang disangka ganjil seperti burung dan semisalnya), serta mereka bertawakkal penuh kepada Rabb mereka.”  Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri seraya berkata: “(Wahai Rasululloh) berdo’alah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala supaya aku termasuk golongan mereka. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: “Engkau termasuk dalam golongan tersebut”. (HR: Al Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 374)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat Al Imam Ahmad 2/359 dan lainnya, Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Maka aku meminta tambahan dari Rabb-ku, sehingga Alloh menambah dalam setiap seribu orang bersama tujuh puluh ribu orang.” (Lihat Ash Shahihah no. 1486)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat di atas menunjukkan luasnya rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena Alloh telah menambah dalam setiap seribu orang bersama tujuh puluh ribu orang. Demikian pula Alloh tidak mengkhususkan yang berhak meraih keutamaan tersebut hanya bagi para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam atau orang yang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan sebagaimana yang dikira para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Namun Alloh Subhanahu wa Ta’ala membuka lebar-lebar pintu rahmat kepada siapa yang berupaya menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut dia lah yang berhak meraih al jannah tanpa hisab dan tanpa adzab. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri Ciri Golongan Penghuni Al Jannah Tanpa Hisab Dan Adzab</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama: Tidak Meminta Kay<br />
Kay adalah praktek pengobatan dengan cara menempelkan besi atau semisalnya yang telah dipanaskan pada bagian tubuh yang sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Penyembuhan itu dengan tiga hal: minum madu, berbekam, dan kay, tetapi aku melarang umatku dari pengobatan kay. (Dalam riwayat lain; Dan aku tidak mencintai pengobatan dengan kay)” (HR: Al Bukhari no. 5680)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits-hadits di atas menunjukkan hukum pengobatan dengan kay adalah boleh tapi makruh (dibenci), sehingga yang lebih utama adalah ditinggalkan. Karena Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mencintai umatnya untuk meniggalkan pengobatan dengan cara kay. Terlebih lagi berobat dengan kay bisa menjadi penghalang untuk masuk ke dalam Al Jannah tanpa hisab dan adzab.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua: Tidak Meminta Ruqyah<br />
Ruqyah adalah praktek pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an atau nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada si penderita. Karena seluruh ayat-ayat Al Qur’an itu sebagai obat hati dan jasmani. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan Kami menurunkan Al Qur’an itu sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS: Al Isra’: 82)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang menjadi penghalang untuk masuk bagian dari golongan penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab ini khusus bagi orang yang meminta ruqyah bukan yang meruqyah dirinya sendiri ataupun orang lain yang meruqyahnya tanpa ada unsur permintaan darinya. Adapun kalau dia sendiri meruqyah itu memang perkara yang lebih utama, karena dia telah bertawakkal penuh kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhkan dirinya dari bergantung kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula orang lain yang meruqyah tanpa unsur permintaan dari si penderita itu pun tidak mengapa. Karena konteks hadits itu adalah yang bermakna “Tidak Meminta Ruqyah”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya malaikat Jibril pernah datang kepada Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam lalu berkata, yang artinya: “Wahai Muhammad, apakah engkau lagi sakit? Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Ya. Kemudian malaikat Jibril meruqyahnya tanpa permintaan dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR: Muslim no. 2186)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah ditanya tentang meruqyah, maka beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa diantara kalian yang dapat memberikan manfaat bagi saudaranya, maka lakukanlah.” (HR:  Muslim no. 2199)</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga:  Tidak Bertathayyur<br />
Tathayyur adalah sikap berprasangka sial yang disandarkan kepada sesuatu yang dilihat atau pun yang didengar. Misalnya, kebiasaan orang Arab terdahulu bila hendak safar (berpergian) melihat arah terbangnya burung. Bila terbang ke arah kanan maka safar akan dilakukan, sebaliknya bila terbang ke arah kiri menujukkan kesialan maka safar dibatalkan. Begitu pula ada sebagian orang yang menganggap sial atau pertanda akan ada musibah bila mendengar suara burung gagak di malam hari atau bila melihat cecak jatuh. Diantara waktu-waktu, hari-hari, atau bulan-bulan pun ada yang dianggap sial untuk diselengarakan acara-acara tertentu. Dan sebagainya dari tanda-tanda yang dianggap sial yang tersebar dimasyarakat kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tathayyur ini merupakan perbuatan terlarang. Karena telah menyandarkan kesialan kepada sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya secara logis dan sebab musababnya. Termasuk aqidah kaum muslimin beriman kepada taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tarjadi atas kehendak Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata. Bila Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu pasti akan terjadi, dan sebaliknya bila Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sesuatu pasti tidak akan terjadi. Sehingga orang yang bertathayyur itu telah mengurangi nilai tawakkalnya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena ia menyangka bahwa ada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang bisa mendatangkan kesialan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu merupakan taqdir Alloh, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS: Al A’raf: 131)</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat: Bertawakal Kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala<br />
