<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>code4769&#039;s site &#187; islam</title>
	<atom:link href="http://www.inilahjalanku.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inilahjalanku.com</link>
	<description>Portal IT &#38; Islamic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 02:54:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sedikit Tentang Hukum Menyemir Rambut</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 19:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[rambut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban. Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan <a href='http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Termasuk dalam masalah perhiasan, yaitu menyemir rambut kepala atau jenggot yang sudah beruban.</p>
<p>Sehubungan dengan masalah ini ada satu riwayat yang menerangkan, bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak memperkenankan menyemir rambut dan merombaknya, dengan suatu anggapan bahwa berhias dan mempercantik diri itu dapat menghilangkan arti beribadah dan beragama, seperti yang dikerjakan oleh para rahib dan ahli-ahli Zuhud yang berlebih-lebihan itu. Namun Rasulullah s.a.w. melarang taqlid pada suatu kaum dan mengikuti jejak mereka, agar selamanya kepribadian umat Islam itu berbeda, lahir dan batin. Untuk itulah maka dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak mau menyemir rambut, karena itu berbedalah kamu dengan mereka.&#8221; (Riwayat Bukhari)<br />
Perintah di sini mengandung arti sunnat, sebagaimana biasa dikerjakan oleh para sahabat, misalnya Abubakar dan Umar. Sedang yang lain tidak melakukannya, seperti Ali, Ubai bin Kaab dan Anas.</p>
<p>Tetapi warna apakah semir yang dibolehkan itu? Dengan warna hitam dan yang lainkah atau harus menjauhi warna hitam? Namun yang jelas, bagi orang yang sudah tua, ubannya sudah merata baik di kepalanya ataupun jenggotnya, tidak layak menyemir dengan warna hitam. Oleh karena itu tatkala Abubakar membawa ayahnya Abu Kuhafah ke hadapan Nabi pada hari penaklukan Makkah, sedang Nabi melihat rambutnya bagaikan pohon tsaghamah yang serba putih buahnya maupun bunganya.<br />
<span id="more-548"></span><br />
Untuk itu, maka bersabdalah Nabi:</p>
<p>&#8220;Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam.&#8221; (Riwayat Muslim)<br />
Adapun orang yang tidak seumur dengan Abu Kuhafah (yakni belum begitu tua), tidaklah berdosa apabila menyemir rambutnya itu dengan warna hitam. Dalam hal ini az-Zuhri pernah berkata: &#8220;Kami menyemir rambut dengan warna hitam apabila wajah masih nampak muda, tetapi kalau wajah sudah mengerut dan gigi pun telah goyah, kami tinggalkan warna hitam tersebut.&#8221;22</p>
<p>Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir dan lain-lain.</p>
<p>Sedang dari kalangan para ulama ada yang berpendapat tidak boleh warna hitam kecuali dalam keadaan perang supaya dapat menakutkan musuh, kalau mereka melihat tentara-tentara Islam semuanya masih nampak muda.23</p>
<p>Dan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar mengatakan:</p>
<p>&#8220;Sebaik-baik bahan yang dipakai untuk menyemir uban ialah pohon inai dan katam.&#8221; (Riwayat Tarmizi dan Ashabussunan)<br />
Inai berwarna merah, sedang katam sebuah pohon yang tumbuh di zaman Rasulullah s.a.w. yang mengeluarkan zat berwarna hitam kemerah-merahan.</p>
<p>Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Abubakar menyemir rambutnya dengan inai dan katam, sedang Umar hanya dengan inai saja.</p>
<p>sumber : http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/20210.html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sedikit-tentang-hukum-boleh-tidak-menyemir-rambut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketahui, sadari, dan aksi</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/rencana-penguasaan-dunia-waspadai-ketahui/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/rencana-penguasaan-dunia-waspadai-ketahui/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 16:47:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=516</guid>
		<description><![CDATA[hhooooaaammmm&#8230;. agak ngantuk.. tapi masih ada satu pikiran yang cukup mengganggu saya akhir-akhir ini&#8230; kalau itu cuma masalah pribadi atau hal seple, saya g kan pernah tulis di blog. tapi kalau itu bisa diambil hikmahnya, atau bisa menjadi bahan perenungan, saya selalu mencoba menulisnya disini&#8230; lagipula, suka2 saya juga kan, mau nulis apa&#8230; hehhe ok, <a href='http://www.inilahjalanku.com/rencana-penguasaan-dunia-waspadai-ketahui/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hhooooaaammmm&#8230;. agak ngantuk.. tapi masih ada satu pikiran yang cukup mengganggu saya akhir-akhir ini&#8230; kalau itu cuma masalah pribadi atau hal seple, saya g kan pernah tulis di blog. tapi kalau itu bisa diambil hikmahnya, atau bisa menjadi bahan perenungan, saya selalu mencoba menulisnya disini&#8230; lagipula, suka2 saya juga kan, mau nulis apa&#8230; hehhe</p>
<p>ok, berawal dari mana saya lupa.. tapi tiba-tiba saya sampai pada sebuah situs : http://mureo.com/news/ ketika baca-baca disitu, rasa dalam hati ini sudah tidak karuan&#8230; ada asam, manis, pahit, bahkan sepet&#8230; </p>
<p>penuh dengan rasa menyesal, sedih, putus asa, murung, minder, dsb.. bagaimana tidak?????</p>
<p>disitu ditulis(terlepas dari kebenaran berita) tentang rencana2 besar mereka&#8230; para &#8220;pemuja setan&#8221; yang berusaha menguasai dunia..</p>
<p>hey bro.. liatlah!!! sadarlah!!!<br />
ketika kita sibuk dengan urusan sepele kita, mereka sudah sibuk membicarakan rencana penguasaan dunia. pembuatan &#8220;kerajaan&#8221; mereka. mereka sibuk merancang strategi untuk menguasai dunia. sedangkan kita???? masiiihhh saja berkutat pada perpecahan internal, masih ja berkutat pada &#8220;yang penting perbaiki diri dulu&#8221;, masih saja menyianyiakan waktu&#8230;</p>
<p>ketika mereka sudah sampai teknologi satelit, penguasaan informasi global, kita masih saja berada di pembuatan elearning, pembuatan ecommerce, teknologi sederhana&#8230;</p>
<p>ketika mereka punya teknologi senjata pemusnah, malah disini punya petasan ja bangga&#8230; waduh&#8230; gimana bisa imbang??? jelas kalah ni&#8230; sungguh, bila benar-benar bukan kehendak Allah, maka tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk menguasai kita&#8230;</p>
<p>lhah&#8230; malah nglantur g jelas gini ngomongnya&#8230;</p>
<p>ok, intinya tulisan ini, coba buka : http://mureo.com/news/ silakan baca-baca, n bagus juga klo cari referensi lain. kemudian bandingkan dengan kondisi umat islam sekarang. lalu renungilah. seimbangkan angan-angan mu, suaramu, bualan mu, dengan aksi mu. sadarlah terhadap apa yang sedang terjadi didunia&#8230;  </p>
<p>Oh Allah&#8230; memang jika tanpa bantuanmu, kami benar-benar menjadi manusia yang lemah dan pasti kalah&#8230;<br />
oh Allah&#8230; tolonglah kami yang masih dalam kegelapan ini<br />
oh Allah&#8230; sadarkanlah kami yang tidak peduli<br />
oh Allah&#8230; berikanlah kami kesabaran dan kekuatan dalam menghadapinya&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/rencana-penguasaan-dunia-waspadai-ketahui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Integrasi Islam dan budaya lokal : Yasinan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 18:33:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[ada aja]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[uummmmm, sedikit share lagi. ini tugas kuliah saya pada matakuliah islam dan budaya lokal beberapa tahun yang lalu.. nemu di arsip, iseng-iseng saya share disini. ok, semoga manfaat&#8230; ======================================================== Yasinan merupakan salah satu contoh hasil dari pencampuran antara budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat jawa percaya bahwa dengan di adakannya ritual yasinan, para keluarga bisa <a href='http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>uummmmm, sedikit share lagi. ini tugas kuliah saya pada matakuliah islam dan budaya lokal beberapa tahun yang lalu.. <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  nemu di arsip, iseng-iseng saya share disini. ok, semoga manfaat&#8230;</p>
<p>========================================================</p>
<p>Yasinan merupakan salah satu contoh hasil dari pencampuran antara budaya lokal dengan nilai-nilai keislaman. Masyarakat jawa percaya bahwa dengan di adakannya ritual yasinan, para keluarga bisa mengirimkan pahala kepada kerabat yang sudah meninggal, sehingga memudahkan sang kerabat untuk masuk surga.</p>
<p>Penyelenggaraan yasinan di tentukan berdasarkan hitungan hari setelah meninggalnya seseorang, yaitu: tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, pendak 1, pendak 2, sampai seribu hari setelah seseorang meninggal.</p>
<p>Dalam yasinan biasanya dibacakan surat yasiin, An Naas, Al Falaq, Al Ikhlash, al baqarah 1-5, Ayat Kursy, serta tiga ayat terakhir dalam surat al baqarah. Kemudian di bacakan juga tahlil, istighfar, dan ditutup doa.</p>
<p>Yasinan biasa di adakan setelah waktu sholat isya’, yang dihadiri oleh para tetangga almarhum. Dalam acara ini para tetangga duduk berkeliling sambil membaca doa-doa islami yang telah disebutkan di atas. Pembacaan doa ini biasanya memakan waktu sekitar 30 menit.<br />
<span id="more-513"></span><br />
Menurut sejarah, lahirnya tradisi Yaasin dan Tahlil berangkat dari akulturasi budaya Islam dengan Jawa yang bernuansa Hindu-Budha. Islam ketika masuk ke tanah Jawa, pada masa awal penyebarannya dilakukan melalui dakwah kultural. Hal ini dimotori oleh Sunan Kalijaga yang juga seorang budayawan.</p>
<p>Pada saat itu, kebiasaan lek-lekan (kumpul malam hari) sepeninggalnya seseorang dulunya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang kurang Islami, antara lain: main kartu, minum-minuman, pemberian sesajen, dan sebagainya. Kemudian sedikit demi sedikit tradisi lek-lekan itu dikawinkan dengan nilai-nilai Islam melalui ritual Yaasin dan Tahlil. Akhirnya, mitong dino, matang puluh dino, mendhak sepisan dan seterusnya sampai saat ini dapat kita saksikan dalam ritual Yaasin dan Tahlil. Dan dakwah semacam itu cukup efektif yang menjadikan Islam berkembang pesat di tanah jawa secara kwantitatif.</p>
<p>Jadi pada kasus ini, pencampuran yang terjadi adalah pemakaian doa-doa yang islami untuk mengisi suatu acara tradisi yang sudah dikenal oleh rakyat jawa semenjak islam belum datang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/integrasi-islam-dan-budaya-lokal-yasinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syahadat rukun islam pertama, syariat islam penting yang terlupakan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 12:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Saya rasa topik tentang syahadat penting untuk kembali diangkat. Mengingat ada beberapa hal dari syariat ini yang terlupakan (berdasar pemahaman saya). Maka kali ini saya menyuguhkan sebuah artikel singkat yang membahas sekilas tentang hal ini. Semoga bermanfaat. ========================================================== Syahadah yg diucapkan dalam sholat itu merupakan rukun sholat…bukan pelaksanaan dari rukun pertama syahadatain itu sendiri. dan <a href='http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya rasa topik tentang syahadat penting untuk kembali diangkat. Mengingat ada beberapa hal dari syariat ini yang terlupakan (berdasar pemahaman saya). Maka kali ini saya menyuguhkan sebuah artikel singkat yang membahas sekilas tentang hal ini. Semoga bermanfaat. </p>
<p>==========================================================</p>
<p>Syahadah yg diucapkan dalam sholat itu merupakan rukun sholat…bukan pelaksanaan dari rukun pertama syahadatain itu sendiri. dan syahadataain itu mempunyai dasar sendiri, kaidah sendiri, sayarat dan rukun sendiri. karena kurang faham tentang hal inilah mungkin yang menjadikan sebuah perjuangan dakwah itu tak jelas.</p>
<p>DALIL-DALIL SYAHADATAIN</p>
<p>I. Al-qur’an</p>
<p>Dalil-dalil umum tentang syahadat laa ilaha illallah</p>
<p>Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( Qs: Ali-Imran ayat 18 )</p>
<p>Penjelasan ayat :<br />
{ شهد ا لله انه لااله الا الله} الآية فَإِنَّهُ يُجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى : عَبْدِي عَهْدٌ اِلَيَ عَهْدًا وَاَنَا أَحَقَّ مَنْ وَفَّى ، أَدْخَلُوْا عَبْدِي اَلْجَنَةَ ،</p>
<p>Muhammad Ali ash-Shabuni menjelaskan dalam kitab Sofwah at-Tafasir bahwa ” Syahidallahu annahu laa ilaha illa ana. Bahwa ayat ini menjelaskan,sesungguhnya orang yang menyatakan ( syahadat tauhid ) maka didatangkan pada hari kiamat.lalu Allah Azza wa jalla berfirman: “ Hamba-Ku telah berjanji kepada-Ku ,dan Aku adalah yang paling berhak menepati janji,masukanlah hamba-Ku ke syurga,”</p>
<p>*  Syahadat yang dimaksud dalam ayat diatas menurut ulama tafsir ialah sebuah perjanjian yang sifatnya mengikat antara Allah dan hamba-Nya *</p>
<p>Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku”.( Qs: Al-anbiyaa’ ayat 25 )</p>
<p>Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri,( Qs : Ash-shaffat ayat 35)</p>
