<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>code4769&#039;s site &#187; Dongeng</title>
	<atom:link href="http://www.inilahjalanku.com/tag/dongeng/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inilahjalanku.com</link>
	<description>Portal IT &#38; Islamic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Aug 2010 03:22:20 +0000</lastBuildDate>
	<meta name="generator" content="captbbx@yahoo.com" />	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>ARTI KESIBUKAN</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/arti-kesibukan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/arti-kesibukan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 02:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, seorang ahli &#8216;Managemen Waktu&#8217; berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para mahasiswanya. Ketika dia berdiri dihadapan mahasiswanya dia berkata, &#8220;Baiklah, sekarang waktunya kuis.&#8221;Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu hari, seorang ahli &#8216;Managemen Waktu&#8217; berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para mahasiswanya. Ketika dia berdiri dihadapan mahasiswanya dia berkata, &#8220;Baiklah, sekarang waktunya kuis.&#8221;Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam toples.</p>
<p>Ketika batu itu memenuhi toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya, &#8220;Apakah toples ini sudah penuh?&#8221; Semua siswanya serentak menjawab,&#8221;Sudah!&#8221; Kemudian dia berkata, &#8220;Benarkah?&#8221; Dialalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat di antara celah-celah batu-batu itu. Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi, &#8220;Apakah toples ini sudah penuh?&#8221;Kali ini para siswanya hanya tertegun. &#8220;Mungkin belum!&#8221;, salah satu dari siswanya menjawab. &#8220;Bagus!&#8221; jawabnya.<br />
<span id="more-312"></span><br />
Kembali dia meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, &#8220;Apakah toples ini sudah penuh?&#8221; &#8220;Belum!&#8221; serentak para siswanya menjawab. Sekali lagi dia berkata, &#8220;Bagus!&#8221;</p>
<p>Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga keujung atas. Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kepada para siswanya dan bertanya, &#8220;Apakah maksud dari ilustrasi ini?&#8221; Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, &#8220;Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain ke dalamnya!&#8221;"Bukan!&#8221;, jawab si ahli, &#8220;Bukan itu maksudnya.</p>
<p>Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita bahwa JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN,MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES TERSEBUT.&#8221;</p>
<p>Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya.</p>
<p>Jika kamu mendahulukan hal-hal yangkecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-halyang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/arti-kesibukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah tentang si aku dan si sosok</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/kisah-tentang-si-aku-dan-si-sosok/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/kisah-tentang-si-aku-dan-si-sosok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Entahlah, kenapa aku tib-tiba ingin menulis hal ini… entahlah, pikiran ini tiba-tiba terngiang ditelingaku, bahkan masuk jauh kedalam pikiranku…
Aku hanyalah sesosok hina yang dibungkus oleh beberapa helai penutup yang menarik… aku hanyalah sosok yang bodoh yang tidak tau apapun…. Pernah waktu dulu aku diberitahu tentang bagaimana sosok ini nantinya dan akhirnya…. Namun, semua itu tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Entahlah, kenapa aku tib-tiba ingin menulis hal ini… entahlah, pikiran ini tiba-tiba terngiang ditelingaku, bahkan masuk jauh kedalam pikiranku…<span id="more-39"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku hanyalah sesosok hina yang dibungkus oleh beberapa helai penutup yang menarik… aku hanyalah sosok yang bodoh yang tidak tau apapun…. Pernah waktu dulu aku diberitahu tentang bagaimana sosok ini nantinya dan akhirnya…. Namun, semua itu tak dapat lagi ku ingat dan ku bayangkan…  aku benar2 tidak tau tentang  4 berita penting tersebut…. Aku benar-benar lupa….!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Sudahlah, tak usah lagi kuingat-ingat 4 berita itu… karena bagaimanapun juga, 4 hal itu tak akan bisa ku ingat…. Sekarang, sosoku telah berdiri disebuah dimensi yang penuh kelembutan… dimensi yang penuh kasih sayang… aku pun besar disitu…</p>