Bahwa sifat yang keempat ini merupakan buah dari tiga sifat sebelumnya. Maksudnya, dengan meninggalkan pengobatan kay, meninggalkan untuk meminta ruqyah dan meninggalkan tathayyur menunjukkan kemurnian tawakkal seseorang kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena seseorang tersebut telah melepas dari segala ikatan-ikatan ketergantungan kepada sesuatu selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menyandarkan nasib dan hasilnya itu hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga barangsiapa yang benar-benar bertawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencukupnya di dunia dan di akhirat kelak nanti akan digolongkan sebagai pewaris Al Jannah tanpa hisab dan tanpa adzab. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka Dia sebagai pencukup baginya.” (QS: Ath Thalaq: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kita pahami disini, bukan berarti Islam melarang untuk berobat. Sesungguhnya sifat penghuni Al Jannah tanpa hisab dan adzab itu karena mereka meninggalkan pengobatan yang dibenci (makruh) disaat sangat membutuhkannya dengan mencukupkan dirinya untuk bertawakkal hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Adapun berobat dengan sesuatu yang tidak dilarang maka tidak mengurangi tawakkal kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada seseorang yang bertanya kepada Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam: “Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bolehkah aku berobat? Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam seraya menjawab: “Tentu, wahai hamba Alloh berobatlah kalian. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan penyakit melainkan pasti diciptakan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Kemudian para shahabat bertanya: “Apa itu (Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Penyakit pikun (karena ketuaan).” (HR: Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ghayatul Maram hal. 147). Semoga kita termasuk sebagai hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang berkesempatan dan diberikan hidayah serta kekuatan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala; untuk menjadi Penghuni-Penghuni Al Jannah Tanpa Hisab dan Adzab. Amien….</p>
<p style="text-align: justify;">Penghuni Surga Yang “Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab” dan Penghuni Surga Yang “Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : http://aqidahislam.wordpress.com/2007/05/28/manusia-pilihan/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menteramkan Jiwa dengan Berdzikir kepada Allah SWT</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/menteramkan-jiwa-dengan-berdzikir-kepada-allah-swt/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/menteramkan-jiwa-dengan-berdzikir-kepada-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 12:56:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Allah SWT berfirman: ألا بذكر الله تطمئن القلوب Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah jiwa (hati) menjadi damai (tenteram) أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ “Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berdzikir kepada-Nya” (QS. Al-Hadid:16) Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu cara Allah <a href='http://www.inilahjalanku.com/menteramkan-jiwa-dengan-berdzikir-kepada-allah-swt/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">ألا بذكر الله تطمئن القلوب</p>
<p style="text-align: justify;">Ketahuilah dengan berdzikir kepada Allah jiwa (hati) menjadi damai (tenteram)</p>
<p style="text-align: justify;">أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidaklah kalian ketahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berdzikir kepada-Nya” (QS. Al-Hadid:16)</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan suci Ramadhan merupakan salah satu cara Allah memberikan kebahagiaan kepada hamba-hamba-Nya; terutama kebahagiaan batin, yaitu melalui peningkatan kualitas iman dan taqwa. Sementara itu di antara sarana untuk meningkatkan mutu dan kualitas keimanan dan ketaqwaan adalah berdzikir kepada Allah. Karena itulah, pada bulan suci ini umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di antaranya adalah dzikir.</p>
<p style="text-align: justify;">Standar dzikir yang diharapkan adalah tidak hanya sekadar gerakan lisan namun memiliki bekas dan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dzikir yang banyak diharapkan mampu menghadirkan nur (cahaya) Allah SWT, begitu pula memberikan ketenangan dan ketenteraman jiwa. Karena itu, semakin kuat iman seseorang maka akan semakin banyak pula dzikirnya kepada Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Dzikir kepada Allah juga menjadi alat hamba yang beriman untuk menghapus dosa-dosanya sebagaimana janji Allah SWT dalam Al-Quran:</p>
<p style="text-align: justify;">وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Allah mempersiapkan pengampunan dosa dan ganjaran yang mulia bagi kaum muslimin dan muslimat yang berdzikir.” (QS. Al-Ahzab:35)<span id="more-427"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana dzikir kepada Allah SWT merupakan sarana untuk menerangi pikiran dan mental guna mencapai taraf kesadaran ketuhanan yang Maha Tinggi. Lebih jauh lagi dzikir juga akan membawa ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan hidup sebagaimana firman-Nya:</p>
<p style="text-align: justify;">الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ</p>
<p style="text-align: justify;">“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan dzikrullah. Ingatlah hanya dengan berdzikir maka hati akan menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’ad: 28).</p>
<p style="text-align: justify;">Pentingnya berdzikir juga diungkapkan dalam sebuah hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Darda Nabi saw bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى</p>
