<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>code4769&#039;s site &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://www.inilahjalanku.com/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.inilahjalanku.com</link>
	<description>Portal IT &#38; Islamic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Jan 2012 02:54:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Sejarah dan Catatan Nabi-Nabi Palsu</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-dan-catatan-nabi-nabi-palsu/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-dan-catatan-nabi-nabi-palsu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 19:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[DALAM akidah Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah penutup para nabi. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzab [33]: 40). Sementara Islam, ajaran yang dibawa Muhammad SAW merupakan dien yang <a href='http://www.inilahjalanku.com/sejarah-dan-catatan-nabi-nabi-palsu/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">DALAM akidah Islam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) adalah penutup para nabi. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Ahzab [33]: 40). Sementara Islam, ajaran yang dibawa Muhammad SAW merupakan dien yang telah disempurnakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, masih ada saja manusia yang mengaku sebagai nabi yang diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) setelah Muhammad SAW untuk menyempurnakan ajaran-Nya. Bahkan, sebelum Muhammad SAW wafat pun sudah ada yang mengaku sebagai nabi. Jumlah mereka banyak. Berikut di antara para nabi palsu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">1.     Musailamah al-Kazzab dan Sajjah Binti al-Harits</p>
<p style="text-align: justify;">Musailamah mengaku nabi saat Rasulullah SAW masih hidup. Ia dari Bani Hanifah di Yamamah. Istrinya, Sajjah binti al-Harits dari Bani Tamim, juga mengaku sebagai nabi yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan kepada umat.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat, saat mempersunting Sajjah, Musailamah memberikan mas kawin berupa cuti shalat Ashar kepada keluarga Sajjah. Tentu saja saat itu seluruh Bani Tamim libur shalat Ashar.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah Rasulullah SAW wafat, mereka semakin leluasa dalam menyebarkan pemahamannya. Khalifah Abu Bakar Assidiq tidak tinggal diam. Abu Bakar beserta kaum Muslimin mengajak mereka dan pengikutnya kembali ke jalan yang lurus. Tapi, ajakan itu ditolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Bakar mengerahkan kaum Muslimin untuk memerangi mereka. Dalam perang Yarmuk, Kaum Muslimin bentrok dengan pasukan Musailamah dan Musailamah berhasil dibunuh oleh Wahsyi bin Harb. Sedang Sajjah diakhir hayatnya bertaubat dan kembali ke pelukan Islam.<br />
<span id="more-405"></span><br />
2.     Aswad al-‘Ansi</p>
<p style="text-align: justify;">Nama sebenarnya ‘Ailat bin Ka’ab bin ‘Auff Al-‘Ansi. Ia keturunan Bangsa Habasyah yang tinggal di Jazirah Arab. Ia berkulit hitam, itu sebabnya ia dipanggil Aswad. Aswad mumpuni dalam dunia perdukunan serta mahir melakukan sihir.</p>
<p style="text-align: justify;">Aswad mengaku nabi saat Rasulullah SAW menjelang jatuh sakit. Ia dikenal sebagai yang fasih lisannya. Ia mampu memutarbalikan kebatilan menjadi kebajikan. Banyak orang awam yang menjadi pengikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran Aswad berhasil tersebar di Yaman. Ia mengaku bahwa malaikat telah memberikan wahyu dan memberitakan hal-hal gaib kepadanya. Namun Aswad berhasil dibunuh oleh kaum Muslimin menjelang Rasulullah SAW wafat.</p>
<p style="text-align: justify;">3.     Mirza Ghulam Ahmad</p>
<p style="text-align: justify;">Mirza Ghulam Ahmad lahir 15 Februari 1835 di Qadian, wilayah Punjab, sebelah utara India . Ia berasal dari keluarga Muslim. Namun, keluarganya itu dikenal suka berkhianat kepada agama dan negaranya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat kolonial Inggris menduduki India , Mirza salah seorang yang loyal dan taat terhadap penjajah. Sementara umat Islam India berjibaku mengusir penjajah. Sikap Mirza yang pro penjajah ini, dimanfaatkan Inggris untuk membuat gerakan. Tahun 1900 berdirilah gerakan yang bernama Ahmadiyah. Mirza diangkat sebagai nabinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara ajaran Mirza yakni meyakini bahwa Allah juga berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur, melakukan kesalahan, dan berjima’. Selain itu, bahwa kenabian tidak ditutup dengan diutusnya Muhammad SAW. Dan dirinyalah adalah nabi yang paling utama dari para nabi yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjelang akhir hayatnya, Mirza didera penyakit. Menurut Hasan bin Mahmud Audah, orang kepercayaan Mirza yang sudah kembali ke Islam, ia meninggal di tempat tidur. Berminggu-minggu sebelum matinya ia buang air kecil dan besar di situ.</p>
<p style="text-align: justify;">4.     Mirza ‘Ali Muhammad Ridha Asy-Syairazi</p>
<p style="text-align: justify;">Mirza ‘Ali adalah orang Yahudi yang menyamar sebagai Muslim. Ia tinggal di Iran. Ia berbaur di kalangan Syi’ah Imamiyah. Pada tahun 1844 Mirza Ali memproklamirkan diri sebagai nabi. Ia mengaku sebagai, “Albab”, yang berarti pintu. Yaitu pintu bagi kaum Syi’ah atau seluruh umat Islam yang akan menyatukan mereka bersama imam yang ditunggu kedatangannya di akhir zaman. Ia juga mengaku sebagai jelmaan Tuhan. Ia penggagas ajaran Bahaiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran Mirza ‘Ali yang paling populer adalah menyatukan agama. Ia mengajak umat manusia untuk keluar dari semua agama yang dianut dan membentuk satu agama. Menurutnya, ketiga agama yaitu Islam, Yahudi, dan Kristen adalah benar dan semuanya datang dari Allah. Selain itu ajaran Mirza Ali juga mengharamkan jihad.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkat aksinya itu, pada tahun 1850 Mirza divonis mati oleh pemerintah Iran yang saat itu dipimpin Shah Tibriz. Sementara, para pengikutnya melarikan diri ke Turki dan Palestina.</p>
<p style="text-align: justify;">5.     Thulaihah bin Khuwailid</p>
<p style="text-align: justify;">Thulaihah adalah seorang dukun. Ia sangat disegani oleh kaumnya. Ketika Rasulullah SAW wafat, ia mengaku sebagi nabi yang menggantikan Muhammad SAW. Ia ciptakan ajaran baru. Menurutnya, manusia tak pantas sujud pada setiap shalat.  “Kepala dan wajah diciptakan oleh Tuhan bukan untuk dihinakan dengan mencium bumi lima kali sehari semalam.” Ia pun menghapuskan kewajiban membayar zakat bagi orang kaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia pernah menghadap Abu Bakar As Shiddiq di Madinah. Ia meminta Abu Bakar mengakui kedudukannya sebagai nabi baru dan hidup bersama berdampingan. Permintaan itu ditolak dengan tegas. Saat itu juga Abu Bakar memberi instruksi kepada para sahabat untuk memeranginya. Akhirnya, terjadi peperangan antara pengikut Thulaihah dengan kaum Muslimin. Pengikut Thulaihah berhasil ditaklukan.</p>
<p style="text-align: justify;">6.     Ahmad Moshaddeq</p>
<p style="text-align: justify;">Nama aslinya Abdussalam. Ia penggagas aliran al-Qiyadah al-Islamiyah. Moshaddeq mengaku sebagai nabi setelah melakukan meditasi di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat selama 40 hari 40 malam. Puncaknya, pada malam ke 40, tepatnya 23 Juli 2006, Moshaddeq mengklaim mendapat wahyu dari Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Ajaran yang dibawa Moshaddeq ini dianggap sesat oleh MUI. Di antara kesesatan itu adalah shalat lima waktu dalam sehari diganti menjadi satu waktu, yakni shalat malam. Syahadat Muhammadurrasulullah diganti al-Masih al-Maw’ud rasulullah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya Moshaddeq tercatat sebagai karyawan di Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta. Ia juga sempat menjadi pelatih nasional bulutangkis. *<br />
Sumber : Suara Hidayatullah<br />
Rep: Ibnu Syafaat<br />