<p>II. Hadits</p>
<p>Dalil-dalil umum tentang syahadat</p>
<p>1) Hadits tentang rukun islam<br />
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَابِ رضي الله عنهما قال: سَمِعْتُ رسولَ ا لله صلى الله عليه وسلم: بُنِيَ ا ْلإِ سْلاَ مُ عَلَى خَمْسٍ شَهَا دَ ةِ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَّ ا لله وَ اَ نَ مُحَمَّدً ا ا لرَّ سُو لُ ا للهِ وَ اِ قَا مِ ا لصَّلاَ ةِ وَ اِ يْتَاءِ ا لزَّ كَا ةِ وَ حِجِِّ ا لْبَيْتِ وَ صَوْ مِ رَ مَضَا نَ ( رواه البخارى و مسلم)</p>
<p>Dari Abi Abdi ar-Rahman bin Ibnu Umar Ibni Khattab Ra. Berkata : “ Aku telah mendengar bahwa Rasulullah Saw pernah berkata “ (( Islam dibanun di atas lima perkara yaitu mengucapkan syahadat tidak ilah selain Allah dan bahwasanya Muhammad Rasulullah serta mendirikan shalat menunaikan zakat shaum di bulan ramadhan dan menuaniakan haji ke Baitullah.)) “</p>
<p>2) Hadits tentang akhir hayat Abu Thalib Paman Nabi Muhammad Saw<br />
عَنْ إِبْن المسيب عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبِ الْوَفَاةُ, جَاءَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص.م, وَعِنْدَهُ عَبْدُالله بنُ أُُمَيَّةَ وَأَبُوْ جَهْلٍ, فَقَالَ لَهُ: يَا عَمِّ ! قُلْ لاَ إله إلاّ الله،كلمة أشهد لك به عند الله )). فَقاَلَ أبو جهل عَبْدُ الله بنُ أُُمَيَّةَ :يَا أَبَا طَالِبٍ؟! أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَلِب؟!فَلَمْ يَزَلْ رسول الله صلى الله عليه وسلم يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيْدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ،حَتىَّ قَالَ اَبُوْ طَالِِبٍ آَخَرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلِّةِ عَبْدِ الْمُطَالِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُوْلَ: لاإله إلاّ الله. فَقَالَ النَّبِى ص.م: “لأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَالَمْ أَنْهَ عَنْكَ” فَأَنْزَلَ الله عَزَ وَجَل{, مَاكَانَ لِلنَّبِى وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِين} وَأَنْزَلَ الله فِى اَبِى طَالِب {إنَّكَ لاَ تَهْدِى مَن أحببت وَلَكِن الله يَهْدِى مَن ْيَشَا}</p>
<p>“ Dari Sa’id bin al-Musayyab Ra., dari Ayahnya Ra.,ia berkata tatkala Abu Thalib menjelang ajal: Rasulullah Saw mendatangi Abu Thalib lalu beliau dapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Ummayah bin al-Mughirah di sisi Abu Thalib,kemudian Rasulullah Saw.mengatakan,” Wahai Paman! Ucapkanlah Laa Ilaha Illallah,sebuah kalimat yang akan kupersaksikan untukmu di sisi Allah.” Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Ummayah mengatakan,” Hai Abu Thalib! Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” kemudian Rasul Saw menyodorkan kembali kalimat syahadat Laa Ilaha Illallah kepada Abu Thalib dengan mengulang-ulangnya sehingga Abu Thalib tetap berpaling dari kalimat tersebut, dan dia ( Muhammad ) kembali kepada Abu Thalib dengan perkataan tadi.sampai Abu Thalib mengatakan sesuatu di akhir kepada mereka” Dia ( Muhammad ) adalah menganut agama Abdul Muthalib ,Lalu Abu Thalib enggan mengucapakan laa ilaha illallah,lalu Rasul Saw mengatakan “ Demi Allah,aku akan memintakan ampun untukmu selama tidak dilarang,maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat di dalam surat At-taubah ayat 113 dan surat Al-qoshosh ayat 56 )</p>
<p>3) Hadist tentang di utusnya Duta dakwah Muadz bin Jabal ke Yaman</p>
<p>وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رضي الله عنهما ان رسول الله صلى الله عليه وسلم لما بعث معاذا إلى اليمن قال ” إِنَّكَ تَأتِي قَوْمًا مِنْ اَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلُ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ،” وَفِى رِوَايَةٍ إِلَى أَنْ يُوَحَّدُوااللهً – فًإٍنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتِ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ،فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةٍ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَا عِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَاعِهِمْ …</p>
<p>( H.r Bukhari &#038; Muslim dalam kitab terjemah Fathul Majid Bab: Dakwah kepada Syahadat Laa Ilaha Illallah ) hal.155</p>
<p>Pendapat Imam An-nawawi</p>
<p>: ” فًإٍنْ هُمْ أَطَاعُوكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ اَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتِ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ<br />
قَالَ اَ لنَّوَوِي مَامَعْنَاهُ : أَنَّهُ يَدُلُّ عَلَى اَنَّ الْمُطَا لَبَةَ بِالْفَرَائِضِ فِى الدُّنْيَا لاَ تَكُونُ إِلاَّ بَعْدَ ا ْلإِسْلاَمِ</p>
<p>Imam An-Nawawi Rh. Dalam mengomentari hadits muadz bin Jabal di atas mengatakan : ” Hadits ini menunjukkan bahwa menjalankan kewajiban di dunia tidak akan berlaku kecuali setelah Islam”</p>
<p>4) Hadits tentang memerangi manusia untuk mengucapkan kalimat syahadat</p>
<p>اُمِرْتُ أَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا : لاَ اِلَهَ اِلاَّ ا للهُ فَإِذَا قَالُوْا هَا عَصَمُوْا دِمَاعَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ اِلاَّ بِحَقِّهَا…</p>
<p>“ Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan kalimat Laa ilaha illallah,maka jika mereka telah mengucapkannya terlindungilah darah mereka dan harta mereka kecuali dengan haknya…”</p>
<p>III. Aqwal ‘ulama ( Perkataan ulama Tauhid ) Tentang syahadat</p>
<p>1) At-Tajus As-Subki dalam kitab Irsyadul Ibadnya mengatakan dalam bab Iman : “ Bahwa tidak dipandang syah amalan anggota tubuh ( berupa shalat, haji, zakat dll ) jika tidak disertai iman dalam hati, dan tidak dipandang sah iman dalam hati jika tidak disertai “ucapan dengan lisan “ dua kalimah syahadat secara nyata . “</p>
<p>2) Dalam Kitab Al-Hushunul Hamidiyah mengatakan : “ Bahwa mengucapkan/ mengikrarkan dua kalimat syahadat”dengan lisan” adalah syarat bagi seseorang untuk diberlakukan hukum – hukum Islam atasnya. “ ( Di Kutip dalam buku Al-Islam Jilid I,Karya Tgk Hasbi Ash-shiddiqy )</p>
<p>3) Imam Muhammad Bin Abdul Wahab Rh; “ Kalimat Laa ilaaha illallah tidak akan bermanfaat bagi orang yang mengucapkan, jika tidak memahami makna kandungan, tuntunannya, dan syarat syahnya. ( Dalam Kitab Fathul Majid )</p>
<p>4) Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rh. Mengatakan dalam Kitab “ Ad-Durar “</p>
<p>وَ مُجَرَ دُ بِلَفْظِ ا لشَهَا دَ ةِ مِنْ غَيْرِ عِلْمٍ بِمَعْنَا هَا وَ لاَ عَمَلَ بِمَقْتَضَا هَا لاَ يَكُو نُ ا لْمُكَلَفُ مُسْلِمًا.وَ مَنْ شَهِدَ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَ ا للهُ وَ عَبَدَ غَيْرَ هُ مَعَهُ فَلاَ شَهَا دَ ةَ لَهُ وَ إِ نْ صَلَى وَ زَ كَى وَ صَا مَ وَ آ تىِ بِشَيْئٍ مِنَ اَ عْمَا لِ اْ لاِ سْلاَ مِ</p>
<p>“ Sekedar mengucapkan lafazh syahadat tanpa mengetahui maknanya dan tanpa mengamalkan tuntunannya, maka itu tidak membuat seseorang menjadi muslim, maka siapa yang bersaksi, mengucapkan dua kalimat syahadat Tidak ada Ilah selain Allah yang berhaq disembah, sedang dia masih beribadah kepada selain Allah (melakukakan kesyirikan) maka syahadatnya tidak dianggap meskipun dia shalat, zakat, shaum dan melaksanakan sebagian ajaran Islam.</p>
<p>إِ نَ ا لنَطَقَ بِهَا مِنْ غَيْرِ مَعْرِ فَةِ مَعْنَا هَا وَ لاَ عَمَلَ بِمْقَتَضَا هَا مِنَ َاْ لتَِزَ ا مِ ا لتَوْ حِيْدِ وَ تَرَ كَ ا لشِرْ كِ وَ اْ لكُفْرَ بِا لطَا غُو تِ فَإِ نَ ذَ لِكَ غَيْرُ نَا فِعٍ باِ ْلاِ جْمَاعِ</p>
<p>Sesungguhnya mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan ( ilmu ) akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntunannya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta mengkufuri thagut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat berdasar ijma para Ulama’ “</p>
<p>Dari perkataan ulama dapat diambilhukum bahwa “ Syahadat “ adalah syarat sah diterimnya amal, dan sebagai syarat sah keislaman secara syar’i</p>
<p>Kewajiban Menegakkan Syahadat dengan mengikrarkan secara zhahir</p>
<p>Perkataan Syaikh Muhammad al-Sanusi,tentang wajibnya ikrar syahadat bagi Muslim Kauni atau Muslim Keturunan</p>
<p>فاَعْلَمْ اَنَّ النَّاسَ عَلَى ضَرْبِيْنَ مُؤْمِنُ وَكاَفِرٌ أَمَّا الْمُؤْمِنُ بِاْلأَصَالَةِ فَيَجِيْبُ عَلَيْهِ اَنْ يُذْكَرَهَا فِى الْعُمُرِ مَرَّةً وَاحِدَةً يُنْوِى فِى تِلْكَ الْمَرَةِ بُذْكَرَهَا الْوُجُبُ وَ إِنْ تَرَكَ ذَلِكَ فَهُوَ عَاصٍ.</p>
<p>“ Ketahuilah,bahwa manusia terbagi menjadi 2 golongan mu’min dan Kafir,adapun mu’min ( yang berstatus keturunan ), maka wajib mengucapkan dua kalimat syahadat sekali seumur hidupnya yang diniatkan untuk menjalankan kewajiban syariat lainnya,dan jika ia menolak ( enggan bersyahadat ), maka dia telah bermaksiat. [Dikutip dalam buku menegakkan syariat syahadat,penulis oleh Umar Zia ul Haq,dalam kata pengantar]</p>
<p>*  Menurut Syaikh Muhammad Abdul Wahab Rh.bahwa keislaman terbagi menjadi dua yaitu : islam kauni dan islam syar’I, adapun islam kauni islam yang berdiri atas dasar pijakan lingkungan dan keadaan dari orang tua,sebagaimana islamnya alam dan makhluk hidup yang lainnya secara fitrah penciptaan,sedangkan islam syar’I ialah keislaman yang berpijak atas dasar tuntunan syariat yang berdasar petunjuk ajaran Al-qur’an *<br />
<span id="more-469"></span><br />
Ø Pendapat Ibnu Taimiyah Rh.</p>
<p>قال شيخ الإسلام إبن تيمية : وَقَدْ عُلِمَ بِاْلاِضْطِرَارِ مِنْ دِيْنِ الرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَاِتَِّفَقَتْ عَلَيْهِ اْلأُمّةُ أَنَّ أَصْلَ اْلإِسْلاَمِ وَأَوَّلَ مَا يُؤْمَرُ بِهِ الْخَلْقَ : شَهَادَةُ أَنَ لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله فَبِذَلِكَ يَصِيْرُ الْكَافِرُ مُسْلِمًا وَالْعَدُوُّ وَلِيًا وَالْمُبَاحُ دَمَهُ وَمَالَهُ : مَعْصُومُ الدَّمَ وَالْمَالَ ثُمَّ إِنْ كَانَ ذَلِكَ مِنْ قَلْبِهِ فَقَدْ دَخَلَ فِى اْلإِيْمَانِ وَإِنْ قَالَهُ بِلِّسَانِهِ دُوْنَ قَلْبِهِ فَهُوَ فِى ظَاهِرٍ اْلإِسْلاَمِ دُوْن بَاطِنٍ اْلإِيْمَانِ قَالَ : وَأَمَّا إِذَا لَمْ يَتَكلّمُ بِهَا مَعَ الْقُدْرَةِ فَهُوَ كَافِرٌُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِيْنَ بَاطِنًا وَظَاهِرًا عِنْدَ سَلَفِ اْلأُمَّةِ وَأَئَمِّتِهَا وَجَمَاهِيْرِ الْعُلَمَاءِ</p>
<p>Telah diketahui dengan pasti dari dinurrosul dan sepakat seluruh ummat (shahabat ) bahwa dasar islam dan yang pperintah pertama kepada manusia adalah syahadat شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله karenanya dengan syahadat yang kafir jadi muslim, musuh jadi pelindung, orang yang halal darah dan hartanya menjadi terlindungi darah dan hartanya. Kemudian jika hal itu keluar dari hatinya, maka ia sungguuh telah beriman.jika mengucapkannya dengan lisan tanpa hati,maka ia menampakan keislaman tanpa ada iman dalam hati ( ia Munafiq), Dia berkata ( Ibnu Taimiyah ),” dan jika tidak mengucapkannya padahal ia mampu, maka ia adalah kafir lahir bathin menurut kesepakatn kaum muslimin, pendahulu umat, imam mereka dan meyorita ( Lihat Fathul majid hal 78 )</p>
<p>IV. Istinbath Hukum</p>
<p>Pengambilan Hukum Tentang syariat syahadat</p>
<p>Dalam Qaidah Ushul Fiqih ada ketetapan hukum terhadap dalil naqli ( nash al-qur’an dan hadits ) dikatakan oleh ulama ushuliyin : “ Bahwa wajib mengamalkan nash ayat Qur’an dan hadits Nabi berdasarkan keumuman &#038; kemuthlaqannya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan dan mengikatnya,wajib mengamalkan nash ayat dan hadits sesuai dengan yang ditunjukkannya selama tidak ada dalil yang menyelisihinya.,jika terdapat dalil umum yang muncul karena sebab khusus,maka yang disepakati ulama ushul ialah wajib mendahulukan keumumannya.sebagaimana Qaidah ushul yang berbunyi :</p>
<p>اَلْعِبْرَةُ بِعُمُومِ الَّفْظِ لاَ بِخُصُوصِ السَّبَابِ</p>
<p>“ Hukum yang diambil dalam Qur’an adalah berdasarkan keumuman lafazh bukan kekhususan sebab.</p>
<p>Sedangkan dalam istilah ushul penyebutan tentang lafazh umum disebut ‘Am.adapun maknanya menurut ushul fiqih ialah<br />
الَلفْظُ اَلْمُسْتَغْرِقُ لِجَمِيْعِ أَفِرَادِهِ بِلاَ حَصْرٍ</p>
<p>“Lafal yang mencakup semua jenis ( seluruh makhluk ) tanpa ada batasan yang mengikat”</p>
<p>V. Hakikat Syahadat Secara Syar’i</p>
<p>A. Pengertian Syahadat</p>
<p>شهد- يشهد – شها د ة – مشا هد ة ج شهود<br />
Makna Syahadat yang dimaklumi oleh ulama Tauhid ialah bermakna : Persumpahan atau Persaksian ( Bersumpah atau bersaksi )</p>
<p>الشهادة : الإقرار و البيان<br />
Pengakuan &#038; Penjelasan<br />
( Muhammad Ali as-Shabuni,Shofwatu at-Tafasir.Hal.173,)</p>
<p>Makna Syahadat secara syar’i</p>
<p>· Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan makna Syahadat<br />
لا اله ا لاا لله</p>
<p>SYAHADAT ialah : Pengakuan, Pembenaran,dan keyakinan bahwa Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah Swt tiada sekutu bagi-Nya. Jadi makna secara menyeluruh ialah “ Keyakinan dan Pengakuan bahwa tidak ada yang berhak diabdi kecuali Allah lalu berkomitmen dengannya dan mengamalkan tuntunannya dan tidak mempersekutukan-Nya.i nilah Hakikat Laa ilaha Illallah.</p>
<p>شَهَا دَ ةُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاَّ ا للهُ اَ عْتَقِدُ اَ نَّ ا للهَ وَا حِدٌ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ فِى عِبَا دَ تِهِ وَ لاَ فىِ مُلْكِهِ</p>
<p>“Syahadat Dengan mengucapkan Laa ilaha Illallah ialah mengakui bahwa Alloh adalah esa &#038; tidak ada sekutu bagi-Nya dalam ibadah &#038; pemerintahan-NYA “</p>