<p style="text-align: justify;">“Maukah aku beritahukan sebaik-baik amal dan lebih tinggi derajatnya dan lebih bersih di sisi Raja (Allah) kalian, dan sebaik-baik pemberian daripada emas dan uang, dan sebaik-baik kalian dari bertemu musuh lalu kalian memenggal leher mereka atau kalian yang terpenggal, mereka berkata: mau, nabi bersabda: Dzikir kepada Allah SWT”. (Bukhari Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pun dengan berdzikir dapat membangkitkan selera ibadah serta menuju akhlaq yang mulia. Karena dzikir selain merupakan pekerjaan hati dengan selalu mengingat Allah SWT setiap saat dan dalam semua kondisi. Namun juga merupakan kerja lisani (ucapan), kerja aqli (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam), dan kerja jasadi(dengan melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya).</p>
<p style="text-align: justify;">Idealnya dzikir itu berangkat dari kekuatan hati, ditangkap oleh akal, dan dibuktikan dengan ketaqwaan, amal nyata di dunia ini. Karena itu praktek dzikir tidak terbatas pada satu kondisi dan tempat tertentu; kapan dan dimana saja dapat dilakukan bahkan dalam kondisi hadats (tidak bersuci) juga boleh dilakukan; baik dalam keadaan berdiri, duduk, atau berbaring seperti firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;">الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّار</p>
<p style="text-align: justify;">“(yaitu) orang-orang yang selalu berdzikir (mengingat) kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran: 191).</p>
<p style="text-align: justify;">Baik dzikir yang dilakukan secara formal atau non formal, di Masjid, di Mushalla, di rumah, di kantor, atau di jalanan sekalipun; Allah berfirman:</p>
<p style="text-align: justify;">فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ</p>
<p style="text-align: justify;">“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang” (QS. An-nur: 36),</p>
<p style="text-align: justify;">dan bisa juga dilakukan sendiri-sendiri atau berjamaah (dalam majelis). Dengan berdzikir berarti mengundang rahmat Allah SWT, dan doa para malaikat. Dengan banyak berdzikir kepada-Nya, maka sesuai janji Allah, Dia akan menyelamatkan umat dari semua bentuk kezhaliman, kegelapan dan kemaksiatan. Dalam hadits Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri dijelaskan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;">وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidaklah duduk suatu kaum yang berdzikir menyebut nama Allah kecuali akan dinaungi para malaikat, dipenuhi mereka oleh rahmat Allah dan diberi ketenangan, karena Allah menyebut-nyebut nama mereka di hadapan malaikat yang ada di sisinya.” (Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dengan berdzikir kepada Allah SWT, maka Allah SWT juga akan selalu bersama orang yang berdzikir, dan dengan demikian pertolongan dan rahmat Allah SWT juga akan selalu tercurahkan kepadanya. Sementara itu, Bulan suci Ramadhan ini merupakan kesempatan berharga bagi setiap muslim untuk meningkatkan volume dzikir kepada Allah SWT guna menggapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Itulah beberapa hal penting yang mungkin dapat kita jadikan landasan untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia ini dan juga sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat nanti.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/menteramkan-jiwa-dengan-berdzikir-kepada-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>WALI ALLAH DAN WALI SYETAN</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/wali-allah-dan-wali-syetan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/wali-allah-dan-wali-syetan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 09:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Pengertian Wali Wali dalam konteks sebagai pelaku (fa’il) memiliki makna an-Nashir/ Penolong (fathul bayan fi maqasidil Qur’an, 2/101, Abu Thayib al-Bukhari). al-wali juga memiliki arti al-muhibb (yang mencintai), ash-shadiq (teman/rekan), serta an-nashiir (pembela/ pendukung) (Tartib qamus al-muhith IV/685, ath-Thahir Ali az-Zawi). Seseorang dikatakan sebagai wali terhadap yang lainnya dikarenakan kedekatannya, keta’atannya dan karena selalu mengikutinya. <a href='http://www.inilahjalanku.com/wali-allah-dan-wali-syetan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>Pengertian Wali</strong></p>
<p align="justify">Wali dalam konteks sebagai pelaku (fa’il)  memiliki makna an-Nashir/ Penolong (fathul bayan fi maqasidil Qur’an,  2/101, Abu Thayib al-Bukhari). al-wali juga memiliki arti al-muhibb  (yang mencintai), ash-shadiq (teman/rekan), serta an-nashiir (pembela/  pendukung) (Tartib qamus al-muhith IV/685, ath-Thahir Ali az-Zawi).  Seseorang dikatakan sebagai wali terhadap yang lainnya dikarenakan  kedekatannya, keta’atannya dan karena selalu mengikutinya.</p>
<p align="justify">Dengan demikian, wali Allah adalah orang yang  selalu menurut dan mengikuti segala yang dicintai dan diridhai Allah,  menjauhi dan membenci serta melarang dari apa yang telah dilarang  oleh-Nya (al furqan baina auliya’ ar-Rahman wa auliya’ asy-syaithan  53-54, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah). Mereka mendapatkan petunjuk berupa  dalil yang jelas dari Allah, tunduk kepada-Nya serta menegakkan yang  haq yaitu beribadah, berda’wah dan menolong agama Allah.</p>
<p align="justify">Setiap hamba yang bertakwa kepada Allah,  setia, menaati-Nya, melaksanakan perintah-Nya serta menjauhi segala yang  dilarang-Nya, maka dia adalah wali Allah. Mereka tidak merasakan takut  di saat menusia merasa takut dan mereka tidak gentar di kala manusia  merasa gentar nanti pada Hari Kiamat (al-qaul al jalil hal 36, Muhammad  bin Ahmad bin Muhammad Abdus Salam Khudlar)</p>
<p align="justify"><strong>Tanda-Tanda dan Sifat Wali Allah</strong></p>
<p align="justify"><em><strong>1. Beriman dan Bertakwa</strong></em></p>
<p align="justify">Allah <em>Sunhanahu waTa’ala</em> telah  berfirman menjelas tentang wali-Nya, artinya, <em>“Ingatlah, sesungguhnya  wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak  (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka  selalu bertaqwa”</em>(10 :62-63)</p>
<p align="justify"><em><strong>2. Mencintai Sesuatu yang Dicintai   Allah dan Membenci Sesuatu yang Dibenci Allah.</strong></em></p>
<p align="justify">Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> telah bersabda, <em>“Ikatan iman yang paling kokoh adalah menyintai  karena Allah dan membenci karena Allah.” </em>(HR. At-Tirmidzi dan  lainnya)</p>
<p align="justify"><em><strong>3. Memihak Kepada Sesama Mukmin dan  Memusuhi Orang Kafir.</strong></em></p>