<p style="text-align: justify;">Hari berlalu… sosok ini sudah mulai belajar berjalan…. Semakin hari sosok ini semakin melangkah jauh… melangkah tanpa tentu arah… sosok ini mulai menemukan jalan panjang yang penuh duri …. Sosok ini kini tidak lagi berada di sebuah tempat yang lembut… namun sudah berada di sebuah gurun dengan jalan terjal yang berliku dan penuh cabang….</p>
<p style="text-align: justify;">Sosok ini pun sadar, bahwa ia harus mulai mencari petunjuk untuk melewati ini semua…. Untuk bisa sampai di akhir jalan dengan keselamatan…. Ia mulai mencari petunjuk… ,petunjuk jalan….</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan susah payah, ia akhirnya menemukan 2 petunjuk sekaligus… petunjuk yang benar-benar dapat dipercaya. Entahlah, tiba-tiba saja ia tahu itu, dan ia tidak tahu bagaimana dia bisa tahu…. Dia mulai mempelajari tentang petunjuk itu… setiap meenemukan persimpangan, ia memakai petunjuk itu untuk mengetahui jalan mana yang benar… dan setiap ia mendapat luka, ia memakainya untuk mengetahui bagaimana menyembuhkan luka itu…  pada saat itu ia mulai sangat senang dengan petunjuk itu… ia benar-benar menyayangi petunjuk itu… kini, sosok itu bisa melalui jalan sulit itu dengan berlari… setiap halangan bisa ia lewati berkat bantuan 2 petunjuk itu…</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, hingga tiba saatnya ia harus menghadapi badai pasir… badai pasir yang membuat mata perih,  yang memberatkan langkah kaki… ia ingat pada 2 petunjuknya… ia mulai mencari cara agar bisa keluar dari badai ini… namun… dia tidak bisa membaca petunjuk itu!!! Tidak kedua-duanya… setiap akan membaca, matanya kembali tertutup karena terkena pasir…. Tidak hanya itu… badai itu seolah membisik… ‘ayolah pilih jalan ini…’ namun sesaat kemudian badai itu mengatakan ‘pilih jalan ini saja’ lalu ‘pilih yang ke arah sana saja’ pada saat itu, sosok ini benar-benar kacau…</p>
<p style="text-align: justify;">Yang dia lakukan adalah mengikat erat petunjuk itu dalam dadanya… kemudian ia menutup pendengaran dan penglihatanya…. Ia menjadi sosok yang kaku, diam tak bergerak….</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa… beberapa masa telah ia lalui dengan kediamannya, dengan kekakuannya… hingga pada akhirnya 2 petunjuk itu tidak lagi terikat di dadanya… namun mulai masuk ke dalam dadanya…</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, kini ia tidak perlu mengandalkan penglihatan untuk membaca 2 petunjuk itu… karena 2 petunjuk itu telah masuk ke dalam dadanya. Kini ia lebih senang untuk merasa daripada melihat… Dengan itu, perlahan ia mulai berjalan… kini ia lebih senang berjalan santai namun dengan penuh pertimbangan dari pada berlari cepat namun penuh resiko…</p>
<p style="text-align: justify;">Namun bukan badai pasir saja yang harus ia hadapi… kini ia arus berhadapan dengan jutaan jalan yang serupa… benar-benar tampak serupa…  tekstur, warna, dimensi, semuanya sama… bahkan nama jutaan jalan itu juga sama… tahukah engkau, apa nama jutaan jalan itu??? Semuanya bernama “KEBENARAN”……</p>
<p style="text-align: justify;">Kini ia hanya bisa terpaku… sosok itu kini terduduk dan terus memandangi jutaan jalan itu… ia hanya diam…. Bahkan kadang ia menangis…. Ia benar-benar bingung….</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dia putuskan bahwa ia tidak akan melangkah kemanapun… karena ia takut tersesat… sekarang ia duduk bersila di persimpangan itu… ia duduk sambil mengkaji kembali 2 pusaka yang dulu ia dapatkan… ia tahu, bahwa jalan “KEBENARAN” itu tidak mungkin ada dua… apalagi jutaan… dan ia juga tahu bahwa dalam 2 petunjuk yang telah ia miliki terdapat cara untuk menemukan jalan “KEBENARAN” itu…</p>