<p>Kandungan makna syahadat menurut penjelasan di atas.b ahwa nilai dasar SYAHADAT yang syar’i ialah yang menuntut pembersihan aqidah dari syirik Uluhiyah dan syirik Mulkiyah. jika tidak terpenuhi dua aspek ini atau salah satunya saja, maka dianggap masih berstatus MUSYRIK, Sebaliknya seorang dikatakan MUWAHID jika mentauhidkan Allah pada aspek Uluhiyah dan aspek Mulkiyah</p>
<p>VI. Rumusan syahadat menurut para ‘Ulama Tauhid</p>
<p>Sesungguhnya mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illallaah tanpa disertai pengetahuan ( ilmu ) akan maknanya dan tidak mengamalkan tuntunannya berupa komitmen dengan tauhid dan meninggalkan syirik serta mengkufuri thagut maka sesungguhnya pengucapan itu tidak bermanfaat berdasar ijma para Ulama’ “</p>
<p>Syahadat yang dituntut menurut syar’I ialah syahadat tidak sekedar syahadat untuk ritual ibadah yang dilakukan umumnya kaum awwam .seperti : ritual sholat, ritual kendurian, ritual nikah, dll. Ritual amalan syahadat tersebut tidak membawa manfaat terhadap amal dan keislaman, sungguhpun dengan lafazh yang sama dan untuk perkara yang baik, namun para memberikan penegasan tentang nilai syahadat yang syar’I wajib dilandasi pemahaman yang benar serta tuntunan yang benar.</p>
<p>Berikut tuntunan syahadat secara syar’i</p>
<p>شُرُوطُ قَبُولِ الشَّهَادَتيَْنِ<br />
Syarat diterimanya syahadat</p>
<p>1. Bil ilmi ( dengan Pengetahuan ) Qs :47/19<br />
2. Bil Ikhlas ( dengan ketauhidan yang hanif ) Qs : 22/31<br />
3. Bil Yakin ( dengan Keyakinan hati ) Qs : 15/99<br />
4. Bil Sidqi ( dengan kebenaran ucapan &#038; amal ) Qs :61/7<br />
5. Bil Qabul ( dengan penerimaan hukum-2nya ) Qs:33/36<br />
6. Bil Mahabbah ( dengan penuh kecintaan ) Qs : 3/31<br />
7. Bil Inqiyadi ( dengan kethataan ) Qs : 4/60<br />
( Kitab Fathul Majid )</p>
<p>Syarat sah sempurnanya syahadat Laa ilaha illallah</p>
<p>1. Bil lisan ( dizahirkan dengan ucapan lisan ) : إقرار بالسان ( Lihat penjelasan &#038; komentar para Ulama tentang kewajiban melafazhkan syahadat dengan ikrar lisan )</p>
<p>2. Bil Jamaah ( bergabung dengan Jamatul Muslimin sebagai Daulah penegak perjuangan syahadat ),sebagaimana dalil hadits Rasul</p>
<p>لاَ يَحِـلُّ دَ مٌ إِ مْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاََّ ا للهِ وَ اَ نِِّـيْ رَ سُو لُ ا للهِ اِ لاَ بِإِ حْدَ ئِ ثَلاَ ثٍ….ا لتَّا رْ كُ لِلدِِّ يْنِهِ وَ ا لْمُفَا رِ قُ لِلْجَمَا عَةِ…</p>
<p>“ Tidak halal ( haram ) bagi seseorang muslim darah &#038; hartanya yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali dengan 3 perkara….. diantaranya ( salah satunya ) yaitu meninggalkan dinnya (keyakinan ) &#038; keluar dari jamaah.” ( H.R Muslim )</p>
<p>Hadits Rasul tersebut mengandung nilai hukum, bahwa seorang Muslim akan sempurna nilai kemuslimannya manakala berkomitmen bergabung dengan jamaah. Rusaknya nilai syahadat seorang muslim , jika keluar dari keyakinan yang dianutnya dan keluar dari jamaah yang diperjuangkannya.</p>
<p>3. Bil Syuhada ( Menghadirkan seorang saksi ), yang dimaksud saksi disini dalam konteks bersyahadat ialah sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsir Al-Qurthubi Asy-syahid الشاهدialah yang mengetahui sesuatu dan menjelaskannya dalam hal ini tentang keesaan Allah. Adapun yang dimaksud syahid disini ialah Ulul ilmi ( orang yang mengetahui akan kebenaran syahadat laa ilaha illallah yakni , para nabi dan Orang-orang beriman yang bertauhid ) dengan kata lain: tidak mungkin dituntunt hadirnya seorang saksi dalam syahadat kalau bukan orang yang memang memahami dan juga mengamalkan tuntunannya. http://iqraku.blogspot.com</p>
<p>4. Bil Amali bimaqtadoha ( Mengamalkan tuntunannya ) yaitu berupa komitmen dengan Tauhid dan meninggalkan kesyrikan serta mengkufuri Thagut. sebagaimana penjelasan dalam Al-qur’an Surat Al-baqarah ayat 256:</p>
<p>…Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<p>Rukun-Rukun Syahadat</p>
<p>Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, mengatakan bahwa ulama sepakat menentukan bahwa rukun Laa ilaha Illallah , ada dua:</p>
<p>1. Menafikan ( meniadakan ) : Laa ilaaha ( Tidak ada ilah – yang berhak disembah )maksudnya membatalkan atau menggugurkan segala kesyirikan dalam semua bentuknya dan mewajibkan untuk mengingkari semua yang disembah selain Allah yang dinamakan THAGUT ( Lihat makna Thagut dan jenis-jenisnya dalam kitab Majmu Atut-Tauhid tentang risalah makna Thagut )</p>
<p>2. Menetapkan , Illallah ( Kecuali Hanya Allah saja ) maksudnya hanya Allah saja satu-satunya Abdian Al-ma’bud yang berhak penuh untuk diibadahi dan dithaati<br />
Pengertian rukun ini tertuang dalam Al-qur’an</p>
<p>“ Maka Barangsiapa yang Ingkar atau Kafir pada Thagut – bermakna rukun pertama ( menafikan ) “ Dan hanya beriman kepada Allah saja – bermakna rukun kedua ( menetapkan )</p>
<p>B. Kandungan Syahadat ( Madlulul Syahadah ):</p>
<p>a. Iqrar = Ikrar yang berisi pernyataan atau proklamasi berupa pembebasan diri dari ikatan jahili kepada ikatan islami. Qs:3/18,81</p>
<p>b. Al-Qasam = Ikrar yang mengandung sumpah,dengan mengakui kebenaran tauhid dan menjalankan tuntunannya,Qs:63: 1-2</p>
<p>c. Al-Mitsaq = Ikrar yang mengandung perjanjian,yaitu mengikhlaskan beribadah kepada Allah dengan tidak mensekutukan-Nya.Qs:5:7</p>
<p>C. Keutamaan Syahadat ( Fadhoilusy-Syahadah )</p>
<p>a. Madkhalu ila islam اَلْمَدْخَلُ إِلَى إِلإْسَلاَمِ<br />
Pintu Masuk Islam</p>
<p>Syaikh Muhammad Abdul Wahab Rh Mengatakan :<br />
فأول أركان إ لإسلام : شهادة ان لا اله الا الله وبها يدخل العبد فى إلإسلام<br />
“ Maka rukun Islam yang pertama yaitu syahadat Laa ilaha Illallah dimana dengan syahadat seorang hamba masuk ke dalam islam “</p>
<p>b. Khalashatu Ta’alimil Islam خَلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ<br />
Intisari (Ajaran Pokok ) Islam</p>
<p>Sebagaimana Hadits Muadz bin Jabal yang mengajarkan syahadat terlebih dahulu kepada setiap obyak dakwah ( Lihat dalil di atas )</p>
<p>c. Asasul Inqilab أَسَاسُ اْلإِنْقِلاَبِ<br />
Nilai dasar Perubahan/Reformasi Qs: 6 : 122<br />
Nilai dasar perubahan seseorang dikatakan sebagai hamba Allah,orang merdeka,dan sebagai warga Allah,manakala ia mengakui dan mengikrarkan dua kalimat syahadat dan menjalankan tuntunan kalimat tersebut ( Sayyid Quthb, Petunjuk Jalan,Bab : Aqidah &#038; kewarganegaraan )</p>
<p>d. Haqiqatu Da’wah ar-Rusul حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ الرُّسُلِ<br />
Hakikat Dakwah Para Rasul, Qs : 21: 25</p>
<p>e. Fadhailu ‘Adzimah فَضَائِلُ عَظِيْمَةُ<br />
Keutamaan yang Agung</p>
<p>Diantara keutamaan agung Syahadat ialah :</p>
<p>· Memasukan hamba ke dalam syurga,sebagaimana hadits Rasul</p>
<p>مَنْ قَالَ لاَ اِلَهَ اِلاَ ا للهُ وَهُوَ يَعْلَمُ دَخَلَ الْجَنَةَ</p>
<p>“ Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah sedangkan ia mengetahui ( ilmu &#038; Tuntunannya ) niscaya masuk syurga “ (H.r Muslim )</p>
<p>· Menghapus dosa-dosa besar ( Lihat dalam terjamah kitab Fathul Majid Bab : keutamaan kalimat tauhid dan bagi siapa yang mengamalkannya )<br />
· Memberikan syafaat ( Qs : 43 : 86 )<br />
· Sebagai nilai dasar hidayah seorang ( Qs : 6:82)</p>
<p>Realisasi Syahadat ( Tahqiqu Syahadatain )<br />
Aplikasi amalan Syahadatain dalam konteks Kekinian</p>
<p>Perwujudan Amaliyah syahadat Laa iIaaha Illallah</p>
<p>1. I’tisham bil Jamaah ( Bergabung dan komitmen dengan Jamaah ) Qs : Ali –imran ayat 103</p>
<p>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.</p>
<p>لاَ يَحِـلُّ دَ مٌ إِ مْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ اَ نْ لاَ اِ لَهَ اِ لاََّ ا للهِ وَ اَ نِِّـيْ رَ سُو لُ ا للهِ اِ لاَ بِإِ حْدَ ئِ ثَلاَ ثٍ….ا لتَّا رْ كُ لِلدِِّ يْنِهِ وَ ا لْمُفَا رِ قُ لِلْجَمَا عَةِ…</p>
<p>“ Tidak halal ( haram ) bagi seseorang muslim darah &#038; hartanya yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kecuali dengan 3 perkara….. diantaranya ( salah satunya ) yaitu meninggalkan dinnya (keyakinan ) &#038; keluar dari jamaah.” ( H.R Muslim )</p>
<p>Keharaman darah seorang muslim bukan hanya pengakuan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, akan tetapi juga diiringi dengan berpegang teguh dengan Al-jamaah.jika seorang muslim melepaskan tali ikatan jamaahnya ,maka berarti sama dengan melepaskan tali ikatan islam dalam dirinya,jika islam tidak ada dalam dirinya,maka yang Nampak adalah kekufuran</p>
<p>َعلَيْكُمْ بِا لْجَمَا عَةِ وَ اِ بَّا كُمْ وَ ا لْفُرْ قَةَ</p>
<p>“ Wajib atas kalian berjamaah dan jauhilah berpecah belah” . ( H.R Ahmad , dalam kitab musnad Ahmad , Shohih Turmidzi )</p>
<p>وَ اَ نَا اَ مَرَ كُمْ بِخَمْسٍ كَمَا اَمَرَ نِيَ ا للهُ بِهِنَّ : اَ لْجَمَا عَةُ وَ ا لسَّمْعِ وَ الطَّا عَةُ وَ ا لْهِجْرَ ةُ وَ ا لْجِهَا دُ فِى سَبِيْلِ ا للهِ فَمَنْ فَا رَ قَ ا لْجَمَا عَةَ قَيْدَ شِبْرٍ فَقَدْ خَلَعَ رِ بْقَةَ ا ْلاِ سْلاَ مِ مِنْ عُنُقِهِ إِ لاَّ اَن يُرَ ا جِعَ …<br />
“ Dan aku perintahkan kepada kalian terhadap lima perkara sebagaimana aku diperintahkan Allah dengannya yaitu : Berjamaah, Mendengar , thaat, dan berjihad dijalan Allah.maka barangsiapa keluar dari jamaah ( keluar kethaatan ) walau hanya sejengkal,maka telah lepas ikatan islam dari lehernya ( murtad ), kecuali ia taubat ( kembali bejamaah )… “ ( H.R Ahmad dalam kitab Jamius Shogir )</p>
<p>2. Al-Harakah wal Jihad, Adanya komitmen Perjuangan dan jihad dalam rangka membela ketauhidan Qs : 9 :19-20,Qs 4:94</p>
<p>3. Imarah wa ad-Daulah , Memiliki kepemimpinan dan Negara yang merupakan washilah dan wadah dalam pengabdiannya kepada Allah berupa Ulil Amri(pemimpin )dan Negara Islam,Qs : 4:59</p>
<p>4. Al-wala wal Bara, Memiliki prinsip Loyalitas ( kesetian,dukungan penuh) kepada Waliyullah dan Bara ( melepaskan, Menghilangkan ) ikatan-ikatan kepada Waliyu Thagut Qs : 4/76</p>
<p>5. Iqamah ad-Din, Menegakkan &#038; memperjuangkan Din sebagai sebagai misi perjuangan suci,Qs 8:39</p>
<p>Kesimpulan hukum yang diambil :</p>
<p>· Syariat syahadat secara nash hukumnya wajib ditegakan berdasarkan keumuman nash yang ditunjuk ( baik Nash Al-qur’an ,Hadits maupun Aqwal Ulama )</p>
<p>· Syariat syahadat berlaku umum bagi setiap manusia untuk ducapkan lebih utama bagi muslim kauni atau keturunan,karena tidak ada dalil khusus yang muthlaq mengatakan bahwa syahadat hanya berlaku buat orang kafir ( nashrani ,yahudi,budha,hindu ), maka selama tidak ada dalil yang mengkhususkan maka wajib mengamalkan keumumamnya.</p>
<p>· Syariat syahadat yang dimaksud untuk ditegakkan bagi setiap muslim ialah adalah syahadat syar’i yang dilandasi pengetahuan, berupa syarat , rukun serta tuntunannya berdasarkan aqwal ulama</p>
<p>· Mengikrarkan syahadat tauhid ( pengakuan tentang keesaan Allah ) adalah awal menjalankan kewajiban fardhu dari fardhu-fardhu yang lain bagi seorang muslim</p>
<p>· Syahadat tidak akan sempurna jika tidak diiringi dengan komitmen meninggalkan dan mengkufuri thagut serta bergabung &#038; menegakkan al-Jamaah, ( jamatul Muslimin berbentuk Daulah Islamiyah ) QS: 8:72</p>
<p>· Meninggalkan Al-jamaah, atau berpisah dari sebuah Jamaah Ad-Daulah,dapat menggugurkan atau merusak nilai syahadat,sekaligus menghilangkan penjagaan harta &#038; darah</p>
<p>· Hubungan jamaah dan syahadat dalam satu variable Islam sebagai wujud tuntunan syahadat dengan memurnikan Allah dalam ibadah dan Pemerintahan-Nya.</p>
<p>· Kehadiran Al-jamaah adalah sebagai Syuhada ‘ala an-Nas ( sebagai saksi seluruh manusia ) dalam rangka menegakkan yakfur bit thagut wa yu’mim billah.</p>
<p>Wallahu ‘Alam Bish-Showwab►►</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>§ Syaikh Muhammad Abdul Wahab,Terjemah Kitab Fathul Majid<br />
§ Syaikh Shalih Utsaimin, Terjemah Ushul Fiqih<br />
§ DR.Musthafa Dieb al-Bugha Muhyidin Mitsu,Al-Wafi’- Syarah Kitab Arbain an-Nawawi<br />
§ Muhammad Abdul Wahab,Syarah Kitab Salasah Usul<br />
§ Sayyid Quthb, Petunjuk Jalan<br />
§ Tajus Subki, Irsyadul ‘Ibad<br />
§ Tgk Muhammad Hasbi as-shiddiqy, Al-Islam Jilid 1<br />
§ Muhammad Ali ash-Shabuni, Shofwah at-Tafasir,Darul Fikr: Beirut,Juz 1<br />
§ Al-Qurthubi, Tafsir Al-qurthubi<br />
§ Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Durusul Muhimmah Li Ammatil Ummah<br />
§ Syaikh Umar Abdul Jabbar Mabadhiu al-Fiqhiyyah ‘Ala Madzhab as-Syafi’I ,Juz 1,Tth,Surabaya-Indonesia<br />
§ Materi Tarbiyah</p>
<p>sumber : http://imatuzzahra.wordpress.com/2011/04/15/dalil-dalil-syahadatain/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/syahadat-rukun-islam-pertama-syariat-islam-penting-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah tulisan tentang Tauhid</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 06:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=467</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah sebuah tulisan dari seorang kawan, Muhammad Aziz Nurhidayat, terkait sebuah komen : http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/comment-page-1/#comment-791 semoga bisa menjadi sebuah jawaban yang cukup memberikan penjelasan. ================================================== Bismihi Ta`ala. Imam Ali Zainal Abidin pernah menyebutkan, &#8220;satu alasan lain kenapa al-Ikhlash di turunkan adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di masa depan tentang Tuhan, dari sebagian kamu yang meraguinya.&#8221; al-Ikhlash <a href='http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah sebuah tulisan dari seorang kawan, Muhammad Aziz Nurhidayat, terkait sebuah komen : http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/comment-page-1/#comment-791</p>