<p align="justify"><em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah  kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia”</em>. (QS.  60 :1)</p>
<p align="justify"><em><strong>4. Senantiasa Mengikuti Syari’at yang  Dibawa oleh Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, Lahir dan  Batin.</strong></em></p>
<p align="justify">Katakanlah: <em>”Jika kamu (benar-benar)  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni  dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em> (QS. 3:31)</p>
<p><span id="more-389"></span></p>
<p align="justify"><em>“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah  Allah dan ta’atilah RasulNya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian  jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,  maka kembalikanlah ia  kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnah-nya), jika kamu benar-benar  beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih  utama (bagi-mu) dan lebih baik akibatnya.</em> (QS. 4:59)</p>
<p align="justify">Wali Allah memiliki tingkat yang berbeda  antara satu dengan yang lainnya, puncaknya adalah Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> kemudian disusul para Nabi dan lebih khusus mereka  yang mendapat predikat ulul azmi. Kemudian para shahabat terutama  khulafaur rasyidin, selanjut-nya para pengikutnya menurut derajat  ketakwaan masing-masing.</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya orang yang paling mulia di  antara kamu di sisi Allah ialah     orang yang paling bertaqwa di antara  kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”</em> (QS.  49:13)</p>
<p align="justify">Di antara mereka ada yang sabiqun bil khairat  (bersegera dan berlomba dalam kebaikan) dan ada pula yang muqtashid  (orang yang hanya melaksanakan kewajiban dan meninggalkan yang haram ).  Dan yang ma’shum atau terjaga dari kesalahan hanyalah para nabi dan  rasul saja. Allah <em>Subhanahu waTa’ala</em> telah berfirman mengabarkan  ucapan para shahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, (Mereka  berdo’a), <em>“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa  atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami  beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang  sebelum kami”.</em>(QS.2:286)</p>
<p align="justify">Dengan demikian untuk menentukan standar  kebenaran, maka acuannya adalah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi  wasallam</em>, karena beliau adalah ma’shum.</p>
<p align="justify"><strong><em>5. Berpegang dengan Al-Qur’an dan  As-Sunnah</em></strong></p>
<p align="justify">Firman Allah <em>Subhanahu waTa’ala</em>, <em>“Sesungguhnya  kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian,  malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang  dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,  musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang  meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan  menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia  berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan  dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan  mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”.</em> (QS. 2:177)</p>
<p align="justify"><em>Katakanlah, ”Ta’atlah kepada Allah dan  ta’atlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya  kewajiban rasul hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, kewajiban kamu  adalah apa yang dibebankan kepada-mu.Dan jika kamu ta’at kepadanya,  niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tiada lain kewajiban rasul hanya  menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.</em> (QS. 24:54)</p>
<p align="justify"><em><strong>6. Selalu Bertaubat, Memohon Ampun dan  Mengingat Allah</strong></em></p>
<p align="justify">Dia menyadari, bahwa Allah adalah Maha  Mengawasi dan Maha Menolong, sehingga hal ini akan mendorongnya untuk  selalu melakukan kebaikan.</p>
<p align="justify"><em>“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang  yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. </em>(QS.16:128)<br />
<em>“Dan bertaubatlah kepada Allah, hai   orang-orang yang beriman  supaya kamu beruntung.”</em> (QS.24:31)</p>
<p align="justify"><em><strong>7. Selalu Menyadari akan Kelemahan,  Kekurangan dan Kekhilafannya. </strong></em></p>
<p align="justify">Sehingga hal itu mendorong untuk terus  berlindung kepada Allah dari buruknya jiwa serta memohon curahan  rahmat-Nya.</p>
<p align="justify">Sebagaimana tercermin di dalam do’a berikut  ini.</p>
<p align="justify"><em>“Ya Allah sesungguhnya aku telah  menganiaya diriku sendiri dengan kezhaliman yang amat banyak, dan tidak  ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan  pengampunan dari sisi-Mu dan kasihanilah aku, sesungguhnya Engkau Maha  Pengam-pun lagi Maha Penyayang.” </em>(Muttafaq ‘alaih, dari Abu Bakarz)</p>
<p align="justify">Dia juga menyadari, bahwa setiap kebaikan  yang ada pada dirinya adalah semata-mata berasal dari rahmat Allah,  sedangkan yang selain itu adalah berasal dari diri sendiri.</p>
<p align="justify"><em>“Barang siapa yang mendapatkan kebaikan,  maka hendaklah ia memuji Allah, dan barang siapa mendapati selain yang  demikian, maka janganlah mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.”</em></p>
<p align="justify"><strong><em>8. Sabar, Berserah diri kepada Allah,  Ridha dan Bersyukur Kepada-Nya.</em></strong></p>
<p align="justify">Allah <em>SubhanahuwaTa’ala</em> berfirman,  artinya, <em>“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu  benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji  Rabbmu pada waktu pagi dan petang”.</em> (QS. 40:55)</p>
<p align="justify">Firman-Nya yang lain, <em>“Tidak ada sesuatu  musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang  siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk  kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”</em> (QS.  64:11)</p>
<p align="justify"><em><strong>9. Memahami Hakikat Segala Sesuatu.</strong></em></p>