<p style="text-align: justify;">Disinilah cerita ini berakhir… kita tidak akan pernah tau bagaimana akhir kisah si sosok atau si aku…. Karena saat ini, ia pun tak tahu tentang hal itu…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/kisah-tentang-si-aku-dan-si-sosok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman yang Indah</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/pengalaman-yang-indah/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/pengalaman-yang-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah dongeng tentang pengalaman seorang pemuda yang hampir berusia se-perlima abad. Tidak akan kita sebut namanya disini. Ia menuntut ilmu di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Karena jarak rumah ke jogja memakan waktu sekitar 1,5-2 jam perjalanan darat, ia harus mencari tempat tinggal sementara di Jogja. Akhirnya ia tinggal disebuah asrama islami yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ini adalah sebuah dongeng tentang pengalaman seorang pemuda yang hampir berusia se-perlima abad. <span id="more-36"></span>Tidak akan kita sebut namanya disini. Ia menuntut ilmu di sebuah universitas negeri di Yogyakarta. Karena jarak rumah ke jogja memakan waktu sekitar 1,5-2 jam perjalanan darat, ia harus mencari tempat tinggal sementara di Jogja. Akhirnya ia tinggal disebuah asrama islami yang berjarak hanya kurang lebih 100 meter dari fakultas tempat ia belajar.<br />
Di asrama ini ia menemukan sebuah kehangatan kekeluargaan yang berlandaskan keimanan, berlandaskan persaudaraan. Asrama ini adalah asrama yang menyenangkan, asrama yang penuh kebaikan. Tidak hanya itu, asrama ini juga penuh canda dan tawa, benar-benar asrama yang indah&#8230; Sering ia melihat kamar-kamar dengan pintu terbuka namun ditinggal pergi oleh pemiliknya. Tidak ada rasa kekhawatiran akan barang yang hilang. Karena semua didasarkan pada rasa saling percaya.<br />
Namun, dibalik itu semua, ada dua kejadian penting yang tidak bisa ia lupakan. sebuah pelajaran yang amat berharga. Sebuah kasus yang terjadi karena ada salah seorang penghuni asrama yang sudah terjebak dalam gaya hidup yang salah. Hari itu, sekitar pukul 2 dini hari, sekitar 5 bulan setelah ia masuk asrama. Seluruh penghuni asrama dikumpulkan di ruang serba guna yang tepat berada di samping kamarnya. Di ruangan ini Fulan dipaksa untuk mengakui seluruh perbuatannya&#8230; si Fulan menyebutkan satu persatu barang yang telah ia curi dari teman-teman asrama. Mulai dari HP, uang tunai, hingga kartu atm. Dia tidak percaya dengan semua pengakuan itu, meski perkataan itu keluar langsung dari mulut si Fulan, sang PENCURI. Ia tidak percaya karena selama ini ia mengenal Fulan sebagai seorang sosok yang ramah dan baik hati. Tidak nampak sama sekali watak pencuri dalam diri Fulan.<br />
Malam itu Fulan mendapat hukuman yang sangat ringan menurut si dia. Fulan dihukum oleh penghuni asrama dengan memukuli kedua tangannya sebanyak 3 kali untuk setiap warga asrama. Tangan Fulan dipukul menggunakan sebuah silinder plastik yang cukup keras. Dia mengatakan ringan karena hal itu jauh lebih ringan dibanding hukuman potong tangan yang seharusnya di &#8216;hadiahkan&#8217; pada Fulan, meskipun pada malam itu tangan Fulan berdarah dan banyak luka lecet yang cukup dalam.<br />
Namun demikian, warga asrama memaafkan perbuatan Fulan. Mereka memutuskan untuk tetap menjaga hubungan dengan Fulan. Karena mereka pikir, bagaimana pun juga, ia tetap seorang saudara seiman. Hari berganti hari, kejadian itu sedikit demi sedikit telah berusaha dilupakan, uang ganti rugi pun juga dibayar walau dengan cicilan&#8230;<br />
Akan tetapi, 4 atau 5 bulan setelah kejadian itu, penghuni asrama kembali dibuat jengkel. Sepeda kayuh, hp, handycam dan uang seratus ribu kembali hilang&#8230;. Penghuni asrama pun mulai menaruh persangkaan kepada si Fulan. Mereka mulai jengkel pada tingkah fulan&#8230; Setelah bukti-bukti terkumpul, kembali Fulan diinterogasi beramai-ramai. Kali ini Fulan diinterogasi di kamarnya sendiri. Fulan sempat mengelak dari tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada Fulan. Bahkan Fulan tidak segan untuk bersumpah palsu atas nama Allah. Satu kalimat yang membuat si dia sakit hati : &#8220;benar akh, demi Allah saya tidak mencurinya&#8221; Benar-benar kalimat yang menyakitkan hati, Fulan tega menjual keimanan hanya untuk sebuah harta yang sedikit jumlahnya. Fulan berani membawa nama Allah, bersumpah atas nama Allah demi menutupi kejahatan yang telah Fulan lakukan.<br />
