<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>code4769&#039;s site &#187; islam</title>
	<atom:link href="http://www.inilahjalanku.com/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inilahjalanku.com</link>
	<description>Portal IT &#38; Islamic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Aug 2010 03:22:20 +0000</lastBuildDate>
	<meta name="generator" content="captbbx@yahoo.com" />	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>universitas kehidupan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 03:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menangis …
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk tersenyum.
Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu mengeluh …
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk bersyukur.
Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menyerah …
Tunjukkanlah 1001 janji Allah bahwa Kamu akan Berjaya, sebab

Ketika kerjamu tidak dihargai,
Maka saat itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menangis …<br />
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk tersenyum.</p>
<p>Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu mengeluh …<br />
Tunjukkanlah bahwa Kamu punya 1001 alasan untuk bersyukur.</p>
<p>Ketika dunia memberi 1000 alasan untuk membuat Kamu menyerah …<br />
Tunjukkanlah 1001 janji Allah bahwa Kamu akan Berjaya, sebab<br />
<span id="more-314"></span><br />
Ketika kerjamu tidak dihargai,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang KETULUSAN.</p>
<p>Ketika usahamu dinilai tidak penting,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar KEIKHLASAN.</p>
<p>Ketika hatimu terluka sangat dalam,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang MEMAAFKAN.</p>
<p>Ketika Kamu harus lelah &#038; kecewa,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang KESUNGGUHAN.</p>
<p>Ketika Kamu merasa sepi &#038; sendiri,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar KETANGGUHAN.</p>
<p>Ketika Kamu harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu Kamu tanggung,<br />
Maka saat itu Kamu sedang belajar tentang KEMURAHHATIAN</p>
<p>Dunia ini terlalu hina untuk membuat Kamu menangis<br />
… Terlalu murah untuk membuat Kamu bersedih,</p>
<p>… Terlalu lemah untuk membuat Kamu putus asa</p>
<p>Tersenyumlah …<br />
Karena Kamu mendapat kesempatan &#038; sedang menimba ilmu diuniversitas kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/universitas-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara diet mudah gampang cepat aman alami</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/cara-diet-mudah-gampang-cepat-aman-alami/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/cara-diet-mudah-gampang-cepat-aman-alami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 18:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[ada aja]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[ini adalah sebuah artikel yang saya dapat dari internet. berisi tentang diet atau mungkin lebih tepat disebut gaya hidup sehat rosulullah. bagi yang memiliki masalah berat badan atau kelebihan lemak,   mungkin dengan mengamalkan isi artikel ini bisa sedikit membantu. InsyaAllah.




&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari,  kita tak boleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ini adalah sebuah artikel yang saya dapat dari internet. berisi tentang diet atau mungkin lebih tepat disebut gaya hidup sehat rosulullah. bagi yang memiliki masalah berat badan atau kelebihan lemak, <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  mungkin dengan mengamalkan isi artikel ini bisa sedikit membantu. InsyaAllah.<br />
<!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --><br />
<script src="http://adsensecamp.com/show/?id=kFjfdNYnvtU%3D&#038;cid=TlffQoaJN%2F0%3D&#038;chan=m2Emmfw1PFc%3D&#038;type=2&#038;title=3D81EE&#038;text=000000&#038;background=FFFFFF&#038;border=FFFFFF&#038;url=2BA94F" type="text/javascript">
</script><br />
<!-- End: http://adsensecamp.com/ --><br />
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Rupanya tanpa kita sadari, dalam makanan yang kita makan sehari-hari,  kita tak boleh sembarangan. Hal inilah penyebab terjadinya berbagai  penyakit antara lain penyakit kencing manis,lumpuh, sakit jantung,  keracunan makanan dan lain-lain penyakit. Apabila anda telah mengetahui  ilmu ini, tolonglah ajarkan kepada yang lainnya. Ini pun adalah diet  Rasullulah SAW kita juga. Ustaz Abdullah Mahmood mengungkapkan,  Rasullulah tak pernah sakit perut sepanjang hayatnya karena pandai  menjaga makanannya sehari-hari. Insya Allah kalau anda ikut diet  Rasullullah ini, Anda takkan menderita sakit perut ataupun keracunan  makanan.</p>
<p>Jangan makan SUSU bersama DAGING<br />
Jangan makan DAGING  bersama IKAN<br />
Jangan makan IKAN bersama SUSU<br />
Jangan makan AYAM  bersama SUSU<br />
Jangan makan IKAN bersama TELUR<!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --><br />
<script src="http://adsensecamp.com/show/?id=kFjfdNYnvtU%3D&#038;cid=TlffQoaJN%2F0%3D&#038;chan=m2Emmfw1PFc%3D&#038;type=2&#038;title=3D81EE&#038;text=000000&#038;background=FFFFFF&#038;border=FFFFFF&#038;url=2BA94F" type="text/javascript">
</script><br />
<!-- End: http://adsensecamp.com/ --><span id="more-232"></span><br />
Jangan makan IKAN  bersama DAUN SALAD<br />
Jangan makan SUSU bersama CUKA<br />
Jangan makan  BUAH bersama SUSU (Contoh : KOKTEL)</p>
<p>CARA MAKAN :</p>
<p>* Jangan  makan buah setelah makan nasi, sebaliknya makanlah buah terlebih dahulu,  baru makan nasi.</p>
<p>* Tidur 1 jam setelah makan tengah hari.</p>
<p>*  Jangan sesekali tinggal makan malam. Barang siapa yg tinggal makan  malam dia akan dimakan usia dan kolesterol dalam badan akan berganda.<br />
Nampak  memang sulit.. tapi, kalau<br />
tak percaya… cobalah….. Pengaruhnya tidak  dalam jangka<br />
pendek…. Akan berpengaruh bila kita sudah tua nanti.</p>
<p>*  Dalam Al-Quran juga melarang kitamakan makanan darat bercampur dengan  makanan laut.<br />
Nabi pernah mencegah kita makan ikan<br />
bersama susu.  karena akan cepat mendapat penyakit. Ini terbukti oleh ilmuwan<br />
yang  menemukan bahwa dalam daging ayam mengandung ion+ sedangkan dalam ikan<br />
mengandung  ion-, jika dalam makanan kita ayam bercampur dengan ikan maka akan<br />
terjadi  reaksi biokimia yang akan dapat merusak usus kita.</p>
<p>* Al-Quran  Juga mengajarkan kita menjaga kesehatan spt membuat amalan antara lain:<br />
1.  Mandi Pagi sebelum subuh, sekurang kurangnya sejam sebelum matahari  terbit. Air sejuk yang meresap kedalam badan dapat mengurangi penimbunan  lemak. Kita boleh saksikan orang yang mandi pagi kebanyakan badan tak  gemuk.<br />
2. Rasulullah mengamalkan minum segelas air sejuk (bukan air  es) setiap pagi. Mujarabnya Insya Allah jauh dari penyakit (susah  mendapat sakit).<br />
3. Waktu sembahyang subuh disunatkan kita bertafakur  (yaitu sujud sekurang kurangnya semenit setelah membaca doa). Kita akan  terhindar dari sakit kepala atau migrain. Ini terbukti oleh para  ilmuwan yang membuat kajian kenapa dalam sehari perlu kita sujud.  Ahli-ahli sains telah menemui beberapa milimeter ruang udara dalam  saluran darah di kepala yg tidak dipenuhi darah. Dengan bersujud maka  darah akan mengalir keruang tersebut.<br />
4. Nabi juga mengajar kita  makan dengan tangan dan bila habis hendaklah menjilat jari.<br />
5. Begitu  juga ahli saintis telah menemukan bahwa enzyme banyak terkandung di  celah jari jari, yaitu 10 kali ganda terdapat dalam air liur. (enzyme  sejenis alat percerna makanan).<br />
Sabda nabi, Ilmu itu milik Allah,  barang siapa menyebarkan ilmu demi kebaikan insya Allah Allah akan  menggandakan 10 kali kepadanya</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Sumber : <a onmousedown="UntrustedLink.bootstrap($(this), &quot;40603&quot;, event);" rel="nofollow" href="http://www.bloggaul.com/qorina/readblog/89833/pernah-baca-ini-diet-cara-rasulullah-saw" target="_blank">http://www.bloggaul.com/qorina/readblog/89833/pernah-baca-ini-diet-cara-rasulullah-saw</a><!-- Begin: http://adsensecamp.com/ --><br />
<script src="http://adsensecamp.com/show/?id=kFjfdNYnvtU%3D&#038;cid=TlffQoaJN%2F0%3D&#038;chan=m2Emmfw1PFc%3D&#038;type=2&#038;title=3D81EE&#038;text=000000&#038;background=FFFFFF&#038;border=FFFFFF&#038;url=2BA94F" type="text/javascript">
</script><br />