<p align="justify">Yaitu mengetahui, bahwa alam semesta ini  diatur oleh Allah atas kehendak-Nya, kemudian hakikat tentang agama  diatur oleh Allah berdasarkan keridhaan dan cinta-Nya.Maka tidak  dibenarkan seseorang menjalankan agama berdasarkan perasaan atau kemauan  pribadi masing-masing. Syariat bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah  yang harus selalu menjadi bingkai amal ibadah seluruh umat, karena Nabi  Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> membawa risalah Islam untuk  seluruh bangsa jin dan manusia.</p>
<p align="justify"><strong>Wali Syetan</strong></p>
<p align="justify">Wali syetan adalah orang yang berpaling dari  Al-Qur’an, mengingkari dan kufur kepadanya sehingga mereka dikeluarkan  oleh syetan dari kebenaran menuju kebodohan, kesesatan dan kekafiran.</p>
<p align="justify">Allah <em>Subhanahu waTa’ala</em> berfirman,  artinya, <em>“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha  Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan),  maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”</em> (QS. 43:36)</p>
<p align="justify">Dalam ayat yang lain disebutkan, artinya, <em>“Dan  orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang  mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu  adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”</em> (QS. 2:257)</p>
<p align="justify">Bahkan mereka semua terus dihasung oleh  syetan untuk bermaksiat kepada Allah, dan apa yang mereka perbuat itu  dihiasai oleh syaitan sehingga mereka merasa dalam kebenaran dan  petunjuk.</p>
<p align="justify">Firman Allah <em>Subhanahu waTa’ala</em>,  artinya, <em>“Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan  mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka  dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu  sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah  orang-orang yang merugi.”</em> (QS. 41:25)</p>
<p align="justify"><em>“Sebahagian diberi-Nya petunjuk dan  sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka  menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka  mengira, bahwa mereka mendapat petunjuk.”</em> (QS. 7:30)</p>
<p align="justify"><strong>Penutup</strong></p>
<p align="justify">Umat manusia digolongkan menjadi dua golongan  yaitu hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok  syetan). Dan ukuran seseorang disebut sebagai wali Allah atau bukan  adalah berdasar pada keta’atannya kepada Allah, al-Qur’an dan Sunnah  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> seutuhnya, lahir dan  batin. Semakin taat seseorang berarti semakin dekat tingkat kewaliannya,  dan semakin durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia semakin dekat  dengan syetan yang menipunya. Kesaktian dan kejadian luar biasa yang  terjadi pada seseorang bukanlah ukuran untuk menentukan karamah dari  kewalian. Tetapi harus dilihat keta’atan dan kesesuaiannya dengan ajaran  Islam.</p>
<p align="justify">Imam Asy-Syafi’i berkata, <em>“&#8230; Jika kalian  melihat seseorang berjalan di atas permukaan air atau melayang di  udara, maka janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan  keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah”.</em> (Tafsir Ibnu Katsir I  hal :116. QS.2:34 Cet. Darus Salam 1994. Lihat Syarah Aqidah  Ath-Thahawiyah. hal:769)</p>
<p><strong>(Oleh: Ust.Waznin Mahfud) </strong></p>
<p><em><strong>sumber : </strong>http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatannur&amp;id=579</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/wali-allah-dan-wali-syetan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Muslim dan Pemikirannya tentang Kebahagiaan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/seorang-muslim-dan-pemikirannya-tentang-kebahagiaan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/seorang-muslim-dan-pemikirannya-tentang-kebahagiaan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 17:33:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=331</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum menginjak pada siapa seorang muslim dan apa itu kebahagiaan, maka berpikir tentang pemikiran adalah jalan awalnya. Apa itu pemikiran dan bagaimana macamnya hal itu disebut. Malik bin Nabi, seorang Aljazair dalam tulisannya, musykilat al-Afkar fi al-`Alam al-Islami memberikan definisi yang bagus tentang apa itu pemikiran dan bagaimana macamnya. Dia membagi pemikiran dengan tiga tahap <a href='http://www.inilahjalanku.com/seorang-muslim-dan-pemikirannya-tentang-kebahagiaan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum menginjak pada siapa seorang muslim dan apa itu kebahagiaan, maka berpikir tentang pemikiran adalah jalan awalnya. Apa itu pemikiran dan bagaimana macamnya hal itu disebut. Malik bin Nabi, seorang Aljazair dalam tulisannya, musykilat al-Afkar fi al-`Alam al-Islami memberikan definisi yang bagus tentang apa itu pemikiran dan bagaimana macamnya. Dia membagi pemikiran dengan tiga tahap perkembangan. Tahap pertama; tahap benda-benda/ tahap materialism, tahap kedua; tahap dunia pribadi/ tahap eksistensialism, tahap ketiga; tahap pemikiran menyeluruh/ tahap yang bersifat ilahiyun.</p>
<p>            Anda bertanya kenapa kita harus berpikir dulu, dan saya menjawab bahwa berpikir itu sangat diperlukan untuk proses menemukan. Ketika Anda masih tetap mendesak saya, maka saya akan menjawabnya dari sebuah ayat al-Qur`an –semoga hal ini menenangkan Anda-, Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi?” (QS. Yunus: 101). Hal ini penting bagi Anda, karena memperhatikan; hingga akhirnya, menghayati, mendalami, sampai juga memikirkan, adalah perintah Tuhan Anda kepada Anda. Saya tak perlu jauh-jauh sebenarnya, ketika Anda membaca tulisan ini, yaitu sebuah usaha sederhana dari berpikir, maka hal itu sudah disebutkan dalam al-Qur`an untuk Anda kerjakan, Bacalah! (QS. Al-`Alaq: 1).</p>
<p>            Saya mohon, biarlah saya kembali mengulas apa itu tahap-tahap pemikiran, dan kenapa hal itu dibutuhkan di sini. Kebahagiaan adalah simbiosa –bagi saya- antara dua hal, psike-jiwa dan ratio-akal manusia, yang ditopang atas materi-jasad mereka. Bila Anda masih belum merasa lega, maka ada baiknya Anda perhatikan bagaimana setidaknya disebut lima kali posisi akal dalam al-Qur`an, dan juga beberapa kali penyebutan untuk menunjuknya sebagai proses berpikir. Al-Qur`an mendedikasikan dirinya untuk akal dengan adanya pelarangan minum khamr; segala hal yang memabukkan, karena dalam khamr tersebut posisi akal dipertaruhkan: seseorang tak mampu lagi membedakan mana baik mana buruk darinya.<br />