<p>semoga bisa menjadi sebuah jawaban yang cukup memberikan penjelasan. <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>==================================================<br />
Bismihi Ta`ala. Imam Ali Zainal Abidin pernah menyebutkan, &#8220;satu alasan lain kenapa al-Ikhlash di turunkan adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di masa depan tentang Tuhan, dari sebagian kamu yang meraguinya.&#8221; al-Ikhlash ini pula yang menjadikan rekam jejak bagi seorang Rendra, salah seorang penyair kita, almarhum yang bergelar si burung merak itu, tersedu, ia menggugu dengan sebutnya, &#8220;aku tahu, aku tahu Nun,&#8221; katanya pada Cak Nun, salah seorang budayawan kita, &#8220;pengeran iku nyawiji.&#8221; Rendra dengan apik memaknai kata ahad, dalam Qul huwallahu ahad dengan sebutan nyawiji.</p>
<p>             Nyawiji adalah sebutan yang sangat matang, konon Rendra terlahir dari seorang kristiani, dan dia tergugah dengan sebutan, bahwa Tuhan itu nyawiji. Ahad. Esa. bukan satu dalam nomor dan urutan, namun satu dalam diri-Nya sendiri, dan hanya diri-Nya. Nyawiji. satu-satu-Nya yang satu. alangkah indahnya tentu pertemuan antara Rendra dan CN itu, apalagi kita pun tahu bahwa Rendra mengakhiri karir hidupnya sebagai seorang muslim, meski pada awalnya ia bukan.</p>
<p>            dalam nyawiji-nya inilah Dia disebut tak terbatas, tak mengalami batasan apapun, Dia menjadi Wujud yang tak memiliki lawan dan kawan, karena keduanya adalah bentuk batasan untuk-Nya. lam yalid wa lam yulad wa lam yakun lahu kufwan ahad. satu pun tak ada yang membersamai-Nya, karena bagaimana mungkin akan memgadakan kebersamaan dengan-Nya dalam Maqamah Tuhan, bahwa Tuhan adalah satu hal yang menjadi sumber segalanya.</p>
<p>            adanya referensi yang kaya dalam Islam tentang Tuhan bukan menjadi arti bahwa Tuhan adalah hasil daya cipta pikir dari seorang muslim, namun karena seorang muslim sadar benar betapa keberadaan Tuhan dengan diri-Nya sendiri itu memberikan arti yang mendalam terhadap kehidupan pribadi seorang muslim. dimanapun ia, seorang muslim, maka ia mesti terus menjadikan dirinya hamba bagi Tuhan, dan satu-satunya jalan untuk itu adalah diawali dengan ingatannya pada-Nya, dan tak mungkin kita mampu mengingat-Nya tanpa kita tahu dan mengerti siapa Dia. hal ini juga selaras dan setimbang seperti halnya yang pernah ditandaskan dari Sayyid Imam Ali Khemene`i (semoga Allah senantiasa menjaga beliau dan panji Revolusi Islam Iran), seorang pemimpin tertinggi Revolusi Islam Iran saat ini, &#8220;sedetik saja kita melepaskan diri dari mengingat Tuhan, maka lantak tak tertolong lagi panji Revolusi Islam ini.&#8221;<br />
<span id="more-467"></span><br />
            tentu Tuhan mempunyai kebebasan mutlak, seperti halnya diri-Nya yang mutlak (usaha jawab point kedua), dan akan tetapi kebebasan Tuhan ini juga penuh berada pada kebebasan Tuhan untuk adil, maka keadilan Tuhan menjadi mutlak juga bagi Tuhan. hal ini seperti menyebut, bahwa kebebasan mutlak tanpa rasa adil adalah sebuah hinaan, dan pastilah Tuhan terbebas dari hinaan terhadap diri-Nya, seperti juga dengan kebebasan mutlak bagi manusia tanpa batas adalah sebuah kutukan, maka karena itu manusia yang sadar akan hal ini akan menjadikan hidupnya bersandar -pada kebebasannya- untuk memilih jalan Tuhan, jalan yang membebaskan. dalam referensi Islam yang kaya tidak pernah sekalipun saya mendapatkan tentang Tuhan yang dibatasi oleh pemikiran manusia tentang-Nya, dan bila hal ini ditemukan maka dasar ini pasti menyalahi semangat dan hukum-hukum Islam yang bersandar pada ansh al-Qur`an dan Hadist, seperti sebut Qur`an; Innallah `ala kully syaiin qadir. bahwa sesungguhnya Tuhan atas segala sesuatu Dia Maha Kuasa. sebuah alasan dan hujjah yang sudah sangat jelas.</p>
<p>            dengan itulah, memang bahwa daya kemampuan-Nya sangat tak terbatas, namun kalau alasan ini menjadi pembenaran untuk menyebutkan Tuhan berkawan dan berlawan, maka hal ini akan menjadi rancu dalam pemikiran kita. (usaha jawab point ketiga) suatu yang tak terbatas, kenapa pula musti membatasi diri dengan keberadaan yang lain? hal ini menjadi tidak boleh terjadi, laysa kamistlihi syay-un menjadi jawaban lain dari al-Qur`an. &#8220;Dia tidak seperti apapun.&#8221; Imam Ja`far as-Shodiq menambahkan, &#8220;hatta dengan bayangan atau persepsi kita tentang-Nya, maka itu bukan Dia.&#8221; kenapa, karena bayangan dan persepsi itu menjadi batas kita pada-Nya, padaha Tuhan, dengan diri-Nya sendiri tak terbatas. InsyaAllah inilah usaha jawab ini, dengan penekanan bahwa filsafat ketuhanan Islam yang berangkat dari Nash dan pemahaman yang benar tak pernah sekalipun membawa kerancuan dan kebimbangan. tentang Tuhan seperti sinar metari yang terang benderang, hatta awan pun tak akan mampu menghalangi jejak terangnya, entah dengan mata yang sakit karena melihat sinar yang terang. karena memang begitu, mata yang terlampau sering berada dalam kegelapan akan merasakan rasa sakit terhadap sinar terang kebenaran yang menyinari setiap jalan hidup dan cinta dalam agama ini, dari Allah, disampaikan oleh para Nabi, dan dijaga oleh para Imam suci. Allahu a`lam bissshowab, semoga bisa menjawab, bila banyak kekurangan, itu hanya karena kapasitas diriku yang hina dan terbatas ini, mohon maafnya atas hal itu.</p>
<p>Oleh : Muhammad Aziz Nurhidayat<br />
=======================================================</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-tulisan-tentang-tauhid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah renuangan untuk kita kawan, renungan tentang kematian</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 May 2011 17:04:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[sebelumya, maaf jika tulisan saya kali ini lebih terkesan seperti curhat sampah nan busuk. jika anda tidak berkenan membacanya, silakan langsung menuju lyric Last Breath serta link download lagunya. maaf&#8230; ========================================================================= hah&#8230;. lama jari ini tidak menari diatas keyboard untuk menulis sebuah &#8220;kebaikan&#8221; untuk menulis tentang &#8220;kebenaran&#8221;. telah lama jari ini menulis puluhan ribu baris <a href='http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebelumya, maaf jika tulisan saya kali ini lebih terkesan seperti curhat sampah nan busuk. jika anda tidak berkenan membacanya, silakan langsung menuju lyric Last Breath serta link download lagunya. maaf&#8230;</p>
<p>=========================================================================</p>
<p>hah&#8230;. lama jari ini tidak menari diatas keyboard untuk menulis sebuah &#8220;kebaikan&#8221; untuk menulis tentang &#8220;kebenaran&#8221;. telah lama jari ini menulis puluhan ribu baris code program, tapi sudah lama jari ini tidak menulis 1 atau 2 paragraf nasehat kebaikan. sungguh merugi diri ini. kawan, q harap engkau tidak seperti diri q yang lalai ini. q harap engkau adalah makhluk yang dimuliakan oleh Rabb seluruh alam.</p>
<p>kawan pada kesempatan ini, izinkan makhluk yang hina ini untuk menyuguhkan sebuah renungan&#8230; sebuah renungan tentang kematian&#8230;</p>
<p>saudaraku&#8230; sungguh, diri ini masih sangat takut akan kematian&#8230; diri ini merasa belum siap untuk menghadap Allah. terlalu banyak catatan hitam dalam diri ini yang belum diperbaiki. bahkan q sudah lupa. ada di bagian mana saja catatan hitam itu tersimpan. saudaraku, q harap, engkau adalah makhluk yang miskin dosa. q harap catatan kehidupanmu dipenuhi dengan catatan kebaikan.</p>
<p>saudaraku.. q benar-benar merasa takut&#8230; bagaimana bila esok hari adalah waktu q?? q belum siap bila harus bertemu dengan para makhluk taat yang akan melakukan interogasi kepadaku&#8230; q takut akan hukuman yang pasti q terima atas segala kesalahan q di dunia ini&#8230; q takut dengan ancaman hukuman siksa pedih.. q takut terhadap para penyiksa yang tak memiliki belas kasih&#8230; q takut dengan api yang siap melahap diri ini&#8230;.<br />
kawan&#8230; q sungguh takut&#8230;<br />
<span id="more-443"></span><br />
namun, q juga sadar. hanya merasa takut bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. yang perlu dilakukan adalah persiapan untuk sebuah hal pasti tersebut. kawan, semoga diri ini dan dirimu tergolong manusia yang beruntung. semoga Allah melimpahkan kasih dan sayang Nya kepada kita.</p>
<p>kawan, q ingin berbagi sebuah syair yang membuatku tersadar dan benar-benar berfikir tentang kematian. ini sebuah syair lama yang jarang ku putar. namun, tadi ketika ku sedang sibuk membuat program, ku putar beberapa list lagu. dan ini adalah salah satunya&#8230; semoga bermanfaat&#8230;</p>
<p>Last breath</p>
<p>Lyric Last breath</p>
<p>From those around I hear a Cry,<br />
A muffled sob, a Hopeless sigh,<br />
I hear their footsteps leaving slow,<br />
And then I know my soul must Fly!<br />
A chilly wind begins to blow,<br />
Within my soul, from Head to Toe,<br />
And then, Last Breath escapes my lips,<br />
It&#8217;s Time to leave. And I must Go!<br />
So, it is True (But it&#8217;s too Late)<br />
They said: Each soul has its Given Date,<br />
When it must leave its body&#8217;s core,<br />
And meet with its Eternal Fate.<br />
Oh mark the words that I do say,</p>
<p>Who knows? Tomorrow could be your Day,<br />
At last, it comes to Heaven or Hell<br />
Decide which now, Do NOT delay!<br />
Come on my brothers let us pray<br />
Decide which now, Do NOT delay!<br />
Oh God! Oh God! I cannot see!<br />
My eyes are Blind! Am I still Me<br />
Or has my soul been led astray,<br />
And forced to pay a Priceless Fee<br />
Alas to Dust we all return,<br />
Some shall rejoice, while others burn,<br />
If only I knew that before<br />
The line grew short, and came my Turn!<br />
And now, as beneath the sod<br />
They lay me (with my record flawed),<br />
They cry, not knowing I cry worse,<br />
For, they go home, I face my God!<br />
Oh mark the words that I do say,<br />
Who knows, Tomorrow could be your Day,<br />
At last, it comes to Heaven or Hell<br />
Decide which now, Do NOT delay !<br />
Come on my brothers let&#8217;s pray<br />
Decide which now, do not delay &#8230;.</p>
<p>Courtesy of Bukhatir.org</p>
<p>dan untuk mp3 lagunya, silakan di download : <a href="http://www.4shared.com/audio/IPq7Bk2D/15_Last_Breath.html" target="_blank">Last Breath</a></p>
<p>sekali lagi, maaf jika tulisan saya kali ini lebih terkesan seperti curhat sampah nan busuk. maaf..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sebuah-renuangan-untuk-kita-kawan-renungan-tentang-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentuk Loyalitas Kepada Musuh Alloh</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/bentuk-loyalitas-kepada-musuh-alloh/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/bentuk-loyalitas-kepada-musuh-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 03:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Memberikan loyalitas kepada musuh Alloh Subahanahu wa Ta’ala yaitu orang-orang kafir adalah perkara yang dilarang Alloh Subahanahu wa Ta’ala. Islam telah menetapkan loyalitas tunggal dalam segala hal yaitu kepada Alloh Subahanahu wa Ta’ala saja. Bbentuk-bentuk loyalitas kepada musuh-musuh Islam yang dilarang oleh Alloh Subahanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah diantaranya sebagai berikut: Pertama: Meniru/menyerupai mereka <a href='http://www.inilahjalanku.com/bentuk-loyalitas-kepada-musuh-alloh/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Memberikan loyalitas kepada musuh Alloh <em>Subahanahu  wa Ta’ala </em>yaitu orang-orang kafir adalah perkara yang dilarang  Alloh<em> Subahanahu wa Ta’ala. </em>Islam telah menetapkan loyalitas  tunggal dalam segala hal yaitu kepada Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala </em>saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Bbentuk-bentuk loyalitas kepada musuh-musuh Islam  yang dilarang oleh Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala </em>dan Rasul-Nya  adalah diantaranya sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertama: </strong>Meniru/menyerupai mereka dalam berpakaian,  ucapan dan lainnya, karena yang demikian ini menunjukkan kecintaan.  Rasululloh <em>ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam </em>bersabda, yang  artinya: <em>“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk  golongan mereka.” </em>Pengharaman ini dalam hal-hal yang menjadi ciri  khas mereka seperti adat istiadat, ibadah, sifat-sifat serta tingkah  laku seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, berpakaian, makan,  minum dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kedua: </strong>Bepergian ke negara mereka dengan tujuan  wisata dan rekreasi. Bepergian  ke negara kafir diharamkan kecuali dalam  keadaan darurat, seperti: berobat, berdagang, dan belajar ilmu-ilmu  tertentu yang bermanfaat, yang tidak mungkin didapat kecuali di negeri  mereka. Hal ini diperbolehkan sebatas keperluan, dan jika keperluannya  telah selesai, maka wajib kembali ke negara kaum muslimin. Diperbolehkan  juga dengan syarat untuk senantiasa memperlihatkan ke-Islamannya, serta  bangga dengan ke-Islamannya. Ia harus menjauhi tempat-tempat maksiat  dan berhati-hati dari segala bentuk tipu daya para musuh-musuhnya pula.  Diperbolehkan bahkan wajib bepergian ke negara mereka jika bertujuan  untuk berdakwah dan menyebarkan Islam.</p>