<!-- End: http://adsensecamp.com/ --></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/cara-diet-mudah-gampang-cepat-aman-alami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA SAMPAI LAHIRNYA NU DAN MUHAMMADIYAH</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Islam masuk di Indonesia pada abad pertengahan. Pada umumnya, golongan yang membawa Islam ke Indonesia bukanlah penguasa, melainkan para pedagang. Mereka datang dari negeri Yaman, terutama dari Yaman Selatan yang di sana ada kota bernama Tarim yang berada di kawasan Hadramaut. Di daerah itu banyak sekali orang alim sekaligus sufi. Sufi dalam hubungannya dengan nurani, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam masuk di Indonesia pada abad pertengahan. Pada umumnya, golongan yang membawa Islam ke Indonesia bukanlah penguasa, melainkan para pedagang. Mereka datang dari negeri Yaman, terutama dari Yaman Selatan yang di sana ada kota bernama Tarim yang berada di kawasan Hadramaut. Di daerah itu banyak sekali orang alim sekaligus sufi. Sufi dalam hubungannya dengan nurani, dan alim dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan.<br />
	Selain orang-orang dari Yaman, para penyebar Islam juga berasal dari India dan Gujarat. Ciri khas dua negara ini adalah adanya persenyawaan antara agama dan budaya yang sangat kental. Mereka masuk ke Indonesia untuk berdagang sekaligus menyebarkan Islam. Akhirnya pada abad pertengahan itu, mulai timbul gerakan Islamisasi di Indonesia. <span id="more-179"></span>Pada saat itu, Indonesia sudah didominasi oleh agama Hindu dan Budha. Hindu dengan Majapahit-nya dan Budha dengan Sriwijaya-nya. Selanjutnya terjadilah Islamisasi melalui gerakan kultural, bukan melalui sistem pemerintahan maupun melalui peperangan, melainkan melalui persenyawan antara agama dan budaya setempat. Hal ini memungkinkan untuk terjadi, karena yang membawa agama Islam ke Indonesia adalah orang-orang yang agamis sekaligus budayawan. Adapun para pemimpin penyebar Islam ini kemudian disebut dengan Wali Songo. Wali Songo itu adalah pemimpinnya, karena wali itu sebenarnya sangat banyak.<br />
	Ketika Islam masuk di Indonesia, Indonesia saat itu sudah penuh dengan budaya, baik budaya lokal Indonesia – misalnya: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Indonesia Timur, dsb. – yang sudah sangat kental sebagai adat istiadat, maupun adat istiadat yang sudah bersenyawa dengan Hindu-Budha. Kemudian Islam baru masuk untuk melakukan proses Islamisasi. Oleh karena itu, pendekatan budaya di dalam proses Islamisasi menjadi sangat mungkin terjadi, mengingat faktor pembawanya dan faktor ajarannya. Yaitu para pembawa Islam saat itu merupakan muballigh sekaligus budayawan, sedangkan ajaran Islam yang dibawa ke sini adalah ajaran madzhab Imam Syafi&#8217;i RA. Ajaran Imam Syafi&#8217;i RA ini terkenal mempunyai toleransi terhadap budaya, sepanjang budaya itu tidak bertabrakan secara diametral dengan pokok-pokok ajaran Nabi Muhammad SAW.<br />
 	Sikap Islam ala ulama&#8217; Syafi&#8217;iyyun di atas tadi mempunyai toleransi terbatas terhadap budaya, karena budaya sendiri terbagi menjadi beberapa kategori:<br />
	Budaya yang netral dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Misalnya; Sopan santun. Budaya sopan santun itu bersifat netral, karena Islam tidak mengatur hal itu. Budaya sopan santun ini bisa dimasukkan dalam kelompok &#8220;أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ&#8221; . Maksudnya; Perkara-perkara seperti itu lebih kalian ketahui, karena merupakan urusan duniamu. Contoh lagi adalah: Orang yang memakai kopyah. Hal-hal seperti ini tidak diatur oleh Islam, karena yang diatur oleh Islam adalah ketentuan menutup aurat.<br />
	Budaya yang serasi dengan agama dan dapat dijadikan alat agama. Misalnya; Gotong royong. Pada waktu Islam datang, di Indonesia sudah ada budaya gotong royong. Contoh; Ketika ada orang membuat rumah, maka para tetangga sekitarnya berhenti bekerja sejenak untuk ikut membantu mendirikan rumah tetangganya. Budaya seperti itu sangatlah bagus, karena selaras dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Maaidah :<br />
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan<br />
Jika suatu budaya itu selaras dengan agama, maka menurut Imam Syafi&#8217;i RA, budaya itu bisa diperkuat oleh agama. Inilah yang melandasi lahirnya kaidah العادة المحكمة (Adat istiadat dapat dijadikan pegangan hukum). Contoh lain; Anak menghormati orang tua dengan cara cium tangan sudah ada di Indonesia sebelum Islam datang. Kalau seseorang lewat di depan orang yang lebih tua, dia akan menunduk atau mengucapkan permisi.<br />
	Budaya yang salah namun masih bisa diperbaiki. Misalnya; Pada zaman dahulu, orang yang keluarganya meninggal dunia akan melakukan ziarah kubur dan selametan, akan tetapi niatnya tidak ditujukan kepada Allah SWT, melainkan kepada Kakik Danyang, Nyi Roro Kidul, Mak Lampir, dsb. Semua itu dilakukan dalam rangka menghormati para leluhur mereka. Menurut Imam Syafi&#8217;i RA, di dalam Islam, menghormati leluhur itu hukumnya sunnah, akan tetapi harus disertai tauhid atau meng-esa-kan Allah SWT, tidak boleh musyrik. Oleh karena itu, kemudian diaturlah bagaimana carannya budaya selametan tetap jalan dan leluhur tetap dido&#8217;akan, akan tetapi do&#8217;anya ditujukan kepada Allah SWT. Dari sinilah timbul kegiatan tahlil, talqin, membaca Qur&#8217;an, membaca shalawat, dsb. Budaya-budaya seperti ini tidak ada di luar Asia Tenggara. Orang yang tinggal di Mesir, di Saudi Arabia, dsb. kalau mereka meninggal dunia, ya sudah nggak ada urusan apa-apa lagi. Jadi, kegiatan tahlil, talqin, dsb. merupakan proses sublimasi atau pengalihan semangat ruh tauhid kepada Allah SWT untuk menggantikan ruh syirik, dengan tanpa merubah bentuk budaya yang sudah ada. Kalau ada orang bertanya, Apa dalil tahlil? Dalilnya adalah: Kita diperintahkan untuk membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah, sedangkan di dalam tahlil juga membaca kalimat tersebut. Adapun mengenai sampai-tidaknya pahala kepada si jenazah, maka jika memang nyampai, ya Alhamdulillah; kalau tidak, ya ndak apa-apa, toh sudah membaca Laa Ilaaha Illallah yang sudah pasti mendatangkan pahala. Lain lagi yang dipersoalkan adalah kenapa pahala tahlil itu kok ditransfer? sedangkan muatan dzikir di dalam tahlil sama sekali tidak dipersoalkan oleh orang-orang di luar madzhab Syafi&#8217;i RA. Contoh lain: Adat istiadat ketika panen padi. Pada masa dahulu, orang yang panen padi akan membawa tumpeng dan diletakkan di pematang sawah, kemudian tumpeng itu dibiarkan sebagai persembahan kepada Dewi Sri. Budaya seperti itu dicegah oleh Islam, namun masyarakat dahulu tetap diperkenankan untuk membawa tumpeng, hanya saja tumpeng itu diperuntukkan bagi orang yang mencangkul dalam status sebagai shadaqah. Setelah itu, bersama-sama memohon kepada Allah SWT. Demikian ini adalah contoh-contoh budaya yang salah, namun masih bisa diperbaiki. Nah, yang seperti inilah oleh orang yang bukan Syafi&#8217;iyyun, dianggap sebagai bid&#8217;ah, padahal pada awal Islam di Indonesia, hal itu justru dianggap sebagai alat dakwah. Demikian juga dengan tradisi Maulid Nabi Muhamamad SAW. Anehnya, Maulid Nabi SAW dianggap “bid&#8217;ah dhalalah” di Saudi Arabia, namun dalam memperingati rajanya, justru tidak dianggap bid&#8217;ah. Padahal muatan acara itu sama saja dengan Maulid Nabi SAW.<br />
	Budaya yang harus dipotong (dihilangkan), karena merupakan budaya yang khurafat, mungkaraat, atau maksiat, dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Contoh; Di wilayah Lombok sebelah timur terdapat suku Sasak. Di dalam suku itu ada budaya kalau seorang pemuda akan menikah, maka sebagai tanda bahwa pemuda itu cinta kepada calon istrinya, dia harus menculik dan membawa lari calon istrinya itu. Beberapa hari kemudian, ketika si wanita sudah luset, baru mereka berdua bersama-sama menghadap kepada calon mertua mereka. Adat istiadat seperti ini jelas tidak boleh dan tidak bisa diperbaiki lagi, karena budaya ini sama dengan perzinaan. Oleh karena itu, budaya seperti ini harus dipotong/dibuang.<br />
	Di dalam proses Islamisi secara kultural ini akhirnya mengakibatkan dua hal besar, yaitu:<br />
	Masyarakat Indonesia berbondong-bondong masuk agama Islam dengan kesadaran, tanpa paksaan, dan tanpa perang, namun melalui akulturasi budaya. Jadi, tidak ada perang agama di Indonesia.<br />
	Kalau gerakan dakwah kultural tadi sudah tuntas, berarti orang sudah dipindahkan dari budaya kafir menuju pada budaya Islam, atau dari budaya syirik kepada budaya tauhid. Ini kalau dakwah kultural tersebut benar-benar sudah khatam. Akan tetapi ada juga orang-orang yang pembinaannya masih belum khatam, namun sudah ditinggal wafat oleh generasi Wali Songo. Akhirnya mereka hanya mendapatkan separo ilmu. Mereka mengerti Laa Ilaaha Illallah, namun tidak mengerti shalat. Misalnya, orang-orang kebatinan yang belum selesai di-Islam-kan secara tuntas. Kelompok ini kemudian menjadi kelompok abangan. Kelompok abangan ini bukan berarti tidak percaya kepada Allah SWT, hanya saja proses Islamisasi pada mereka masih belum tuntas pembinaannya.<br />