<span id="more-331"></span><br />
            Mampukah akal menjadi sebuah instrument pengetahuan? Dan Allah mengeluarkan  kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apapun, Dan dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 78). Memperjelas sekalian bahwa melalui ayat ini kita tahu bahwa dalam mendapatkan pengetahuan Allah telah membekali kita indra sekaligus hati (fu`ad, baca juga: akal). Menolak anggapan Plato yang mendasarkan bahwa pengetahuan hanya pada wilayah ide, akal an sich, sekaligus menolak anggapan kamu eksperimentalis yang mengandaikan bahwa pengetahuan hanyalah berasal dari sesuatu yang bersifat inderawi belaka. (Ada baiknya Anda membaca Falsafatuna, Our Philosophy; Allamah Muhammad Baqir Ash-Shadr, Seyyed Hussein Nashr menyebutnya sebagai: …amat jarang perhatian diberikan kepada respon intelektual yang muncul dari tempat-tempat tertentu terhadap tantangan-tantangan modernism, dan yang memberikan jawaban Islami bukan dengan semata-mata memekikkan slogan-slogan tetapi dengan menggali kekayaan tradisi intelektual Islam dan menggunakan logika dan nalar seperti diperintahkan Al-Qur`an. Buku ini termasuk dalam kategori terakhir ini.)</p>
<p>            Kebahagian jelas bukan hanya bagian dari sisi psike-jiwa seseorang saja. Kebahagiaan adalah aspek menyeluruh yang mampu dipikirkan, hal itu yang pertama kali harus kita ketahui. Bila Anda tak berbahagia, dan kemudian menyandarkan kebahagiaan Anda kepada agama tanpa Anda ketahui apa yang sedang Anda lakukan selain hanya memang mencari kebahagiaan darinya, maka Anda adalah seorang yang sedang berlari dari kenyataan. Tentu hal ini sah-sah saja, namun permasalahan agama tidak hanya perihal apakah Anda harus bahagian ataukah tidak, maksud saya tidak hanya bersifat psikologis an sich seperti itu. Ada aspek menyeluruh tentangnya, yang pos-posnya pun harus dipenuhi secara menyeluruh, akhirnya itulah kebahagiaan total, bukan pseudo-kebahagiaan seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Bila hanya ingin berbahagia secara parsial seperti itu, maka tidak beragama pun seseorang bisa menjalaninya; dan saya teringat seorang teman yang pernah mengatakan kepada saya, “saya selalu bisa menciptakan sendiri kebutuhan bagi jiwa ketika bersedih”, ungkapnya, “dan semua peran-peran lain yang dimiliki agama saya bisa ciptakan sendiri”. Apakah saya meragukan hal ini, jelas sama sekali tidak. Bagi saya teman tadi adalah seorang yang jujur, hingga di titik dia menyebut tidak mempercayai Tuhan atas masa pencariannya tersebut.</p>
<p>            Maka akan saya jelaskan tentang kebahagiaan tahap pertama; tahap benda-benda/ tahap materialism dan pemikiran yang melandasinya. Pemikiran materialism bermula saat seseorang menganggap bahwa pengetahuan hanya bisa terjadi melalui sesuatu yang tercerap, sesuatu yang inderawi; dan hal ini jauh sebelum ini kita tolak karena pengetahuan tidak sekerdil itu. Hingga karenanya, maka madzhab ini mengandaikan bahwa kebahagiaan hanya mampu diperoleh dengan hal-hal yang bersifat materi. Anda berbahagia karena Anda telah selesai makan enak hari ini, Anda telah mengenyangkan perut Anda pada satu titik, dan makanan enak terkecap di indra perasa Anda; Anda sudah merasa bahagia karenanya. Ini seperti terjadi pada masa balita kita yang bagaimana kesenangan kita hanya karena terpenuhinya semua hal yang bersifat materi pada diri kita. Kita haus, kita akan menangis. Lapar menangis. Apa-apa kita menangis sebelum, the other, bisa ibu kita memberikan apa yang kita mau, berupa materi yang kita butuhkan. Penganut madzhab ini tak akan puas sebelum apa yang bisa dia miliki, belum dapat dia miliki. Namun apakah akhirnya ketika semua pemenuhan materi ini dapat mereka temukan, maka mereka menemukan kata selesai dari sebuah kebahagiaan??? Maka pengalaman lain menolak anggapan tersebut, di Negara-negara maju pemuja bendawi, sesuatu yang terlihat adalah bunuh diri yang meningkat. Kenapa mereka bunuh diri dan apa sebabnya, menjadi bidang kajian yang terus saja menuntut perhatian para ahli. Kenapa cukupnya kebutuhan indrawi mereka masih memberikan banyak pertanyaan yang patut disampaikan, apakah benar mereka bahagia?</p>
<p>            Tahap kedua; tahap dunia pribadi/ tahap eksistensialism, dan pemikiran yang melandasinya. Lebih jauh dari materialism, maka eksistensialisme mempunyai usaha untuk memberikan makna lebih dari sekedar materi. Armahedi Azhar menyebutnya sebagai kemampuan memilih pilihan moral dan estetik atau kebebasan manusia sebagai puncak kebahagiaan. Seseorang esksistensialist menyebut dirinya sebagai, apapun itu aku tak menemukan sesuatu yang selain aku, saat ia dihadapkan dengan agama. Aku telah menjadi pusat atas segala sesuatu, terserah-serah diriku. Sartre menyebutnya otentitas dirimu; otentic. Saya tak berani men-judge siapapun dalam hal ini. Ada pengalaman yang mengkhawatirkan ketika saya pernah salah menulis tentang mereka (saya pernah menulis tentang mereka dengan gagasan; memang tiada tuhan; gaya Sarter vis a vis Camus). Namun dalam madzhab ini, subyektifitas menjadi masalahnya. Rentan subyektif, demikian hemat saya. Padahal kebenaran adalah obyektif, dengan adanya dirinya, bukan subyektif, bukan apa yang gue bilang, bukan apa juga yang loe bilang; kebenaran adalah kebenaran dengan apa adanya dirinya, dan ini ada. Inilah yang banyak terjadi, dan menjadi trendsetter pemikiran saat-saat ini. Chaos tersendiri terjadi karenanya, hukum tidak melahirkan keadilan adalah salah satu derivasinya. Tidak terjadi dengan adanya dirinya adalah kekeringan lain dalam madzhab pemikiran ini. Seseorang bisa saja bahagia dengan madzhabnya ini, namun entahlah juga bila yang ia pikirkan tentang kebahagiaannya adalah kebahagiaan yang subyektif bagi dirinya. Lihat kembali dengan apa yang saya sampaikan tentang teman saya di atas; saya selalu bisa menciptakan sendiri kebutuhan bagi jiwa ketika bersedih. Bagi saya kata-kata itu terkesan sangat dingin dan mencekam, kerinduan yang sangat lama kepada kebahagiaan memaksanya berucap, ketika bersedih. Ia membuat pengakuan dirinya dengan apa yang dia ucapkan; ketika bersedih, alam bawah sadarnya mengatakannya dengan jelas tentang hal itu. Sangat berbeda bila ia berkata, saya mampu membuat definisi kebahagiaan versi saya, dan kalimat ini jelas menunjukkan sikap yang lebih berkesan positif dari dalam dirinya, jauh berbalik dengan apa yang sempat ia –teman saya- ungkapkan terhadap keadaan dirinya sendiri.</p>