Si dia tidak ikut memukuli si Fulan, si dia hanya menyaksikan saudara-saudaranya memukuli tubuh Fulan dengan pukulan-pukulan yang menurut ia terlalu ringan. Ia pikir, &#8216;hah, untuk apa memukuli orang seperti itu&#8230; cuma mengotori tangan!! Toh dia sudah &#8216;diurus&#8217; oleh yang lain&#8230;&#8217; Setelah diancam akan dilaporkan polisi, akhirnya Fulan mengaku juga&#8230; bahwa Fulan telah MENCURI barang-barang itu. Fulan kemudian ditanyai untuk apa Fulan mencuri&#8230; Fulan menjawab untuk mentraktir pacar Fulan&#8230; Na&#8217;udzubillah&#8230;Jadi uang hasil curian itu hanya dipakai untuk pacaran!!! Perbuatan haram untuk mendukung perbuatan haram pula??!!!! si dia menjadi benar-benar ingin memukul wajah Fulan&#8230; yang ada di hati si dia kini hanyalah kemarahan&#8230;<br />
Orang tua Fulan telah dihubungi, mereka diberi dua pilihan oleh warga asrama, bawa anak anda keluar dari jogja, demi kebaikan anak anda, atau jika bersikeras untuk tetap menyekolahkan Fulan di jogja, maka warga asrama akan mengangkat kasus ini ke pihak yang berwajib!! Kedua pilihan ini memang sulit, namun bagaimana lagi&#8230; ini semua demi kebaikan diri Fulan sendiri&#8230; dan untuk sementara ini, sambil menunggu keputusan orang tua Fulan, warga asrama sepakat untuk mengucilkan Fulan. Ini adalah sesuatu yang tidak dilarang dalam islam, karena Nabi pernah melakukan hal serupa ketika ada sahabat yang tidak ikut berperang tanpa alasan yang bisa dibenarkan&#8230;<br />
Kasus ini tidak akan diceritakan oleh si dia secara mendetail, dia hanya ingin menyampaikan sebuah kasus dengan pelajaran atau hikmah yang sangat berharga. Sebuah pengalaman langka yang ia alami, pengalaman yang sangat &#8216;indah&#8217;.<br />
Bahwa, pertama, kita harus berhati-hati dalam memilih sebuah gaya hidup, sebuah pergaulan, dan yang terbaik adalah dengan meneladani Rasulullah. Kedua, mungkin atau bukan mustahil jika musuh kita adalah orang terdekat kita. Ketiga, serapi apapun kejahatan disembunyikan, lama kelamaan akan terungkap juga. Keempat, jangan pernah bersumpah palsu dengan menyebut nama Allah!!! Karena hal itu akan membuat kita celaka di dunia dan di akhirat. Kemudian yang kelima, benarlah jika dikatakan bahwa wanita adalah salah satu pembawa fitnah di dunia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/pengalaman-yang-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERKATAAN DAN JANJI YANG BERAT</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/perkataan-dan-janji-yang-berat/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/perkataan-dan-janji-yang-berat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Perkenalkan, ia adalah seorang manusia biasa. Ia bukanlah pejabat, bukan orang yang berpengaruh, bukan pula seorang ulama’. Ia hanya salah seorang yang pernah mendengar sebuah hadist nabi :
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Perkenalkan, ia adalah seorang manusia biasa. Ia bukanlah pejabat, bukan orang yang berpengaruh, bukan pula seorang ulama’. Ia hanya salah seorang yang pernah mendengar sebuah hadist nabi :<span id="more-31"></span><br />
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda: &#8220;Barangsiapa mati, sedang ia tidak pernah berjihad dan tidak mempunyai keinginan untuk jihad, ia mati dalam satu cabang kemunafikan.&#8221; Muttafaq Alaihi.<br />
Dari Sahl bin Hunaif ra. Bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa yang benar-benar minta kepada Allah Ta’ala untuk mati syahid, maka Allah akan menyampaikannya ke tingkatan orang-orang yang mati syahid, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya.” (Muslim)<br />