<p><span id="more-441"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ketiga: </strong>Membantu dan menolong mereka untuk  mengalahkan kaum muslimin, memuji-muji dan membela mereka, hal ini  merupakan bagian dari rusaknya aqidah ke-Islaman juga penyebab dari  kemurtadan. Kita berlindung kepada Alloh dari yang demikian.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keempat: </strong>Minta bantuan kepada mereka, percaya dan  memberikan jabatan-jabatan yang di dalamnya terdapat rahasia-rahasia  kaum muslimin, dan menjadikan mereka sebagai orang kepercayaan serta  tempat bertukar pikiran. Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala</em> berfirman,  yang artinya: <em>“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil  menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (karena)  mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka  menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut  mereka dan apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi.  Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu  memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak  menyukai kamu dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila  mereka  jumpai kamu, mereka berkata: ‘Kami beriman’, dan apabila mereka  menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci  terhadap kamu.   Katakanlah (kepada mereka):  ‘Matilah kamu karena  kemarhanmu itu.” Sesungguhnya Alloh mengetahui segala isi hati. Jika  kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu  mendapat bencana mereka bergembira karenanya.” </em>(QS: Ali Imron:  118-120).</p>
<p style="text-align: justify;">Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala </em>menjelaskan bahwa isi hati  orang-orang kafir serta kebencian yang mereka sembunyikan terhadap kaum  muslimin, dan apa yang mereka rencanakan untuk melawan kaum muslimin  dengan tipu muslihat serta penghianatan. Mereka juga senantiasa  menimpakan mudharat (bahaya) terhadap kaum muslimin dengan senantiasa  menggunakan segala cara (sarana) untuk menyakiti orang-orang beriman.  Dan sungguh mereka selalu memanfaatkan kepercayaan kaum msulimin, lalu  mereka berencana untuk menimpakan bahaya terhadap kaum muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Musa Al-Ay’ari berkata: Aku pernah berkata kepada Umar bin  Khattab: “Aku mempunyai sekretaris seorang Nashrani.”  Umar bin Khattab  berkata: “Apa-apaan kamu ini, celakalah engkau! Tidakkah engkau  mendengar firman Alloh <em>Alloh Subahanahu wa Ta’ala, </em>yang  artinya:<em> “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil  orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu);  sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.” </em>(QS:  Al-Maaidah: 51). Mengapa tidak mengambil orang muslim saja?” Lalu Abu  Musa menjawab: “Wajai Amirul Mukminin, bagiku tulisannya dan baginya  agamanya.!”  Serentak Umar bin Khattab berkata: “Aku tidak akan  menghormati mereka, sebab Alloh <em>Alloh Subahanahu wa Ta’ala </em>telah  menjadikan mereka hina,  dan aku tidak akan memuliakan mereka sebab  Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala </em>telah menjadikan mereka rendah, dan  aku tidak akan mendekati mereka disebabkan Alloh <em>Subahanahu wa  Ta’ala </em>telah menjauhkan mereka (menjadikan mereka sangat jauh)”  (HR: Imam Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan Imam Ahmad dan Imam Muslim meriwayatkan: <em>“Bahwa Rasululloh  keluat menuju Badar, lalu seorang laki-laki musyrikin mengikuti beliau,  kemudian bertemulah di suatu tempat (bernama Hirrah), seraya berkata,  ‘Sesungguhnya aku ingin ikut dan terluka bersamamu.’, bersabdalah  Rasululloh: “Berimankah kamu kepada Alloh dan Rasul-Nya?’ Laki-laki itu  menjawab, ‘Tidak!’, Kemudian Nabi bersabda: “Pulanglah kamu, sekali-kali  aku tidak minta tolong kepada orang musyrik.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em></em>Jadi jelaslah bagi kita haramnya memberikan  pekerjaan-pekerjaan kaum muslimin kepada orang kafir. yang dengan itu  memungkinkan orang kafir untuk menyelidiki keadaan dan rahasia-rahasia  kaum muslimin serta mengadakan tipu daya yang membehayakan mereka. Di  antara contoh yang gamblang yang terjadi akhir-akhir ini yaitu dengan  didatangkannya orang-orang kafir ke negara kaum muslimin (seperti di  negara dua tanah haram yang suci) lalu mereka dijadikan pekerja-pekerja,  sopir-sopir, pembantu-pembantu, baby sister di rumah mereka sehingga  mereka berbaur dalam satu rumah tangga kaum muslimin yang tinggal di  negara tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelima: </strong>Memuji dan terpesona atas kemajuan mereka  serta kagum atas tingkah laku dan kepandaian mereka dan mengabaikan  akidah-akidah mereka yang bathil dan nama mereka yang rusak. Alloh <em>Subahanahu  wa Ta’ala</em> berfirman, yang artinya: <em>“Dan janganlah kamu tujukan  kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada  golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan di dunia untuk  Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu adalah lebih  baik dan  lebih kekal.” </em>(QS: Thoha: 131).</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi ayat tersebut bukanlah larangan bagi kaum muslimin untuk  mengetahui rahasia sukses mereka dengan jalan belajar di bidang-bidang  perindustrian (teknologi dan lain-lain), dasar-dasar ekonomi yang tidak  dilarang oleh syari’at serta strategi-strategi lainnya yang tidak  bertentangan dengan Syariat Islam, bahkan semua itu merupakan persoalan  yang dituntut oleh Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala</em> berfirman, yang artinya: <em>“Dan  siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu  sanggupi.” </em>(QS: Al-Anfal: 60) Alloh <em>Subahanahu wa Ta’ala </em>berfirman,  yang artinya: <em>“Dia-lah Alloh yang menjadikan segala yang ada di  bumi untuk kamu.”  (</em>QS: Al-Baqarah: 29).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Maka merupakan suatu kewajiban bagi kaum muslimin untuk  bersaing dalam menggali manfaat-manfaat dan potensi ini dan tidak perlu  meminta-minta kepada orang kafir untuk mendapatkannya, mereka wajib  memiliki pabrik-pabrik dan teknologi-teknologi canggih. </strong><em>wallohu  a’lam bi shawaab</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>sumber: http://aqidahislam.wordpress.com/2007/07/19/bentuk-loyalitas-kepada-musuh-alloh/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/bentuk-loyalitas-kepada-musuh-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Pilihan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 May 2011 03:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=439</guid>
		<description><![CDATA[Segala yang ada di dunia ini adalah fana dan tiada yang kekal, tapi bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tapi menuju ke alam berikutnya yaitu hari akhir, suatu kehidupan yang kekal tiada berakhir. Semua jiwa pasti akan kembali kepada pemilik dan penciptanya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Setelah ditiup sangkakala yang kedua seluruh manusia dibangkitkan <a href='http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Segala yang ada di dunia ini adalah fana dan tiada yang kekal, tapi bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tapi menuju ke alam berikutnya yaitu hari akhir, suatu kehidupan yang kekal tiada berakhir. Semua jiwa pasti akan kembali kepada pemilik dan penciptanya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Setelah ditiup sangkakala yang kedua seluruh manusia dibangkitkan dari kuburan-kuburan mereka dalam keadaan tidak membawa apa pun, tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan juga tidak berkhitan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah, bahwa baginda Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berbusana, dan tidak berkhitan.” Kemudian Aisyah berkata: “Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam! Apakah seluruh para wanita dan laki-laki seperti itu, sehingga saling melihat diantara mereka? Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, yang artinya: “Wahai Aisyah! Kondisi waktu itu amat ngeri dari pada sekedar melihat antara satu dengan lainnya.” (HR: Al Bukhari no 6527 dan Muslim no. 2859)<br />
Setelah itu manusia dikumpulkan di padang mahsyar menanti penghisaban (perhitungan) semua amal perbuatannya selama hidup di dunia. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya kepada Kami-lah mereka akan kembali, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS: Al Ghasyiyah: 25-26)</p>
<p style="text-align: justify;">Tahap penghisaban amal perbuatan manusia dipadang mahsyar merupakan bagian adzab dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap siapa yang dihisap pada hari itu. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam besabda, yang artinya: “Barangsiapa yang dihisab pada hari kiamat bararti dia telah merasakan adzab.” Aisyah berkata: “Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bukankah Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman (yang artinya): “(Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanan) maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.”(QS: Al Insyiqaq: <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Sesungguhnya itu adalah sekedar memperlihatkan amalannya, tetapi barangsiapa yang diperiksa penghisabannya pada hari kiamat berarti dia telah merasakan adzab.” (HR: Muslim no. 2876)<span id="more-439"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari penghisaban saja sangat mengerikan dan tersiksa. Bagaimana lagi dengan bentuk adzab dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala di neraka jahannam nanti. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah menggambarkan tingkatan neraka yang paling ringan, sebagaimana dalam hadits yang shahih, yang artinya: “Sesungguhnya adzab yang paling ringan bagi penghuni neraka adalah seseorang yang bersandalkan dengan api neraka, maka mendidihlah otaknya disebabkan dari panas kedua sandalnya.” (HR: Muslim no. 211)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Alloh Subhanahu wa Ta’ala Al Ghaffur (Yang Maha Pengampun) dan Ar Rahim (Yang Maha Pengasih) telah membentangkan rahmat-Nya yang amat luas. Diantara rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan petunjuk kepada manusia tentang jalan yang dapat mengantarkan ke dalam al janah tanpa hisab dan adzab. Jalan tersebut telah dijelaskan oleh Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam haditsnya, yang artinya: “Akan masuk al jannah dari umatku tujuh puluh ribu tanpa hisab dan adzab (dalam riwayat lain; wajah-wajah mereka bercahaya bagaikan cahaya rembulan di bulan purnama).” Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berdiri dan masuk ke dalam rumah. Sementara para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menduga-duga siapakah golongan mereka itu. Diantara para shahabat ada yang menduga; “Semoga mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabatnya”. Yang lainnya mengira; “Semoga mereka adalah orang-orang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan”, dan perkiraan-perkiraan yang lainnya. Kemudian Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam keluar dari rumahnya dan mengkhabarkan sifat golongan yang bakal menjadi penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak meminta kay (praktek pengobatan dengan menempelkan besi panas atau semisalnya pada bagian tubuh yang sakit), tidak meminta ruqyah, dan tidak pula berfirasat sial (dengan sebab melihat sesuatu yang disangka ganjil seperti burung dan semisalnya), serta mereka bertawakkal penuh kepada Rabb mereka.”  Kemudian Ukasyah bin Mihshan berdiri seraya berkata: “(Wahai Rasululloh) berdo’alah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala supaya aku termasuk golongan mereka. Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda: “Engkau termasuk dalam golongan tersebut”. (HR: Al Bukhari no. 5752 dan Muslim no. 374)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat Al Imam Ahmad 2/359 dan lainnya, Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Maka aku meminta tambahan dari Rabb-ku, sehingga Alloh menambah dalam setiap seribu orang bersama tujuh puluh ribu orang.” (Lihat Ash Shahihah no. 1486)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat di atas menunjukkan luasnya rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena Alloh telah menambah dalam setiap seribu orang bersama tujuh puluh ribu orang. Demikian pula Alloh tidak mengkhususkan yang berhak meraih keutamaan tersebut hanya bagi para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam atau orang yang yang lahir dalam keadaan Islam dan tidak pernah berbuat kesyirikan sebagaimana yang dikira para shahabat Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Namun Alloh Subhanahu wa Ta’ala membuka lebar-lebar pintu rahmat kepada siapa yang berupaya menghiasi dirinya dengan sifat-sifat tersebut dia lah yang berhak meraih al jannah tanpa hisab dan tanpa adzab. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ciri Ciri Golongan Penghuni Al Jannah Tanpa Hisab Dan Adzab</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama: Tidak Meminta Kay<br />