	Pada saat jumlah penduduk Indonesia masih sebanyak 45 juta, sekitar 90 % masyarakat di Indonesia masuk Islam melalui proses akulturasi di atas. Selanjutnya datanglah gelombang pembaharuan Islam di Indonesia yang dimotori oleh orang-orang dari Saudi Arabia dan sebagian ulama&#8217;-ulama&#8217; Mesir. Mereka masuk ke Indonesia ketika masyarakat Islam Indonesia terdiri dari kaum santri dan kaum abangan. Gelombang kedua yang membawa bendera pembaharuan Islam ini masuk ke Indonesia, akan tetapi mereka tidak bisa mengerti dan memahami adanya proses akulturasi Islam dengan budaya setempat. Dalam pikiran mereka: &#8220;Islam di sini kok macem-macem, ada tahlillan, muludan, ini, itu, dsb. Sementara di negara saya tidak ada tradisi seperti ini?&#8221;. Dari sinilah tumbuh gerakan pemurniaan (purifikasi) Islam yang dipelopori oleh Muhammadiyah. Sedangkan kelompok yang mewarisi proses Islamisasi melalui akulturasi tadi mengelompok dalam wadah bernama NU (Nahdlatul Ulama&#8217;).<br />
	Posisi Muhammadiyah terhadap NU maupun terhadap umat Islam adalah melakukan pemurniaan Islam dan modernisasi Islam, karena masyarakat Islam pada saat itu masih sangat tradisional. Misalnya; Santri-santri banyak yang tidak pernah memakai celana, tidak pakai ikat pinggang, kamar mandi di pondok-pondok Pesantren banyak lumutnya, dsb. Sedemikian tradisionalnya umat Islam saat itu, akhirnya ada antisipasi berupa modernisasi. Jadi, para pembaharu Islam ini mengusung tema purifikasi (tashfiyah) dan modernisasi. Bagi Muhammadiyah, kurikulum di Pesantren-pesantren hanyalah menghabiskan waktu semata. Misalnya; Kurikulum fiqih. Pada tingkat dasar mempelajari Sullam Taufiq; tingkat lanjut mempelajari Fathul Qarib; tingkat menengah mempelajari kitab Fathul Mu&#8217;in; dan tingkat atas mempelajari kitab Fathul Wahab. Padahal semua kitab-kitab itu, bab-babnya sama, cuma keterangannya saja yang berbeda. Menurut Muhammadiyah, kurikulum seperti ini dianggap sebagai metodologi pembelajaran yang stagnan dan tidak memproses pemikiran ke depan. Oleh karena itu perlu ada modernisasi.<br />
 	Selain mengusung tema purifikasi dan modernisasi, gelombang pembaharu Islam di atas juga mengusung tema persatuan Islam dengan merujuk langsung kepada Rasulullah SAW. Menurut mereka; &#8220;Kenapa orang-orang NU memakai pendapat Imam Syafi&#8217;i, kok tidak memakai pendapat Al-Qur&#8217;an?&#8221;. Oleh karena itu, slogan yang mereka usung adalah &#8220;Kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits&#8221;. Slogan ini sekilas sepertinya benar, akan tapi sebenarnya tidak benar. Memang kita harus kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits, akan tetapi bagaimana cara kembalinya? Al-Qur&#8217;an itu ibarat UUD  yang masih bersifat mujmal (global), sehingga Al-Qur&#8217;an itu harus dirinci lagi melalui metode Tafsirul Qur&#8217;an bil Qur&#8217;an (Menafsiri suatu Ayat Al-Qur&#8217;an dengan Ayat Al-Qur&#8217;an yang lain), atau melalui metode Tafsirul Qur&#8217;an bil Hadits (Menafsiri Al-Qur&#8217;an dengan Hadits yang berfungsi sebagai penjelas). Selanjutnya hasil tafsiran di atas masih harus dirinci lahi oleh pemikiran para ulama&#8217; yang dikondisikan oleh ruang dan waktu, dari sinilah kemudian lahir hukum positif Islam. Sama seperti UUD di Indonesia. Kalau ada orang tertangkap karena mencuri sepeda motor, maka dasar hukum untuk menangkapnya bukan mengacu pada UUD 45, melainkan mengacu pada ketentuan KUHP yang merupakan rincian UUD 45 yang jenjangnya sudah nomor kesekian. Ini bagaimana, orang disuruh kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, akan tetapi tidak diberi tahu bagaimana cara kembalinya?<br />
	Karena kelompok pembaharu Islam ini menggunakan metode kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits, maka mereka tidak mau kembali kepada madzhab, karena madzhab dianggap sektarianitas atau melakukan pengkotak-kotakan umat Islam. Secara teoritis, kalau semua kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits, tentu akan bertemu pada satu titik. Akan tetapi karena banyak yang tidak mengetahui cara kembalinya, akhirnya sejumlah orang yang mengaku kembali ke Al-Qur&#8217;an dan Hadits, sejumlah itu pula madzhab yang muncul.<br />
	Akhirnya apa yang terjadi? Yang terjadi adalah konflik antara NU dan Muhammadiyah dalam wacana ijtihad, taqlid, bermadzhab, dsb. Semenjak saya kecil, pertengkaran antara NU dan Muhammadiyah ini begitu tajam, namun sekarang ini sudah tidak tajam lagi, karena orang yang mengaku kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits itu ternyata tidak bisa balik lagi – istilahnya; Iso budal, nggak iso mulih – karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup untuk kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits. Memang slogan ini ketika berupa wacana, tampak logis sekali, akan tetapi ketika harus difaktakan, banyak yang tidak bisa melakukannya. Misalnya saja ada seruan: &#8220;Wahai orang-orang Islam, mari kita kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits.” Tentu tidak mungkin bisa, karena membaca Al-Qur&#8217;an saja masih belum begitu lancar. Karena tidak mungkin melaksanakan slogan tadi, akhirnya banyak yang putus asa dan masing-masing orang mengikuti gurunya sendiri-sendiri. Padahal tindakan mengikuti gurunya sendiri-sendiri itu sama saja dengan bermadzhab.<br />
	Akhirnya pertikaian antara NU dan Muhammadiyah mulai mereda. Mereka tetap bersatu sekalipun ada perbedaan di antara keduanya, karena sama-sama mengerti akan perbedaan pendapat kedua golongan tersebut. Sekarang ini, konflik antara NU dengan Muhammadiyah menurun jauh dibandingkan dengan kondisi dulu. Mereka dulu berkelahi dan masing-masing merasa paling berhak masuk surga. Baik warga NU maupun Muhamamdiyah sudah berdebat, sekalipun tidak ada ilmunya, bahkan di pasar-pasar sekalipun. Sekarang ini semuanya sudah lumer, dan yang tersisa di dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah ini adalah fanatisme golongan, bukan lagi tentang wacana keagamaan. Artinya; konflik sudah bergeser dari wacana aqidah dan syari&#8217;ah, menjadi wacana interest dan opportunity.  Persaingan antara NU dan Muhammadiyah ini menurun drastis, setelah ada regenerasi, yaitu semenjak tahun 80&#8242;-an. Persaingan yang tertinggal sekarang adalah persaingan nama, simbol-simbol, dsb.<br />
	Sekarang ini, NU mulai mengejar ketertinggalan dalam hal manajemen, kebersihan, metode, dll., sedangkan Muhammadiyah yang merasa kering karena ndak ada dzikirnya, ia juga mulai mengimpor dzikir. Akhirnya terjadilah crossline dan saling membutuhkan. Ibaratnya; Yang NU tidak bisa kamar mandinya berlumut terus, sedangkan yang Muhammadiyah juga tidak bisa pakai celana terus. Makin lama, golongan Muhammadiyah ini ingin hatinya terisi, karena sebelumnya mereka itu tergolong rasionalistik, bukan sufistik. Sedangkan kalangan NU kebanyakan sufistik, sehingga terkadang tidak bisa dibedakan antara orang sufi dengan orang kebatinan. </p>
<p>By : CAPTBBX<br />
  mail : captbbx@yahoo.com</p>
<p>Admin said : jika ada protes tentang artikel buatan captbbx, silahkan email ke dia, jangan ke saya.. <img src='http://www.inilahjalanku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Memakai Cincin Selain dari Emas Bagi Laki-Laki</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/hukum-memakai-cincin-selain-dari-emas-bagi-laki-laki/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/hukum-memakai-cincin-selain-dari-emas-bagi-laki-laki/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 23:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya,  dia berkata:
أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ شَبَهٍ فَقَالَ لَهُ مَا لِي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الْأَصْنَامِ فَطَرَحَهُ ثُمَّ جَاءَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ فَطَرَحَهُ
           [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya,  dia berkata:</p>
<p>أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ شَبَهٍ فَقَالَ لَهُ مَا لِي أَجِدُ مِنْكَ رِيحَ الْأَصْنَامِ فَطَرَحَهُ ثُمَّ جَاءَ وَعَلَيْهِ خَاتَمٌ مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ مَا لِي أَرَى عَلَيْكَ حِلْيَةَ أَهْلِ النَّارِ فَطَرَحَهُ</p>
<p>            “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan cincin terbuat dari kuningan. Lalu Beliau bersabda kepadanya: “Kenapa saya mencium darimu aroma berhala?” lalu dia membuangnya. Kemudian datang kepadanya yang memakai cincin dari besi, lalu Beliau bersabda kepadanya: “Kenapa saya melihatmu memakai perhiasan penduduk neraka?” lalu dia membuangnya. (HR. Abu Daud No. 4223. An Nasa’i No. 5159, lafaz ini milik Abu Daud)</p>
<p>            Sementara dalam lafaz Imam At Tirmidzi, ada redaksi tambahan:</p>
<p>ثم أتاه وعليه خاتم من ذهب فقال مالي أرى عليك حلية أهل الجنة</p>