Red: Cholis Akbar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-dan-catatan-nabi-nabi-palsu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hidup Zuhud Sang Gubernur</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/hidup-zuhud-sang-gubernur/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/hidup-zuhud-sang-gubernur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 09:43:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Said bin Amir menjadi gubernur di Provinsi Himash. Ia pun datang menghadap khalifah bersama satu delegasi dari provinsi tersebut. Umar meminta mereka menuliskan daftar fakir miskin dari Himash yang berhak diberi bantuan dari kas negara. Umar heran karena di antara nama yang ditulis terdapat nama Said bin Amir. &#8220;Siapa Said <a href='http://www.inilahjalanku.com/hidup-zuhud-sang-gubernur/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Khalifah Umar bin Khattab mengangkat Said bin Amir menjadi gubernur di Provinsi Himash. Ia pun datang menghadap khalifah bersama satu delegasi dari provinsi tersebut. Umar meminta mereka menuliskan daftar fakir miskin dari Himash yang berhak diberi bantuan dari kas negara. Umar heran karena di antara nama yang ditulis terdapat nama Said bin Amir. &#8220;Siapa Said bin Amir ini?&#8221; tanya Umar. &#8220;Gubernur kami,&#8221; jawab mereka. &#8220;Apakah gubernur kalian fakir?&#8221; selidik Umar. Mereka membenarkan, &#8220;Demi Allah, kami jadi saksi.&#8221; Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam sebuah kantong dan meminta mereka menyerahkannya kepada sang gubernur.</p>
<p style="text-align: justify;">Menerima sekantong uang berisi seribu dinar, Said langsung membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji\&#8217;un, seolah satu musibah besar menimpanya. Istri gubernur bertanya: &#8220;Apa yang terjadi? Apakah Amirul Mukminin wafat?&#8221; &#8220;Lebih besar dari itu,&#8221; jawab Said. &#8220;Telah datang dunia kepadaku untuk merusak akhiratku.&#8221; &#8220;Bebaskan dirimu dari malapetaka itu,&#8221; saran istrinya, tanpa mengetahui bahwa malapetaka itu adalah uang seribu dinar. Said bertanya: &#8220;Apakah kamu mau membantuku?&#8221; Istrinya mengangguk. Ia meminta istrinya untuk segera membagikan seribu dinar itu untuk fakir miskin, tanpa sisa untuk keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekian lama berlalu, Umar mengunjungi Said bin Amir. Sudah menjadi kebiasaannya, jika berkunjung ke suatu provinsi, mengadakan dialog terbuka antara masyarakat, gubernur, dan dirinya sendiri. Dialog tersebut bertujuan untuk mengetahui langsung aspirasi masyarakat dan keluhan mereka terhadap pelayanan gubernur. Ada tiga keluhan masyarakat terhadap sang gubernur. Setiap keluhan disampaikan, Umar meminta Said menjawabnya.<br />
<span id="more-400"></span><br />
Pertama, Said selalu masuk kantor setelah matahari tinggi. Kedua, Said tidak bersedia menerima kedatangan siapa pun menghadapnya pada malam hari. Ketiga, tidak menerima tamu satu hari dalam setiap bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya, Said  malu berterus terang, tetapi untuk menghilangkan salah paham, ia pun rela menjelaskannya secara terbuka. Pertama, keluarganya tidak punya pembantu. Setiap pagi, dirinya membuatkan roti untuk keluarganya sehingga setelah matahari tinggi baru bisa bekerja melayani masyarakat. Kedua, siang hari dia menyediakan waktu melayani masyarakat, tetapi malam hari adalah waktu khususnya untuk Allah SWT. Ketiga, satu hari dalam sebulan dia tidak keluar melayani masyarakat karena hari itu dia harus mencuci pakaiannya. Mendengar penjelasan Said, Umar berkata: &#8220;Alhamdulillah, penilaianku tidak salah terhadapmu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah sikap hidup zuhud sang gubernur yang sebenarnya juga tidak jauh dari gaya hidup atasannya sendiri, yaitu Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Semoga kisah yang dapat kita baca dalam buku Al-\&#8217;Arabiyah li an-Nasyi\&#8217;in ini dapat menjadi renungan bagi kita semua. ( Prof Dr Yunahar Ilyas)<br />
Redaktur: Siwi Tri Puji B</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: republika.co.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/hidup-zuhud-sang-gubernur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shalahuddin Al Ayyubi (1137 &#8211; 1193 M)</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/shalahuddin-al-ayyubi-1137-1193-m/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/shalahuddin-al-ayyubi-1137-1193-m/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 07:06:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=378</guid>
		<description><![CDATA[SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa. Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu <a href='http://www.inilahjalanku.com/shalahuddin-al-ayyubi-1137-1193-m/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong></strong>SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya  telah  terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa  patriotik  dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan  umat Islam  karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan  tentara salib  yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">
Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan   Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat   estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka   Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad   saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan   kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui &#8220;Siratun   Nabawiyah&#8221;. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di   kalangan umat Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">
Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung   menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri   pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia   baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci   Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan,   keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah   pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.</p>
<p style="text-align: justify;">
Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling   panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat   manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan   membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah   Asia Barat yang Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">
Seorang penulis Barat berkata, &#8220;Perang Salib merupakan salah satu  bagian  sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani   menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga   ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka   mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa   sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan   sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas   dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala   bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang   melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang   dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The   Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari   tangan kaum Muslimin&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
&#8220;Setiap cara dan jalan ditempuh&#8221;, kata Hallam guna membangkitkan   kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang   Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari   segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.</p>
<p style="text-align: justify;">
Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri   dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville   mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan   kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan   melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak   terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara   Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah   yang tandus.</p>
<p style="text-align: justify;">
&#8220;Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan   kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta   menggeletar&#8221; demikian tulis pengarang Perancis Michaud.</p>
<p style="text-align: justify;">
Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib   Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa   yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan   kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan   dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam   kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan   pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap   daerah yang mereka lalui&#8221; kata Marbaid.</p>