Maka ia selalu memohon kepada Allah agar menjadi salah satu syuhada’. Ia benar-benar ingin mencapai derajat itu. Ia tidak hanya ngomong “ingin” saja, tapi ia memang benar-benar menginginkan hal ini. Ia tidak hanya memohon tanpa tindakan, ia memohon kepada Allah, kemudian ia persiapkan diri untuk menghadapi hal ini. Pernah suatu ketika, ia mendapatkan pengajaran dari salah seorang gurunya yang pernah berjihad di afghanistan. Sang guru berkata bahwa “Jihad itu sangat berat. Di sana seseorang benar-benar mendapat tekanan fisik dan mental yang sangat luar biasa. Ia juga berkata bahwa berperang itu menguras tenaga dan harta. Berjihad itu tidak murah!! Omong kosong kalau seseorang yang tidak punya banyak bekal ia ingin berangkat ke medan jihad entah itu irak, palestine, afghanistan, atau medan jihad di dalam negeri. Yang ada, di sana ia malah menjadi beban saja! Kalian sering menabung untuk haji, menabung untuk beli rumah, menabung untuk menikah, tapi saya yakin kalian belum pernah menabung untuk berjihad!!” itulah kira-kira yang sang guru katakan… Ia menganggukkan kepala, sambil berfikir…”benar juga ya??”<br />
Ia juga agak heran dengan teman-temannya yang selalu menggembar-gemborkan kata jihad. Mereka memiliki jaket dengan tulisan “isy kariman au mut syahidan” atau stiker-stiker “be a good muslim or die as syuhada” atau semboyan “hidup mulia atau mati syahid” tapi ketika ditanya tentang tabungan jihad atau dana yang ia siapkan untuk jihad dan persiapan untuk menyongsong jihad, mereka hanya senyum sambil geleng-geleng kepala… aneh…<br />
Ia juga sering merenung, bersedih hati kepada dirinya sendiri. Ia sering berkata “kira-kira, kalau memang panggilan untuk jihad benar-benar datang, saya menyambutnya atau saya hanya berdiam diri???” “apakah saya hanya bisa menangis ketika saudara-saudara saya di negeri muslim dibantai oleh orang kafir?!” akhirnya, ia hanya bisa mempersiapkan diri sambil memohon kepada Allah agar memberi keteguhan hati kepada para saudaranya yang telah mendahuluinya untuk berjihad. Ia juga memohon agar Allah tidak menjadikannya sebagai orang munafik, orang yang mendapat murka Allah, orang yang lari ketika perang ada di depan mata. Ia memohon kepada Allah agar diberi keteguhan hati untuk mau berjihad jika sudah tiba saat bagi dia untuk berjihad….<br />
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.( Al-Anfaal:15-16)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/perkataan-dan-janji-yang-berat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aktivis??</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/aktivis/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/aktivis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:15:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah sebuah dongeng tentang seseorang yang sedang berproses dalam pencarian kebenaran. Ia adalah seorang muslim yang sedang semangat untuk mencari ilmu agama. Ia bukan dari pesantren atau sekolah islam. Ia berasal dari sekolah negeri umum. Pada masa SMA, ia cukup aktiv di organisasi keislaman selama kurang lebih 1,5 tahun. Kemudian, ketika ia pikir-pikir lagi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ini adalah sebuah dongeng tentang seseorang yang sedang berproses dalam pencarian kebenaran. Ia adalah seorang muslim yang sedang semangat untuk mencari ilmu agama. Ia bukan dari pesantren atau sekolah islam. <span id="more-29"></span>Ia berasal dari sekolah negeri umum. Pada masa SMA, ia cukup aktiv di organisasi keislaman selama kurang lebih 1,5 tahun. Kemudian, ketika ia pikir-pikir lagi, ia memutuskan untuk keluar dari organisasi tersebut. Dia keluar bukan karena gerakan organisasi yang menyimpang dari agama. Bukan pula karena rasa malas, juga bukan karena bosan. Entahlah, ketika ditanya ia hanya menjawab ia memang ingin keluar saja. Jadi ia keluar tanpa alasan, hanya karena menuruti suara hati…</p>
<p style="text-align: justify;">Dua Tahun telah berlalu.. ia kini berada di sebuah universitas negeri. Begitu masuk kuliyah, tawaran untuk bergabung ke berbagai gerakan keislaman terus berdengung di telinganya. Sebenarnya ia ingin untuk bergabung, sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu sekaligus memperbanyak saudara. Namun, perasaan mengganjal yang pernah ada di hatinya 2 tahun lalu kini kembali muncul. Ia kemudian mengurungkan niatnya…</p>