<p>            Kemudian datang kepadanya seseorang yang memakai cincin dari emas. Lalu Beliau bersabda: “Kenapa saya melihat padamu perhiasan penduduk surga?” (HR. At Tirmidzi No. 1785, katanya: gharib)</p>
<p>            Hadits ini sering dijadikan dalil keharaman memakai cincin buat laki-laki baik dari kuningan, besi,   perak, dan emas. Tetapi, semua riwayat ini dhaif. (Lihat Adabuz Zifaf Hal. 128. Al Misykah No. 4396. Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 4223. Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i No. 5159)</p>
<p>            Kedhaifan ini lantaran dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Muslim Abu Thayyibah As Sulami Al Mawarzi. Abu Hatim Ar Razi mengatakan: haditsnya ditulis tetapi dia tidak bisa dijadikan hujjah. (Al Jarh wa Ta’dil, 5/165/671. Darul Kutub Al Mishriyah)</p>
<p>            Imam Ibnu Hibban mengatakan: dia  melakukan kesalahan dan berselisih. (Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi,  ‘Aunul Ma’bud, 11/191. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)</p>
<p>            Maka dalam masalah ini, ketiadaan dalil pengharaman, merupakan dalil bagi kebolehan. Kita mesti kembali kepada bara’atul ashliyah (kembali kepada hukum asal) yakni bolehnya memakai cincin selain emas, baik itu besi, kuningan, dan perak, atau logam lainnya walau berharga tinggi.<span id="more-134"></span></p>
<p>            Imam Asy Syafi’i Rahimahullah mengatakan:</p>
<p>ولا اكره للرجل لبس اللؤلؤ إلا للادب وأنه من زى النساء لا للتحريم ولا أكره لبس ياقوت ولا زبرجد إلا من جهة السرف أو الخيلاء</p>
<p>            “Saya tidak memakruhkan bagi laki-laki yang memakai mutiara, kecuali karena adab saja sebab itu merupakan hiasan wanita, tidak menunjukkan haram. Dan saya tidak memakruhkan memakai yaqut dan permata, kecuali jika berlebihan dan sombong.” (Al Umm, 1/254. Darul Fikr)</p>
<p>            Orang-orang mulia pun memakainya, Imam Ahmad menyebutkan bahwa Abdullah bin Mas’ud memakai cincin besi (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 17/113. Muasasah Al Qurthubah). Sedangkan Syuraik sebelum diangkat menjadi qadhi, juga Imam Abu Hanifah, memakai cincin perak. (Ibid, 17/115) kalau pun banyak para salaf yang tidak memakai cincin tidak berarti mereka mengharamkan.</p>
<p>Tentang cincin besi, Imam An Nawawi mengatakan:</p>
<p>وَلِأَصْحَابِنَا فِي كَرَاهَته وَجْهَانِ : أَصَحّهمَا لَا يُكْرَه لِأَنَّ الْحَدِيث فِي النَّهْي عَنْهُ ضَعِيف</p>
<p>            “Dan bagi sahabat-sahabat kami, tentang kemakruhan memakai cincin besi ada dua pendapat, yang paling benar adalah tidak makruh. Karena hadits tentang larangannya adalah dhaif. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/134. Mauqi’ Ruh Al Islam)</p>
<p>            Adapun keharaman emas bagi laki-laki telah ditegaskan oleh banyak riwayat shahih, bahkan mutawatir. Ada pun selain emas, maka pihak yang mengharamkan tidak memiliki pijakan yang kuat. Oleh karena itu berkata Imam Abu Thayyib Syamsul Haq Al Azhim Abadi tentang perak:</p>
<p> قُلْت : وَالْحَدِيث مَعَ ضَعْفه يُعَارِض حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة مَرْفُوعًا بِلَفْظِ &#8221; وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالْفِضَّةِ فَالْعَبُوا بِهَا &#8221; أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَسَيَأْتِي وَإِسْنَاده صَحِيح ، فَإِنَّ هَذَا الْحَدِيث يَدُلّ عَلَى الرُّخْصَة فِي اِسْتِعْمَال الْفِضَّة لِلرِّجَالِ ، وَأَنَّ فِي تَحْرِيم الْفِضَّة عَلَى الرِّجَال لَمْ يَثْبُت فِيهِ شَيْء عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّمَا جَاءَتْ الْأَخْبَار الْمُتَوَاتِرَة فِي تَحْرِيم الذَّهَب وَالْحَرِير عَلَى الرِّجَال فَلَا يَحْرُم عَلَيْهِمْ اِسْتِعْمَال الْفِضَّة إِلَّا بِدَلِيلٍ وَلَمْ يَثْبُت فِيهِ دَلِيل . وَاَللَّه أَعْلَم</p>
<p>            “Saya berkata: hadits ini bersamaan kedhaifannya telah bertentangan dengan hadits Abu Hurairah secara marfu’ dengan lafaz: “Tetapi hendaknya kalian memakai perak maka bermainlah dengannya..” Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam hadits selanjutnya, dengan sanad yang shahih. Hadits ini menunjukkan keringanan dalam menggunakan perak bagi laki-laki, ada pun pengharaman perak bagi laki-laki tidak ada satu pun yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang ada hanyalah riwayat mutawatir tentang pengharaman emas dan sutera bagi laki-laki. Maka, tidaklah mereka diharamkan memakai perak kecuali dengan dalil, dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dalam masalah ini. Wallahu A’lam.” (Ibid, 11/190)</p>
<p>            Imam Asy Syaukani juga menyatakan kebolehannya, menurutnya tidak satu pun hadits shahih tentang pengharaman cincin perak, dan beliau juga menyebutkan hadits “Tetapi hendaknya kalian memakai perak maka bermainlah dengannya sesuai selera,” sebagai penguat kebolehannya. (Nailul Authar, 1/67. Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)</p>
<p>            Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr mengatakan:</p>
<p>وأن خاتم النبي صلى الله عليه وسلم كان من فضة، وأنه توفي وهو في يده، ثم صار في يد أبي بكر ثم في يد عمر ثم في يد عثمان ، وفي أثناء خلافته سقط من يده في بئر أريس. فاتخاذ الخاتم من الفضة ثبتت فيه الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم</p>
<p>            &#8220;Sesungguhnya cincin Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam terbuat dari perak, ketika beliau wafat cincin itu masih ditangannya, lalu berpindah tangan ke  Abu Bakar, kemudian ke tangan Umar, kemudian Utsman. Ketika masa kekhilafahan Utsman jatuh dari tangannya ke sumur urais. Menggunakan cincin perak telah dikuatkan oleh berbagai hadits dari Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi wa Sallam. (Syaikh Abdul Muhsin Al &#8216;Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, No. 473. Maktabah Misykah)</p>
<p>Imam Ibnu Muflih mengatakan:</p>
<p>لاَ أَعْرِفُ عَلَى تَحْرِيمِ لُبْسِ الْفِضَّةِ نَصًّا عَنْ أَحْمَدَ وَكَلاَمُ شَيْخِنَا ( يَعْنِي ابْنَ تَيْمِيَّةَ ) يَدُل عَلَى إِبَاحَةِ لُبْسِهَا لِلرِّجَال إِلاَّ مَا دَل الشَّرْعُ عَلَى تَحْرِيمِهِ ، أَيْ مِمَّا فِيهِ تَشَبُّهٌ أَوْ إِسْرَافٌ أَوْ مَا كَانَ عَلَى شَكْل صَلِيبٍ وَنَحْوِهِ</p>
<p>            “Aku tidak mengetahui adanya perkataan dari Imam Ahmad tentang pengharaman memakai perak. Dan ucapan syaikh kami (yakni Ibnu Tamiyah) menunjukkan kebolehan memakai perak bagi laki-laki, kecuali jika ada dalil syara’ yang menunjukkan keharamannya, yaitu apa-apa yang di dalamnya terdapat penyerupaan (dengan emas) dan berlebihan, atau yang bentuknya menyerupai salib, dan lainnya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 18/111)</p>
<p>            Ulama dari Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah membolehkan memakai cincin walaupun sedang ihram. (Ibid, 2/170)</p>
<p>            Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah mengatakan:</p>
<p>لا حرج في لبس الساعة في اليد اليمنى أو اليسرى كالخاتم وقد ثبت عن النبي ، &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; ، أنه لبس الخاتم في اليمنى وفي اليسرى ، ولا حرج في لبس الحديد من الساعة والخاتم لما ثبت عن النبي ، &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; ، في الصحيحين أنه قال للخاطب { التمس ولو خاتماً من حديد } أما ما يروى عنه، &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; ، في التنفير من ذلك فشاذ مخالف لهذا الحديث الصحيح .</p>
<p>            “Tidak mengapa memakai jam di tangan kanan atau kiri sebagaimana cincin. Telah tsabit (shahih) dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau memakai cincin di kanan dan di kiri, dan tidak mengapa memakai jam dan cincin dari besi, sebab telah tsabit dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Shahihain, bahwa Beliau bersabda kepada orang yang melamar: “Carilah mahar walau dengan cincin dari besi.” Ada pun riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukkan agar hal itu dijauhi adalah riwayat yang syadz (janggal) bertentangan dengan hadits shahih ini.” (Fatawa Islamiyah, 4/324. Dikumpulkan dan disusun oleh Muhammad bin Abdul Aziz Al Musnid)        </p>
<p>            Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin juga menjadikan hadits: “Carilah mahar walau dengan cincin dari besi,” sebagai dalil bolehnya memakai cincin besi. (Syaikh Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Darb, No. 193)</p>
<p>            Demikian tentang kebolehan memakai cincin selain emas, beserta fatwa para imam, dan penjelasan dhaifnya hadits yang melarangnya.</p>
<p>            Wallahu A&#8217;lam</p>
<p>Oleh: Farid Nu’man Hasan</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/hukum-memakai-cincin-selain-dari-emas-bagi-laki-laki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera Obscura yang Mengubah Dunia</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 09:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent  pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;  The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.
