Posts tagged ilmu

Implementasi OOP dalam Java-contoh program penghitung luas segitiga

Dalam tutorial ini tidak akan saya jelaskan secara terperinci apa maksud kata “implementasi OOP” diatas. Tentang OOP beserta konsep dasarnya, saya anggap anda sudah paham, namun jika belum, pahami terlebih dahulu dan tinggalkan artikel ini. :) karena dalam belajar selalu butuh tahap.

baiklah para pembaca yang cerdas, seperti biasa, langsung ke source code nya :

class segitigaDgnOOP

—————————————————–begin————————————————

public class segitigaDgnOOP
{
private int alas;
private int tinggi;
baca selanjutnya »

Cara diet mudah gampang cepat aman alami

ini adalah sebuah artikel yang saya dapat dari internet. berisi tentang diet atau mungkin lebih tepat disebut gaya hidup sehat rosulullah. bagi yang memiliki masalah berat badan atau kelebihan lemak, :-) mungkin dengan mengamalkan isi artikel ini bisa sedikit membantu. InsyaAllah.



———————————————————————————————————————————–

Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari, kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai penyakit antara lain penyakit kencing manis,lumpuh, sakit jantung, keracunan makanan dan lain-lain penyakit. Apabila anda telah mengetahui ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yang lainnya. Ini pun adalah diet Rasullulah SAW kita juga. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan, Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet Rasullullah ini, Anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan makanan.

Jangan makan SUSU bersama DAGING
Jangan makan DAGING bersama IKAN
Jangan makan IKAN bersama SUSU
Jangan makan AYAM bersama SUSU
Jangan makan IKAN bersama TELUR

baca selanjutnya »

ILMU, Antara Bebas atau Terikat Nilai

Oleh : Ahmad Rifa’i

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarahnya tidak selalu melalui logika penemuan yang didasarkan pada metodologi objektivisme yang ketat. Ide baru bisa saja muncul berupa kilatan intuisi atau refleksi religius, di mana netralitas ilmu pengetahuan kemudian rentan permasalahan di luar objeknya. Yaitu terikat dengan nilai subjektifitasnya seperti hal yang berbau mitologi. Dengan demikian netralitas ilmu semakin dipertanyakan.
Setiap buah pikiran manusia harus kembali pada aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Hal ini sangat penting bahwa setelah tahap ontologi dan epistimologi suatu ilmu dituntut pertanyaan yaitu tentang nilai kegunaan ilmu (aksiologi). Dari sudut epistemologi, sains (ilmu pengetahuan) terbagi dua, yaitu sains formal dan sains empirikal. Sains formal berada di pikiran kita yang berupa kontemplasi dengan menggunakan simbol, merupakan implikasi-implikasi logis yang tidak berkesudahan. Sains formal netral karena berada di dalam pikiran kita dan diatur oleh hukum-hukum logika. Adapun sains empirical tidak netral. Sains empirikal merupakan wujud kongkret jagad raya ini, isinya ialah jalinan-jalinan sebab akibat. Sains empirikal tidak netral karena dibangun oleh pakar berdasarkan paradigma yang menjadi pijakannya, dan pijakannya itu merupakan hasil penginderaan terhadap jagad raya. Pijakan ilmuwan tersebut tentulah nilai. Tetapi sebaliknya pada dasar ontologi dan aksiologi bahwa ilmuwan harus menilai antara yang baik dan buruk pada suatu objek, yang hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap. baca selanjutnya »

FILSAFAT SEBAGAI FASILITATOR REAKSI OTAK DENGAN ALAM

Oleh : Ahmad Rifa’i

Pendahuluan
Filsafat dikaitkan dengan berfikir untuk mendapatkan sesuatu yang hakiki atau mencari suatu hakikat. Dari ini, filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan. Ini berarti tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, mengajukan kritik dan menilai pengetahuan ini, menemukan hakekatnya, dan menerbitkan serta mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sistematis.
Pernyataan di atas mengawali penuangan pikiran-pikiran penulis dalam menggali manfaat setelah belajar filsafat khususnya dalam bidang kimia. Penulis di sini akan melihat dari perspektif arah pemikiran filsafat yang dikaitkan dengan dunia kimia. Ilmu kimia adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang spesifik pada gejala khusus zat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan zat, yaitu komposisi, struktur dana sifat, transformasi, dinamika, dan energetika zat. Karakteristik aspek kajian ilmu kimia mempunyai kesamaan dengan kajian filsafat yaitu aspek ontologis (objek studi ilmu kimia), aspek epistimologis (bagaimana cara memperolehnya), dan aspek askiologi (kegunaannya). Penulis di sini akan mencoba mengajukan opini-opini manfaat filsafat secara urut satu per satu mengenai cara berfikir filsafat dan implikasinya pada ilmu ilmu kimia. baca selanjutnya »

Hukum Memakai Cincin Selain dari Emas Bagi Laki-Laki

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata:

أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ شَبَهٍ فَقَالَ لَهُ مَا لِي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الْأَصْنَامِ فَطَرَحَهُ ثُمَّ جَاءَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ فَطَرَحَهُ

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan cincin terbuat dari kuningan. Lalu Beliau bersabda kepadanya: “Kenapa saya mencium darimu aroma berhala?” lalu dia membuangnya. Kemudian datang kepadanya yang memakai cincin dari besi, lalu Beliau bersabda kepadanya: “Kenapa saya melihatmu memakai perhiasan penduduk neraka?” lalu dia membuangnya. (HR. Abu Daud No. 4223. An Nasa’i No. 5159, lafaz ini milik Abu Daud)

Sementara dalam lafaz Imam At Tirmidzi, ada redaksi tambahan:

ثم أتاه وعليه خاتم من ذهب فقال مالي أرى عليك حلية أهل الجنة

Kemudian datang kepadanya seseorang yang memakai cincin dari emas. Lalu Beliau bersabda: “Kenapa saya melihat padamu perhiasan penduduk surga?” (HR. At Tirmidzi No. 1785, katanya: gharib)

Hadits ini sering dijadikan dalil keharaman memakai cincin buat laki-laki baik dari kuningan, besi, perak, dan emas. Tetapi, semua riwayat ini dhaif. (Lihat Adabuz Zifaf Hal. 128. Al Misykah No. 4396. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4223. Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 5159)

Kedhaifan ini lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muslim Abu Thayyibah As Sulami Al Mawarzi. Abu Hatim Ar Razi mengatakan: haditsnya ditulis tetapi dia tidak bisa dijadikan hujjah. (Al Jarh wa Ta’dil, 5/165/671. Darul Kutub Al Mishriyah)

Imam Ibnu Hibban mengatakan: dia melakukan kesalahan dan berselisih. (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi, ‘Aunul Ma’bud, 11/191. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Maka dalam masalah ini, ketiadaan dalil pengharaman, merupakan dalil bagi kebolehan. Kita mesti kembali kepada bara’atul ashliyah (kembali kepada hukum asal) yakni bolehnya memakai cincin selain emas, baik itu besi, kuningan, dan perak, atau logam lainnya walau berharga tinggi. baca selanjutnya »