<p style="text-align: justify;">
Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat,   menurut keterangan penulis Mill &#8220;terdiri dari gerombolan yang nekat dan   ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya   menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya   mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan  telah  mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-378"></span><br />
Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian   besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi   Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan   pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi   kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.</p>
<p style="text-align: justify;">
John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui   pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya   kota Antioch. Mill menulis: &#8220;Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan   anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh   tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai   tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu   angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan   kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar   habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat   berharga, termasuk &#8220;Kutub Khanah&#8221; (Perpustakaan) Tripolis yang   termasyhur itu. &#8220;Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu   kehabisan tenaga,&#8221; kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan   disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan   yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">
Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai  puncak  kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard  Lionheart Raja  Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut  merebut tanah suci  Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut  oleh Sultan  Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang  Panglima Besar  Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat  Nasrani yang datang  untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja  sanggup untuk  menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang  dihadapi mereka  sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta  keberanian yang luar  biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani  Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">
Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?<br />
Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama   diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni   Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani   juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian   Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat   Raja Syria Nuruddin Mahmud.</p>
<p style="text-align: justify;">
Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan   Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di   Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167   Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah   Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan   Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya   dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud   “memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.”<br />
Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai   berikut: &#8220;Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih   dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari   pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">
Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh   Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang  Mesir.  Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati  hasil  perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia  berpulang ke  rahmatullah.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi   Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat   Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada   saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi   penguasa yang sesungguhnya di Mesir.</p>
<p style="text-align: justify;">
Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada  tahun  1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun  bernama  Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi  yang  mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin   mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya   dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama   raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala   macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu   berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu.  Suasana  yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada  tentara  Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan   panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.</p>
<p style="text-align: justify;">
Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota   Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis.   Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya   bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang   sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi   yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut   kembali kota itu.<br />
Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana   rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya.  Umat  Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh.  dan  mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah  mereka.  Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda  Malikus  Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182  Masehi,  kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia  Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">
Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara   Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud:   &#8220;Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani   memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan.&#8221; Berlawanan dengan   syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald   dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat   istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan   siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh   yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta   menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak   memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun   kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit   Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut  kembali  sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota  Naplus,  Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian  juga  Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang   singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh   Sultan yang berhati mulia itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota   Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam   puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan   serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh   perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani   itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi,   dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum   Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad   sebelumnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut   oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara   besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman.  Jerusalem  tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang  menderita  kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh  dengan  menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari  masuk  istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid.  Tetapi  mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib  yang  menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk  waktu  yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh  kekejaman.  Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang  lari  tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu  itu  yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib  yang  berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin,  mengejar  mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri.  Raymond d&#8217;  Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “di  serambi  masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali  tukang  kuda prajurit.”</p>