<p>            Tahap ketiga; tahap pemikiran menyeluruh/ tahap yang bersifat ilahiyun, dan pemikian yang melandasinya. Saya menginjakkan ke tahap ketiga untuk mencoba tidak terlalu lama di tahap-tahap sebelumnya, yang pembahasannya tak sebegitu urgent sepertihalnya ketidakpembahasannya, namun sebagai usaha pembanding, hal tersebut tetaplah perlu. Maaf, ada yang protes tentang hal ini dan mengatakan, kenapa sesuatu yang bersifat keyakinan musti berangkat dari sebuah pemikiran? Tuhan –terserah Anda akan menyeburnya sebagai terserah Anda; saya selalu menyebutnya Allah jalla wa a`la, dengan logat arab saya, a dibaca a’, Anda tahu benar tentang hal ini- dan keyakinan adalah masalah keyakinan, bukan pemikiran. Ini memang sesuatu yang sensitive dan berbuntut panjang, namun kukatakan kepada Anda, bila Anda menyebutnya sebagai keyakinan, maka apa dasar Anda untuk meyakininya. Bukalah kamus bahasa Anda, dan temukan apa itu arti ‘yakin’? Yakin jelaslah merupakan proses sebuah pemahaman, proses pengetahuan, tanpanya tidak akan mungkin Anda meyakininya, dan bila itu terjadi pada Anda, maka akan saya katakan, sepertihalnya yang pernah Syahid Murtadha katakana; keyakinan tanpa pemahaman bukanlah keyakinan. Jelas sudah, dan bagaimana Anda yakin bila Anda tidak tahu. Bila Anda masih saja keukeuh, saya tahu bahwa Anda –yang pertama- sedang membohongi diri Anda sendiri, dan –yang kedua- membohongi banyak pihak akan hal itu; karena Anda tidak mengetahui apa-apa.</p>
<p>            Tuhan tak perlu didefinisikan!? Anda sedang marah dengan hal itu, terus bila Tuhan tak perlu didefinisikan, kenapa Anda menyebutnya sebagai Tuhan. Kenapa Anda bisa menyebutkannya sebagai Tuhan, saya bertanya. Anda diam, Anda menganggap hal ini sebagai wilayah keyakinan, wilayah private seseorang. Tidak, saya jawab demikian. Acuan tertinggi saya pun mendefinisikan tentang Tuhan dengan adanya dirinya sendiri, Katakanlah, Dialah Allah yang Mahaesa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (QS. Al-Ikhlas: 112). Jadi kita pun perlu mendefinisakannya, acuan yang kita dapatkan membantu kita untuk memikirkannya, tidak lain tidak bukan.</p>
<p>            Pemikiran ilahiyun menyandarkan dirinya apada adagium yang tak asing, sesungguhnya kepada Allah dan kepada-Nyalah kita kembali. Disposesi inilah tawarannya –back to Falsafatuna, menjadi tawaran salah satunya tentang pemikiran ini yang lebih mendalam-. Saya ingin meneruskannya tentang kebahagiaan apa yang ditawarkan oleh mereka yang bermadzhab ini. Satu-satunya tawaran logisnya adalah memasrah, dan inilah yang tadinya kita bicarakan sejak awal, seorang muslim dan kebahagiaan. Takaran kebahagiaan adalah takaran menyerahkan sepenuhnya. Apakah mungkin hal itu terjadi? Bagaimana mungkin seorang yang menyerahkan semua apa yang ia miliki akan menjadi seorang yang berbahagia? Jawabannya adalah tergantung kepada siapa yang Anda pasrahi, bila Anda memasrahkan diri Anda pada semangat bendawi, maka Anda hanya akan diperbudak olehnya (semangat materiaslim). Atau bila Anda memasrahkan diri Anda kepada diri Anda sendiri, yang bersifat semau Anda, maka Anda akan diperbudak oleh kebebasan Anda, dibelenggu oleh kemerdekaan Anda sendiri. Kahlil Gibran dengan sangat bagus mendefinisikannya dengan, akhirnya engkau membebaskan dirimu kepada belenggu kemerdekaanmu sendiri; kebebasan yang memasungmu (semangat eksistensialism).</p>
<p>            Anda hanya bisa memasrahkan diri pada yang patut. Inna rabby `ala shirathil mustaqim, demikan kaum ilahiyun mengajarkan saya berdoa, sesungguhnya Tuhanku berada pada jalan yang lurus; bersikap Mahaadil sebagai salahsatu sikapnya, dan pula, ihdinasshirathal mustaqim (QS. Al-Fatihah: 6), tunjukilah kami jalan yang lurus.</p>
<p>            Seorang muslim mampu berbahagia dengan hidup dan semangatnya, saya mempercayai hal itu. Apakah ini sikap subyektifitas saya, maka saya menyebutnya bukan. Ini adalah analisa obyektif saya melihat perihal mereka yang begitu dalam memasrahkan dirinya. Ahlul Kisa` (Anda bisa membacanya dari al-Qur`an tentang siapa mereka, ayat-ayat al-Qur`an menyokong mereka, hingga hadist-hadist juga banyak yang menyokong mereka), saya rasa yang paling tepat menjadi figurative tepat dalam masalah ini. Akan saya tunjukkan kepada Anda, siapa saja Ahlul Kisa` yang saya sebutkan di atas, mereka adalah, Nabiyullah Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wassalam, sayyidah Fathimah az-Zahra, Imam Ali karamallahu wajhahu, Imam Hasan al-Mujtaba, dan Imam Husain as-Syahid. (Silakan Anda periksa kembali opini para ahli kepada mereka, dari sudut pandang pemikiran manapun, dengan syarat kajian yang obyektif tentang mereka).</p>
<p>            Ouh, akhirnya Anda menanyakannnya kepada saya, apakah saya sudah mampu berbahagia? Iya, saya akan menjawabnya, saya selalu belajar untuk berbahagia dengan dua hal; kerja keras dan cinta. Kerja keras adalah ulasan yang harus saya kerjakan, saya temukan atas dasar bahwa saya musti berpasrah pada konvensi Tuhan dan berikut dengan semua instrument-Nya –ini hanya sebutan dari penyederhanaan saya-; Tauhid, `Adalah, Nubuwwah, Imamah, Ma`ad, dan kemudian cinta sebagai bentuk ridha-Nya, cinta tertinggi yang saya terus mencoba untuk gapai adanya (tak perlu saya jelaskan derivasi cinta di sini yang begitu luas dan suci).</p>
<p>            Dalam alam aksiologi semua terpecah, saya dan kamu sudah berbeda, saya lelaki, dia perempuan, dan banyak hal; maka semuanya menimbulkan banyak friksi, percikan masalah adalah bunga-bunga alam aksiologi, tak perlu disesali adanya. Tanpa adanya bunga, maka tak akan ada keharuman kita temukan. Kiamat pun tak lebih sebuah lukisan indah yang sedang diselesaikan dalam alam ini. Acuan terakhir untuk menghadapi ini semua adalah, back to mindset Ilahiyun, memasrah. Be a good muslim. Memasrahkan semuanya dengan kesabaran dan penerimaan. Anda belum akan berpendapat sama dengan saya, dan itu sebuah pemikiran bagus, dalam mindset kami maka pemikiran adalah hal yang dengan adanya dirinya tak boleh dibelenggu oleh dan atas dasar apapun, hanya Tuhan sendiri yang boleh mengatakan hal itu atas apa adanya ia: pemikiran. Yang paling penting Anda tak boleh bohong, Anda tak boleh melakukan kecurangan terhadap apa yang sedang Anda pikirkan sekarang, dua hal itu Anda lakukan, jelaslah sekarang Anda adalah orang yang tak menemu bahagia. Anda belum seorang yang memasrahkan diri, sekaligus yang menemukan kebahagiaan, innalillahi wa inna ilaihi raji`un terhadap apa yang Anda alami sekarang. </p>