Kay adalah praktek pengobatan dengan cara menempelkan besi atau semisalnya yang telah dipanaskan pada bagian tubuh yang sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Penyembuhan itu dengan tiga hal: minum madu, berbekam, dan kay, tetapi aku melarang umatku dari pengobatan kay. (Dalam riwayat lain; Dan aku tidak mencintai pengobatan dengan kay)” (HR: Al Bukhari no. 5680)</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits-hadits di atas menunjukkan hukum pengobatan dengan kay adalah boleh tapi makruh (dibenci), sehingga yang lebih utama adalah ditinggalkan. Karena Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mencintai umatnya untuk meniggalkan pengobatan dengan cara kay. Terlebih lagi berobat dengan kay bisa menjadi penghalang untuk masuk ke dalam Al Jannah tanpa hisab dan adzab.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua: Tidak Meminta Ruqyah<br />
Ruqyah adalah praktek pengobatan dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an atau nama-nama dan sifat-sifat-Nya kepada si penderita. Karena seluruh ayat-ayat Al Qur’an itu sebagai obat hati dan jasmani. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Dan Kami menurunkan Al Qur’an itu sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS: Al Isra’: 82)</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang menjadi penghalang untuk masuk bagian dari golongan penghuni al jannah tanpa hisab dan adzab ini khusus bagi orang yang meminta ruqyah bukan yang meruqyah dirinya sendiri ataupun orang lain yang meruqyahnya tanpa ada unsur permintaan darinya. Adapun kalau dia sendiri meruqyah itu memang perkara yang lebih utama, karena dia telah bertawakkal penuh kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhkan dirinya dari bergantung kepada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Demikian pula orang lain yang meruqyah tanpa unsur permintaan dari si penderita itu pun tidak mengapa. Karena konteks hadits itu adalah yang bermakna “Tidak Meminta Ruqyah”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya malaikat Jibril pernah datang kepada Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam lalu berkata, yang artinya: “Wahai Muhammad, apakah engkau lagi sakit? Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Ya. Kemudian malaikat Jibril meruqyahnya tanpa permintaan dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.” (HR: Muslim no. 2186)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam juga pernah ditanya tentang meruqyah, maka beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya: “Barangsiapa diantara kalian yang dapat memberikan manfaat bagi saudaranya, maka lakukanlah.” (HR:  Muslim no. 2199)</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga:  Tidak Bertathayyur<br />
Tathayyur adalah sikap berprasangka sial yang disandarkan kepada sesuatu yang dilihat atau pun yang didengar. Misalnya, kebiasaan orang Arab terdahulu bila hendak safar (berpergian) melihat arah terbangnya burung. Bila terbang ke arah kanan maka safar akan dilakukan, sebaliknya bila terbang ke arah kiri menujukkan kesialan maka safar dibatalkan. Begitu pula ada sebagian orang yang menganggap sial atau pertanda akan ada musibah bila mendengar suara burung gagak di malam hari atau bila melihat cecak jatuh. Diantara waktu-waktu, hari-hari, atau bulan-bulan pun ada yang dianggap sial untuk diselengarakan acara-acara tertentu. Dan sebagainya dari tanda-tanda yang dianggap sial yang tersebar dimasyarakat kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Tathayyur ini merupakan perbuatan terlarang. Karena telah menyandarkan kesialan kepada sesuatu yang sama sekali tidak ada hubungannya secara logis dan sebab musababnya. Termasuk aqidah kaum muslimin beriman kepada taqdir Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini tarjadi atas kehendak Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata. Bila Alloh Subhanahu wa Ta’ala menghendaki sesuatu pasti akan terjadi, dan sebaliknya bila Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sesuatu pasti tidak akan terjadi. Sehingga orang yang bertathayyur itu telah mengurangi nilai tawakkalnya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala karena ia menyangka bahwa ada selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang bisa mendatangkan kesialan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu merupakan taqdir Alloh, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (QS: Al A’raf: 131)</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat: Bertawakal Kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala<br />
Bahwa sifat yang keempat ini merupakan buah dari tiga sifat sebelumnya. Maksudnya, dengan meninggalkan pengobatan kay, meninggalkan untuk meminta ruqyah dan meninggalkan tathayyur menunjukkan kemurnian tawakkal seseorang kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Karena seseorang tersebut telah melepas dari segala ikatan-ikatan ketergantungan kepada sesuatu selain Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan menyandarkan nasib dan hasilnya itu hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga barangsiapa yang benar-benar bertawakkal kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, niscaya Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencukupnya di dunia dan di akhirat kelak nanti akan digolongkan sebagai pewaris Al Jannah tanpa hisab dan tanpa adzab. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Alloh, maka Dia sebagai pencukup baginya.” (QS: Ath Thalaq: 3)</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu kita pahami disini, bukan berarti Islam melarang untuk berobat. Sesungguhnya sifat penghuni Al Jannah tanpa hisab dan adzab itu karena mereka meninggalkan pengobatan yang dibenci (makruh) disaat sangat membutuhkannya dengan mencukupkan dirinya untuk bertawakkal hanya kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Adapun berobat dengan sesuatu yang tidak dilarang maka tidak mengurangi tawakkal kita kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada seseorang yang bertanya kepada Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam: “Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bolehkah aku berobat? Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam seraya menjawab: “Tentu, wahai hamba Alloh berobatlah kalian. Karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak menciptakan penyakit melainkan pasti diciptakan pula obatnya, kecuali satu penyakit.” Kemudian para shahabat bertanya: “Apa itu (Wahai Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam) Rasululloh Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: “Penyakit pikun (karena ketuaan).” (HR: Ahmad, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ghayatul Maram hal. 147). Semoga kita termasuk sebagai hamba Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang berkesempatan dan diberikan hidayah serta kekuatan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala; untuk menjadi Penghuni-Penghuni Al Jannah Tanpa Hisab dan Adzab. Amien….</p>
<p style="text-align: justify;">Penghuni Surga Yang “Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab” dan Penghuni Surga Yang “Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : http://aqidahislam.wordpress.com/2007/05/28/manusia-pilihan/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/manusia-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metode Berpikir Islami</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/metode-berpikir-islami/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/metode-berpikir-islami/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 13:13:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Berpikir adalah cara khas manusia yang membedakannya dari makhluk lain. Di kalangan ahli mantiq sangat masyhur istilah yang mendefinisikan manusia sebagai (hewan yang berpikir). Karena kemampuan berpikir itu pulalah manusia merupakan makhluk yang dimuliakan Allah SWT, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an (yang artinya), (Al-Israa’: 70). Bahkan, amanah kekhalifahan yang hanya diserahkan Allah kepada manusia (Adam) pun <a href='http://www.inilahjalanku.com/metode-berpikir-islami/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span>Berpikir adalah cara khas manusia yang membedakannya dari makhluk  lain. Di kalangan ahli mantiq sangat masyhur istilah yang mendefinisikan  manusia sebagai (hewan yang berpikir). Karena kemampuan berpikir itu  pulalah manusia merupakan makhluk yang dimuliakan Allah SWT, seperti  dijelaskan dalam Al-Qur’an (yang artinya), (Al-Israa’: 70). Bahkan,  amanah kekhalifahan yang hanya diserahkan Allah kepada manusia (Adam)  pun adalah karena faktor berpikir yang hanya dimiliki oleh manusia itu.  Sebab, dengan kemampuan berpikir, manusia akan dapat menyerap ilmu  pengetahuan dan mentransfernya. Peristiwa dialog antara malaikat, Adam,  dan Allah SWT memberikan gambaran yang jelas kepada kita betapa  pemuliaan itu berpangkal pada kemampuan berpikir dan menyimpan ilmu.  Mari kita simak ayat-ayat berikut.</p>
<p></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) itu  seluruhnya, kemudian Allah mengajukannya kepada para malaikat sambil  berkata, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang  orang-orang benar.’ Mereka menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tiada yang kami  ketahui selain apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya  Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.’ Allah berfirman,  ‘Hai Adam, beri tahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.’ Maka  setelah diberitahukannya, Allah berfirman, ‘Bukankah sudah Ku-katakan  kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan  mengetahui apa yang kamu zahirkan dan yang kamu sembunyikan’.”</em> (Al-Baqarah: 31-33).</p>
<p style="text-align: justify;">Penghargaan Allah kepada manusia demikian besarnya, sampai ke tingkat  memerintahkan malaikat agar bersujud kepada Adam. Bahkan, yang menolak  perintah sujud itu dicap sebagai kafir. Adakah pemuliaan yang melebihi  penghargaan yang luar biasa itu?</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Berpikir dalam Islam</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Islam memandang berpikir itu sebagai media untuk mendekatkan diri  kepada Allah SWT. Sebab dengan berpikir, manusia menyadari posisinya  sebagai hamba dan memahami fungsinya sebagai khalifatullah di muka bumi.  Tugasnya hanyalah menghambakan diri kepada Allah SWT dengan beribadah.  Dengan berpikir juga, manusia mengetahui betapa kuasanya Allah  menciptakan alam semesta dengan kekuatan yang maha dahsyat, dan dirinya  sebagai manusia sangat kecil dan tidak berarti di hadapan Allah Yang  Maha Berkuasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an berkali-kali merangsang manusia, khususnya orang beriman,  agar banyak memikirkan dirinya, lingkungan sekitarnya, dan alam semesta.  Karena dengan berpikir itu, manusia akan mampu mengenal kebenaran  (al-haq), yang kemudian untuk diimani dan dipegang teguh dalam  kehidupan. Allah berfirman, <em>“Hanyalah orang-orang yang berakal saja  yang dapat mengambil pelajaran.”</em> (Ar-Ra’d: 19).</p>