<p style="text-align: justify;">
Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib   berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah  mereka  peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan  kebiadaban  dengan keganasan. “Semua tawanan” kata Michaud, “yang  tertolong nasibnya  karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong  karena  mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua  dibunuh  dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri  mereka dari  menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup,  mereka diseret  dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka  dipancing dari  tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas  timbunan  mayat.”</p>
<p style="text-align: justify;">
Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah,   bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan   algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang   menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan   sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi   budak yang hina dina.</p>
<p style="text-align: justify;">
Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: “Telah diputuskan,   bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan   oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh   hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya,   anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih.   Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok   Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki   dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh   belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan.”</p>
<p style="text-align: justify;">
Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di   Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali   kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem   pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani   untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan   meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan   sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan   itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat   pengangkutan. Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak   mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: “Tuan   saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para   prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan  negeri  ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup  kami.  Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami.  Bilamana  Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan   penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.”</p>
<p style="text-align: justify;">
Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu   dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang   berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta   bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan   serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang   sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem   dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan   tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada   tentara Salib yang telah dikalahkan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat   perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. “Banyak kaum   Nasrani yang meninggalkan Jerusalem,” kata Mill, pergi menuju Antioch,   tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan   perlindungan kepada mcreka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka   pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana   dengan baik. Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang   sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para   pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari   pengungsi ini, kata Michaud. “Seorang wanita karena putus asa   melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani   yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya,” kata Michaud.   Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum   Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan   mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre,   di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan   Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan   kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah   kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota   Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu   balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia   harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani   yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia   mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan   mengepung kota Ptolemais.</p>
<p style="text-align: justify;">
Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar   di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala   bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta   raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang   besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka   mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam   sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan   meninggalkan korban yang cukup besar.</p>
<p style="text-align: justify;">
Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan   gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota   suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka   secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin   besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya   menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan   makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui   bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan   dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000  emas  kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu   penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh   kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di   hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.</p>
<p style="text-align: justify;">
Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati  Sultan  Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum  Muslimin  yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk  sepanjang 150  mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan  pukulan-pukulan yang  berat terhadap tentara Salib.</p>
<p style="text-align: justify;">
Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan  damai  yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang  dihadapinya  adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak  terbatas serta  menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan  terhadap orang yang  demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi  dibuatlah perjanjian  perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah  suci dengan ransel  dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.</p>
<p style="text-align: justify;">
&#8220;Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu&#8221; tulis Michaud   &#8220;di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak   lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam   pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta   kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan   Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya   tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa   dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh   karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan.   Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam   pertempuran ini.<br />
Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan   kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah   sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid   di seluruh daerah yang diperintahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat   perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada   tanggal 4 Maret tahun 1193. &#8220;Hari itu merupakan hari musibah besar, yang   belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak   mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin&#8221; demikian tulis seorang penulis   Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat   Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti   usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.</p>
<p style="text-align: justify;">
Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang   sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa   kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam   pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih   sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan   keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang   menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju   perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik   pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman   dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan   Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah   tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan   golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam   serta dengan penuh kebajikan. &#8220;Di Eropa&#8221; tulis Philip K Hitti, dia telah   menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman   sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.</p>
<p style="text-align: justify;">
Semoga Allah melapangkan kuburnya.<br />
Disarikan dari:<br />
1. Shalahuddin al-Ayyubi, oleh Kwaja Jamil Ahmad (Lihat: Suara Masjid   No. 91, Jumadil Akhir-Rajab 1402 H/April 1982 M)<br />
2. The Preaching of Islam, oleh Thomas W. Arnold.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : http://www.hudzaifah.org/Article228.phtml</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/shalahuddin-al-ayyubi-1137-1193-m/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA SAMPAI LAHIRNYA NU DAN MUHAMMADIYAH</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Islam masuk di Indonesia pada abad pertengahan. Pada umumnya, golongan yang membawa Islam ke Indonesia bukanlah penguasa, melainkan para pedagang. Mereka datang dari negeri Yaman, terutama dari Yaman Selatan yang di sana ada kota bernama Tarim yang berada di kawasan Hadramaut. Di daerah itu banyak sekali orang alim sekaligus sufi. Sufi dalam hubungannya dengan nurani, <a href='http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam masuk di Indonesia pada abad pertengahan. Pada umumnya, golongan yang membawa Islam ke Indonesia bukanlah penguasa, melainkan para pedagang. Mereka datang dari negeri Yaman, terutama dari Yaman Selatan yang di sana ada kota bernama Tarim yang berada di kawasan Hadramaut. Di daerah itu banyak sekali orang alim sekaligus sufi. Sufi dalam hubungannya dengan nurani, dan alim dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan.<br />
	Selain orang-orang dari Yaman, para penyebar Islam juga berasal dari India dan Gujarat. Ciri khas dua negara ini adalah adanya persenyawaan antara agama dan budaya yang sangat kental. Mereka masuk ke Indonesia untuk berdagang sekaligus menyebarkan Islam. Akhirnya pada abad pertengahan itu, mulai timbul gerakan Islamisasi di Indonesia. <span id="more-179"></span>Pada saat itu, Indonesia sudah didominasi oleh agama Hindu dan Budha. Hindu dengan Majapahit-nya dan Budha dengan Sriwijaya-nya. Selanjutnya terjadilah Islamisasi melalui gerakan kultural, bukan melalui sistem pemerintahan maupun melalui peperangan, melainkan melalui persenyawan antara agama dan budaya setempat. Hal ini memungkinkan untuk terjadi, karena yang membawa agama Islam ke Indonesia adalah orang-orang yang agamis sekaligus budayawan. Adapun para pemimpin penyebar Islam ini kemudian disebut dengan Wali Songo. Wali Songo itu adalah pemimpinnya, karena wali itu sebenarnya sangat banyak.<br />
	Ketika Islam masuk di Indonesia, Indonesia saat itu sudah penuh dengan budaya, baik budaya lokal Indonesia – misalnya: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Indonesia Timur, dsb. – yang sudah sangat kental sebagai adat istiadat, maupun adat istiadat yang sudah bersenyawa dengan Hindu-Budha. Kemudian Islam baru masuk untuk melakukan proses Islamisasi. Oleh karena itu, pendekatan budaya di dalam proses Islamisasi menjadi sangat mungkin terjadi, mengingat faktor pembawanya dan faktor ajarannya. Yaitu para pembawa Islam saat itu merupakan muballigh sekaligus budayawan, sedangkan ajaran Islam yang dibawa ke sini adalah ajaran madzhab Imam Syafi&#8217;i RA. Ajaran Imam Syafi&#8217;i RA ini terkenal mempunyai toleransi terhadap budaya, sepanjang budaya itu tidak bertabrakan secara diametral dengan pokok-pokok ajaran Nabi Muhammad SAW.<br />
 	Sikap Islam ala ulama&#8217; Syafi&#8217;iyyun di atas tadi mempunyai toleransi terbatas terhadap budaya, karena budaya sendiri terbagi menjadi beberapa kategori:<br />
	Budaya yang netral dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Misalnya; Sopan santun. Budaya sopan santun itu bersifat netral, karena Islam tidak mengatur hal itu. Budaya sopan santun ini bisa dimasukkan dalam kelompok &#8220;أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُوْرِ دُنْيَاكُمْ&#8221; . Maksudnya; Perkara-perkara seperti itu lebih kalian ketahui, karena merupakan urusan duniamu. Contoh lagi adalah: Orang yang memakai kopyah. Hal-hal seperti ini tidak diatur oleh Islam, karena yang diatur oleh Islam adalah ketentuan menutup aurat.<br />
	Budaya yang serasi dengan agama dan dapat dijadikan alat agama. Misalnya; Gotong royong. Pada waktu Islam datang, di Indonesia sudah ada budaya gotong royong. Contoh; Ketika ada orang membuat rumah, maka para tetangga sekitarnya berhenti bekerja sejenak untuk ikut membantu mendirikan rumah tetangganya. Budaya seperti itu sangatlah bagus, karena selaras dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Maaidah :<br />
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan ketaqwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan<br />
Jika suatu budaya itu selaras dengan agama, maka menurut Imam Syafi&#8217;i RA, budaya itu bisa diperkuat oleh agama. Inilah yang melandasi lahirnya kaidah العادة المحكمة (Adat istiadat dapat dijadikan pegangan hukum). Contoh lain; Anak menghormati orang tua dengan cara cium tangan sudah ada di Indonesia sebelum Islam datang. Kalau seseorang lewat di depan orang yang lebih tua, dia akan menunduk atau mengucapkan permisi.<br />
	Budaya yang salah namun masih bisa diperbaiki. Misalnya; Pada zaman dahulu, orang yang keluarganya meninggal dunia akan melakukan ziarah kubur dan selametan, akan tetapi niatnya tidak ditujukan kepada Allah SWT, melainkan kepada Kakik Danyang, Nyi Roro Kidul, Mak Lampir, dsb. Semua itu dilakukan dalam rangka menghormati para leluhur mereka. Menurut Imam Syafi&#8217;i RA, di dalam Islam, menghormati leluhur itu hukumnya sunnah, akan tetapi harus disertai tauhid atau meng-esa-kan Allah SWT, tidak boleh musyrik. Oleh karena itu, kemudian diaturlah bagaimana carannya budaya selametan tetap jalan dan leluhur tetap dido&#8217;akan, akan tetapi do&#8217;anya ditujukan kepada Allah SWT. Dari sinilah timbul kegiatan tahlil, talqin, membaca Qur&#8217;an, membaca shalawat, dsb. Budaya-budaya seperti ini tidak ada di luar Asia Tenggara. Orang yang tinggal di Mesir, di Saudi Arabia, dsb. kalau mereka meninggal dunia, ya sudah nggak ada urusan apa-apa lagi. Jadi, kegiatan tahlil, talqin, dsb. merupakan proses sublimasi atau pengalihan semangat ruh tauhid kepada Allah SWT untuk menggantikan ruh syirik, dengan tanpa merubah bentuk budaya yang sudah ada. Kalau ada orang bertanya, Apa dalil tahlil? Dalilnya adalah: Kita diperintahkan untuk membaca kalimat Laa Ilaaha Illallah, sedangkan di dalam tahlil juga membaca kalimat tersebut. Adapun mengenai sampai-tidaknya pahala kepada si jenazah, maka jika memang nyampai, ya Alhamdulillah; kalau tidak, ya ndak apa-apa, toh sudah membaca Laa Ilaaha Illallah yang sudah pasti mendatangkan pahala. Lain lagi yang dipersoalkan adalah kenapa pahala tahlil itu kok ditransfer? sedangkan muatan dzikir di dalam tahlil sama sekali tidak dipersoalkan oleh orang-orang di luar madzhab Syafi&#8217;i RA. Contoh lain: Adat istiadat ketika panen padi. Pada masa dahulu, orang yang panen padi akan membawa tumpeng dan diletakkan di pematang sawah, kemudian tumpeng itu dibiarkan sebagai persembahan kepada Dewi Sri. Budaya seperti itu dicegah oleh Islam, namun masyarakat dahulu tetap diperkenankan untuk membawa tumpeng, hanya saja tumpeng itu diperuntukkan bagi orang yang mencangkul dalam status sebagai shadaqah. Setelah itu, bersama-sama memohon kepada Allah SWT. Demikian ini adalah contoh-contoh budaya yang salah, namun masih bisa diperbaiki. Nah, yang seperti inilah oleh orang yang bukan Syafi&#8217;iyyun, dianggap sebagai bid&#8217;ah, padahal pada awal Islam di Indonesia, hal itu justru dianggap sebagai alat dakwah. Demikian juga dengan tradisi Maulid Nabi Muhamamad SAW. Anehnya, Maulid Nabi SAW dianggap “bid&#8217;ah dhalalah” di Saudi Arabia, namun dalam memperingati rajanya, justru tidak dianggap bid&#8217;ah. Padahal muatan acara itu sama saja dengan Maulid Nabi SAW.<br />