Kamera  merupakan salah satu penemuan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent  pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;  The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamera  merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim<span id="more-123"></span> sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M,  al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai &#8221;ruang gelap&#8221;. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),&#8221; ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul  The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz&#8217;s perspective.</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk  Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun  Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau  kamar gelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Bradley Steffens dalam karyanya berjudul  Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa  Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. &#8220;Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,&#8221; papar Bradley.</p>
<p style="text-align: justify;">Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu,  penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 &#8211; 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada  1665 M.  Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya &#8211; yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia  II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.  Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah Sang Penemu Kamera Obscura<br />
Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni  qamara ?  Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Hatham. Bapak fisika modern itu   terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kecil al-Haitham ydikenal berotak encer. Ia  menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen &#8211; begitu dunia Barat menyebutnya &#8211; juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika &#8216;Bapak Optik&#8217; dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul  Light On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab  al-Manazhir , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Negara Islam</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 09:24:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Islam tidak pernah memaksakan seseorang dan tidak pula disebarkan lewat tajamnya pedang, sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Islam. Islam mensyariatkan perang, untuk menyingkirkan thaghut-thaghut yang menghalangi jalan dakwah ke rakyat dan penduduk. Setelah thaghut-thaghut ini disingkirkan dan dakwah Islam dikumandangkan, permasalahannya terserah kepada rakyat, apakah mereka mau menerima Islam, ataukah tetap pada agamanya sendiri, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Islam tidak pernah memaksakan seseorang dan tidak pula disebarkan lewat tajamnya pedang, sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Islam. Islam mensyariatkan perang, untuk menyingkirkan thaghut-thaghut yang menghalangi jalan dakwah ke rakyat dan penduduk. Setelah thaghut-thaghut ini disingkirkan dan dakwah Islam dikumandangkan, permasalahannya terserah kepada rakyat, apakah mereka mau menerima Islam, ataukah tetap pada agamanya sendiri, tapi ia harus tunduk sebagai ahlu dzimmah.<br />
Tendensi dakwah Islam semacam ini dikuatkan dengan perkataan Rab’i bin ‘Amir di hadapan Rustum, pemimpin pasukan Persia, “Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan makhluk ke penyembahan Allah, dari dunia yang sempit ke dunia yang lapang dan dari kesewenangan agama ke keadilan Islam.”<span id="more-121"></span><br />
Mengenai jizyah yang harus disetorkan oleh ahli dzimmah, bukan dimaksud untuk memberi penekanan-penekanan tertentu agar mereka mau masuk Islam, sekali-kali tidak, jizyah itu sebagai pengganti dari tanggung jawab dan jerih payah orang-orang Islam untuk melindungi mereka.<br />
Kebebasan yang diberikan kepada orang-orang yang ditundukkan kaum Muslimin untuk memilih masuk Islam ataukah membayar jizyah, merupakan bukti yang kuat, jelas dan gamblang bahwa Islam melarang mengetrapkan kultur paksaan.<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,<br />
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (Al-Baqarah: 256).<br />
Orang-orang yang membayar jizyah kepada pemerintah Islam dinamakan ahlu dzimmah. Mereka berhak menerima hak dan jaminan seperti yang diterima oleh orang-orang Islam. Salah seorang gubernur pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada beliau yang isinya menerangkan bahwa ahli dzimmah yang baru masuk Islam justru lebih berbahaya kalau seandainya mereka tidak dibebani jizyah. Maka dengan dasar pikiran semacam ini, ia tetap menarik jizyah meskipun ada ahli dzimmah yang sudah masuk Islam.<br />
Setelah membaca surat tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera mengirim surat yang isinya: “Allah memburukkan pendapatmu itu. Karena sesungguhnya Allah tidak mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam sebagai pemungut pajak. Tapi beliau diutus untuk memberi hidayah. Apabila suratku ini telah kau baca maka segera batalkan jizyah itu bagi ahlu dzimmah yang telah masuk Islam.”<br />
Abu Yusuf menyebutkan dalam bukunya bahwa Umar bin Khathab bertemu dengan seorang tua ahlu dzimmah peminta-minta di pintu masjid untuk membayar jizyah, demi kebutuhannya, Umar berkata kepada orang tua itu, “Kami akan berbuat adil terhadapmu, kami bebaskan setelah kamu tua.” Kemudian Umar membawa orang tersebut ke Baitulmal, lalu diberinya kebutuhan secukupnya dan ia dibebaskan dari pembayaran jizyah. Lebih lanjut hal ini dikuatkan lagi dengan pengakuan-pengakuan beberapa orang yang pernah mempelajari Islam secara benar. Dalam bukunya “Dakwah kepada Islam”, Arnold Toynbe seorang guru besar berkata, “Setelah pasukan tentara Islam yang dipimpin Abu Ubaidah sampai di lembah Urdun, para penduduk yang beragama Kristen yang menetap di situ menulis surat yang ditujukan kepada orang-orang Arab yang beragama Islam itu, yang berbunyi: ‘Wahai semua orang Islam, kalian lebih kami cintai daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, bersikap lemah-lembut kepada kami, mencegah kesewenangan yang menimpa kami dan mau menjaga diri kami. Tapi orang-orang Romawi itu menindas kami dan bumi kami.’<br />
Para penduduk kota saling menutup pintu masuk agar tentara Heraclius tidak menjarah. Mereka menyampaikan kabar kepada orang-orang Islam bahwa mereka lebih senang dengan orang-orang Islam dan keadilan mereka daripada kesewenang-wenangan orang-orang Greek itu. Segala pikiran dan tuduhan bahwa peranan pedanglah yang telah mengubah manusia masuk Islam, jelas merupakan tuduhan yang jauh dari benar. Dakwah dan pemuasan merupakan dua faktor esensial tersebarnya dakwah Islam, dan bukan karena kekuatan dan kekerasan.”<br />
Crustav Loban juga mengeluarkan kata-kata yang sangat terkenal, “Sejarah manusia tidak mengenal penakluk yang adil dan lebih lemah lembut kecuali dari orang-orang Islam.” Itulah sebagian kecil hak-hak yang telah diberikan kepada ahli kitab Yahudi dan Nasrani yang hidup di bawah perlindungan Negara Islam. Suatu hak yang tidak akan didapati dalam agama samawi lain, atau undang-undang dan tatanan yang dibuat oleh manusia sepanjang zaman.</p>
<p style="text-align: justify;">ditulis oleh Al Chaidar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tafsir Al Quran</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/tafsir-al-quran/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/tafsir-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 23:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[PENAFSIRAN AL-QUR&#8217;AN
 
A.  Pengertian Tafsir
Kata tafsir diambil dari kata fassara-yufassiru-tafsiran yang berarti keterangan atau uraian.
Al-Jurzani: Tafsir berarti    الكشف والاظهار   (menyingkap/membuka dan melahirkan)
Tafsir adalah suatu hasil usaha tanggapan, penalaran dan ijtihad manusia untuk menyingkapkan nilai-nilai samawi yang terdapat di dalam al-Qur’an.