<p><span id="more-434"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Islam memandang kaitan antara keilmuan dengan ketakwaan itu sangat  erat. Dalam arti, semakin dalam ilmu seseorang akan semakin takut kepada  Allah SWT. Disebutkan di dalam Al-Qur’an, <em>“Sesungguhnya yang paling  takut kepada Allah SWT adalah orang-orang yang berilmu dari hamba-Nya.”</em> (Faathir: 28).</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut kacamata Al-Qur’an, orang-orang yang mendurhakai Allah itu  karena disebabkan “cacat intelektual”. Betapapun mereka berpikir dan  bahkan sebagian mereka ada yang turut bersaham untuk mengembangkan  peradaban manusia, namun selama proses berpikir tidak mengantarkan  mereka ke derajat “bertakwa”, maka selama itu pula mereka tetap berada  dalam kategori orang-orang yang “tidak mengerti” atau meminjam istilah  Al-Qur’an <em>“laa yafgahuun”, “laa ya’lamuun”, “laa ya’qiluun”</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmuwan sejati ialah ilmuwan yang konsekuen dengan ilmunya. Siap  mengubah pendirian, sikap, kepribadian, bahkan idiologi, sesuai dengan  tuntutan dan konsekuensi pengetahuannya. Jika seorang ilmuwan bersikap  jujur dengan ilmunya, ia akan sampai pada konklusi bahwa ilmu apa  pun–khususnya ilmu-ilmu empirik dan eksperimental–yang didalami  seseorang akan sampai pada kesimpulan mentauhidkan Allah dan  mengimani-Nya. Sikap ilmiah sejati tidak hanya berhenti pada pengakuan  pasif, tetapi menuntut keberanian untuk menyikapi keyakinan itu dan  mempertahankannya dari segala bentuk serangan yang dapat mengganggu  stabilitas dan eksistensinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh yang spektakuler dalam sejarah mempertahankan kebenaran ialah  sikap para tukang sihir Fir’aun yang berbalik memusuhi Fir’an setelah  mereka percaya akan kenabian Musa a.s. melalui mukjizat yang  ditampakkannya di hadapan para tukang sihir itu. Bahkan, mereka tidak  hanya sebatas percaya dan menerima, tetapi siap menghadapi segala  konsekuensi kebenaran tersebut. Fir’aun menghukum gantung dan menyalib  mereka. Akan tetapi, sikap mereka tidak menunjukkan penyesalan, bahkan  keberanian yang cukup menakjubkan. Jawaban mereka ketika mendengar  ancaman Fir’aun seperti diceritakan di dalam Al-Qur’an, <em>“Kami  sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata  (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan dari Tuhan yang  menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan.  Sesungguhnya kamu hanya dapat menghukum kehidupan di dunia ini saja.”</em> (Thaahaa: 72).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sumber-Sumber Ilmu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Islam, sumber-sumber ilmu berasal dari: wahyu dan akal. Wahyu  adalah informasi tentang sesuatu dari Yang Maha Mengetahui, Allah SWT.  Wahyu Allah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dalam bentuk Al-Qur’an  dan As-Sunnah. Ciri khas wahyu itu adalah mengandung kebenaran mutlak,  yang tidak perlu didiskusikan kebenarannya. Fungsi manusia dalam kaitan  ini adalah memahami wahyu dan mengoperasionalkannya. Manusia hendaknya  tidak terjebak dalam mempersoalkan kebenaran wahyu dan validitasnya.  Sebab, hal itu hanya sekadar pemborosan energi dan kurang bermanfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun sumber ilmu yang kedua, yaitu akal. Akal manusia ditakdirkan  dan disetting oleh Allah agar mampu menemukan pengetahuan. Berbagai  perangkat kasar dan perangkat lunak telah Allah siapkan untuk tujuan  itu. Sebab dalam Islam, akal adalah kunci penugasan manusia. Tanpa akal,  manusia tidak dapat dibebani dengan hukum-hukum syariat.</p>
<p style="text-align: justify;">Metode akal dalam menangkap pengetahuan melalui tiga jalur: a. Melalui  indera yang dapat berupa penglihatan dan pendengaran. Informasi itu  diteruskan ke akal dan diterjemahkannya secara benar. b. Melalui logika,  seperti tiga lebih besar daripada dua. c. Melalu berita yang  disampaikan oleh orang lain. Kebenaran pengetahuan ini tergantung pada  kebenaran nara sumbernya. Dalam kaitan ini, Islam sangat berjasa  merumuskan disiplin ilmu yang dapat menguji kebenaran suatu informasi.  Ilmu ini dikenal dalam ilmu hadits dengan nama “ilmu al-jarh wa  at-ta’dil”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Metode Berpikir Islami</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena berpikir adalah suatu aktivitas yang dapat dilakukan oleh  semua orang, baik muslim atau nonmuslim, yang akan menghasilkan  kesimpulan yang beragam, sudah barang tentu diperlukan suatu kerangka  yang dapat mengarahkan manusia dalam berpikir untuk mencapai sasarannya.  Sebab, tanpa rumusan pola itu, manusia akan dapat terperangkap pada  cara berpikir yang lepas kendali. Konsekuensinya tidak segampang yang  dibayangkan manusia. Akan tetapi, tidak menemukan kebenaran itu dalam  Islam identik dengan kesesatan. Allah berfirman (yang artinya), <em>“Adakah  di luar kebenaran itu kalau bukan kesesatan?”</em> (Yunus: 32).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika mengamati petunjuk-petunjuk Al-Qur’an, hadits Nabi, dan  pengalaman sejarah intelektual dalam Islam, maka dapat dikemukakan  beberapa metode–atau dapat disebut sebagai kaidah–berpikir dalam Islam,  yang mengantarkan seseorang berpikir secara proporsional dan benar untuk  selanjutnya keluar dengan pemikiran yang jernih, lurus, dan relefan  dengan kehendak Allah SWT. Metode tersebut adalah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. Wahyu adalah Satu-satunya Sumber Aqidah dan Ayari’ah</strong> Setiap peneliti muslim diminta agar menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah  sebagai satu-satunya sumber dalam konsep dan operasional sekaligus,  tanpa memilah-milahnya, dalam arti bahwa kita sebagai muslim hendaknya  mengajukan pertanyaan kepada Al-Qur’an, kemudian mendengar jawabannya  dari Allah SWT. Akan tetapi, mencari jawaban itu hanya dari Al-Qur’an  dan As-Sunnah saja, bukan dari sumber-sumber lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai wahyu dari langit adalah hakikat yang  sudah merupakan aksioma dan menjadi prinsip Islam. Akan tetapi,  sayangnya banyak peneliti dan kaum intelektual melangkai prinsip ini,  sengaja atau tidak. Mereka cenderung menggunakan sumber-sumber produk  manusia, di samping sumber-sumber utama Islam. Mereka juga menyimpan  seperangkat pemikiran, teori, dan hipotesa sebagai peninggalan peradaban  kuno yang cenderung berlainan dengan konsep Islam. Kondisi seperti ini  sudah tentu tidak sejalan dengan kaidah menempatkan wahyu sebagai  satu-satunya sumber dalam jalur aqidah, hukum, dan maslaah metafisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Seharusnya sikap muslim pencari kebenaran ketika membaca Al-Qur’an  mengosongkan pikirannya dari seluruh jenis teori dan konsep yang  dihasilkan manusia tanpa dasar wahyu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>b. Hubungan antara Wahyu, Akal, dan Metode Interpretasi  Rasional</strong> Kaidah ini berkaitan dengan penempatan posisi akal dan  perannya dalam menangkap pesan (teks) Ilahi. Pada prinsipnya, Islam  telah menetapkan adanya dua alam yang harus dibenarkan manusia sebagi  prasarat diterima keislamannya. Kedua alam itu ialah alam ghaib dan alam  nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Spesifikasi alam ghaib ialah berada di luar batas ruang dan waktu. Dua  kawasan yang merupakan jalur operasi akal manusia. Alam ghaib seperti,  Allah, malaikat, langit, jin, akhirat adalah kawasan yang berada di luar  jangkauan manusia. Manusia tidak bakal mengetahuinya secara rinci  dengan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Fungsi akal di sini  sekadar menerima informasi, memahami, dan membenarkan. Adapun alam  nyata, objek dan komponennya berada dalam batas ruang dan waktu. Akal  manusia bertugas menyelidikinya untuk sampai pada hakikat.</p>
<p style="text-align: justify;">Atas dasar ini, kebenaran di sekitar alam ghaib tidak dapat  didiskusikan secara rasional dan menggunakan logika, tetapi kita terima  melalui teks secara apa adanya. Peran akal berada pada batas  pengklasifikasian, penempatan, dan penetapan, agar keluar dengan  kesimpulan yang general dan sempurna serta tidak bertentangan dengan  akal dan logika.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Islam dikenal dua kategori hakikat: hakikat tawqifiyah yang  berskala ghaib dan didapatkan melalui informasi Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Posisinya berada di atas akal manusia. Dan, hakikat tawfiqiyah yang  sesungguhnya menjadi objek dan lapangan akal manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekeliruan banyak orang, seperti perkembangan filsafat Yunani,  mencampuradukkan dua kategori tersebut, sehingga membebankan kepada akal  hal-hal yang sebenarnya berada di luar kemampuannya. Manusia juga  sering tertipu ketika akal mampu memerankan fungsinya secara baik dan  prima pada ruang “tawfiqiyah”, mengira bahwa akal juga mampu menembus  wilayah “tawqifiyah”, atau setidak-tidaknya tergiur untuk menerobos ke  kawasan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada zaman modern ini, kita perhatikan akal manusia mampu menemukan  hal-hal menakjubkan di alam materi. Lalu kita mengira bahwa akal yang  selama ini mampu menciptakan pesawat, roket, menghancurkan atom, membuat  bom hidrogen, menjelajah ruang angkasa, juga memiliki kemampuan untuk  merumuskan peraturan yang menata hidup manusia. Kita lupa bahwa  keberhasilan yang diraih akal selama ini ketika ia beroperasi pada  jalurnya secara natural, karena memang ia dipersiapkan untuk itu. Akan  tetapi, sekiranya akal beroperasi di jalur “alam manusia”, berarti ia  beroperasi dalam alam yang tidak mengenal batas dan amat kabur.  Akibatnya, akal menemukan jalan buntu dan keluar dengan konklusi yang  keliru.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>c. Mencari Kebenaran dengan Sikap Jernih</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud di sini ialah sikap objektif sebagai pencari kebenaran  dari wahyu Al-Qur’an, bukan dengan tendensi tertentu, seperti  mencari-cari dalil untuk melemahkan pendapat lawan. Hakikat Al-Qur’an  adalah parameter untuk mengukur kebenaran suatu paham, teori, dan  filsafat-filsafat yang ada, oleh karena itu harus diketahui secara utuh  dan dengan cara langsung dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sebaliknya,  perjalanan yang ditempuh pemikiran manusia untuk sampai kepada kebenaran  amat lamban, sebab ia tidak mampu menemukan kebenaran secara spontan  tanpa bantuan kekuatan lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>d. Kebenaran dalam Al-Qur’an Senantiasa Paralel</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yang dimaksud di sini ialah keharusan membandingkan antara kesimpulan  yang didapat dari Al-Qur’an–melalui metode deduktif–dengan  kebenaran-kebenaran Al-Qur’an yang mutlak. Hal ini didasarkan pada  prinsip bahwa kebenaran dalam Al-Qur’an tidak akan mengalami kontradiksi  dengan sesamanya, karena ia berasal dari sumber yang sama. Jika  ditemukan adanya kelainan, secara otomatis kesimpulan yang diperoleh  adalah keliru dan ditolak. Hal ini didasarkan pada dua ketentuan yang  aksiomatik dan disepakati oleh kaum muslimin dan didukung oleh  metodologi ilmiah dalam kritik sejarah, yaitu sebagai berikut. 1. Semua  ayat-ayat Al-Qur’an berasal dari Allah SWT, dan Allah menjanjikan  pemeliharaan mutlak atas kesucian Al-Qur’an. 2. Al-Qur’an secara  keseluruhan merupakan satu kesatuan yang utuh. Antara sebagian dengan  bagian lainnya bersesuaian dan tidak ditemui kontradiksi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>e. Bersikap Jujur, tanpa Prakonsepsi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Peneliti Al-Qur’an dituntut agar bersikap jujur dan ikhlas untuk  mencri kebenaran murni. Peneliti hendaknya membebaskan dirinya dari  pengaruh hawa nafsu, kepentingan, fanatisme kelompok, dan paham yang  dianutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini memang berkaitan kepada individu peneliti dan mentalitas serta  moralitasnya. Akan tetapi, manusia adalah satu kesatuan. Memilah-milah  antara sarana dan kemampuannya dalam memberi interpretasi atas aktivitas  manusia adalah cara yang keliru. Tidaklah semua orang yang membaca  Al-Qur’an akan mendapat petunjuk. Bahkan, ada yang membacanya tetapi  disesatkan oleh Allah. Lalu, siapa yang mendapat petunjuk dan siapa pula  yang tersesat? Jawabannya dari Al-Qur’an itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Al-Qur’an, motivasi juga memegang peran penting dalam menerima  kebenaran atau menolaknya. Allah memberikan gambaran, perumpamaan,  peringatan, dan janji-janji agar dipikirkan, tetapi orang-orang kafir  justru semakin menyimpang dari jalan yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pemikiran Islam di Tengah Pemikiran-Pemikiran Lainnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita mencari perumpamaan antara pemikiran Islam dengan pemikiran  produk manusia lainnya, ibarat bunga mawar yang dikelilingi oleh  duri-duri yang tajam. Setidaknya ada dua filsafat yang saling  kontradiktif dalam ajarannya, sementara posisi Islam berada di tengah  dan berjalan secara seimbang. Kedua filsafat itu ialah materialisme dan  spiritualisme.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. Paham Materialisme</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita memperhatikan sistem yang berlaku sekarang, kebanyakan  berdiri di atas paham “materialisme”, suatu paham yang mengumandangkan  “sekularisme” dan menyanjung-nyanjungnya. Memang penerapan paham ini di  sebagian negeri masih memberikan ruang bagi “agama”, tetapi ia  menempatkan agama pada posisi yang sangat terbatas. Sementara, di  negara-negara tertentu agama benar-benar diperangi dan diharamkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya materialisme adalah paham yang dasar dan akarnya sudah  sangat jauh ditelan sejarah, tetapi muncul ke permukaan dengan nama dan  simbol yang berbeda-beda, namun akarnya sama, yaitu mementingkan materi  dan menjadikannya sebagai dasar dan pijakan, baik mengakui posisi agama  ataupun mengingkarinya secara total.