	Budaya yang harus dipotong (dihilangkan), karena merupakan budaya yang khurafat, mungkaraat, atau maksiat, dan sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Contoh; Di wilayah Lombok sebelah timur terdapat suku Sasak. Di dalam suku itu ada budaya kalau seorang pemuda akan menikah, maka sebagai tanda bahwa pemuda itu cinta kepada calon istrinya, dia harus menculik dan membawa lari calon istrinya itu. Beberapa hari kemudian, ketika si wanita sudah luset, baru mereka berdua bersama-sama menghadap kepada calon mertua mereka. Adat istiadat seperti ini jelas tidak boleh dan tidak bisa diperbaiki lagi, karena budaya ini sama dengan perzinaan. Oleh karena itu, budaya seperti ini harus dipotong/dibuang.<br />
	Di dalam proses Islamisi secara kultural ini akhirnya mengakibatkan dua hal besar, yaitu:<br />
	Masyarakat Indonesia berbondong-bondong masuk agama Islam dengan kesadaran, tanpa paksaan, dan tanpa perang, namun melalui akulturasi budaya. Jadi, tidak ada perang agama di Indonesia.<br />
	Kalau gerakan dakwah kultural tadi sudah tuntas, berarti orang sudah dipindahkan dari budaya kafir menuju pada budaya Islam, atau dari budaya syirik kepada budaya tauhid. Ini kalau dakwah kultural tersebut benar-benar sudah khatam. Akan tetapi ada juga orang-orang yang pembinaannya masih belum khatam, namun sudah ditinggal wafat oleh generasi Wali Songo. Akhirnya mereka hanya mendapatkan separo ilmu. Mereka mengerti Laa Ilaaha Illallah, namun tidak mengerti shalat. Misalnya, orang-orang kebatinan yang belum selesai di-Islam-kan secara tuntas. Kelompok ini kemudian menjadi kelompok abangan. Kelompok abangan ini bukan berarti tidak percaya kepada Allah SWT, hanya saja proses Islamisasi pada mereka masih belum tuntas pembinaannya.<br />
	Pada saat jumlah penduduk Indonesia masih sebanyak 45 juta, sekitar 90 % masyarakat di Indonesia masuk Islam melalui proses akulturasi di atas. Selanjutnya datanglah gelombang pembaharuan Islam di Indonesia yang dimotori oleh orang-orang dari Saudi Arabia dan sebagian ulama&#8217;-ulama&#8217; Mesir. Mereka masuk ke Indonesia ketika masyarakat Islam Indonesia terdiri dari kaum santri dan kaum abangan. Gelombang kedua yang membawa bendera pembaharuan Islam ini masuk ke Indonesia, akan tetapi mereka tidak bisa mengerti dan memahami adanya proses akulturasi Islam dengan budaya setempat. Dalam pikiran mereka: &#8220;Islam di sini kok macem-macem, ada tahlillan, muludan, ini, itu, dsb. Sementara di negara saya tidak ada tradisi seperti ini?&#8221;. Dari sinilah tumbuh gerakan pemurniaan (purifikasi) Islam yang dipelopori oleh Muhammadiyah. Sedangkan kelompok yang mewarisi proses Islamisasi melalui akulturasi tadi mengelompok dalam wadah bernama NU (Nahdlatul Ulama&#8217;).<br />
	Posisi Muhammadiyah terhadap NU maupun terhadap umat Islam adalah melakukan pemurniaan Islam dan modernisasi Islam, karena masyarakat Islam pada saat itu masih sangat tradisional. Misalnya; Santri-santri banyak yang tidak pernah memakai celana, tidak pakai ikat pinggang, kamar mandi di pondok-pondok Pesantren banyak lumutnya, dsb. Sedemikian tradisionalnya umat Islam saat itu, akhirnya ada antisipasi berupa modernisasi. Jadi, para pembaharu Islam ini mengusung tema purifikasi (tashfiyah) dan modernisasi. Bagi Muhammadiyah, kurikulum di Pesantren-pesantren hanyalah menghabiskan waktu semata. Misalnya; Kurikulum fiqih. Pada tingkat dasar mempelajari Sullam Taufiq; tingkat lanjut mempelajari Fathul Qarib; tingkat menengah mempelajari kitab Fathul Mu&#8217;in; dan tingkat atas mempelajari kitab Fathul Wahab. Padahal semua kitab-kitab itu, bab-babnya sama, cuma keterangannya saja yang berbeda. Menurut Muhammadiyah, kurikulum seperti ini dianggap sebagai metodologi pembelajaran yang stagnan dan tidak memproses pemikiran ke depan. Oleh karena itu perlu ada modernisasi.<br />
 	Selain mengusung tema purifikasi dan modernisasi, gelombang pembaharu Islam di atas juga mengusung tema persatuan Islam dengan merujuk langsung kepada Rasulullah SAW. Menurut mereka; &#8220;Kenapa orang-orang NU memakai pendapat Imam Syafi&#8217;i, kok tidak memakai pendapat Al-Qur&#8217;an?&#8221;. Oleh karena itu, slogan yang mereka usung adalah &#8220;Kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits&#8221;. Slogan ini sekilas sepertinya benar, akan tapi sebenarnya tidak benar. Memang kita harus kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits, akan tetapi bagaimana cara kembalinya? Al-Qur&#8217;an itu ibarat UUD  yang masih bersifat mujmal (global), sehingga Al-Qur&#8217;an itu harus dirinci lagi melalui metode Tafsirul Qur&#8217;an bil Qur&#8217;an (Menafsiri suatu Ayat Al-Qur&#8217;an dengan Ayat Al-Qur&#8217;an yang lain), atau melalui metode Tafsirul Qur&#8217;an bil Hadits (Menafsiri Al-Qur&#8217;an dengan Hadits yang berfungsi sebagai penjelas). Selanjutnya hasil tafsiran di atas masih harus dirinci lahi oleh pemikiran para ulama&#8217; yang dikondisikan oleh ruang dan waktu, dari sinilah kemudian lahir hukum positif Islam. Sama seperti UUD di Indonesia. Kalau ada orang tertangkap karena mencuri sepeda motor, maka dasar hukum untuk menangkapnya bukan mengacu pada UUD 45, melainkan mengacu pada ketentuan KUHP yang merupakan rincian UUD 45 yang jenjangnya sudah nomor kesekian. Ini bagaimana, orang disuruh kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, akan tetapi tidak diberi tahu bagaimana cara kembalinya?<br />
	Karena kelompok pembaharu Islam ini menggunakan metode kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits, maka mereka tidak mau kembali kepada madzhab, karena madzhab dianggap sektarianitas atau melakukan pengkotak-kotakan umat Islam. Secara teoritis, kalau semua kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits, tentu akan bertemu pada satu titik. Akan tetapi karena banyak yang tidak mengetahui cara kembalinya, akhirnya sejumlah orang yang mengaku kembali ke Al-Qur&#8217;an dan Hadits, sejumlah itu pula madzhab yang muncul.<br />
	Akhirnya apa yang terjadi? Yang terjadi adalah konflik antara NU dan Muhammadiyah dalam wacana ijtihad, taqlid, bermadzhab, dsb. Semenjak saya kecil, pertengkaran antara NU dan Muhammadiyah ini begitu tajam, namun sekarang ini sudah tidak tajam lagi, karena orang yang mengaku kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits itu ternyata tidak bisa balik lagi – istilahnya; Iso budal, nggak iso mulih – karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup untuk kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits. Memang slogan ini ketika berupa wacana, tampak logis sekali, akan tetapi ketika harus difaktakan, banyak yang tidak bisa melakukannya. Misalnya saja ada seruan: &#8220;Wahai orang-orang Islam, mari kita kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Hadits.” Tentu tidak mungkin bisa, karena membaca Al-Qur&#8217;an saja masih belum begitu lancar. Karena tidak mungkin melaksanakan slogan tadi, akhirnya banyak yang putus asa dan masing-masing orang mengikuti gurunya sendiri-sendiri. Padahal tindakan mengikuti gurunya sendiri-sendiri itu sama saja dengan bermadzhab.<br />