<p>by Muhammad Husain Aziz</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/seorang-muslim-dan-pemikirannya-tentang-kebahagiaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>universitas kehidupan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 03:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menangis … Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk tersenyum. Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu mengeluh … Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk bersyukur. Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menyerah … Tunjukkanlah 1001 janji Allah bahwa Kamu akan Berjaya, sebab <a href='http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menangis …<br />
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk tersenyum.</p>
<p>Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu mengeluh …<br />
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk bersyukur.</p>
<p>Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menyerah …<br />
Tunjukkanlah 1001 janji Allah bahwa Kamu akan Berjaya, sebab<br />
<span id="more-314"></span><br />
Ketika kerjamu tidak dihargai,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang KETULUSAN.</p>
<p>Ketika usahamu dinilai tidak penting,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar KEIKHLASAN.</p>
<p>Ketika hatimu terluka sangat dalam,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.</p>
<p>Ketika Kamu harus lelah &#038; kecewa,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.</p>
<p>Ketika Kamu merasa sepi &#038; sendiri,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar KETANGGUHAN.</p>
<p>Ketika Kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu Kamu tanggung,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang KEMURAHHATIAN</p>
<p>Dunia ini terlalu hina untuk membuat Kamu menangis<br />
… Terlalu murah untuk membuat Kamu bersedih,</p>
<p>… Terlalu lemah untuk membuat Kamu putus asa</p>
<p>Tersenyumlah …<br />
Karena Kamu mendapat kesempatan &#038; sedang menimba ilmu diuniversitas kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Tuhan Menciptakan Kejahatan? (kisah nyata)</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan-kisah-nyata/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan-kisah-nyata/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 06:53:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[einstein]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah tulisan yang saya ambil dari catatan seorang teman. Menarik saya pikir. Selamat membaca&#8230; &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, &#8220;Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?&#8221;. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, &#8220;Betul, Dia yang menciptakan <a href='http://www.inilahjalanku.com/apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan-kisah-nyata/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah tulisan yang saya ambil dari catatan seorang teman. Menarik saya pikir. Selamat membaca&#8230;<br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<br />
Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada? Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswanya dengan pertanyaan ini, &#8220;Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?&#8221;. Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, &#8220;Betul, Dia yang menciptakan semuanya&#8221;. &#8220;Tuhan menciptakan semuanya?&#8221; Tanya professor sekali lagi. &#8220;Ya, Pak, semuanya&#8221; kata mahasiswa tersebut.</p>
<p>Profesor itu menjawab, &#8220;Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.&#8221; Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.</p>
<p>Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, &#8220;Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?&#8221;<br />
&#8220;Tentu saja,&#8221; jawab si Profesor Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, &#8220;Profesor, apakah dingin itu ada?&#8221; &#8220;Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?&#8221; Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, &#8220;Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.<!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --><br />
<script src="http://adsensecamp.com/show/?id=kFjfdNYnvtU%3D&#038;cid=TlffQoaJN%2F0%3D&#038;chan=m2Emmfw1PFc%3D&#038;type=2&#038;title=3D81EE&#038;text=000000&#038;background=FFFFFF&#038;border=FFFFCC&#038;url=2BA94F" type="text/javascript">
</script><br />
<!-- End: http://adsensecamp.com/ --><br />
<span id="more-251"></span><br />
Mahasiswa itu melanjutkan, &#8220;Profesor, apakah gelap itu ada?&#8221; Profesor itu menjawab, &#8220;Tentu saja itu ada.&#8221; Mahasiswa itu menjawab, &#8220;Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.&#8221;</p>
<p>Akhirnya mahasiswa itu bertanya, &#8220;Profesor, apakah kejahatan itu ada?&#8221; Dengan bimbang professor itu menjawab, &#8220;Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.&#8221;</p>
<p>Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, &#8220;Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.&#8221;</p>
<p>Profesor itu terdiam. Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein. </p>
<p>by:isfy<!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --><br />
<script src="http://adsensecamp.com/show/?id=kFjfdNYnvtU%3D&#038;cid=TlffQoaJN%2F0%3D&#038;chan=m2Emmfw1PFc%3D&#038;type=2&#038;title=3D81EE&#038;text=000000&#038;background=FFFFFF&#038;border=FFFFCC&#038;url=2BA94F" type="text/javascript">
</script><br />
<!-- End: http://adsensecamp.com/ --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/apakah-tuhan-menciptakan-kejahatan-kisah-nyata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