B.  Bentuk penafsiran:
1. Bil ma’tsur
Adalah penafsiran Al-Qur’an yang mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an, Rasul, para sahabat melalui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;">PENAFSIRAN AL-QUR&#8217;AN</h2>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>A.  P</strong><strong>engertian Tafsir</strong></p>
<p>Kata tafsir diambil dari kata fassara-yufassiru-tafsiran yang berarti keterangan atau uraian.</p>
<p>Al-Jurzani: Tafsir berarti    الكشف والاظهار   (menyingkap/membuka dan melahirkan)</p>
<p>Tafsir adalah suatu hasil usaha tanggapan, penalaran dan ijtihad manusia untuk menyingkapkan nilai-nilai samawi yang terdapat di dalam al-Qur’an.</p>
<p><strong>B.  Bentuk penafsiran:</strong></p>
<p>1. Bil ma’tsur</p>
<p>Adalah penafsiran Al-Qur’an yang mendasarkan pada penjelasan Al-Qur’an, Rasul, para sahabat melalui ijtihadnya, dan aqwal tabi’in.</p>
<p>2. Bir ra’yi</p>
<p>Adalah penafsiran Al-Qur’an berdasarkan ijtihad.</p>
<p><strong>C. </strong><strong>Perdebatan di sekitar tafsir bi ar-ra&#8217;yi:</strong></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat dalam menanggapi masalah boleh tidaknya menafsirkan al-Qur&#8217;an berdasarkan ijtihad.. ada yang melarang dan ada yang membolehkan:</p>
<p>1. Alasan golongan yang melarang.</p>
<p>a. Menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan ra’yi berarti membicarakan firman Allah tanpa pengetahuan.Dengan demikian hasil penafsirannya hanya bersifat perkiraan semata. Pada hal Allah berfirman.QS.Al-Isra’:36<span id="more-113"></span></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>b. Yang berhak menjelaskan Al-Qur’an hanyalah Nabi.QS.An-Nahl:44</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>c</strong>. Rasulullah SAW bersabda:<strong> </strong></p>
<ul>
<li>من قال قى القران برأيه أوبما لا يعلم قليتبوأ مقعده من النار</li>
</ul>
<p>d. Adanya tradisi di kalangan sahabat dan tabi’in untuk berhati-hati ketika berbicara<strong> tentang </strong>penafsiran Al-Qur’an.</p>
<p>e. Abu Bakar pernah berkata:</p>
<ul>
<li>أي سماء تظلني , وأي أرض تقلنى وأين أذهب وكيف أصنع إذا قلت فى حرف من كتاب الله بغير<strong> ماأراد </strong>تبارك وتعالى<strong> </strong></li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p>2.  Alasan golongan yang membolehkan</p>
<p>a. Banyak ayat-ayat yang menyerukan untuk mendalami kandungan Al-Qur’an.contohnya.QS.Muhammad:24.</p>
<p>“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci”</p>
<p>b. Nabi tidak menjelaskan setiap ayat Al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa umatnya diizinkan brijtihad terhadap ayat-ayat yang belum dijelaskan Nabi.</p>
<p>c. Para sahabat sering berselisih pendapat mengenai penafsiran suatu ayat. Ini menunjukkan bahwa mereka pun menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yi-nya. Seandainya tafsir bir ra’yi dilarang, tentunya tindakan para sahabat itu keliru.</p>
<p>d. Rasulullah pernah berdo’a untuk Ibn ‘Abbas. Doa tersebut berbunyi:</p>
<ul>
<li>اللهم فقه فى الدين وعلمه التأويل</li>
</ul>
<p>“ Ya Allah, berilah pemahaman agama kepada Ibn ‘Abbas dan ajarilah ia takwil “</p>
<p><strong>D.  Metode penafsiran:</strong></p>
<p>1.  Metode ijmali/global:  Menjelaskan ayat-ayat al-Qur&#8217;an secara ringkas, menyeluruh dengan bahasa yang mudah dimengerti dan susunannya mengikuti susunan ayat-ayat di dalam mushhaf.</p>
<p>Tafsir yang menggunakan metode ini sangat ringkas dan tidak berbelit-belit, sehingga relatif lebih mudah dipahami oleh para pemula dan mereka yang tidak memerlukan penjelasan yang panjang lebar tentang  pemahaman suatu ayat.</p>
<p>Termasuk kelompok ini diantaranya:</p>
<p>-Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Muhammad Farid Wajdi</p>
<p>-Tafsir al-Wasith(tafsir pertengahan) karya Tim Majma’ al-Bukhus al-Islamiyyah(Lembaga  Penelitian Islam).dll</p>
<p>Metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Kelebihan metode ini adalah:</em></p>
<p>a.  Praktis dan mudah dimengerti</p>
<p>b.  Bebas dari penafsiran Israiliyat</p>
<p>c.  Akrab dengan bahasa al-Qur&#8217;an.</p>
<p><em>Sedangkan kekurangan metode ini adalah:</em></p>
<p>a.  Menjadikan petunjuk al-Qur&#8217;an bersifat parsial</p>
<p>b.  Tidak ada ruangan untuk mengemukakan analisis yang memadai</p>
<p>2.  Metode tahlili/analisis:  Menafsirkan ayat-ayat al-Qur&#8217;an dengan memaparkan segala aspek dan makna-makna  yang terkandung di dalamnya  sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Uraian tersebut bisa meliputi pengertian kosakata, konotasi kalimat, latar belakang turunnya ayat, kaitannya dengan ayat-ayat yang lain, dan tidak ketinggalan pendapat-pendapat yang telah diberikan berkenaan dengan tafsiran ayat tersebut, baik yang disampaikan oleh Nabi, sahabat, tabi&#8217;in maupun ahli tafsir lainnya.</p>
<p>Penafsiran dengan metode ini dapat mengambil bentuk ma&#8217;tsur(riwayat) atau ra&#8217;y(pemikiran).</p>
<p>Termasuk metode ini diantaranya:</p>
<p><em>al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Ibnu Jarir al-Thabari, tafsir al-Qur’an al-Karim karya Ibnu Katsir.dll.</em><em> </em></p>
<p><em> </em>Kelebihan metode ini diantaranya:</p>
<p>a.  Memiliki ruang lingkup yang luas</p>
<p>b.  Memuat berbagai ide.</p>
<p><em>Sedangkan kekurangannya diantaranya:</em></p>
<p>a.  Menjadikan petunjuk al-Qur&#8217;an parsial</p>
<p>b.  Melahirkan penafsiran yang subyektif</p>
<p>c.  Masuknya pemikiran Israsiliyat</p>
<p>3.  Metode muqaran/komparatif:  membandingkan ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadis serta membandingkan pendapat-pendapat para mufassir dalam menafsirkan suatu ayat.</p>
<p>Di zaman modern sekarang ini, metode muqaran/komparatif sangat penting mengingat adanya berbagai paham dan aliran yang kadang-kadang jauh menyimpang dari yang benar, sehingga dengan metode ini akan mengantarkan seseorang memiliki wawasan yang luas dan terhindar dari sikap yang ekstrim karena sempitnya pengetahuan yang dimiliki.</p>
<p>Termasuk kelompok ini antara lain:</p>
<p><em>-Durrah al-Tanzil wa Ghurrah al-Ta’wil(Mutiara al-Qur’an dan Wajah Takwil) karya al-Iskafi, dan al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an(Himpunan Hukum Al-Qur’an) karya al-Qurthubi.dll</em>.<em> </em></p>
<p><em>Kelebihan metode ini adalah:</em></p>
<p>a.  memberi wawasan penafsiran yang relatif lebih luas karena ternyata sebuah ayat dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian mufassirnya.</p>
<p>b.  Membuka pintu untuk selalu bersikap toleran terhadap pendapat-pendapat yang mungkin berbeda dengan kita, sehingga terhindar dari sikap ekstrim yang dapat merusak persatuan dan kesatuan umat.</p>
<p>c.  Membuka sikap hati-hati dalam menafsirkan ayat sehingga relatif terjamin kebenarannya dan lebih dapat dipercaya.</p>
<p><em>Sedangkan kekurangan metode ini diantaranya:</em></p>
<p>a.  tidak bisa diberikn kepada para pemula sebab bisa  terjebak dalam sikap ekstrimistis, karena belum siap menerima berbagai pemikiran</p>
<p>b. Metode ini kurang dapat memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan sosial yang selalu berkembang.</p>
<p>c.  metode ini terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang telah ada dari pada mengemukakan penafsiran baru.</p>
<ol>
<li>Metode      Maudlu&#8217;i/tematik:  Membahas      ayat-ayat al-Qur&#8217;an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan.</li>
</ol>
<p>Termasuk kelompok ini:</p>
<p><em>Al-Tafsir al-Wadhih(tafsir yang terang)karya Muhammad Mahmud al-Hijazi, al-Mar’ah fi al-Qur’an al-Karim dan al-Insan fi al-Qur’an al-Karim karya Abbas Mahmud, Tema-tema pokok al-Qur’an karya Fazlur Rahman, Wawasan al-Qur’an karya Quraish Shihab.dll</em></p>
<p><em>Kelebihan metode ini antara lain:</em></p>
<p>a.  Dapat menjawab tantangan zaman</p>
<p>b.  Praktis dan sistematis</p>
<p>c.  Selalu dinamis dengan tuntutan zaman</p>
<p>d.  Membuat pemahaman menjadi utuh</p>
<p><em>Adapun kekurangannya antara lain:</em></p>
<p>a.  Memenggal ayat-ayat al-Qur&#8217;an</p>
<p>b.  Membatasi pemahaman ayat karena terikat dengan judul</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>E.  Corak penafsiran</strong></p>
<p>Corak adalah suatu warna, arah atau kecenderungan pemikiran atau ide tertentu yang mendominasi sebuah karya tafsir. Bila sebuah kitab tafsir mengandung banyak corak, dan semuanya tidak ada yang dominan karena porsinya sama, maka ini disebut corak umum. Tapi bila ada satu yang dominan, makaitu disebut corak khusus, bila yang dominan itu dua corak secara bersamaan yakni kedua-duanya mendapat porsi yang sama, maka ini disebut corak kombinasi. Ada beberapa corak tafsir:</p>
<p>-  Tasauf (Sufi/Isyari),  -  Fikih, -  Filsafat (Falsafi), -  Ilmiah (Ilmi), -  Sosial kemasyarakatan (Adabi –Ijtima&#8217;i), -  dan lain-lain</p>
<p><strong>F.  Kaidah-kaidah penafsiran</strong></p>
<p>Orang yang hendak menafsirkan ayat-ayat suci al-Qur&#8217;an , lebih dahulu harus memahami beberapa kaidah yang erat kaitannya dengan pemahaman makna kalimat yang hendak ditafsirkan.</p>
<p>a.  Mantuq dan mafhum</p>
<p>Mantuq adalah makna yang ditunjukkan oleh lafadz dalam pembicaraan atau penuturan.</p>