<p style="text-align: justify;">Ia terus mencari penyebab ganjalan dalam hatinya itu. Karena ia melihat saudaranya yang lain yang ia pikir ilmunya lebih tinggi dari pada dia, mereka menjadi seorang aktivis dakwah yang sangat bersemangat. Ia terus bertanya, “saya salah apa ngga sih???”. Sejak awal, Ia berusaha mengaitkan konsep gerakan dakwah dengan konsep jama’ah yang ia pahami. Memang, hasil yang didapat bisa dijadikan hujah untuk membenarkan apa yang sekarang menjadi jalan hidupnya… Namun, hujah yang ia gunakan tidak bertahan lama. Karena adanya bantahan yang bisa melemahkan hujah itu, dan anehnya bantahan ini tidak berasal dari orang lain, namun berasal dari dalam dirinya sendiri. Ia berfikir, “apakah sebuah gerakan dakwah yang relatif kecil ini bisa disamakan dengan sebuah jama’ah yang memiliki ruang lingkup yang sangat luas?” dan jawaban pun juga muncul dari dalam hatinya “Tidak!!, konsep ini berbeda dengan konsep jama’ah… ini tidak mengatur zakat, penentuan hari raya, hukum, dan berbagai aspek yang berada dalam jama’ah tidak termasuk dalam tujuan gerakan. Jadi tidak bisa disamakan…” “trus kenapa aku ragu untuk masuk dan ikut aktiv?” “menyendiri???, Ghuroba??” “bukan, bukan… itu juga bukan sebuah alasan yang bisa dibenarkan… ingat bahwa srigala akan memangsa domba yang sendiri…” “trus kenapa??” “udahlah jangan terlalu dianggap pusing, ingat agama itu mudah asal jangan disepelekan. Jalani saja begini untuk sementara waktu… sambil terus mencari kebenaran.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menjalani hidup dengan berlepas diri dari semua gerakan… sampai pada suatu hari ia bisa menarik sebuah kesimpulan yang mungkin selama ini telah menjadi ganjalan di dalam hatinya sebagai penghalang bagi dia untuk bergabung ke dalam sebuah gerakan islam… “o… mungkin ini yang membuatku enggan untuk masuk ke dalam organisasi…”. Beberapa alasan ini ia dapat dari investigasi di lapangan (???):</p>
<p style="text-align: justify;">1. Ketika menjadi seorang aktivis dakwah, ia akan cenderung menjadi “pengisi” dari pada “diisi” ini akan berakibat : berkata, berbuat, tanpa banyak ilmu… dan ini ia dapati di lapangan..</p>
<p style="text-align: justify;">2. Organisasi gerakan sekarang ini cenderung ke arah kekelompokan. Yang sering menyebabkan orang lebih menghormati bendera kelompok daripada bendera islam.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Ketika masuk kesebuah kelompok akan cenderung timbul sekat-sekat yang di buat oleh masing-masing individu terhadap kelompok lain.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Alasan nomer 2&amp;3 menyebabkan perselisihan di hati, bahkan perpecahan antar sesama muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Walaupun gerakan dakwah islam, namun sayangnya mereka sudah tidak terlalu memperhatikan “hijab”,  antara wanita dan laki-laki bisa saling berinteraksi untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Hati adalah organ yang lemah, ia bisa berubah setiap saat. Walau awalnya ikhlash, namun tidak sulit untuk berubah niat menjadi riya’.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Dalam organisai, walaupun  itu organisasi islam tidak terlepas dari demokrasi dalam pengambilan keputusan. Entah itu pemilihan ketua ataupun pengambilan kebijakan. Sedangkan sudah dimaklumi bahwa saya termasuk manusia yang anti demokrasi.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Oragnisasi banyak membuang waktu! Saya katakan membuang, berarti cenderung tidak bermanfaat. Musyawarah yang seharusnya bisa diputuskan oleh beberapa orang “atasan” dan dibantu segelintir orang berilmu, justru mengundang seluruh anggota untuk mebicarakan masalah yang seringnya berakhir dengan kata “rapat ditunda” atau tidak menghasilkan keputusan sama sekali. Benar-benar membuang waktu.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah alasan yang akhirnya ia kemukakan untuk menolak menjadi seorang aktivis. Tentu ia juga tidak ingin mengunci rapat-rapat empang ilmu (kalo lautan berarti udah pinter banget, karena bodoh, masih empang) yang ia miliki. Ia memanfaatkan kelebihan yang Allah berikan padanya untuk menyeru kepada islam. Banyak keuntungan yang ia dapat jika ia terlepas dari gelar aktivis. Ia lebih bebas dalam menggunakan waktu, bisa belajar dengan leluasa (baik ilmu agama maupun ilmu eksak), ia bisa tetap berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang telah aktiv di kelompok ini dan itu, ia bisa ikut membantu mereka, ia tidak memiliki sekat, itulah antara lain berbagai keuntungan yang ia rasakan. Namun, ia tidak pernah mendakwahkan pikirannya ini kepada orang lain secara terang-terangan, ia takut akan banyak orang yang tersinggung. Ia hanya berkata bila ada yang bertanya…</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/aktivis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>INIKAH MEREKA???