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an sudah lama mengidentifikasi paham ini dengan mengatakan, <em>“Kehidupan  kami tidak ada lain dari kehidupan dunia, kami mengalami mati dan hidup  dan kami tidak akan dibangkitkan lagi.”</em> (Al-Mu’minun: 37).</p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan yang didasarkan atas paham ini akan mengalami  tantangan-tantangan yang cukup berat, karena tuntutan manusia yang cukup  mendesak pada pemenuhan kebutuhan rohani dan alam ghaib, sebagaimana  kebutuhan fisik dan materi. Kenyataan yang dialami umat manusia  belakangan ini sebenarnya sudah cukup menjadi “jawaban” bagi mereka yang  memandang hidup ini hanya materi, dan mereka membangun teori, sikap,  dan kehidupannya atas dasar materi murni. Tidak ada kondisi di mana  manusia dalam keadaan paling sengsara dari kondisi kehidupan materialis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>b. Tenggelam dalam Spiritualisme (Pola Hidup Kerahiban)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Paham ini kebalikan dari paham pertama, dan sama-sama tidak memberikan  jawaban yang memuaskan bagi manusia. Bagi penganut paham ini,  penyiksaan diri, menjauhi kehidupan materi adalah ukuran kebahagiaan  seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sejarah umat manusia, filsafat ini ditampilkan oleh  pemuka-pemuka agama Nasrani (rahib) yang cenderung hidup menyiksa  dirinya untuk meraih ridha tuhannya. Sangat mengerikan jika kita  mendengar gaya hidup para rahib itu. Ada di antara mereka yang tidak  menyentuh air selama empat puluh tahun, karena menurut keyakinannya  bahwa hidup bersih dan rapi dapat mengurangi penghambaan manusia kepada  Tuhan. Ada pula yang hidup dan tidur di comberan hingga ulat-ulat  menyantapi daging-daging tubuhnya. Ada lagi yang berdiri dengan kaki  sebelah selama lima belas tahun. Banyak cerita-cerita aneh yang  dilakukan para rahib untuk menjauhi kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, paham yang sesuai dengan fitrah manusia adalah Islam.  Islam berada di tengah-tengah dari kedua keadaan yang ekstrem tersebut.  Betapa indahnya hidup di bawah naungan Islam yang mencarikan bagi  manusia jalan kehidupan yang seimbang di dunia dan selamat di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: Diadaptasi dari <em>Islam dalam Berbagai Dimensi</em>, Dr.  Daud Rasyid, M.A. (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), hlm. 87-97).</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh: Abu Annisa (<a href="http://www.alislamu.com/">www.alislamu.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/metode-berpikir-islami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JUJUR MEMBAWA SELAMAT</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 13:07:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=431</guid>
		<description><![CDATA[Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di <a href='http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Jujur adalah sebuah ungkapan yang sering kita dengar dan menjadi pembicaraan di berbagai khutbah dan taushiyah. Akan tetapi bisa jadi pembicaraan tersebut baru menyentuh sisi luarnya saja dan belum menyentuh pembahasan inti dari makna jujur itu sendiri. Apalagi perkara kejujuran merupakan perkara yang berkaitan dengan banyak masalah keislaman, baik itu akidah, akhlak ataupun muamalah; di mana yang terakhir ini memiliki banyak cabang, seperti perkara jual-beli, utang-piutang, sumpah, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur merupakan sifat yang terpuji. Allah dan Rasul-Nya memuji orang-orang yang mempunyai sifat jujur dan menjanjikan balasan yang berlimpah untuk mereka. Sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang shahih bahwa Nabi bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا</p>
<p style="text-align: justify;">“Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR al-Bukhari dan Muslim, teks hadis mengikuti versi Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Definisi Jujur</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur artinya keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Jadi, kalau suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada, maka dikatakan benar/jujur, tetapi kalau tidak, maka dikatakan dusta. Kejujuran itu ada pada ucapan, juga ada pada perbuatan, sebagaimana seorang yang melakukan suatu perbuatan, tentu sesuai dengan yang ada pada batinnya. Seorang yang berbuat riya’ tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia telah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan (di dalam batinnya). Demikian juga seorang munafik tidaklah dikatakan sebagai seorang yang jujur karena dia menampakkan dirinya sebagai seorang yang bertauhid, padahal sebaliknya. Hal yang sama berlaku juga pada pelaku bid’ah; secara lahiriah tampak sebagai seorang pengikut Nabi, tetapi hakikatnya dia menyelisihi beliau. Yang jelas, kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya, dusta, merupakan sifat orang yang munafik.<span id="more-431"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnul Qayyim berkata, “Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya adalah kedustaan. Maka, tidak akan pernah bertemu antara kedustaan dan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan yang mampu menyelamatkannya dari azab, kecuali kejujurannya (kebenarannya). Allah berfirman, “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka.” (QS al-Maidah:119)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. az-Zumar:33)</p>
<p style="text-align: justify;">Keutamaan Jujur</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur karena kejujuran merupakan dasar akhlak mulia yang akan mengarahkan pemiliknya kepada akhlak tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat bajik kepada sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sifat jujur merupakan tanda sempurnanya keislaman, timbangan keimanan, dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Karena itu, orang yang jujur akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya, seorang hamba akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejujuran senantiasa mendatangkan berkah, sebagaimana disitir dalam hadist yang diriwayatkan dari Hakim bin Hizam dari Nabi, beliau bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">“Penjual dan pembeli diberi kesempatan berfikir selagi mereka belum berpisah. Seandainya mereka jujur serta membuat penjelasan mengenai barang yang diperjualbelikan, mereka akan mendapat berkah dalam jual beli mereka. Sebaliknya, jika mereka menipu dan merahasiakan mengenai apa-apa yang harus diterangkan tentang barang yang diperjualbelikan, maka akan terhapus keberkahannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan sehari-hari –dan ini merupakan bukti yang nyata– kita dapati seorang yang jujur dalam bermuamalah dengan orang lain, rezekinya lancar-lancar saja, orang lain berlomba-lomba datang untuk bermuamalah dengannya, karena merasa tenang bersamanya dan ikut mendapatkan kemulian dan nama yang baik. Dengan begitu sempurnalah baginya kebahagian dunia dan akherat.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidaklah kita dapati seorang yang jujur, melainkan orang lain senang dengannya, memujinya. Baik teman maupun lawan merasa tentram dengannya. Berbeda dengan pendusta. Temannya sendiripun tidak merasa aman, apalagi musuh atau lawannya. Alangkah indahnya ucapan seorang yang jujur, dan alangkah buruknya perkataan seorang pendusta.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang jujur diberi amanah baik berupa harta, hak-hak dan juga rahasia-rahasia. Kalau kemudian melakukan kesalahan atau kekeliruan, kejujurannya –dengan izin Allah- akan dapat menyelamatkannya. Sementara pendusta, sebiji sawipun tidak akan dipercaya. Jikapun terkadang diharapkan kejujurannya itupun tidak mendatangkan ketenangan dan kepercayaan. Dengan kejujuran maka sah-lah perjanjian dan tenanglah hati. Barang siapa jujur dalam berbicara, menjawab, memerintah (kepada yang ma’ruh), melarang (dari yang mungkar), membaca, berdzikir, memberi, mengambil, maka ia disisi Allah dan sekalian manusia dikatakan sebagai orang yang jujur, dicintai, dihormati dan dipercaya. Kesaksiaannya merupakan kebenaran, hukumnya adil, muamalahnya mendatangkan manfaat, majlisnya memberikan barakah karena jauh dari riya’ mencari nama. Tidak berharap dengan perbuatannya melainkan kepada Allah, baik dalam salatnya, zakatnya, puasanya, hajinya, diamnya, dan pembicaraannya semuanya hanya untuk Allah semata, tidak menghendaki dengan kebaikannya tipu daya ataupun khiyanat. Tidak menuntut balasan ataupun rasa terima kasih kecuali kepada Allah. Menyampaikan kebenaran walaupun pahit dan tidak mempedulikan celaan para pencela dalam kejujurannya. Dan tidaklah seseorang bergaul dengannya melainkan merasa aman dan percaya pada dirinya, terhadap hartanya dan keluarganya. Maka dia adalah penjaga amanah bagi orang yang masih hidup, pemegang wasiat bagi orang yang sudah meninggal dan sebagai pemelihara harta simpanan yang akan ditunaikan kepada orang yang berhak.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang yang beriman dan jujur, tidak berdusta dan tidak mengucapkan kecuali kebaikan. Berapa banyak ayat dan hadist yang menganjurkan untuk jujur dan benar, sebagaimana firman-firman Allah yang berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (Q.S. at-Taubah:119)</p>
<p style="text-align: justify;">“Allah berfirman, ‘Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.’” (Q.S. al-Maidah:119)</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)</p>
<p style="text-align: justify;">“Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Q.S. Muhammad:21)</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi bersabda, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada yang tidak meragukanmu, sesungguhnya kejujuran, (mendatangkan) ketenangan dan kebohongan, (mendatangkan) keraguan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Macam-Macam Kejujuran</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam niat dan kehendak. Ini kembali kepada keikhlasan. Kalau suatu amal tercampuri dengan kepentingan dunia, maka akan merusakkan kejujuran niat, dan pelakunya bisa dikatakan sebagai pendusta, sebagaimana kisah tiga orang yang dihadapkan kepada Allah, yaitu seorang mujahid, seorang qari’, dan seorang dermawan. Allah menilai ketiganya telah berdusta, bukan pada perbuatan mereka tetapi pada niat dan maksud mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam ucapan. Wajib bagi seorang hamba menjaga lisannya, tidak berkata kecuali dengan benar dan jujur. Benar/jujur dalam ucapan merupakan jenis kejujuran yang paling tampak dan terang di antara macam-macam kejujuran.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam tekad dan memenuhi janji. Contohnya seperti ucapan seseorang, “Jikalau Allah memberikan kepadaku harta, aku akan membelanjakan semuanya di jalan Allah.” Maka yang seperti ini adalah tekad. Terkadang benar, tetapi adakalanya juga ragu-ragu atau dusta. Hal ini sebagaimana firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;">“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Q.S. al-Ahzab:23)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat yang lain, Allah berfirman, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (Q.S. at-Taubah:75-76)</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam perbuatan, yaitu seimbang antara lahiriah dan batin, hingga tidaklah berbeda antara amal lahir dengan amal batin, sebagaimana dikatakan oleh Mutharrif, “Jika sama antara batin seorang hamba dengan lahiriahnya, maka Allah akan berfirman, ‘Inilah hambaku yang benar/jujur’”.</p>
<p style="text-align: justify;">Jujur dalam kedudukan agama. Ini adalah kedudukan yang paling tinggi, sebagaimana jujur dalam rasa takut dan pengharapan, dalam rasa cinta dan tawakkal. Perkara-perkara ini mempunyai landasan yang kuat, dan akan tampak kalau dipahami hakikat dan tujuannya. Kalau seseorang menjadi sempurna dengan kejujurannya maka akan dikatakan orang ini adalah benar dan jujur, sebagaimana firman Allah,</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Hujurat:15)</p>
<p style="text-align: justify;">Realisasi perkara-perkara ini membutuhkan kerja keras. Tidak mungkin seseorang manggapai kedudukan ini hingga dia memahami hakikatnya secara sempurna. Setiap kedudukan (kondisi) mempunyai keadaannya sendiri-sendiri. Ada kalanya lemah, ada kalanya pula menjadi kuat. Pada waktu kuat, maka dikatakan sebagai seorang yang jujur. Dan jujur pada setiap kedudukan (kondisi) sangatlah berat. Terkadang pada kondisi tertentu dia jujur, tetapi di tempat lainnya sebaliknya. Salah satu tanda kejujuran adalah menyembunyikan ketaatan dan kesusahan, dan tidak senang orang lain mengetahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;">dikutip: abah zachy site</p>
<p style="text-align: justify;"><em>sumber : http://arrahmah.com/read/2007/09/17/1003-jujur-membawa-selamat.html</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/jujur-membawa-selamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