<p>Mafhum adalah makna yang dipahami bukan dari pembicaraan.</p>
<p>b.  &#8216;Am dan Khash</p>
<p>&#8216;Am adalah lafadz yang memberi pengertian umum yang mencakup segala sesuatu yang termasuk dalam lingkungannya tanpa ada batasan dalam jumlah maupun bilangan.</p>
<p>Khash adalah lafadz yang menunjukkan kepada pengertian tertentu.</p>
<p>c.  Muthlaq dan Muqayyad</p>
<p>Muthlaq adalah nas yang menunjuk kepada satu pengertian dan tidak ada kaitannya dengan ayat lain.</p>
<p>Muqayyad adalah sesuatu yang menunjuk kapada satu pengertian, tetapi pengertian tersebut harus dikaitkan kepada adanya pengertian yang diberikan oleh ayat lain.</p>
<p>d.  Mujmal dan Mubayyan</p>
<p>Mujmal adalah ayat yang menunjuk kepada sesuatu pengertian yang tidak terang dan tidak rinci. Masih memerlukan penafsiran yang lebih rinci.</p>
<p>Mubayan adalah nash yang memberikan penjelasan atau rincian kepada yang mujmal</p>
<p>e.  Muhkam dan Mutasyabih</p>
<p>Muhkam adalah nash yang memberikan pengeertianyang pasti, tidak ada keraguan lagi tentang apa yang dimaksudkannya.</p>
<p>Mutasyabih adalah nash yang mengandung pengertian yang samar-samar dan mempunyai kemungkinan beberapa arti.</p>
<p>f.  Kaidah-kaidah kebahasaan.</p>
<p>Meliputi pemahaman tentang dlamir, isim makrifah dan nakirah, mufrad dan jamak, jumlah ismiyah dan fi&#8217;liyah, athaf dan lain-lain.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/tafsir-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aktivis Dakwah</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/aktivis-dakwah/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/aktivis-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 16:00:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[aktivis]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Tulisanku Tentang
&#8220;Aktivis Dakwah&#8221;
            Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Hanya kepadaNya kita berharap, hanya kepadaNya kita berserah diri, dan hanya kepadaNya kita beribadah. Shalawat dan salam kepada Muhammad Rasulullah yang dengan perantara beliau Allah telah membebaskan kita dari “kegelapan” menuju “cahaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><center>Tulisanku Tentang</center></p>
<p><center>&#8220;Aktivis Dakwah&#8221;</center></p>
<p>            Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam. Hanya kepadaNya kita berharap, hanya kepadaNya kita berserah diri, dan hanya kepadaNya kita beribadah. Shalawat dan salam kepada Muhammad Rasulullah yang dengan perantara beliau Allah telah membebaskan kita dari “kegelapan” menuju “cahaya terang” yang indah. Kesabaran, keteguhan hati, dan perlindungan Allah semoga selalu meliputi hamba-hambaNya yang taat.</p>
<p>Saudaraku, Allah berfirman: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan&#8221; (al-Mujaadilah: 11.) Kemudian bersabda Rasulullah bahwa: “Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah).” (HR. Ibnu Majah). Dari sini nampaklah bahwa ilmu memiliki status yang penting dalam Islam <span id="more-62"></span>hingga diwajibkan bagi kita untuk menuntut ilmu. Sejak kecil kita sudah dididik orang tua kita dan orang terdekat kita, kemudian setelah cukup besar, kita disekolahkan oleh orang tua kita dengan harapan bisa menjadi orang yang pintar dan berguna bagi agama, orang tua, serta lingkungan kita. Namun, ketahuilah wahai saudaraku, bahwa hak ilmu atas kita bukan hanya untuk dipelajari dan diamalkan. Namun juga untuk di dakwahkan. Rasulullah Bersabda: “Sampaikanlah (ilmu) dariku meski hanya satu ayat, dan boleh saja kalian menceritakan dari bani Israil (boleh untuk diambil pelajaran). Dan barang siapa mendustakan atasku (mengatasnamakan suatu pembicaraan kepada Nabi padahal beliau tidak menyabdakannya) dengan sengaja, maka sebaiknya ia meletakkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhori). Hingga sudah menjadi kewajiban bagi tiap muslim, termasuk paramahasiswa untuk mendakwahkan ajaran Islam.</p>
<p>Saudaraku, usia kita adalah usia yang sangat ideal bagi akivitas belajar ilmu agama dan aktivitas dakwah. Dikatakan ideal bagi belajar karena direntang usia 15 sampai 30an tahun seseorang akan lebih mudah menyerap ilmu atau pemahaman hingga rentang ini disebut rentang usia sugestif. Dan saya katakan ideal untuk berdakwah karena pada rentang ini umumnya manusia memiliki semangat yang tinggi dan pada keadaan terkuat secara jasmani. Tidak hanya itu, pada rentang usia ini didapati banyak media dan wadah untuk berdakwah, misalnya, rohis, perkumpulan remaja masjid, perkumpulan mahasiswa Islam, serta organisasi Islam yang masuk ke SMA atau Universitas.</p>
<p>Saudaraku, teman-teman mahasiswa, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mendakwahkan ilmu yang kita miliki, kecuali hanya rasa malas dan ketidak pedulian. Saudaraku, sebisa mungkin kita harus meluangkan waktu kita untuk berdakwah, untuk menyeru kepada penegakan Kalimatullah. Ajak saudara-saudara kita agar selalu dalam kebaikan, jangan biarkan mereka terjebak dalam pergaulan yang salah karena kurangnya ilmu agama.</p>
<p>Saudaraku, coba anda simak hadist-hadist berikut ini:</p>
<p>Dari sahl bin Sa’ad Bahwasanya Nabi bersabda:”Demi Allah, jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaraanmu, maka itu lebih baik daripada unta merah (hak milik orang yang paling berharga)” (Bukhori Muslim)</p>
<p>Dari Abu Hurairah , ia berkata : bahwasanya Rasulullah bersabda : “barangsiapa mengajak kepada jalan yang baik, maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang yang mengikutinya (mengikuti ajakannya) tanpa mengurangi pahala mereka sendiri sedikitpun.” (Muslim)</p>
<p>Dari Abu Hurairah , ia berkata : Rasulullah bersabda : “ Apabila anak Adam (manusia) mati, maka terputuslah amalanya, kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang selalu mendoakannya.” (Muslim)</p>
<p>Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda : “Semoga Allah memberi cahaya yang berkilauan kepada seseorang yang mendengar sesuatu dariku, kemudian ia menyampaikannya sebagaimana yang telah ia dengar, karena banyak orang yang disampaikan kepadanya(sesuatu itu) lebih menghayati, dari pada orang yang mendengarnya sendiri.” ( Turmudzi)</p>
<p>Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah bersabda : “ Tidak boleh hasud (dengki), kecuali dalam dua hal, yaitu terhadap orang yang diberi harta oleh Allah, kemudian ia mempergunakannya untuk membela kebenaran, dan terhadap orang yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah, kemudian ia mengamalkannya dan mengajarkannya.” (Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Saudaraku, diatas telah saya kutibkan beberapa hadist mengenai keutamaan berdakwah atau menyampaikan ilmu. Saudaraku, masihkah kita enggan untuk berdakwah? Saudaraku, marilah kita berdakwah semampu kita, mari kita mulai untuk menyampaikan ilmu yang telah kita pelajari. Dakwah itu mudah, jangan dipersulit! Kalau bisa, kita menyampaikan ilmu dalam sebuah forum besar, kalau tidak, dalam kelompok sedang, kalau tidak, kelompok diskusi kecil, kalau tidak, cukup dengan 4 mata, kalau tidak bisa dengan tulisan, atau setidaknya dengan selalu bersikap islami untuk mencoba menjadi contoh. Namun, hendaklah kita berusaha untuk mengerjakan yang terbaik.</p>
<p>Saudaraku, sebelum saya akhiri tulisan ini, perlu saya tambahkan catatan penting yang harus diperhatikan oleh aktivis dakwah terutama di kampus. Bahwa:</p>
<p>1.      Hendaklah seorang aktivis dakwah benar-benar memiliki kefahaman ilmu terhadap apa yang ia sampaikan atau apa yang akan ia sampaikan. Hingga ia tidak berkata dengan kebodohan.</p>
<p>2.      Ingat bahwa sepintar apapun seseorang terhadap ilmu agama, pada hakekatnya ia tetap bodoh. Maka dari itu, jangan sampai kesibukan dakwah melalaikan dari belajar ilmu agama.</p>
<p>3.      Hendaknya ia mengatakan Allahu A’lam jika ia tidak memiliki pengetahuan terhadap ilmu yang ditanyakan padanya, bukan menjawab dengan menduga-duga.</p>
<p>4.      Hendaknya ia tidak menyembunyikan ilmunya atau menutup-nutupi kebenaran karena kepentingan dunia atau nafsunya. Sebab hal itu akan mendatangkan murka Allah.</p>
<p>5.      Hendaklah ia berdakwah murni untuk meraih ridho Allah. Bukan untuk mencari ketenaran, pujian, perhatian dari manusia, atau untuk membesarkan nama kelompok.</p>
<p>6.      Seorang aktivis dakwah harus bisa menjadi contoh yang baik, tidak bodoh dalam hal akademis hingga ia tidak direndahkan oleh orang lain.</p>
<p>7.      Hendaknya ia selalu menjaga tingkah lakunya untuk sebisa mungkin selalu tidak bertentangan dengan nilai keisalman hingga ia tidak mendustakan perkataannya dengan perbuatannya sendiri.</p>
<p>8.      Seorang aktivis dakwah tidak boleh terlalu membangga-banggakan nama kelompok atau “wadah” yang diikutinya hingga ia lebih menghormati “bendera kelompok” daripada “bendera Islam”.</p>
<p>9.      Jaga persatuan antar aktivis dakwah atau sesama muslim walau berbeda pemahaman, penerapan, dan “wadah”.</p>