	Akhirnya pertikaian antara NU dan Muhammadiyah mulai mereda. Mereka tetap bersatu sekalipun ada perbedaan di antara keduanya, karena sama-sama mengerti akan perbedaan pendapat kedua golongan tersebut. Sekarang ini, konflik antara NU dengan Muhammadiyah menurun jauh dibandingkan dengan kondisi dulu. Mereka dulu berkelahi dan masing-masing merasa paling berhak masuk surga. Baik warga NU maupun Muhamamdiyah sudah berdebat, sekalipun tidak ada ilmunya, bahkan di pasar-pasar sekalipun. Sekarang ini semuanya sudah lumer, dan yang tersisa di dalam konflik antara NU dan Muhammadiyah ini adalah fanatisme golongan, bukan lagi tentang wacana keagamaan. Artinya; konflik sudah bergeser dari wacana aqidah dan syari&#8217;ah, menjadi wacana interest dan opportunity.  Persaingan antara NU dan Muhammadiyah ini menurun drastis, setelah ada regenerasi, yaitu semenjak tahun 80&#8242;-an. Persaingan yang tertinggal sekarang adalah persaingan nama, simbol-simbol, dsb.<br />
	Sekarang ini, NU mulai mengejar ketertinggalan dalam hal manajemen, kebersihan, metode, dll., sedangkan Muhammadiyah yang merasa kering karena ndak ada dzikirnya, ia juga mulai mengimpor dzikir. Akhirnya terjadilah crossline dan saling membutuhkan. Ibaratnya; Yang NU tidak bisa kamar mandinya berlumut terus, sedangkan yang Muhammadiyah juga tidak bisa pakai celana terus. Makin lama, golongan Muhammadiyah ini ingin hatinya terisi, karena sebelumnya mereka itu tergolong rasionalistik, bukan sufistik. Sedangkan kalangan NU kebanyakan sufistik, sehingga terkadang tidak bisa dibedakan antara orang sufi dengan orang kebatinan. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-masuknya-islam-di-indonesia-sampai-lahirnya-nu-dan-muhammadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Internet</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-internet/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-internet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 10:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Sejarah intenet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan <a href='http://www.inilahjalanku.com/sejarah-internet/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejarah intenet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk  mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik. Program riset ini dikenal dengan nama ARPANET. Pada 1970, sudah lebih dari 10 komputer yang berhasil dihubungkan satu sama lain sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dan membentuk sebuah jaringan.<br />
Tahun 1972, Roy Tomlinson berhasil menyempurnakan program e-mail yang ia ciptakan setahun yang lalu untuk ARPANET. Program e-mail ini begitu mudah sehingga langsung menjadi populer. Pada tahun yang sama, icon @juga diperkenalkan sebagai lambang penting yang menunjukkan &#8220;at&#8221; atau &#8220;pada&#8221;. Tahun 1973, jaringan komputer ARPANET mulai dikembangkan ke luar Amerika Serikat. Komputer University College di London merupakan komputer pertama yang ada di luar Amerika yang menjadi anggota jaringan Arpanet. Pada tahun yang sama, dua orang ahli komputer yakni Vinton Cerf dan Bob Kahn mempresentasikan sebuah gagasan yang lebih besar, yang menjadi cikal bakal pemikiran internet. Ide ini dipresentasikan untuk pertama kalinya di Universitas Sussex.<span id="more-173"></span><br />
Karena komputer yang membentuk jaringan semakin hari semakin banyak, maka dibutuhkan sebuah protokol resmi yang diakui oleh semua jaringan. Pada tahun 1982 dibentuk Transmission Control Protocol atau TCP dan Internet Protokol atau IP yang kita kenal semua. Untuk menyeragamkan alamat di jaringan komputer yang ada, maka pada tahun 1984 diperkenalkan sistem nama domain, yang kini kita kenal dengan DNS atau Domain Name System. Komputer yang tersambung dengan jaringan yang ada sudah melebihi 1000 komputer lebih. Pada 1987 jumlah komputer yang tersambung ke jaringan melonjak 10 kali lipat manjadi 10.000 lebih.<br />
Tahun 1988, Jarko Oikarinen dari Finland menemukan dan sekaligus memperkenalkan IRC atau Internet Relay Chat. Setahun kemudian, jumlah komputer yang saling berhubungan kembali melonjak 10 kali lipat dalam setahun. Tak kurang dari 100.000 komputer kini membentuk sebuah jaringan. Tahun 1990 adalah tahun yang paling bersejarah, ketika Tim Berners Lee menemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antara satu komputer dengan komputer yang lainnya, yang membentuk jaringan itu. Program inilah yang disebut www, atau World Wide Web.<br />
Tahun 1992, komputer yang saling tersambung membentuk jaringan sudah melampaui sejuta komputer, dan di tahun yang sama muncul istilah surfing the internet. Tahun 1994, situs internet telah tumbuh menjadi 3000 alamat halaman, dan untuk pertama kalinya virtual-shopping atau e-retail muncul di internet. Dunia langsung berubah. Di tahun yang sama Yahoo! didirikan, yang juga sekaligus kelahiran Netscape Navigator 1.0.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-internet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sistem Operasi</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-sistem-operasi/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-sistem-operasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 10:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[IT]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sistem operasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/sejarah-sistem-operasi/</guid>
		<description><![CDATA[Sistem operasi telah berevolusi sejak komputer diciptakan. Perkembangan sistem komputer dibagi empat kurun waktu (generasi). Perkembangan sistem komputer melibatkan sistem perangkat keras dan sistem perangkat lunak. 1. Generasi Pertama (1945-1955) Pada generasi ini belum ada sistem operasi, sistem komputer diberi instruksi yang harus dikerjakan secara langsung. 2. Generasi Kedua (1955-1965) Pada generasi ini, sistem komputer <a href='http://www.inilahjalanku.com/sejarah-sistem-operasi/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sistem operasi telah berevolusi sejak komputer diciptakan. Perkembangan sistem komputer dibagi empat kurun waktu (generasi). Perkembangan sistem komputer melibatkan sistem perangkat keras dan sistem perangkat lunak.<br />
1.	Generasi Pertama (1945-1955)<br />
Pada generasi ini belum ada sistem operasi, sistem komputer diberi instruksi yang harus dikerjakan secara langsung.<br />
2.	Generasi Kedua (1955-1965)<br />
Pada generasi ini, sistem komputer belum dilengkapi sistem operasi, tapi beberapa fungsi dasar sistem operasi telah ada, misalnya FMS (Fortran Monitoring System) dan IBSYS, keduanya merupakan bagian yang fungsinya merupakan komponen sistem operasi.<span id="more-172"></span><br />
Pada tahun 1964, IBM mengeluarkan keluarga komputer dengan system/360, beberapa kelas komputer S/360 dirancang agar kompatibel secara perangkat keras. System/360 atau dikenal dengan S/360 menggunakan sistem operasi OS/360. system 360 berevolusi menjadi System 370.<br />
3.	Generasi Ketiga (1965-1980)<br />
Perkembangan sistem operasi berlanjut, dikembangkan untuk melayani banyak pemakai interaktif sekaligus. Pemakai-pemakai interaktif berkomunikasi komputer lewat terminal secara online (secara langsung dihubungkan) ke komputer. Sistem komputer menjadi :<br />
a. Multiuser, yaitu digunakan banyak orang sekaligus<br />
b. Multiprogramming, yaitu melayani banyak program sekaligus.<br />
Setelah itu muncul sistem operasi yang lebih diterima secara umum yaitu UNIX.<br />
4.	Generasi Keempat (1980-199x)<br />
Sistem operasi tidak lagi hanya untuk satu mode, tapi banyak mode yang mendukung batch processing, timesharing, dan (soft) real-time applications.<br />
Generasi ini ditandai dengan berkembang dan meningkatnya komputer desktop (komputer pribadi) dan teknologi jaringan. Sistem operasi ini telah sanggup memberi antarmuka grafis yang nyaman</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/sejarah-sistem-operasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamera Obscura yang Mengubah Dunia</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 09:38:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[ilmuwan muslim]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221; The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura. Kamera merupakan salah satu penemuan penting yang <a href='http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent  pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk &#8221;Bagaimana para inventor muslim mengubah dunia.&#8221;  The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan kamera obscura.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamera  merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim<span id="more-123"></span> sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M,  al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.</p>