</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/inikah-mereka/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/inikah-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 04:18:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/inikah-mereka/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berkisah tentang seseorang muslim yang  telah menghabiskan sebagian waktunya selama ia muda untuk belajar ilmu agama.  Kisah ini dimulai ketika ia bertemu dengan salah seorang guru spiritualnya di sebuah  masjid di kampungnya. Guru ini mengajarkan banyak ilmu kepada pemuda ini. Ia  belajar banyak tentang kelompok, jama&#8217;ah, firqoh, aqidah, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-size: medium;">Cerita ini berkisah tentang seseorang muslim yang  telah menghabiskan sebagian waktunya selama ia muda untuk belajar ilmu agama.  <span id="more-26"></span>Kisah ini dimulai ketika ia bertemu dengan salah seorang guru spiritualnya di sebuah  masjid di kampungnya. Guru ini mengajarkan banyak ilmu kepada pemuda ini. Ia  belajar banyak tentang kelompok, jama&#8217;ah, firqoh, aqidah, dan berbagai ilmu  islam lainnya. Pada suatu hari, pemuda ini bertanya tentang hidup berjama&#8217;ah  pada gurunya. Yang kemudian dijawab oleh guru tersebut bahwa hidup berjama&#8217;ah  itu wajib. Karena penasaran terhadap hal ini, sang pemuda pun terus-menerus  bertanya seputar hidup berjama&#8217;ah. Mungkin, karena guru tersebut menyadari  tentang minat si pemuda dalam hal belajar hidup berjama&#8217;ah,  sang guru  berjanji akan mengadakan kajian khusus yang membahas tentang hidup berjama&#8217;ah.  Waktu itu sang guru menganjurkan untuk membawa sebuah kitab hadist kecil yang  seluruh isinya tentang hadist seputar jama&#8217;ah. Waktu dan tempat pun ditentukan  kemudian kajian ini pun dimulai, sebuah kajian yang dilakukan secara empat mata.  Pada suatu hari, sampailah kajian pada sebuah hadist huzhaifah yang terkenal  yang berbunyi: </span></p>
<p dir="ltr" align="justify"><span style="font-size: medium;">&#8220;</span><em><span style="font-size: medium;">Dari  Huzhaifah bin Al-Yaman berkata, “Manusia biasa bertanya pada Rasulullah saw.  tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena  khawatir akan mengenaiku.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa  Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini (Islam).  Apakah setelah kebaikan ini ada lagi keburukan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya.”  “Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?” Rasul saw. menjawab, ”Ya, tetapi  ada polusinya.” “Apa polusinya?” Rasul saw. menjawab, ”Kaum yang mengambil  hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari.”  Saya berkata, ”Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Rasul saw. menjawab,  ”Ya, tetapi ada <strong>para penyeru ke neraka jahanam;</strong> barangsiapa yang  menyambut mereka ke neraka, maka mereka melamparkannya ke dalam neraka.” Saya  berkata, ”Ya Rasulullah, terangkan <strong>ciri mereka </strong>pada kami?” Rasul saw.  menjawab, ”(<strong>Kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa  kita.</strong>” Saya berkata, ”Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai  hal itu?” Rasul saw. bersabda, ”Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya.”  Saya berkata, ”Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasul saw. menjawab,  ”Tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai  menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut.” (Bukhari dan  Muslim)&#8221;</span></em></p>