<p>Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi saya dan bagi pembaca. Tugas saya hanya menyampaikan, dan hidayah datangnya dari sisi Allah. Saya meminta ampun kepada Allah apabila ada kesalahan dari apa yang saya sampaikan. Kemudian, tolong ingatkan saya jika saya salah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/aktivis-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Islam dan Ilmu Pengetahuan</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 03:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Kita pasti sudah mendengar istilah algoritma. Tapi tahukah siapa penemunya? Kebanyakan orang jika diberi sebuah pertanyaan: Siapa penemu teori: “kuadrat sisi terpanjang dari sebuah segitiga akan sama dengan jumlah kuadrat dari sisi-sisi pendeknya”? Dengan penuh keyakinan mereka akan menjawab:Itu adalah Teori Phytagoras dengan penemunya Phytagoras. Tapi tahukah anda? Sebenarnya teori tersebut bukanlah murni ditemukan oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita pasti sudah mendengar istilah algoritma. Tapi tahukah siapa penemunya? Kebanyakan orang jika diberi sebuah pertanyaan: Siapa penemu teori: “kuadrat sisi terpanjang dari sebuah segitiga akan sama dengan jumlah kuadrat dari sisi-sisi pendeknya”? Dengan penuh keyakinan mereka akan menjawab:Itu adalah Teori Phytagoras dengan penemunya Phytagoras. Tapi tahukah anda? Sebenarnya teori tersebut bukanlah murni ditemukan oleh phytagoras, sebenarnya teori tersebut sudah ditemukan jauh sebelum phytagoras lahir. Sangat ironis jika kita dengan mudah mengingat Enstein dengan teori relativitasnya, Hubble dengan teori big bangnya, Newton dengan hukum gaya-gaya dalam fisikanya. Tapi tahukah anda siapa penemu angka nol, penemu trigonometri, Istilah Farmasi, dan pencipta Globe? Sungguh mereka adalah saudara kita, mereka adalah umat muslim. <span id="more-53"></span>Dan masih banyak lagi penemuan-penemuan yang berpengaruh di dunia yang ditemukan oleh ilmuwan muslim, tetapi kebanyakan orang Islam terutama orang awam tidak mengetahui bahwa Ilmuwan-Ilmuwan muslim banyak berjasa dalam Ilmu pengetahuan. Mereka seolah-olah tertutup oleh “kebesaran” ilmuwan barat yang jika di teliti dan dikaji lebih dalam, kebanyakan dari mereka mengambil ide-ide serta gagasan dari Ilmuwan muslim. Bahkan sebagian Ilmuwan barat sudah mengakui hal itu. Berikut adalah kisah singkat beberapa ilmuwan muslim yang terkenal:</p>
<p>   1.</p>
<p>      Al Khawarizmi (780-848 M) Bapak Al jabar, penemu angka nol </p>
<p>Nama lengkapnya adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al Khawarizmi.</p>
<p>Kepandaian dan kecerdasanya mengantarkanya masuk ke lingkungan Dar-al Hakam (Rumah Kebijaksanaan) yang didirikan oleh Harun Ar Rasyid dinasti Abbasiyah. Karya-karya Khawarizmi di bidang matematika memang banyak mengacu pada buku aljabar karangan Diophantus (250 SM) dari Yunani. Namun dalam meneliti buku-buku aljabar tersebut Khawarizmi menemukan beberapa kesalahan dan permasalahan yang masih kabur. Oleh sebab itu menurut Gandz, matematikawan barat dalam bukunya “The Source of Al-Khwarizm’s Algebra” Khawarizmi lah yang lebih berhak mendapat julukan Bapak Aljabar dibanding Diophantus, karena dialah orang pertama yang mengajarkan aljabar dalam bentuk elementer serta menerapkanya dalam hal-hal yang berkaitan denganya. Dalam bukunya beliau juga memperkenalkan kepada dunia Ilmu Pengetahuan angka 0 (nol) dalam bahasa arab disebut juga Sifr. Sebelum Khawarizmi menemukan angka 0 para Ilmuwan mempergunakan abacus, semacam daftar yang menunjukan satuan, puluhan, dst. Tetapi hitungan seperti ini tidak mendapat respon yang baik dari para ilmuwan barat dan mereka lebih tertarik menggunakan ragam al binji (daftar angka arab termasuk nol). Dengan demikian angka nol baru dikenal dan digunakan bangsa barat sekitar 250 tahun sesudah ditemukan Khawarizmi. Di dunia barat, Ilmu Matematika lebih banyak dipengaruhi oleh karya Khawarizmi daripada karya para penulis dari abad pertengahan. Masyarakat modern saat ini berhutang budi kepada Al-Khawarizmi. Notasi penempatan bilangan basis 10, penggunaan bilangan irasional dan diperkenalkanya konsep aljabar modern, membuatnya layak menjadi figur penting dalam bidang matematika dan revolusi perhitungan di abad pertengahan di daratan Eropa. Dengan penyatuan matematika Yunani, Hindia dan mungkin babilonia teks aljabar merupakan salah satu karya Islam di dunia Internasional.</p>
<p>   2.</p>
<p>      Al-Battani (858-929) Ahli Astronomi dan Bapak trigonometri </p>
<p>Al-Battani adalah ilmuwan dari Irak. Dialah ahli astronomi terbesar di kalangan orang Arab. Le Lande Ahli Astronomi besar dari perancis mengatakan bahwa Al-Battani termasuk salah seorang dari 20 astronomi dalam sejarah manusia. Prof. Dr. George Sarton dalam bukunya sejarah Alam Semesta bahwa Al-Battani merupakan ahli astronomi paling besar, paling bagus sedangkan di zamanya belum ada alat-alat Astronomi canggih seperti sekarang. Dalam bidang Ilmu pasti al-Battani adalah orang yang pertama kali memasukan sinus dan cosinus dalam ilmu pasti. Dia menggunakan sinus dan cosinus sebagai ganti hypotenause yang banyak digunakan oleh ilmuwan Yunani. Sehingga sebagian Ilmuwan barat menyebutnya sebagai bapak trigonometri.Selain itu dia juga menemukan hukum segitiga samasisi, memecahkan berbagai persoalan hitungan ala Yunani dengan cara menggunakan ilmu ukur untuk mengetahui detil ukuranya. Belau juga ahli dalam bidang Ilmu falak yang brilian. Al-Battani sudah menggunakan metode dan alat teropong yang jauh lebih maju daripada yang dimiliki Yunani. Hitungan yang dipergunakan juga jauh lebih maju daripada yang dipergunakan orang Yunani termasuk hitunganya dalam berbagai segitiga yang juga belum dikenal oleh mereka.</p>
<p>   3.</p>
<p>      Abbas bin Farnas (wafat 887M) </p>
<p>Abbas bin Farnas dijuluki “orang bijak Andalusia”. Hal itu mungkin Disebabkan oleh kesibukanya di bidang kimia. Selain itu ia juga seorang ilumuwan yang sangat antusias melakukan penelitian ilmiah bahkan ia merupakan orang yang pertama kali berusaha untuk bisa terbang di udara. Beliau adalah orang yang pertama kali membuat kaca dari batu dan orang yang pertama kali pula membuat kristal. Hal yang paling terkenal ialah usahanya untuk terbang. Dia melekatkan bulu elang di tubuhnya kemudian membentuk dua buah sayap . Dia melompat dari tebing yang tinggi terbang beberapa detik kemudian jatuh ke tanah. Sangat menakjubkan dia selamat!</p>
<p>   4.</p>
<p>      al-Idrisi (1100-1166 M) </p>
<p>al-Idrisi adalah orang yang berusaha menggabungkan antara ilmu bumi dan ilmu falak. Dalam bukunya Nuz-hah al-Mustaq al-Idrisi mengulas bumi secara singkat. Al-Iddrisi adalah geographer yang meyakini bahwa bumi berbentuk bulat, al-Idrisi secara gemilang membuat globe dari perak. Dalam globe itu al-Idrisi menggambarkan 6 benua, dilengkapi jalur perdagangan, danau, sungai kota-kota utama, daratan, dan gunung-gunung. Tak hanya itu, globe yang dibuatnya juga memuat informasi jarak, panjang, dan tinggi secara tepat. Ini adalah ensiklopedia geografi yang berisi peta dan informasi mengenai Negara di eropa, Afrika, dan Asia yang pertama kali diterbitkan secara rinci.</p>
<p>            Kemudian, Ilmuwan Islam Selain mereka berempat adalah Ibnu Khaldun yang mendahului filsafat sejarah Hegel dan kritik sejarah karl marx, Ibnu Battuta yang lebih luas penjelajahanya daripada Columbus. Laksamana Cengho, Umar Khayam, Ibnu Sina, al-Biruni, al-Farabidan serta dizaman sekarang ada Dr. Abdussalam peraih nobel di bidang fisika dan masih banyak lagi.</p>
<p>            Jadi jangan berlebihan mengagung-agungkan Ilmuwan barat yang kebanyakan mereka hanya menguasai beberapa bidang. Ilmuwan-ilmuwan Islam juga patut dan seharusnya lebih dibanggakan daripada ilmuwan barat. Dan hal ini hendaknya mulai disosialisasikan di sekolah-sekolah. Jadi jangan sampai anak dan cucu kita besok tidak tahu siapa Ibnu Khaldun, Khawarizmi yang mereka bisa menguasai Ilmu-ilmu umum sekaligus Ilmu akherat tidak ketinggalan,tetapi anak cucu kita hafal sejarah biografi Enstein, Newton, Karl marx yang mereka hanya fokus dalam ilmu-ilmu dunia bahkan sebagian dari mereka adalah atheis.</p>
<p>            Dengan kita seolah-olah tidak acuh dan tidak tertarik mencari tahu profil Ilmuwan-Ilmuwan Islam yang sebenarnya memberikan sumbangsih besar terhadap peradaban dunia tetapi malah membesar-besarkan Ilmuwan-Ilmuwan barat. Ini semakin nyata bahwa kaum muslim saat ini sedang terjajah mental oleh orang-orang Barat. Dan itu mengakibatkan umat Islam tidak bangga dengan keislamanya sendiri, bangsa Islam merasa selalu kalah dengan bangsa-bangsa barat, Umat Islam semakin minder dengan orang-orang kafir sehingga umat Islam tidak bisa meneruskan estafet dari Dinasti Abbasiyah dari segi Ilmu Pengetahuan berabad-abad lalu. Kapankah umat Islam kan maju? Jika umatnya sendiri merasa ”risih” dan tidak pede dengan keislamanya?? Wallahu A’lam</p>
<p>Artikel by: </p>
<p>A. Rifqi Bahtiar (dari berbagai sumber)</p>
<p>dengan sedikit editan admin, tanpa merubah maksud.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/islam-dan-ilmu-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