<p style="text-align: justify;">Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai &#8221;ruang gelap&#8221;. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),&#8221; ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul  The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz&#8217;s perspective.</p>
<p style="text-align: justify;">Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk  Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun  Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau  kamar gelap.</p>
<p style="text-align: justify;">Bradley Steffens dalam karyanya berjudul  Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa  Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. &#8220;Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,&#8221; papar Bradley.</p>
<p style="text-align: justify;">Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu,  penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 &#8211; 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada  1665 M.  Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya &#8211; yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia  II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.  Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejarah Sang Penemu Kamera Obscura<br />
Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni  qamara ?  Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Hatham. Bapak fisika modern itu   terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak kecil al-Haitham ydikenal berotak encer. Ia  menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen &#8211; begitu dunia Barat menyebutnya &#8211; juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.</p>
<p style="text-align: justify;">Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika &#8216;Bapak Optik&#8217; dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul  Light On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab  al-Manazhir , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/kamera-obscura-yang-mengubah-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Negara Islam</title>
		<link>http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/</link>
		<comments>http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Jan 2010 09:24:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>code4769</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.inilahjalanku.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Islam tidak pernah memaksakan seseorang dan tidak pula disebarkan lewat tajamnya pedang, sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Islam. Islam mensyariatkan perang, untuk menyingkirkan thaghut-thaghut yang menghalangi jalan dakwah ke rakyat dan penduduk. Setelah thaghut-thaghut ini disingkirkan dan dakwah Islam dikumandangkan, permasalahannya terserah kepada rakyat, apakah mereka mau menerima Islam, ataukah tetap pada agamanya sendiri, tapi <a href='http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/'>[...]</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Islam tidak pernah memaksakan seseorang dan tidak pula disebarkan lewat tajamnya pedang, sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Islam. Islam mensyariatkan perang, untuk menyingkirkan thaghut-thaghut yang menghalangi jalan dakwah ke rakyat dan penduduk. Setelah thaghut-thaghut ini disingkirkan dan dakwah Islam dikumandangkan, permasalahannya terserah kepada rakyat, apakah mereka mau menerima Islam, ataukah tetap pada agamanya sendiri, tapi ia harus tunduk sebagai ahlu dzimmah.<br />
Tendensi dakwah Islam semacam ini dikuatkan dengan perkataan Rab’i bin ‘Amir di hadapan Rustum, pemimpin pasukan Persia, “Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan makhluk ke penyembahan Allah, dari dunia yang sempit ke dunia yang lapang dan dari kesewenangan agama ke keadilan Islam.”<span id="more-121"></span><br />
Mengenai jizyah yang harus disetorkan oleh ahli dzimmah, bukan dimaksud untuk memberi penekanan-penekanan tertentu agar mereka mau masuk Islam, sekali-kali tidak, jizyah itu sebagai pengganti dari tanggung jawab dan jerih payah orang-orang Islam untuk melindungi mereka.<br />
Kebebasan yang diberikan kepada orang-orang yang ditundukkan kaum Muslimin untuk memilih masuk Islam ataukah membayar jizyah, merupakan bukti yang kuat, jelas dan gamblang bahwa Islam melarang mengetrapkan kultur paksaan.<br />
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,<br />
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (Al-Baqarah: 256).<br />
Orang-orang yang membayar jizyah kepada pemerintah Islam dinamakan ahlu dzimmah. Mereka berhak menerima hak dan jaminan seperti yang diterima oleh orang-orang Islam. Salah seorang gubernur pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada beliau yang isinya menerangkan bahwa ahli dzimmah yang baru masuk Islam justru lebih berbahaya kalau seandainya mereka tidak dibebani jizyah. Maka dengan dasar pikiran semacam ini, ia tetap menarik jizyah meskipun ada ahli dzimmah yang sudah masuk Islam.<br />
Setelah membaca surat tersebut, Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera mengirim surat yang isinya: “Allah memburukkan pendapatmu itu. Karena sesungguhnya Allah tidak mengutus Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam sebagai pemungut pajak. Tapi beliau diutus untuk memberi hidayah. Apabila suratku ini telah kau baca maka segera batalkan jizyah itu bagi ahlu dzimmah yang telah masuk Islam.”<br />
Abu Yusuf menyebutkan dalam bukunya bahwa Umar bin Khathab bertemu dengan seorang tua ahlu dzimmah peminta-minta di pintu masjid untuk membayar jizyah, demi kebutuhannya, Umar berkata kepada orang tua itu, “Kami akan berbuat adil terhadapmu, kami bebaskan setelah kamu tua.” Kemudian Umar membawa orang tersebut ke Baitulmal, lalu diberinya kebutuhan secukupnya dan ia dibebaskan dari pembayaran jizyah. Lebih lanjut hal ini dikuatkan lagi dengan pengakuan-pengakuan beberapa orang yang pernah mempelajari Islam secara benar. Dalam bukunya “Dakwah kepada Islam”, Arnold Toynbe seorang guru besar berkata, “Setelah pasukan tentara Islam yang dipimpin Abu Ubaidah sampai di lembah Urdun, para penduduk yang beragama Kristen yang menetap di situ menulis surat yang ditujukan kepada orang-orang Arab yang beragama Islam itu, yang berbunyi: ‘Wahai semua orang Islam, kalian lebih kami cintai daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, bersikap lemah-lembut kepada kami, mencegah kesewenangan yang menimpa kami dan mau menjaga diri kami. Tapi orang-orang Romawi itu menindas kami dan bumi kami.’<br />
Para penduduk kota saling menutup pintu masuk agar tentara Heraclius tidak menjarah. Mereka menyampaikan kabar kepada orang-orang Islam bahwa mereka lebih senang dengan orang-orang Islam dan keadilan mereka daripada kesewenang-wenangan orang-orang Greek itu. Segala pikiran dan tuduhan bahwa peranan pedanglah yang telah mengubah manusia masuk Islam, jelas merupakan tuduhan yang jauh dari benar. Dakwah dan pemuasan merupakan dua faktor esensial tersebarnya dakwah Islam, dan bukan karena kekuatan dan kekerasan.”<br />
Crustav Loban juga mengeluarkan kata-kata yang sangat terkenal, “Sejarah manusia tidak mengenal penakluk yang adil dan lebih lemah lembut kecuali dari orang-orang Islam.” Itulah sebagian kecil hak-hak yang telah diberikan kepada ahli kitab Yahudi dan Nasrani yang hidup di bawah perlindungan Negara Islam. Suatu hak yang tidak akan didapati dalam agama samawi lain, atau undang-undang dan tatanan yang dibuat oleh manusia sepanjang zaman.</p>
<p style="text-align: justify;">ditulis oleh Al Chaidar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.inilahjalanku.com/wajah-negara-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