<p dir="ltr" align="justify"><em style="font-style: normal;"><span style="font-size: medium;">Ternyata  saat pemuda ini menerima hadist tersebut, ada satu ganjalan di hati dia tentang  orang yang menjadi penyeru ke neraka jahanam tersebut. kemudian ia bertanya  kepada gurunya, dan dijawab oleh gurunya bahwa orang-orang seperti ini juga  orang islam, mereka juga hafal ayat al-Qur&#8217;an dan beberapa hadist bahkan mereka  juga fasih berbahasa arab. Tapi, apa yang mereka sampaikan walaupun disertai  ayat dan hadist merupakan sesuatu yang tidak diajarkan bahkan sebuah kesesatan.  Mendengar jawaban ini, tentu saja pemuda tadi bingung. &#8220;Berdalil dengan hadist  dan ayat, tapi sesat?&#8221; hal itulah yang mungkin ada di benak pemuda ini saat itu.  Melihat wajah muridnya yang terlihat kebingungan ini, sang guru mengatakan &#8220;udahlah,  mungkin suatu saat nanti kamu akan menemui mereka secara langsung.&#8221; kajian pun  dilanjutkan ke pembahasan hadist yang selanjutnya. Selama beberapa tahun, pemuda  ini masih menyimpan rasa penasarannya terhadap tipe-tipe orang ini. Tiba saatnya  bagi dia untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ke sebuah  universitas. Dia pun mengarahkan pandangannya ke sebuah wilayah yang sudah di  kenal sebagai kota tempat belajar. Kota dimana kedua kakaknya juga pernah  mengenyam pendidikan sebagai mahasiswi di kota itu. Dia mendaftarkan dirinya di  universitas negeri yang terdapat di kota itu. Namun Allah berkehendak lain, dia  tidak pernah diterima di universitas itu walaupun ia sudah melalui berbagai  jalur yang disediakan universitas itu. Saat mengisi formulir seleksi nasional  masuk perguruan tinggi ia mengisikan pilihan ketiganya untuk sebuah universitas  islam di kota yang sama. Tidak disangka, dia diterima pada pilihannya yang  ketiga, pilihan yang ia isikan tanpa pikir panjang. Walaupun jurusan ini  merupakan jurusan yang ia sukai, namun universitas ini adalah universitas yang  ia anggap sebagai sebuah musuh. Universitas yang ia benci karena citranya yang  sudah tersebar di kalangan masyarakat. Setelah melalui pertimbangan yang matang, ia pun  memutuskan untuk belajar dan menyelesaikan S1 nya di universitas ini. Ini adalah  universitas yang spesial, ia tidak hanya belajar ilmu eksak di dini, tetapi juga  ilmu agama. </span></em></p>
<p dir="ltr" align="justify"><em style="font-style: normal;"><span style="font-size: medium;">Namun,  ia mulai merasa janggal dengan berbagai ilmu agama yang dia terima. Dia pikir &#8220;kenapa  dosen ini mengatakan begitu? padahal dari dulu, saya memahami bahwa seharusnya  begini&#8230;&#8221; banyak ilmu-ilmu keagamaan yang ia dapat dari dosen-dosennya yang  fasih berbahasa arab ini bertentangan dengan hati nuraninnya, bahkan berbeda  atau menyelisihi pendapat-pendapat ulama yang sudah dikenal ke faqihannya dalam  agama. Sebagai contoh, mereka mengatakan bahwa isbal boleh, asal tidak sombong.  Harta warisan bisa dibagi rata antara perempuan dan laki-laki, wanita boleh  menjadi seorang pemimpin, dan berbagai hal lain yang sangat membuat hati pemuda  ini gelisah. </span></em></p>
<p dir="ltr" align="justify"><em style="font-style: normal;"><span style="font-size: medium;">Pemuda  ini menanyakan fenomena yang dijumpainnya ini kepada salah seorang gurunya. Si  guru berpesan kepadanya &#8220;Ya emang gitu sekolahmu, kalau dapat sesuatu dari sana,  jangan dipikir serius. Jadikan sebagai wawasan saja, yang sabar.&#8221;. Ia pun  berfikir &#8220;mungkin ini hikmah dari ditolaknya saya di universitas yang saya  impikan, mungkin Allah menghendaki agar saya bertemu dengan orang-orang yang  seperti ini, agar semakin luas wawasan saya tentang islam, bahwa ada  pemikiran-pemikiran yang sangat jauh berbeda dari yang saya terima, bahkan  kadang bertentangan. Atau mungkin ini adalah orang-orang yang dimaksud dalam  hadist Huzhaifah yang dulu itu? mengkin juga ya? mereka fasih berbahasa arab,  hafal ayat dan hadist, namun mereka memberikan penafsiran yang berbeda, bahkan  bertentangan dengan penafsiran para ulama&#8217;. Tapi, saya tidak bisa langsung  menghukumi seperti itu. Allah lah yang lebih tau. Tapi yang jelas, ilmu dari  mereka hanya saya jadikan sebuah wawasan saja&#8230;&#8221; </span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/inikah-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
